
Mira tidak ingin percaya terhadap seluruh cerita yang Deus alami namun dia tidak bisa menolak kenyataan bahwa kakaknya itu memiliki sekumpulan Ultra Equip yang begitu langka dan dicari-cari oleh pemain.
"Jadi, sekarang apa yang akan kakak lakukan? Kembali ke game dan melawan Xavier itu lagi?"
"Sepertinya begitu, ada sesuatu yang harus aku ambil kembali di ruang harta istana Lavore Kingdom."
"Begitukah? Seorang diri?"
"Tidak juga, aku bersama seorang temanku."
Pandangan Mira menajam memandang Deus, membuat pemuda tersebut sedikit tidak nyaman namun dia mengabaikannya.
"Kak, kakak tidak berpikir untuk melawan sebuah kerajaan dengan satu atau dua orang, bukan?"
Perkataan Mira sukses membuat Deus hampir tersedak air mineral yang tengah dia minum, untungnya Deus bisa mengontrol pernafasan sebelum terbatuk.
Melihat reaksi kakaknya itu Mira menghela nafas panjang sambil menyelonjorkan kedua tangannya di atas meja tanpa melepas pandangannya dari Deus, dia bisa menebak ucapannya tidak salah.
"Kakak, walaupun kau sudah cukup kuat bukan berarti semuanya bisa diselesaikan seorang diri. Kau juga butuh teman-temanmu untuk membantu."
Deus merenungkan ucapan Mira sejenak. Dia ingin sekali meminta bantuan namun di saat yang sama dia tidak ingin teman-temannya menjadi buronan satu kerajaan.
Mira bisa melihat keraguan di mata Deus. Dia kembali menghela nafas sebelum bangkit dari kursi dan mulai membereskan barang-barangnya.
"Jika kakak memang butuh bantuan panggil saja aku, Kurenai, dan lainnya. Kami pasti akan datang. Kakak sudah banyak membantu kami, menjadi buronan kerajaan sebesar Lavore Kingdom mungkin sebanding dengan semua yang telah kakak lakukan."
Mira tersenyum lembut pada Deus kemudian pamit pulang, dia harus mengerjakan tugas rumah yang diberikan pihak sekolahnya.
Pernyataan terakhir Mira sebelum pergi cukup meringankan kepala Deus. Beberapa saat setelahnya Deus menghela nafas panjang sambil menggaruk kepalanya sejenak.
"Kurasa tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan kepada beberapa orang."
Setelah berkata demikian Deus meraih ponselnya mengirimi pesan kepada beberapa kenalannya yang bermain Orbis Online kemudian mengistirahatkan badan dan mentalnya sambil menunggu jarak waktu penalti kematian.
***
Penglihatan pertama yang Reus dapat setelah kembali menyelam ke dalam Orbis Online adalah gang kosong di antara bangunan yang kumuh dengan banyak lubang jalan digenangi air. Sampah-sampah juga terlihat berserakan pada gang tersebut.
"Betapa melegakannya aku bangkit di tempat ini."
Reus menghela nafas lega mendapati dirinya tidak bangkit di penjara Lavore Kingdom. Jika dirinya sungguh bangkit di tempat itu maka perlawanannya menghadapi ratusan prajurit Lavore Kingdom sampai beberapa waktu lalu adalah sia-sia.
Reus kemudian mengalihkan perhatiannya pada tubuhnya sendiri, dapat terlihat beberapa perlengkapan yang dikenakannya terakhir kali mengalami kerusakan yang tidak kecil, terutama Dragon Scale Armor yang memiliki lubang besar pada bagian perutnya.
"Ini pasti bekas skill terakhir Xavier."
Terbayang di benaknya ingatan mengenai serangan terakhir Xavier yang begitu kuat hingga menembus zirah sekaligus badannya dalam satu serangan.
"Sepertinya dia bukan hanya memiliki level dan kekuatan besar tetapi juga perlengkapan yang memumpuni kemampuannya."
Senyum masam tersungging di bibir Reus ketika mengingat kembali seberapa besarnya pertahanan yang diberikan Dragon Scale Armor, terutama setelah menerima begitu banyak buff tinggi dari Special Trait Set.
"Sebaiknya aku mengganti perlengkapan dan topeng dulu, bisa-bisa aku ditangkap oleh prajurit karena berciri-ciri sama."
Setelah berkata demikian Reus mengganti perlengkapannya menjadi pakaian biasa yang pernah dia kenakan saat masih berlevel kecil, sementara topengnya sendiri dilepas agar prajurit sekitar tak menanyakan identitasnya.
Reus melangkah keluar dari gang kosong tersebut menuju suatu tempat.
"Oh, kalian sudah di sini? Sejak kapan?"
"Beberapa jam lalu, kau saja yang terlambat."
"Kau yang meminta tolong jadi jangan terlambat."
Sesampainya di tempat tujuan, Reus disambut oleh Dunk dan Kynel yang sedang menikmati hidangan mereka di sebuah meja, berhubung tempat yang didatanginya merupakan penginapan sekaligus restoran.
Reus melangkah mendekati dan bergabung dengan keduanya.
"Mana Ikshan? Dia tidak datang bersamamu?"
"Ah, katanya dia ada sedikit urusan di dunia nyata, jadi dia akan bergabung dengan kita dalam hitungan hari."
Dunk dan Kynel saling memandang sejenak sedikit terkejut dengan pernyataan Reus mengingat keduanya hampir selalu bersama semenjak terlihat.
Reus bisa melihat keduanya kebingungan sebelum ikut memesan sesuatu namun dia hanya memesan minuman.
"Tidak perlu terburu-buru, kita akan melaksanakan rencananya beberapa hari kemudian setelah bala bantuan tiba."
""Bala bantuan?""
Reus tidak menanggapi keduanya dan hanya diam sambil merenungkan kematangan rencananya selama masih ada waktu senggang. Dia juga memesan kamar untuk dia tinggali selama beberapa waktu.
Sebelumnya Reus tidak mengira bahwa Telekinesis akan begitu berguna dalam pertempuran berskala besar mengingat kemampuannya hanya menarik dan mendorong benda mati, tetapi setelah pertarungan melawan para prajurit Lavore Kingdom dia menyadari betapa pentingnya keberadaan Telekinesis.
Tanpa disangka hanya dalam beberapa jam berlatih menggunakan berbagai Item dari Inventory, Telekinesis sudah mengalami kenaikan level beberapa kali. Itu tidak mengherankan mengingat dia terus melakukannya sambil mengonsumsi Energy Potion tiap kali parameter Energy-nya menipis.
---
Telekinesis (Level 1-3)
Mampu menarik atau mendorong benda mati dengan ukuran dan berat tertentu yang berjarak sekitar 12 meter dari pengguna tanpa menyentuhnya.
Energy : 10/detik
Cooldown : -
---
"Jangkauannya menjadi 12 meter, ya? Cukup bagus."
Reus tersenyum tipis memandang panel berisi informasi tersebut, dia merasa senang terhadap perkembangan Telekinesis yang begitu cepat hanya dalam beberapa jam saja.
Senyum Reus menghilang ketika mendengar suara ketukan pada pintunya. Dia buru-buru melepaskan skill Telekinesis-nya lalu memasukkan seluruh Item yang dia gunakan ke dalam Inventory.
"Silahkan masuk."
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok Ikshan di baliknya, membuat Reus tersenyum lebar. Dia segera bangkit dari lantai dan mendekati Ikshan.
"Hei kawan, lama tak berjumpa."
"Ini baru beberapa hari."
Ikshan tersenyum canggung pada reaksi Reus yang begitu berlebihan padahal belum ada seminggu semenjak terakhir keduanya bertemu.
"Ikshan, aku tahu ini memang tiba-tiba tapi bisakah kau memperbaiki Item-ku?"
Reus tanpa basa-basi mengeluarkan Dragon Scale Armor dari Inventory dan memberikannya pada Ikshan, membuat pria itu sukses terkejut.
"Kau.... Bagaimana kau mendapatkan zirah ini?"
"Kau tahu Arshwind, Dragon yang pernah disinggung Herlaina dan guru Randolf, bukan?"
"Ya, kenapa dengan dia?"
"Aku mendapat zirah ini darinya."
Setelah berkata demikian Reus menengok ke kiri dan kanan beberapa kali sebelum mendekatkan wajahnya pada telinga Ikshan.
"Pastikan ini hanya menjadi rahasia di antara kita."
"Tidak perlu khawatir, rahasiamu aman bersamaku."
Ikshan tertawa sejenak menanggapi pesan Reus. Biarpun ada orang lain yang berniat merebut zirah ini maka kemungkinan mereka berhasil sangatlah rendah mengingat kemampuan Reus yang mampu memukul mundur sepasukan prajurit Lavore Kingdom sendirian.
"Tapi, zirah ini sedikit istimewa. Aku memerlukan Material yang sama dengan bahan utamanya agar bisa diperbaiki."
"Oh, tidak masalah. Gunakan saja ini."
Reus membuka Inventory-nya kembali dan memberikan belasan keping sisik sebesar daun jati bernama Dragon Scale kepada Ikshan, sekali lagi berhasil mengejutkannya. Ikshan menyunggingkan senyuman canggungnya pada Reus.
"Kau menyimpan ini semua dariku? Kau tahu aku bisa membuat banyak Equip tingkat tinggi dari ini semua."
"Benarkah? Kalau begitu silahkan diterima."
Tanpa ragu Reus lagi-lagi mengeluarkan Dragon Scale namun kali ini dalam jumlah yang lebih banyak, mungkin mendekati ratusan. Ikshan sampai hampir menjerit melihat begitu banyak Dragon Scale berceceran di lantai.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan ini semua?! Arshwind sekalipun mustahil memberikan Material berharga sebanyak ini kepadamu, kan?!"
"Ah, dia bilang dia tidak membutuhkannya. Semua sisik ini lepas saat dia menggaruk badannya karena gatal. Dia memberikan semua ini karena telah terkumpul selama beberapa puluh tahun dan cukup memenuhi tempatnya tidur."
Ikshan langsung terdiam mendengar jawaban tak terduga dari Reus. Tidak dibutuhkan? Satu keping Dragon Scale yang bisa bernilai hingga 50.000 Byl dibilang tidak dibutuhkan? Jika Ikshan tidak bisa menahan emosinya mungkin Reus sudah dipukuli olehnya.
Pada akhirnya Ikshan hanya mengambil beberapa puluh Dragon Scale saja, sisanya dia kembalikan pada Reus. Dia berkata butuh beberapa waktu untuk memperbaiki Dragon Scale Armor sekaligus membuat beberapa perlengkapan baru.
"Oh ya, ngomong-ngomong bala bantuan yang kau hubungi beberapa waktu lalu sudah tiba. Mereka menunggu di lantai bawah."
"Benarkah? Baguslah jika begitu, aku akan segera ke sana."
Setelah berkata demikian Reus segera merapikan penampilannya dan melangkah turun menuju lantai bawah berniat menemui 'bala bantuan' yang dia minta.