Orbis Online

Orbis Online
158. Meloloskan Diri XI



Seisi istana Lavore Kingdom saat ini dilanda kecemasan, mengapa? Semua kecemasan dan ketakutan mereka disebabkan oleh kejadian besar yang terjadi hari ini, yaitu banyak tahanan melarikan diri dari penjara.


Jika itu tahanan biasa yang melarikan diri maka tidak perlu raja memberi titah menurunkan pasukan kerajaan untuk menanganinya tetapi, tak ada yang membantah keputusan raja Lavore Kindom kali ini meski terdapat beberapa keluhan dari orang-orang di sekitar.


   "Rajaku! Yang Mulia!"


Di saat seisi ruangan begitu hening diisi oleh suasana mencengkam, seorang pria membuka pintu ruangan yang tadinya tertutup dengan nafas terputus-putus. Pria itu nampak begitu lelah tetapi dia menyempatkan diri untuk menghadap pada raja.


Seorang pria yang duduk di singgasana membuka matanya perlahan mendengar seruan tersebut. Terlihat beberapa kerutan pada wajahnya disertai rambut sepanjang bahu yang telah sepenuhnya memutih, menandakan dirinya telah berusia senja. Biarpun nampak sepuh dan rapuh, tidak ada orang di ruangan ini yang berani menentangnya.


Orang yang baru saja memasuki ruangan berusaha mengatur nafasnya sejenak sebelum melangkah mendekati singgasana dan berlutut di depan pria sepuh tersebut.


   "Rajaku, hamba membawa kabar buruk."


   "Kabar buruk?"


   "Benar, Rajaku. Salah satu Elite Knight, Brandon Lastcrow telah dipastikan gugur oleh pasukan pertama yang kita utus menuju penjara."


Semua orang di ruangan itu berdiskusi satu sama lain selama beberapa saat. Salah satu dari mereka maju mendekati pria yang tengah berlutut di depan singgasana.


   "Apa kau yakin?"


   "Menurut pasukan yang berhasil kembali dengan selamat, kematian Elite Knight Brandon Lastcrow tidak perlu dipertanyakan. Mereka telah melihat sendiri cara kematian beliau."


   "Siapa dan bagaimana dia terbunuh?"


   "Saksi mengatakan pelaku hanya seorang diri, menerobos pasukan dan menggunakan sihir aneh yang bisa menggerakkan benda tanpa menyentuhnya. Beberapa prajurit kita diterbangkan ke langit olehnya, namun dia juga menggunakan pedang."


Orang-orang di ruangan kembali berdiskusi, kali ini kerutan pada wajah dan dahi mereka terlihat begitu jelas. Ekspresi mereka lebih seperti orang kebingungan daripada berdiskusi.


   "Kau yakin dia menggunakan pedang? Bukan sihir?"


Pria sepuh yang duduk di singgasana itu membuka suara. Meski terdengar bergetar dan pelan semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.


   "Benar, Rajaku. Saksi mengatakan hanya satu jenis sihir yang digunakannya, yaitu menggerakkan benda dan orang-orang kita tanpa menyentuhnya. Dia lebih dominan menggunakan pedang untuk menghabisi pasukan."


Pria pembawa informasi itu berkeringat dingin saat mengutarakan laporan yang dia terima. Tidak sekalipun dia berani menengadahkan kepalanya memandang pria sepuh di singgana depannya.


Pria sepuh yang dipanggil raja itu tidak mengeluarkan suaranya selama beberapa saat membuat sang pembawa informasi berkeringat dingin merasa dirinya berbuat kesalahan tetapi saat dia berpikir demikian, Raja Lavore Kingdom tersebut bangkit dari singgasananya.


Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi lebih berat dari biasanya saat dia bangkit berdiri. Raja memandang sang pembawa informasi yang tengah berlutut dan menunjuknya.


   "Kau pergi ke markas Elite Knight, katakan pada mereka untuk mengutus tiga atau empat orang terkuatnya demi mengatasi siutasi ini. Minta juga setiap satu dari mereka membawa seratus prajurit berlevel 200 ke atas."


   "Baik, Rajaku. Akan segera hamba laksanakan."


Pria pembawa informasi itu sempat mengira dirinya akan dihukum karena membawa berita buruk namun dugaannya salah, dirinya kembali mendapat tugas. Kali ini tugas yang sangat penting.


Dia segera pamit undur diri dan buru-buru pergi dari ruangan membawa perintah raja.


   "Tanpa mengurangi hormat Rajaku, apa tidak berlebihan sampai mengerahkan tiga sampai empat Elite Knight? Apalagi sampai meminta masing-masing dari mereka membawa seratus prajurit."


Ketika pria sepuh tersebut duduk kembali di singgasananya, salah seorang di ruangan itu menyampaikan pendapatnya. Tidak sedikit yang berpendapat sama dengan orang tersebut namun tidak ada yang berani menyampaikannya.


Sang raja mendesah pelan mendengar pertanyaan pengikutnya.


   "Kalian seharusnya mengetahui kejadian beberapa malam lalu yang membumihanguskan wilayah Gaia's Tree cabang kerajaan kita, bukan?"


Perbincangan mengenai hal tersebut begitu cepat menyebar bagaikan api merambati minyak.


   "Pada waktu itu terdapat dua pemuda yang menjadi pelakunya. Satu orang memakai senjata sejenis sabit yang dirantai, sedangkan satunya menggunakan pedang."


Raja memandangi wajah orang-orang di ruangan tersebut satu per satu sebelum melanjutkan perkataannya.


   "Aku tidak tahu apakah kalian ingat atau tidak tetapi seingatku, Sylph de Corvette yang dijuluki Warlock of Gale ditahan di penjara yang sama."


Satu kalimat itu sukses mengejutkan semua yang mendengarnya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang tak mengetahui nama Sylph, seorang mantan bangsawan yang terkenal atas pembantaian yang dia lakukan terhadap wilayahnya sendiri menggunakan sihir berskala besar.


   "Kesampingkan kedua pelaku kejadian beberapa malam lalu yang entah apa motif mereka menghancurkan Gaia's Tree tetapi, kita harus ingat bahwa ada kemungkinan Sylph mendatangi kaum bangsawan untuk membalas dendam."


Setiap orang yang mendengar perkataan sang raja tertunduk memahami maksud dari kalimat tersebut.


Sylph tidak mengetahui bahwa bukan hanya keluarga Zackfone yang menjebaknya lima tahun lalu, melainkan hampir seluruh bangsawan sekaligus raja Lavore Kingdom itu sendiri ikut merencanakan semuanya.


***


   "Hatchiii!"


Sylph tiba-tiba bersin ketika berjalan di samping Reus. Dia mengusap hidungnya yang sedikit gatal.


   "Kau tidak masuk angin karena tiba-tiba menggunakan sihir setelah lima tahun?"


   "Bicara apa kau? Biarpun lima tahun aku ditahan dengan rantai anti sihir, aku masih bisa menggunakan sihir-sihir sederhana seperti sihir air atau angin. Kau pikir kenapa aku terlihat bersih dan tidak bau seperti tahanan lain?"


Reus ingin sekali membalas ucapan Sylph dan mendorong tinjunya pada pria muda di sampingnya ini namun saat dia hendak melakukannya, Reus merasakan firasat buruk. Dia mendorong Sylph cukup jauh sekaligus mengambil satu langkah ke samping.


   "Apa yang ka—"


Belum sempat Sylph menuntaskan protesnya, tempat dirinya dan Reus berdiri sebelumnya tiba-tiba meledak membuat Sylph sedikit terkejut sebelum meningkatkan kewaspadaan. Reus pun juga melakukan hal yang sama.


   "Oh, hebat juga bisa menghindari tembakan diam-diam Arcus."


Suara seorang pria terdengar dari arah depan. Reus dan Sylph spontan mengalihkan perhatian mereka menuju asal suara tersebut, di sana terlihat seorang pria paruh baya mengenakan zirah besi berwarna putih mengkilap lengkap dengan pelindung kepala serta perisai.


Reus menarik pedang di punggungnya bersikap lebih waspada, begitu pula Sylph yang telah menyiapkan tongkat sihirnya. Perasaan mereka tidak begitu bagus berhadapan dengan pria di depan mereka ini.


Selain penampilan zirah mencoloknya yang nampak begitu berbeda dari prajurit Lavore Kingdom lainnya, aura di sekitar pria tersebut juga begitu tenang dan berbahaya.


   "Siapa kau? Mau apa kau kemari?"


Reus bisa merasakan hawa mengancam dari pria tersebut sehingga lebih dulu membuka percakapan sembari menghunuskan pedang.


   "Begitukah caramu bertanya identitas seseorang? Menurutku itu tidak terlalu sopan."


   "Sopan? Dalam situasi ini kau pikir sopan adalah hal penting?"


   "Yah, sayangnya tidak."


Pria paruh baya itu tersenyum lembut memandang Reus tetapi Reus tidak merasakan ada 'kelembutan' pada senyuman tersebut.


   "Baiklah, biar kuperkenalkan diriku. Namaku Xavier, Xavier Desgnar."


Baik Reus maupun Sylph sama-sama bereaksi terhadap perkataan Xavier meski reaksi keduanya begitu berbeda. Reus terlihat biasa saja karena ini baru pertama kalinya dia mendengar nama Xavier, sementara raut wajah Sylph segera dilanda ketakutan seolah akhir dunia berada di depannya.