Orbis Online

Orbis Online
211. Seorang Draconian



Dragnar merupakan Ibukota Bailendra Kingdom, salah satu negeri terkuat dan berkuasa di Plainfest bagian Utara. Dinding raksasa yang mengintari Dragnar bisa dibilang adalah bukti bahwa kerajaan yang dijuluki Negeri Naga ini memang patut disebut terkuat.


Berkat predikat tersebut tak ada negara-negara di sekitarnya yang berani mencari masalah dengan Bailendra Kingdom, tentu saja kecuali satu, yaitu negara yang baru-baru ini menyatakan perang terhadap Negeri Naga, Menschrein Kingdom.


Sejak awal penduduk Bailendra Kingdom tidak begitu menyambut ramah kedatangan manusia atau ras lainnya di negeri mereka mengingat banyaknya saudara mereka terbunuh hanya demi setetes atau dua tetes darah di tangan ras lain, ditambah pernyataan perang dari Menschrein Kingdom membuat manusia makin tak diterima di negeri ini.


Itulah sebabnya ketika Reus, Ikshan, dan Ibane berjalan beriringan setiap langkah yang mereka ambil selalu diperhatikan dengan tatapan dingin.


Hal itu biasanya membuat Ibane berkeringat dingin setiap kali dia berjalan di kota ini, namun kali ini berbeda. Dia bukan hanya tidak gugup tetapi juga merasa aneh.


Penyebabnya adalah dua orang di sampingnya.


   "Mereka tidak ada."


   "Ya, tak ada satupun sepanjang mataku memandang."


   "Apa yang kalian bicarakan?"


Ibane mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti mengapa Reus dan Ikshan tiba-tiba berceletuk setelah memperhatikan warga sekitar selama beberapa saat.


   "Ah, tidak ada, hanya bergumam sendiri."


   "Benar, tak ada yang perlu dikhawatirkan."


   "Tidak, kalian jelas-jelas sedang mencari sesuatu di antara warga Dragnar ini. Apa yang ada di benak kalian?"


Reus dan Ikshan tersenyum kecut sambil menggaruk pipinya sebelum mengutarakan hal yang mereka pikirkan, hal itu kemudian membuat Ibane hampir menjitak keduanya.


   "Kalian manusia dan sedang berada di pusat negeri yang sedang memusuhi kerajaan manusia, dan kalian masih sempat memikirkan ada atau tidaknya Pasukan Pengintai di tempat ini?!"


   "Tapi, kau penasaran, kan? Sebagai orang Jepang kau pasti familiar dengan dinding ini."


   "Aku sudah tinggal di tempat ini lebih lama daripada kalian dan aku lebih memikirkan nyawaku ketimbang hal semacam itu! Lagipula, aku belum pernah melihat adanya Pasukan Pengintai yang kita maksud di sini!"


Ibane menghela nafas panjang tidak mengerti prioritas kedua orang di sampingnya. Mereka berdua sama sekali tak terlihat tegang atau merasa terganggu dengan pandangan dingin warga sekitar, jauh berbeda dari dirinya.


Bukan hanya itu, baik Reus maupun Ikshan bahkan sama sekali terlihat tenang seperti sudah terbiasa oleh ratusan pandangan dingin dari warga sekitar dan mereka masih bisa tersenyum bahkan tertawa di tengah tekanan seperti ini.


Walaupun Ibane menolak keras hal yang dipikirkan Reus dan Ikshan, sebenarnya dia juga penasaran dan mencari tahu hal serupa saat pertama kali mendatangi Dragnar.


   "Yah, kesampingkan itu, ternyata sikap penduduk Dragnar lebih parah dari yang kukira."


Reus menyapu pandangannya memperhatikan sikap serta sorot mata penuh kebencian sekaligus kemarahan dari para penduduk yang terarah pad a kelompoknya, dia tidak memahami mengapa pandangan penduduk Dragnar lebih tajam dan menusuk ketimbang di kota-kota lain.


   "Lihat itu. Bisa-bisanya penjaga membiarkan manusia baji-ngan seperti mereka memasuki kota."


   "Biarpun mereka mengenakan kain putih sebagai tanda tak berbahaya, manusia tetaplah manusia. Mereka lebih buas daripada monster sekalipun."


   "Bagaimana dengan yang itu? Dia tidak mengenakan kain putih seperti dua orang lainnya."


   "Kudengar terdapat seorang Draconian berwujud manusia menetap di kota ini beberapa waktu terakhir, mungkin dialah orangnya."


   "Mau Draconian atau bukan, jika wujudnya manusia dia tetaplah manusia. Dia sama dengan makhluk-makhluk kotor itu."


Jika di Menschrein Kingdom manusia adalah ras kelas satu dan ras selain manusia dianggap ras kelas dua yang diperlakukan tidak lebih tinggi dari budak atau barang, maka di kota ini sebaliknya. Manusia justru dianggap ras kelas dua ke bawah oleh warganya.


   "Aku tidak terkejut dengan bagaimana pandangan mereka terhadap diriku dan Ikshan yang seorang manusia, tapi aku heran kenapa mereka begitu membencimu, Ibane."


Ibane tersenyum kecut menanggapi perkataan Reus sebelum mulai menjelaskan.


Tidak seperti Dragonewt ataupun Lizardmen yang keturunan murni dari naga dengan sesama ras reptil, Draconian adalah hasil perkawinan silang antara naga dengan ras bukan reptil sehingga bisa dikatakan Draconian adalah bangsa naga campuran.


Ratusan tahun lalu naga masih mendiami beberapa tempat dan sempat menjalin keturunan dengan ras selain reptil yang mengakibatkan darah mereka terus terbawa hingga ke generasi sekarang di tubuh ras lain.


Dalam kasus Ibane, dia seorang Draconian dengan wujud manusia.


   "Tunggu, bukankah itu berarti kau seorang NPC?"


   "Kenapa kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?"


Ibane tidak menjelaskan terlalu rinci tetapi pada awal dirinya membuat karakter dia memilih manusia, namun setelah menjelajahi dunia Orbis Online cukup lama dia mengalami kejadian tak terduga yang mengakibatkan dirinya berubah menjadi Draconian berwujud manusia.


   "Lihatlah mataku, bukankah pupilku terlihat seperti pupil naga atau reptil?"


Ibane membuka matanya lebih lebar menunjukkan pupil tajam serupa ular atau mata reptil lain kepada Reus dan Ikshan.


   "Kalau diperhatikan lebih dekat perkataanmu sama sekali tidak salah. Pupil nagamu tidak begitu kelihatan dari jauh."


   "Jika hanya dipandang secara sekilas kau memang terlihat seperti manusia biasa. Tidak heran penduduk Dragnar tidak menganggapmu saudara sebangsa meski sama-sama memiliki darah naga."


Ibane mengangguk pelan mengiyakan pendapat keduanya, dia tidak berniat mengeluh lebih jauh dan memahami kondisinya sendiri. Walaupun Ibane memiliki darah naga yang sama seperti yang dimiliki oleh penduduk Dragnar, berkat penampilannya dia tidak dianggap demikian.


Ibane juga menambahkan bahwa terdapat beberapa Draconian lain di kota ini tetapi mereka lebih beruntung karena tidak berwujud manusia sehingga mereka tidak dipersulit oleh warga sekitar, sedangkan Ibane harus menerima semua perlakuan buruk penduduk Dragnar.


Reus menganggukkan kepalanya sambil mengusap dagu sejenak sebelum menghela nafas berat.


   "Nilai sebuah koin memang tidak bisa ditentukan hanya dengan satu sisinya saja."


   "Hmm? Maksudmu?"


   "Maksudku, rasisme tidak selalu terjadi pada satu sisi saja, tetapi di sisi lain juga mungkin mengalami hal yang sama."


Ikshan tidak banyak bicara tetapi dia menyetujui pendapat Reus karena di negaranya sendiri rasisme meski dilarang keras nyatanya tetap ada, bahkan Reus juga mengakui di Indonesia sendiri juga tidak terkecuali.


Ibane yang melihat pendapat keduanya tersenyum kecil merasa tersentuh oleh pandangan kedua orang tersebut, padahal dia belum lama bersama Reus dan Ikshan tetapi dua orang ini sudah menunjukkan sisi simpati mereka pada orang luar seperti dirinya.


Ibane menepuk punggung Reus dan Ikshan setelah perbincangan singkat tersebut.


   "Kalian tidak perlu memikirkanku sampai sedalam itu. Lihatlah saking seriusnya obrolan ini kalian tidak sadar bahwa kita sudah sampai di tempat yang kalian cari."


Ibane menunjuk ke suatu bangunan di depan mereka setelah berkata demikian, membuat Reus dan Ikshan tersadar ketiganya berada di depan sebuah rumah kecil yang sama sekali tak terlihat seperti toko, namun ada satu hal yang amat mencolok dari bangunan itu.


Bangunan tersebut terbuat dari kayu berwarna hitam legam seluruhnya, dari tiang pondasi hingga ujung atap paling atas hampir tidak ada warna lain menemani warna hitam.


Sekilas bangunan ini terlihat seperti bangunan tua berhantu yang telah ditelantarkan oleh pemiliknya dalam kondisi bagus, tetapi sebuah papan bertuliskan 'buka' terpampang di depan pintu masuk menandakan bangunan kayu berwarna hitam legam ini memanglah sebuah toko.