
"Akhirnya setelah sekian lama! Alvast!"
Di depan gerbang masuk Alvast yang penuh antrian dapat terlihat sesosok lelaki membentangkan kedua tangannya lebar-lebar sembari berseru keras, menarik perhatian warga dan orang-orang di sekitarnya. Dia bukan hanya lelaki biasa, tetapi seorang Elf dan memiliki ketampanan yang tak biasa.
Benar, dia adalah Dunk, pemain yang pernah bertemu dan diselamatkan oleh Reus pada Kuil Ambora di ambang kematiannya.
Setelah Reus menyuruh dirinya lari saat berhadapan dengan Arshwind sang Anarchy Lord di Chaos Lair, Dunk mengalami pengalaman yang tidak begitu menyenangkan di Dungeon tersebut.
Bukan hanya levelnya yang masih begitu rendah untuk ukuran lawan di Dungeon itu, tetapi juga Dunk tidak bisa berbuat banyak jika hanya sendirian. Dia berhasil memasuki Chaos Lair lebih dalam karena keberadaan Reus yang begitu kuat dan tangguh, jika sendirian musthail Dunk dapat mencapai sejauh ini.
Dunk menyadari ketidakmampuannya itu hanya dapat melewati seluruh lawannya secara diam-diam dan bergerak menuju titik awal di mana dirinya dan Reus terlempar, namun Dunk tidak berhasil dan akhirnya terbunuh oleh penghuni Dungeon tersebut.
Dunk kembali log in setelah membayar death penalty-nya dengan level, Item, serta waktu jeda dan mendapati dirinya dihidupkan di kota Bayfrost, kota terakhir yang dia kunjungi sebelum memasuki Ambora Temple.
Saat Dunk dihidupkan dia mendapat pesan dari Reus yang berisi tujuan pemuda itu selanjutnya, yaitu Bailendra Kingdom. Dunk ingin menemani Reus dalam perjalanan menuju Negeri Naga tersebut, namun dirinya ditahan oleh kemampuannya yang pada waktu itu tidak memumpuni.
"Yah, itu sudah sekitar satu bulan lamanya, sekarang aku sudah menjadi lebih kuat."
Dunk mengepalkan tangannya mengingat kembali statusnya sekarang tidaklah sama dengan dulu. Berkat usahanya pada latihan dan perjalanannya sejauh ini, dirinya mampu mencapai level 120 dan menguasai berbagai skill yang dia miliki sebelumnya.
Saat ini Dunk berada di Alvast demi memenuhi janjinya untuk menyusul Reus yang harusnya telah berada di Bailendra Kingdom. Butuh waktu serta kesulitan yang cukup berat baginya hingga mencapai kota ini.
Sejauh ini Dunk mendapatkan banyak sekali informasi mengenai apa yang terjadi di Orbis Online, terutamanya kabar mengenai peran Reus pada perang Viredeta serta rekaman seorang pemain yang menghadapi tiga Knight berlevel tinggi sekaligus beberapa waktu silam.
Dunk sudah pernah melihat perubahan Reus ketika menggunakan Black Form beserta pedang hitam khas Blackstar, dia langsung mengenali sosok pemain dalam rekaman tersebut adalah Reus, sosok penyelamat sekaligus orang yang paling dia kagumi sepanjang dirinya bermain Orbis Online.
Sudah sekitar sebulan lebih semenjak rekaman tersebut menjadi topik panas selama beberapa minggu, dia juga yakin Reus sudah tiba di Bailendra Kingdom mengingat kemampuannya yang begitu mengerikan bahkan di levelnya yang tidak terlalu tinggi.
"Reus, tunggu kedatanganku di Bailendra Kingdom!"
Dunk menjadi lebih bersemangat ketika membayangkan bagaimana reaksi Reus ketika melihat dirinya sampai di Bailendra Kingdom hanya dalam sebulan.
Normalnya perjalanan dari Welsh Kingdom menuju Bailendra Kingdom bisa mencapai dua atau tiga bulan karena rute jalan yang sulit serta beberapa ancaman seperti monster atau bandit berlevel tinggi di jalan, tidak heran sebulan adalah waktu yang bisa dihitung cepat, terutama bagi pemain sepertinya yang dulu hanya berlevel 80-an.
Tidak mudah bagi Dunk meningkatkan level dari 80 hingga 120-an dalam beberapa Dungeon yang ia jadikan tempat latihan dan leveling.
Kruuu....
Antusiasme dan semangatnya memang besar, tapi nampaknya perutnya tidak berkata demikian.
"Sebelum pergi perut harus diisi dulu."
Senyum kering menghiasi bibir Dunk tiba-tiba perutnya membunyikan lonceng. Pada akhirnya Dunk melangkahkan kakinya dengan ringan menuju restoran terdekat berniat mengisi perut terlebih dahulu.
Di restoran Dunk memesan banyak sekali makanan dan minuman tanpa melihat harga yang tercantum pada tiap menunya, membuat perhatian banyak pelanggan terpusat kepadanya, terutama pelayan restoran tersebut.
Hal yang dilakukannya wajar mengingat dirinya adalah aktor ternama di negaranya, Dunk tidak perlu khawatir persoalan harga karena dia memiliki banyak Byl di Inventory-nya.
"Maafkan saya tuan, sebelumnya kami tidak menerima bon."
"Tenang saja, aku mampu membayar ini semua."
Dunk bisa melihat kekhawatiran pelayan yang mendatanginya tersebut, lalu mengeluarkan beberapa koin perak sebagai uang muka atas semua makanannya ini. Dunk tidak melihat harga semua makanan yang dia pesan, tetapi dirinya yakin tagihannya mencapai lebih dari 1.000 Byl.
Si pelayan meneguk ludahnya melihat pelanggannya yang satu ini mampu mengeluarkan beberapa koin perak dengan santainya hanya untuk makanan. Ini hanya bisa dilakukan oleh para bangsawan atau orang-orang penting.
Pada akhirnya si pelayan mengambil dua koin perak tersebut sebagai bayaran muka sementara Dunk lanjut menyantap hidangannya dengan lahap.
"Hei, ayo bermain dengan kami sebentar saja, tidak ada ruginya kok."
"Maaf, tetapi seperti yang kalian lihat aku sedang makan. Tolong biarkan aku makan dengan tenang."
Saat asyik menikmati hidangan, Dunk dapat melihat keributan di suatu meja di dekat tempat dia mengisi perut.
Terlihat jelas beberapa pria yang nampaknya adalah pemain sedang mengerumuni seorang gadis yang tengah menyantap hidangannya dengan elegan.
Gadis itu berambut ungu cerah serta memiliki manik mata merah rubi, mengenakan topi lebar dan pakaian ala penyihir, lalu terlihat pula sebuah tongkat panjang bersandar di meja dekat si gadis. Terlihat bola hijau yang merupakan kursor pemain mengambang di atas kepalanya.
"Rasanya aku pernah melihatnya... entah di mana."
Dahi Dunk sedikit mengerut melihat rambut ungu dan mata merah tersebut, merasa sosok gadis itu tidaklah asing baginya.
Dunk sudah bertemu cukup banyak orang di dunia ini, baik itu NPC maupun pemain, tetapi gadis yang sedang dikerumuni pemain pria tersebut berhasil menarik perhatiannya secara khusus. Dia mencoba mengingat-ingat sosok gadis itu dalam ingatannya, namun tak ada satupun yang terpintas di benaknya.
Biarpun Dunk adalah pria mapan dan memiliki wajah tampan yang menjadi idaman banyak wanita, sebenarnya dia tidak terlalu bagus dalam berbagai hal akademis seperti mengingat dan menghitung. Singkatnya dia otak otot.
"Ah sudahlah, aku tidak cocok untuk hal seperti ini."
Setelah berusaha mengingat beberapa saat, Dunk akhirnya mengibaskan tangannya menyerah dan lanjut menyantap hidangannya sambil memperhatikan para pria yang mengerumuni si gadis. Dia berniat membantu sang gadis jika saja pria-pria tersebut memaksa si gadis bermain bersama mereka.
"Sudah kukatakan, biarkan aku menyantap hidanganku dengan tenang!"
Tidak tahan dengan para pria yang terus mengajaknya sejak tadi, sang gadis mengambil tongkat yang bersandar pada mejanya dan menghentakannya ke lantai cukup kuat hingga mampu mengguncang restoran—tidak, bahkan mungkin tanah tempat restoran ini berdiri.
Para pria tersebut langsung lari terkocar-kacir mendapat peringatan mengerikan itu, bahkan sebagian pelanggan di sana juga ikut berlari keluar dari restoran takut terkena imbasnya. Hanya beberapa pelanggan yang bertahan di sana, salah satunya adalah Dunk yang dikejutkan oleh guncangan barusan.
Lantai tempat si gadis menghentakkan tongkatnya tidak mengalami kerusakan apapun selain sedikit lecet, tetapi dia dapat mengguncangkan seisi restoran dalam hentakan tersebut? Hal itu sungguh mengejutkan Dunk.
"Hebat.... Mungkinkah dia seorang Mage spesialis elemen tanah?"
Dunk mengusap dagunya berusaha mengira-ngira kekuatan si gadis sambil menahan rasa kagumnya.
Ketika dirinya sedang sibuk memandang sang gadis, tiba-tiba seorang pelayan mendatangi gadis tersebut dan memintanya ganti rugi atas tindakannya yang mengakibatkan beberapa pelanggan kabur tanpa membayar, meski dengan tubuh gemetar ketakutan.
Bukannya melawan menggunakan kekerasan atau mengintimidasi si pelayan, gadis itu malah meminta maaf beberapa kali dan segera membayar tagihan yang ditinggalkan para pelanggan kabur tersebut. Dia terlihat sangat bersalah.
"Aku sangat yakin pernah melihatnya di suatu tempat...."
Dunk mengusap dagunya sekali lagi menyaksikan kerendahan hati gadis tersebut, padahal dirinya mempunyai kekuatan besar yang mampu merobohkan restoran ini dalam sekali hentakan tongkatnya, tetapi tidak dilakukan.
Saat si gadis berdiri dan meminta maaf, pandangan Dunk terpusat pada sepasang tonjolan berwarna hitam di dahi gadis tersebut.
"Mage tanah ras Demon berambut ungu itu! Dia yang berada di perang Viredeta di samping Reus!"
Dunk menepukkan kepalan tangannya pada telapak tangan lainnya berhasil mengingat mengapa dia merasa tidak asing dengan gadis tersebut. Dia pun segera beranjak dari kursinya mendekati si gadis yang terlihat bersala dan malu setelah kejadian sebelumnya.
"Permisi, apakah kau mengenal seseorang bernama Reus?"
Author
Update spesial ultah OO