Orbis Online

Orbis Online
134. Festival Malam Cinta II



   "Mia?"


   "Ikshan?"


Pandangan Ikshan dan wanita berambut cokelat kemerahan itu beradu, keduanya saling melemparkan tatapan terkejut sekaligus tak percaya. Wanita bernama Mia itu mengenali Ikshan karena partner Reus tersebut membuka topengnya.


Reus yang berada di samping Ikshan sendiri hanya diam menutup mulutnya rapat-rapat tak ingin ikut campur tentang masalah internal di antara keduanya. Biarpun Ikshan merupakan kawan satu party-nya, tetap saja hati nuraninya mengatakan dirinya tidak boleh ikut campur.


Dirinya tahu masalah internal keduanya hanya bisa diselesaikan oleh yang berhubungan. Kalau saja Reus ikut campur masalah akan semakin rumit, terutama jika memberikan pandangan pribadinya di saat-saat seperti ini.


   "Kau sedang apa di sini, Mia? Bukankah kau sedang berada di Alvast?"


Raut wajah Ikshan nampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Menurut pesan yang diterimanya beberapa hari lalu saat masih berlatih di bawah pengawasan Randolf, kekasih hatinya itu seharusnya sedang berada di ibukota Galvore Kingdom, Alvast, untuk bermain bersama teman sepermainannya.


Namun, siapa yang menyangka dirinya dapat bertemu dengan Mia di tempat ini?


Mendengar pertanyaan Ikshan, Mia hanya memalingkan wajahnya tak berniat menjawabnya, membuat hati Ikshan terasa sakit meski tak berdarah.


   "Sayang, kau kenal pria ini?"


   "Dia... kekasihku."


   "Oh, jadi dia, ya?"


Mata Ikshan terbelalak lebar mendengar pernyataan tersebut, sementara Reus bereaksi tak jauh berbeda meski tidak sebesar Ikshan. Pandangan Ikshan kemudian teralih kepada pria tampan berambut pirang yang tengah menggandeng tangan Mia tanpa wajah bersalah.


Tangan Ikshan sudah siap menggapai kusarigama di balik jubahnya berniat menyerang pria pirang tersebut karena terbawa emosi, tetapi tindakannya berhasil ditahan oleh Reus.


   "Tenanglah, jika kau membuat keributan di tempat ini aparat keamanan setempat bisa membawamu ke penjara. Kau mengerti maksudnya dipenjara di dunia ini?"


Ikshan sempat memberontak ketika ditahan, namun begitu diperingatkan Reus gerakannya berontaknya berhenti. Meski diliputi emosi dan kemarahan yang tidak kecil, Ikshan masih memiliki akal sehatnya.


Di dunia Orbis Online penjara tidak jauh berbeda dari dunia nyata, sama-sama dijebloskan ke sel tahanan dan diperlakukan layaknya kriminal. Sistemnya memang kurang lebih sama, namun yang paling ditakutkan dari sistem penjara Orbis Online adalah pemain tidak bisa log out selama mendekam di balik sel tahanan.


Selain tidak bisa log out, pemain yang dipenjara selama sebulan juga akan mendapatkan penalty berupa kehilangan kelas serta level sebanyak satu level setiap minggunya, atau tergantung hukum yang berada di negara tersebut. Jika pemain memilih bunuh diri pun ia akan dibangkitkan di sel yang sama tanpa bisa keluar.


Setelah diperingati Reus, Ikshan menarik rangkaian nafas untuk menenangkan dirinya.


   "Mia, kau sungguh melakukannya?"


Ikshan memang dikuasai amarah, namun dirinya dapat mengendalikan amarah tersebut sehingga tidak lepas kendali.


Mia kembali memalingkan wajahnya tak berniat menjawab pertanyaan Ikshan, tetapi pria berambut pirang yang bersama Mia maju selangkah mendekati Ikshan sambil mengangkat dagunya dengan angkuh, menatap rendah Ikshan.


   "Aku tidak tahu seberapa cintanya kau dengan Mia, tapi Mia lebih memilihku dibanding dirimu. Menyerahlah dan jangan nampakkan wajahmu di depan kami lagi."


Perkataan tersebut menyulut emosi Ikshan lebih besar, tetapi setiap Ikshan ingin bertindak berdasarkan kemarahannya semata Reus selalu menahannya. Meski emosi Reus sendiri tersulut oleh ucapan pria ini, dirinya tetap tidak bisa membiarkan temannya ini menyerang seseorang di tengah keramaian seperti ini.


Melihat Ikshan terlihat bersusah payah menahan emosinya yang membara, pria pirang tersebut tersenyum sinis dan memperhatikan Ikshan dari bawah hingga ke atas.


   "Yah, daripada bersamamu yang lebih mirip pengemis, Mia jelas akan memilihku yang seorang Paladin ini."


Pria tersebut membusungkan dadanya dengan bangga sambil mengatakan itu, memperlihatkan dengan jelas simbol yang ada di bagian dada zirahnya. Simbol itu tidak asing bagi Reus, simbol Gaia's Tree, Legion yang merupakan tempat adiknya dan teman-temannya bernaung.


   'Dia anggota Gaia's Tree? Dari petinggi sampai anggotanya memang sudah busuk, ya.'


Pandangan Reus mendingin mengetahui pria di depannya ini berasal dari Gaia's Tree. Dirinya sudah sejak awal tidak menyukai Gaia's Tree dan berniat membereskan Legion ini di masa depan karena telah mencari gara-gara terhadap adiknya, tapi sepertinya waktu untuk melakukan hal itu datang lebih cepat dari dugaannya.


Reus menghela nafas sesaat setelah menenangkan Ikshan, lalu melangkah mendekati pria berambut pirang itu.


   "Kau dari Gaia's Tree yang itu?"


   "Oh, kau mengetahuinya? Kupikir kalian hanya pemain miskin biasa, tapi kau cukup berpengetahuan, ya? Benar, aku dari Gaia's Tree yang kau maksud."


Reus memang tidak membuka topengnya seperti Ikshan, tapi pria itu kelihatannya dapat menebak-nebaknya dari perawakan Reus.


Selagi pria berambut pirang tersebut menyombongkan diri dan Legion-nya, Reus menyipitkan matanya memeriksa level pria itu.


---


Charion


Ras : Human


---


   'Level 124 sudah berlagak sombong? Aku sungguh terkejut dengan Gaia's Tree ini.'


Reus mendengus pelan melihat level Charion yang di bawahnya, padahal Gaia's Tree mengikuti perang antar Legion terus-terusan selama ini. Biarpun Charion seorang Paladin, kelas tersebut bukanlah kelas langka dan secara status serta kemampuan Reus jauh lebih unggul jika harus melawannya.


---


Nama : Reus


Level : 146


Kelas : Freelancer


Respect : 8.081


Str : 1.434, Dex : 1.596, Vit : 1.118, Int : 769, Luc : 806


Skill : Alchemy, Martial Arts IV (Passive), Sword Arts VII (Passive), Swing, Hollow Sword, Power Breathing, Silent Strike, Expert Solution (Passive), Dragon Smite, Dragon Aura, Dragon Skin II (Passive), Dragon Power, Dragon Spirit, Poison Breath, Sprint, Energy Wave, Jester Knife, Body Clone, Ultimate Skill : Joker Field, Sword Full Control Arts, Sword Body I (Passive), Swordmaster Aura, Laplace Forecast, Black Sky Sword Arts Series


Title : The Harvester III, Another Alchemist, Bare Hand Fighter, Advance Player, Advance Swordsman, Skill Modifier, Golem Hunter, Dwarf Hunter, Goblin Hunter, Skill Inventor, Undead Hunter, Undead Killer, Expert Player, The Half-Dragon-Man, Undead Slayer, Special Holder, Potion Enhancer, Ultimate Holder, Hroud's Tourist, Hero of Horen Mountain


---


Reus telah memiliki banyak skill yang dapat divariasikan menjadi berbagai macam serangan dan teknik, lalu secara level ia juga jauh lebih tinggi dibanding Charion. Jika mereka bertarung maka sudah jelas Reus akan keluar sebagai pemenang.


Reus memang ingin sekali meratakan Gaia's Tree secepatnya, namun kekuatannya belum memungkinkan untuk melakukannya. Tapi, jika menghabisi satu orang yang congkak seperti ini tidak masalah, bukan?


   "Aku tidak tahu Gaia's Tree berkata seangkuh itu padahal ini bukan masalahmu."


   "Apa katamu?"


Dahi Charion mengerut hebat mendengar ucapan Reus, matanya menyipit tak senang.


   "Seperti yang kubilang, ini masalah mereka berdua. Kau sebagai orang ketiga tidak berhak mencampuri masalah mereka."


Reus menyunggingkan senyuman tipis sedikit mengangkat dagu, memandang dingin Charion yang kelihatannya tidak senang dengan ucapannya. Meski begitu, Reus tidak peduli dan mengatakan apa yang ingin ia katakan.


Selagi Reus terlihat memprovokasi Charion, Ikshan hanya bisa diam tidak ingin ikut campur urusan keduanya dan memperhatikan Mia yang nampak gelisah.


Seperti yang Reus katakan, Ikshan dan Mia adalah pasangan kekasih yang sedang berada di ujung tanduk karena salah satu dari mereka berkhianat. Baik Reus maupun Charion tidak berhak ikut campur masalah keduanya kecuali untuk menenangkan mereka.


Merasa tidak terima dan emosi, Charion menunjuk wajah Reus dan mimik penuh kemarahan. Ia kemudian menarik pedang di pinggangnya, menghunuskannya pada Reus membuat orang-orang di sekitar terkejut dan segera menjauh dari lokasi.


   "Kau diam saja, pemain bobrok. Kau ingin merasakan kematian?"


Telinga Reus sedikit memanas berkat kata-kata Charion, tapi ia merasa senang karena provokasinya berhasil. Reus pun ikut menarik pedangnya dari punggung sambil tersenyum kecil.


   "Boleh saja, itupun jika kau dapat membunuhku."


Selesai mengatakan itu Reus lalu membentuk kuda-kuda bertarungnya, menantang Charion yang tersulut emosi bertarung. Tentu saja Charion yang berasal dari Gaia's Tree angkuh itu menerima tantangan tersebut tanpa basa-basi, terutama di depan Mia.


Reus sadar meski bertarung dalam kota aparat keamanan setempat bisa menangkap mereka, namun beda ceritanya jika pertarungan duel yang diterima oleh kedua belah pihak. Ikshan sebelumnya ingin menyerang dengan membabibuta, jadi Reus bisa menduga kalau aparat keamanan akan menganggapnya pertarungan yang tak diinginkan dan akhirnya menjebloskan Ikshan ke penjara.


Charion berdecak pelan sebelum mengambil tameng di punggungnya membentuk kuda-kudanya sendiri.


   "Akan kuajari kau sopan santun, dasar pemain bobrok."


Reus hanya tersenyum kecil menanggapinya. Ia jelas akan memberi pelajaran yang sangat berharga bagi pria berambut pirang nan angkuh ini, sekaligus mengumumkan permusuhannya terhadap Gaia's Tree, Legion yang menyebabkan Mirage dan lainnya mengalami penurunan drastis.