
"Apa katamu? Dia bukan Xavier?"
Mata Crystina terbelalak cukup lebar ketika Reus menyatakan pria yang baru saja dikalahkannya bukanlah Xavier, orang terkuat se-Lavore Kingdom.
"Bukan, ketua Crystina. Dia hanya Elite Knight. Kebanyakan Elite Knight memang sekuat dirinya."
Crystina kini tidak lagi berbicara saat mengetahui sebagian besar Elite Knight berlevel sekitar 280-an seperti lawannya beberapa saat lalu. Ada ekspresi ketakutan pada wajah Crystina sekarang, Dunk dan Kynel juga tidak jauh berbeda.
Reus hanya tersenyum masam melihat reaksi ketiganya, tidak heran mengingat lawan berlevel 200-an saja sudah begitu menyulitkan apalagi di atas 250.
Crystina sendiri tidak keberatan jika melawan Xavier yang dikatakan berlevel 330 dalam petarungan satu lawan satu, namun lain halnya kalau Elite Knight ikut mencampuri pertarungan mereka.
"Ketua tenang saja, untuk itulah aku berada di sini."
Reus bisa membaca kegelisahan Crystina dan berusaha menangkannya dengan menjelaskan bahwa Great Grega yang dipegang Crystina merupakan senjata milik salah satu Elite Knight berlevel 250.
"Kau melawan Elite Knight berlevel 250 seorang diri?"
"Itu benar, aku juga sempat melawan Xavier tetapi aku tidak bisa memberi perlawanan terbaik karena terlalu terkejut."
Reus menghela nafas saat menjelaskan kemampuan Xavier sekali lagi pada Crystina, berharap wanita ini sungguh mampu melakukan sesuatu terhadap pria paruh baya berkekuatan tidak wajar tersebut.
Selagi tidak ada musuh berdatangan, Reus duduk di tanah sambil membuat lebih banyak Potion. Baik Reus, Crystina, maupun Kynel dan Dunk membutuhkan banyak sekali Potion untuk menghadapi lawan yang tidak terhitung jumlahnya.
Sambil membuat Potion Reus juga memeriksa kabar Ramsey dan Ikshan yang sedang menjalani misi sulit, yaitu merebut Blackstar dari ruang harta kerajaan, salah satu ruangan yang kini dijaga begitu ketat oleh pihak kerajaan.
"Reus, apa begini caramu membuat Potion? Tidak memakai tungku atau membutuhkan waktu? Hanya mengaktifkan skill dan semuanya akan selesai dengan instan?"
"Benar, ketua Crystina. Ini skill rahasiaku dan mohon maklum, rahasia pedagang harus selalu menjadi rahasia pedagang."
Reus menyunggingkan senyuman penuh arti kepada Crystina ketika wanita itu hampir tidak berkedip melihat proses pembuatan Potion milik Reus. Tak pernah terlintas di benaknya sekali pun bahwa membuat Potion bisa secepat ini.
Crystina menjadi salah tingkah saat Reus mengetahui maksudnya. Dia mengakui godaan tersebut ada namun dirinya tak sebodoh itu sampai memaksa Reus mengakuinya, terutama bagi orang yang telah membantai puluhan hingga ratusan prajurit yang menghadang jalannya tanpa pandang bulu.
Membuat ratusan Potion seharusnya membutuhkan waktu berjam-jam hingga berhari-hari namun dengan skill khususnya yang didapat melalui ketidaksengajaan, Reus mampu menyelesaikan hampir seribu Potion dalam kurang lebih 10 menit.
Dia membagi-bagikan Potion tersebut kepada Crystina, Kynel, dan Dunk, membuat ketiganya terbelalak. Di antara mereka Crystina-lah yang paling terkejut.
"Apa kau yakin memberikan kami secara gratis?"
"Tidak masalah, aku yakin kalian lebih membutuhkannya dalam gelombang pertempuran berikut ini."
Pernyataan Reus mengundang keheranan dari ketiganya tetapi tidak butuh waktu lama, mereka memahami maksud Reus. Dari gerbang masuk terlihat sejumlah besar pasukan berperlengkapan lengkap menaiki kuda disertai bendera kerajaan seperti sedang berangkat menuju medan perang.
Pada barisan paling depan terlihat sesosok pria paruh baya yang mengenakan zirah serba putih, lengkap dengan pedang dan tameng putihnya. Terkibar pula jubah putih keemasan pada pundak hingga punggungnya.
Crystina dan lainnya spontan menelan ludah melihat jumlah pasukan yang menandingi pasukan utama Legion dalam perang.
"Ketua Crystina, pria paruh baya di barisan terdepan itulah Xavier. Berhati-hatilah dengan Series Skill-nya, itu sungguh kuat."
Reus tidak terlalu heran terhadap kedatangan pasukan besar ini, dia sudah menduga sejak awal bahwa ada kemungkinan Lavore Kingdom akan mengerahkan seluruh kekuatan demi menghabisi dirinya.
Dengan kekuatan dan kemampuannya yang sekaligus seorang Immortal Being, Reus merupakan eksistensi yang sangat berbahaya di mata para bangsawan dan raja Lavore Kingdom. Dia tidak akan heran jika dirinya berniat ditangkap dan dihukum mati menggunakan Immortal Slayer.
Pria paruh baya di barisan terdepan itu memerintahkan pasukan di belakangnya berhenti sebelum maju seorang diri mendekati kelompok Reus.
Crystina dan lainnya sudah siap siaga ketika Xavier melangkah ke arah mereka tetapi sebelum itu, Reus ikut maju dan memberi isyarat kepada Crystina, Kynel, dan Dunk untuk tidak menyerang dahulu. Ketiganya sedikit heran tetapi tidak melawan.
"Kau sungguh bangkit kembali, baji-ngan kecil."
"Hei, paman Xavier. Apa lukamu baik-baik saja?"
"Oh, terima kasih padamu, jika bukan karena Potion tingkat tinggi yang diberikan raja maka aku sudah tewas sejak lama."
"Benarkah? Jika begitu aku turut senang kau menyukai hadiah terakhirku."
Xavier seperti biasa menyunggingkan senyum lembut khasnya, sementara Reus juga memberikan senyum terbaiknya sekarang. Reus sudah tahu senyuman tersebut hanyalah sekedar kedok, dia bisa merasakan hawa membunuh penuh kebencian yang terarah kepadanya.
Xavier menarik pedangnya yang berada di dalam tameng sebelum membentuk kuda-kuda. Senyuman khasnya menghilang dari wajahnya, kini berubah menjadi sorot mata yang dipenuhi kemarahan.
"Jika bukan karena raja ingin menangkap dan mengeksekusimu menggunakan Immortal Slayer, aku akan membunuhmu ratusan kali terlebih dahulu."
Reus tertawa sinis sesaat menanggapi perkataan Xavier sambil menarik pedang dan ikut membentuk kuda-kuda.
"Kau yakin bisa menangkapku tanpa membunuhku?"
"Tentu saja, kemampuan kita berbeda jauh terakhir kali bertarung. Biarpun sekarang aku sedikit melemah berkat luka yang kau berikan, kudengar Immortal Being sepertimu akan menjadi lebih lemah setelah mati. Tidak ada yang berubah."
Xavier tersenyum membalas perkataan Reus sementara ekspresi pemuda berambut perak tersebut tidak berubah.
"Kita lihat saja apa hal itu berlaku bagiku atau tidak."
Setelah berkata demikian Reus menghilang dari pandangan Xavier, membuat pria paruh baya itu terbelalak hebat. Selang beberapa detik kemudian sosok Reus kembali muncul tepat di depan Xavier. Keduanya hanya dipisahkan oleh beberapa meter saja.
Xavier terkejut mendapati Reus tiba-tiba berada di depannya. Spontan saja Xavier mengangkat tameng untuk menahan serangan.
"Dragon Power! Dragon Spirit! Dragon Smite! Black Cloud!"
Mengerahkan empat skill sekaligus, Reus menggunakan segenap tenaganya mengayunkan Dragon Slayer Sword dalam enam tebasan beruntun secepat mungkin menghantam tameng Xavier.
Berkat enam serangan tersebut Xavier tidak bisa mempertahankan posisi tamengnya yang kini sedikit terhempas ke atas namun tetap dalam genggamannya. Dia melotot hebat merasa tidak percaya Reus adalah orang yang sama dengan orang yang memberinya luka hebat di perut beberapa hari lalu.
"Terbuka! Hollow Swords! Dragon Fang!"
Reus bisa melihat terdapat celah lebar pada Xavier setelah tamengnya terhempas. Sebelum celah tersebut tertutup Reus menyatukan kelima pedang yang kini berada di tangan kiri, lalu menghujamkannya kuat-kuat pada tubuh besar Xavier.
Blaar!!