
""Selamat atas wisudamu, Rudeus/kakak!""
Saat ini Deus, Mira, serta paman dan bibinya tengah berada di sebuah restoran keluarga, merayakan kelulusan Deus yang terbilang cepat, hanya kurang lebih tiga tahun semenjak Deus memulai semester pertamanya.
Meskipun bisa dikatakan merayakan, sebenarnya mereka hanya makan bersama secara sederhana di restoran tersebut. Para tamu restoran inipun tidak akan mengira mereka sedang merayakan sesuatu karena hidangan yang dipesan sangat sederhana dan minim pengeluaran.
Awalnya Deus ingin memesan lebih banyak menggunakan uangnya, hanya saja ia dilarang oleh pamannya. Hari ini adalah hari bahagia Deus, tidak baik jika malah orangnya sendiri yang mengeluarkan biaya.
Dibalik kegiatannya di dunia virtual yang begitu aktif, Deus sebenarnya banyak mengambil semester pendek dan selalu mengerjakan tugasnya dengan baik, tidak heran dirinya lulus begitu cepat dan terpandang oleh teman-teman sekelasnya.
"Ngomong-ngomong Deus, apa yang kau lakukan setelah ini? Apa kau ingin melamar pekerjaan di suatu tempat?"
"Entahlah, aku tidak terlalu berniat bekerja."
Sebenarnya rencana awal Deus setelah wisuda adalah mencari pekerjaan yang tidak terlalu memberatkan dirinya, namun sesudah mendapat Solid Gear dan memainkan Orbis Online berkat perbuatan baiknya, dirinya merasa bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar pun takkan bisa memberikan gaji sebesar penghasilannya memainkan Orbis Online.
Bagaimana tidak, jika saja Deus berniat menjual Blackstar di Orbis Forum, bukan tidak mungkin pedang tersebut akan laku hingga miliaran rupiah dan uang tersebut pun bisa digunakannya sebagai modal membangun rumah kontrakan atau sejenisnya.
Pikiran itu pernah terlintas di benaknya, namun tak pernah sekalipun ia benar-benar berniat menjualnya. Lebih baik ia mencari Item-Item lain yang bernilai tinggi atau membuat Potion dalam jumlah banyak, penghasilan dari kegiatan menjual itupun bisa mengalahkan gaji rata-rata warga Indonesia.
Mira sendiri sudah bisa menebak Deus ingin tetap bermain Orbis Online sambil menghasilkan uang dari sana, mengingat toko onlinenya selalu dikerumuni pemain level pemula. Meskipun Item dan Potion yang ia jual tidak terlalu bagus, kuantitasnya benar-benar mengerikan untuk seorang pemain solo.
Sebagai sesama pemain yang juga mencari uang dari sana, Mira juga cukup sering menjual Item-Item yang ia temukan kepada NPC, namun ia tak pernah menjualnya di Orbis Forum. Berkat itu ia bisa mendapat penghasilan sedikit, bagaimana Deus tidak tergiur dengan kemewahan ini?
Mira mengenal karakter Deus cukup baik terlepas dirinya tidak begitu akrab dengannya, ia yakin Deus bisa bermain sambil mencari nafkah melalui Orbis Online, sama halnya seperti pemain profesional lainnya.
Lagipula, saat ini Deus diburu banyak Legion untuk direkrut menjadi anggotanya dikarenakan video berisi pertarungannya melawan tiga Knight yang levelnya berbeda jauh pada waktu itu, hanya tinggal butuh waktu bagi Deus hingga terkuak identitasnya dan dikenal seluruh pemain Orbis Online.
Tidak mungkin Deus akan berhenti bermain Orbis Online melihat keuntungan sebanyak ini, bahkan bukan mustahil jika ia bermain sebagai pemain profesional.
Mereka berbincang-bincang sebentar mengisi waktu luang sembari menyantap hidangan yang mereka pesan, setelah itu barulah mereka kembali ke kediaman masing-masing. Mira mengikuti paman dan bibinya karena masih tinggal satu rumah dengan mereka.
Deus sendiri tidak langung pulang, melainkan berjalan-jalan terlebih dahulu mencari udara segar mengingat beberapa minggu terakhir dirinya terus berada di dalam Orbis Online karena harus berlatih di bawah bimbingan Randolf.
Latihan yang diberikan Randolf cukup keras dan ketat sehingga Deus sering berpikir bahwa dirinya akan mati karena latihan tersebut, namun untungnya status karakternya tidak rendah. Jika saja ia berlatih di dunia nyata dengan latihan itu, mungkin dirinya butuh beberapa kali perawatan di rumah sakit.
Ia menghela nafas berkali-kali mengingat pelatihan Randolf yang begitu mengerikan, bahkan Ikshan yang ikut berlatih pun juga sering mengeluh betapa kerasnya latihan ini.
Deus sendiri tidak melihat ada pilihan lain, lagipula latihan yang diberikan Randolf bukan hanya tentang fisik melainkan juga teknik. Permainan pedangnya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya di bawah instruksi Randolf, begitupula Ikshan yang juga ikut berlatih.
Meskipun senjata utama Randolf adalah pedang, ia juga memiliki kemampuan memainkan berbagai jenis senjata dengan baik, salah satunya kusarigama dan sabit raksasa. Setidaknya permainan kusarigama Ikshan menjadi jauh lebih baik, bahkan skill Scythe Arts-nya mengalami kenaikan level beberapa kali mengikuti perkembangan Sword Arts Deus yang juga meningkat pesat.
Deus tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang yang begitu ahli seperti Randolf menguasai banyak jenis senjata?
Trang! Trang! Trang!
Dentingan besi terdengar detik demi detik seiring percikkan bunga api tercipta dari bentrokan pedang Reus dan Randolf.
Saat ini Reus sudah mencapai titik di mana dirinya berlatih menggunakan pedang sungguhan melawan Randolf, sebelumnya mereka selalu latih tanding dengan pedang kayu atau pedang logam yang tumpul.
"Ayo gunakan seluruh kemampuanmu atau kau akan menyesal!"
Setelah mengatakan itu Randolf mempercepat serangannya membuat Reus kewalahan menangkis ataupun menghindarinya. Memang benar skill Sword Arts-nya sudah berkembang jauh berkat pelatihan Randolf, namun dirinya belum pernah menang sekalipun melawan Randolf dalam teknik pedang.
Memang jika dilihat dari segi level ataupun status Randolf jauh lebih unggul, tetapi Randolf memiliki skill yang mampu menurunkan level dan statusnya untuk sementara dan skill tersebut sedang digunakannya agar latih tanding ini tidak berat sebelah, namun tetap saja hal itu tidak terlalu berguna.
"Swing! Dragon Smite!"
Tidak terima dirinya selalu terpojokkan, Reus kemudian mengerahkan dua skill kesukaannya menyerang Randolf namun pria itu dapat menghindarinya dengan mudah.
Serangan Reus tidak berhenti sampai di sana, ia langsung menggerakkan tangan dan tubuhnya berusaha tak memunuh momentum kedua skillnya, lalu menebaskannya lagi ke arah Randolf selagi skill tersebut masih aktif.
Randolf dibuat sedikit terkejut olehnya, tidak menyangka Reus mengakali dua skill yang seharusnya hanya aktif dalam satu tebasan. Dirinya juga menguasai kemampuan ini, hanya saja Reus belum pernah memperihatkan kemampuan ini kepada Randolf.
Namun meskipun menggunakan skill dan serangan beruntun, Randolf dapat menghindari semuanya dengan mudah seperti sudah memprediksi semua serangan Reus. Ia kemudian mengayunkan pedangnya mementalkan pedang Reus, mengakhiri latih tanding kali ini dengan dirinya sebagai pemenang ke-79 kalinya.
"Seperti biasanya, aku tidak bisa menang dari guru."
Reus hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan mudahnya Randolf memberikan serangan balasan di tengah serangan beruntunnya.
"Tidak-tidak, kau bisa berbangga diri karena bisa membuatku mengaktifkan salah satu skill terbaikku."
Randolf menunjuk matanya ketika mengatakan itu, namun Reus tidak mengerti apa maksudnya. Tidak sekalipun Reus melihat Randolf mengaktifkan skill, semua gerakannya pun tak ada yang istimewa seperti skill lainnya.
"Kau tak perlu berpikir terlalu keras, cepat atau lambat kau juga akan mengetahuinya, atau bahkan mendapatkannya juga."
Randolf tertawa keras menyelesaikan ucapannya, kemudian menyuruh Ikshan berlatih permainan kusarigamanya melalui latih tanding seperti biasa.
Reus tidak bisa berhenti terheran-heran, bagaimana bisa Randolf memiliki tenaga sebanyak itu? Dirinya memang tidak bisa membuat Randolf berkeringat, namun langsung mengadakan latih tanding melawan Ikshan itu bukankah berlebihan? Setidaknya itu yang dipikirkan Reus.
---
Author
Tidak perlu lagi bertanya "Reus kapan kuliah?" ya kan? 😒