Orbis Online

Orbis Online
152. Meloloskan Diri V



Jeritan demi jeritan terdengar dari penjara, membuat para prajurit Lavore Kingdom yang gagah berani menjadi kecut. Semua prajurit telah mengepung pintu masuk penjara dengan senjata siap terhunus namun tidak ada satupun dari mereka yang berani masuk lebih dulu, terutama jeritan-jeritan tersebut tiba-tiba menghilang dan suasana menjadi begitu mencengkam.


   "Hei, apa yang terjadi?"


   "Kau bertanya kepadaku lalu aku bertanya kepada siapa?"


   "Tanyakan pada nenekmu sana!"


   "Hei, nenekku sudah mati! Kau punya masalah apa dengan neneku, hah?!"


   "Justru karena nenekmu sudah mati itulah kuminta kau bertanya padanya!"


Pertengkaran kedua prajurit tersebut biasanya membuat prajurit lain tertawa dan merubah suasana menjadi riang dan cerah tetapi saat ini tidak ada satupun dari mereka yang tertawa atau sekedar terhibur.


Semua prajurit tahu bahwa tak ada yang cukup bodoh untuk bercanda di tengah suasana serius seperti ini.


   "Apa yang terjadi? Seperti apa situasinya?"


Saat situasi mencengkam begitu lama, seorang pria berseragam berbeda dari lainnya datang dan mencuri perhatian hampir seluruh prajurit. Segera saja mereka berdiri tegap dan memberikan hormatnya.


   ""Kepala Sipir!""


Benar, pria berseragam berbeda itu tidak bukan adalah kepala sipir penjara, orang paling berkuasa di tempat ini.


Kepala sipir tersebut meminta penjelasan, salah seorang maju memaparkan penyebab situasi mencengkam ini.


   "Kepala, kami mendengar ada tahanan yang kabur, jadi kami membentuk kelompok dan memeriksanya."


   "Kelompok? Memeriksa tahanan kabur sampai membentuk kelompok?"


   "Tanpa mengurangi rasa hormat, Kepala.... Terdapat dua orang Immortal Being yang menjadi tahanan di sana. Kami hanya akan mengantar nyawa jika memeriksa seorang diri."


   "Hmph, hanya dua Immortal Being kalian takut? Ditambah ketua Rosevince maka peluang kalian mampu menaklukkan Immortal Being lebih besar! Bagaimana prajurit Lavore Kingdom bisa sepengecut ini?!"


Prajurit tersebut membuka mulutnya ingin menjelaskan situasi lebih lanjut tetapi tak ada sepatah katapun yang keluar.


Saat kepala sipir itu mengumpat keras pada para bawahannya yang menurut pandangannya begitu pengecut, pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Ketika dia menoleh terdapat sosok pria berbadan besar dengan pedang raksasa tergantung pada punggungnya di sana.


   "Kepala sipir, tenanglah. Kalau kau termakan emosi kau tidak akan bisa berpikir lurus."


   "Ah iya, Ketua Rosevince."


Kepala sipir tersebut segera meredam amarahnya tak berani lagi mengumpat terang-terangan. Dia tidak ingin membuat Rosevince tak senang karena dari segi kekuatan keduanya cukup berbeda, belum lagi posisi Rosevince sebagai ketua cabang Gaia's Tree yang diakui raja Lavore Kingdom.


Rosevince menghela nafas sejenak sebelum menjelaskan kejadian yang belum diceritakan oleh prajurit sebelumnya.


Alis kepala sihir naik turun ketika mendengarnya, terutama saat Rosevince mengakui bahwa penyebab utama para tahanan bisa kabur dikarenakan dirinya yang cepat dibutakan oleh amarah.


   "Dia bisa menggandakan diri?"


   "Begitulah yang kulihat sebelumnya. Sudah ada tiga replikanya yang berhasil kubunuh. Dua ketika di penjara saat mereka berakting seolah bertempur sengit untuk menipu penjaga, satu lagi berada di depan pintu ruang penyimpanan perlengkapan. Entah apakah yang asli masih berada di sini atau tidak."


Rosevince juga menambahkan dirinya kehilangan kesadaran saat diterjang sekuat tenaga oleh salah satunya, karena itu dia tidak bisa segera turun tangan.


Mulut kepala sipir menjadi lebih diam ketika Rosevince menjelaskan kedua Immortal Being yang ditahan adalah dalang dari kehancuran cabang Gaia's Tree beberapa hari lalu.


Ketika Rosevince sibuk menjelaskan kekuatan kedua Immortal Being, terdengar jeritan penuh kesakitan dari beberapa prajurit terdekat dari penjara di waktu yang hampir bersamaan. Seluruh perhatian sontak teralih pada sesosok asing bertopeng tengkorak yang muncul membawa pedang di sana.


Setelah berkata demikian sosok tersebut mengayunkan pedang menebas prajurit terdekat darinya. Dalam satu ayunan nyawa prajurit itu melayang tanpa tahu siapa sosok yang menebasnya.


   "Dia tahanan yang lepas! Cepat kepung dan serang dia!"


Rosevince pertama kali bereaksi menyadarkan sebagian besar prajurit akan kejadian di depan mereka yang begitu cepat.


Para prajurit mengangkat senjatanya dengan sigap dan mulai menyerang sosok bertopeng tengkorak secara serentak berharap semua dapat selesai secepat mungkin, sayangnya justru yang terjadi adalah sebaliknya.


   "Dragon Smite! Energy Wave!"


Sosok itu memutar tubuhnya dan melepaskan tebasan gelombang energi yang langsung menyerang sekaligus memukul mundur para prajurit di sekitar. Hampir semua prajurit yang terkena gelombang energi tersebut tewas dalam satu serangan barusan.


Sosok tersebut tidak berhenti sampai di sana. Dia mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya pada para prajurit paling dekat dengannya. Pada saat yang sama pula belasan prajurit tertarik menuju satu tempat dan saling bertubrukan sebelum tewas berkat tebasan pedang.


   "Apa-apaan itu?!"


   "Menggunakan pedang dan sihir?! Swordmage?!"


   "Tidak, mustahil Swordmage biasa mampu menghabisi rekan kita dalam satu serangan!"


Prajurit yang berada paling dekat dengan sosok itu terlihat begitu ketakutan. Mereka berusaha mundur lebih jauh tetapi prajurit di belakang tidak membiarkannya. Mereka malah terdorong ke depan, membuat mereka terpaksa menyerang dan kehilangan nyawa dalam sekejap.


   "Kenapa? Takut?"


Sosok tersebut menyunggingkan senyuman dingin sebelum bergerak cepat menghabisi prajurit terdekat. Setiap gerakannya hampir selalu berbeda dalam mengayunkan pedangnya, namun satu hal yang sama adalah tidak ada prajurit yang hidup setelah menerima serangan ketiga dari sosok topeng tengkorak itu.


   "Minggir! Biar aku yang melawannya!"


Rosevince berseru keras sesudah menarik pedang besarnya dari punggung. Dia berlari menerobos barisan prajurit menuju sosok pengacau tersebut. Dia menangkat pedangnya tinggi-tinggi dan menjatuhkannya sekuat tenaga ketika mencapai tempat sang target.


Di balik topengnya sosok itu mengangkat alisnya sejenak sebelum memutar tubuh diikuti ayunan pedang sederhana namun kuat menangkis pedang besar yang diarahkan padanya.


Pertukaran serangan tersebut menciptakan gelombang kecut besar sampai beberapa prajurit di sekitar termundur. Sayangnya meskipun pedang Rosevince jauh lebih besar, tebasan sosok bertopeng itu berhasil mementalkan senjata raksasa milik Rosevince.


   "Kau sungguh menyebalkan, ketua Rosevince. Kembalilah ke dunia nyata untuk sementara."


Setelah berkata demikian sosok tersebut mengeluarkan asap yang dengan cepat membentuk lima pedang hitam semi transparan yang kemudian menyatu menjadi satu pedang. Gagang pedang tersebut diraih oleh tangan kiri sosok bertopeng tengkorak sebelum didorong menembus perut Rosevince.


   "Dragon Fang!"


Baam!


Seiring seruan tersebut terdengar suara semacam ledakan kecil pada perut Rosevince. Pria bertubuh bongsor itu kehilangan kesadarannya sesaat setelah tercipta lubang besar di perutnya sebelum berubah menjadi ribuan butir piksel biru, tanpa pernah dia ketahui apa yang membuatnya terbunuh.


   "Ini mungkin kombinasi paling mematikan yang pernah kumiliki."


Sosok bertopeng tersebut ingin menggaruk kepalanya merasa sedikit terkejut terhadap serangan yang dia kerahkan barusan, tak menduga kekuatannya akan begitu kuat sampai pemain berlevel 200-an terbunuh dalam satu serangan.


Dia menghela nafas sejenak sebelum mulai melanjutkan permainan pedangnya mencabut setiap nyawa prajurit yang hendak melawan.


Kepala sipir sampai terbelalak ketika menyaksikan Rosevince, ketua Gaia's Tree cabang Alvast tewas dalam satu kali serangan. Jika saja Rosevince menemui ajalnya demikian cepat, bagaimana dengan dirinya?


Tidak ada lagi jeritan ataupun seruan para prajurit yang terdengar di telinganya. Hanya ada satu hal yang dia pikirkan sekarang, yaitu kematian yang semakin lama semakin mendekat.