
Sesudah pembantaian pemain yang dilakukan oleh Reus dan Ikshan, keduanya menjadi pembicaraan di berbagai media, terutamanya di kalangan pemain Gaia's Tree. Dua sosok bertopeng misterius mampu menghabisi puluhan pemain dengan mudah, itulah topik terhangat yang tengah dibicarakan oleh anggota Gaia's Tree dan beberapa pemain di Orbis Forum.
Semenjak penyerangan para anggota Gaia's Tree di gerbang Galvast, perjalanan Reus dan Ikshan terbilang cukup aman dan tak mengalami masalah berarti. Paling-paling hanya serangan monster dan hewan buas atau beberapa bandit dan perampok, tidak begitu sulit.
"Akhirnya setelah sekian lama melewati berbagai masalah."
"Ya...."
Reus dan Ikshan tersenyum penuh haru ketika mencapai gerbang masuk Alvast, ibukota Lavore Kingdom setelah sekian lama.
Pasalnya sejak pertemuan pertama mereka, keduanya mengalami berbagai macam masalah yang berakhir pada penundaan perjalanan mereka. Sebut saja pertempuran di dalam gunung Horen, serangan di desa Rockfall, serta pelatihan selama dua bulan di bawah bimbingan Randolf sebagai contoh.
Meskipun pada akhirnya Reus dan Ikshan memperoleh kekuatan baru seusai berlatih di tempat Randolf selama sebulan, tetap saja itu tak bisa melenyapkan rasa haru mereka setelah sekian lama sampai di tempat tujuan.
Tak ingin berlama-lama mereka segera melangkah menuju gerbang masuk Alvast yang terdapat banyak sekali orang mengantri. Hal ini bisa dikatakan wajar mengingat Alvast adalah ibukota Lavore Kingdom.
"Buka topengmu, ini pos pemeriksaan."
Salah seorang penjaga melotot pada Reus dan Ikshan yang masih mengenakan topeng setengah wajahnya sampai detik ini juga. Mereka melepas topeng menuruti penjaga tersebut karena tidak ingin membuat kegaduhan.
Butuh beberapa waktu bagi keduanya sampai bisa melangkah melewati gerbang memasuki Alvast mengingat panjangnya antrian, namun mereka tidak mengeluh.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang, Ikshan?"
"Entahlah, aku sendiri bingung...."
Tujuan utama Ikshan melakukan perjalanan menuju Alvast adalah menemui kekasihnya, Mia untuk bermain bersama, namun justru di tengah perjalanan tersebut cintanya kandas dan berakhir dalam kebingungan.
Reus sendiri hanya singgah sementara di kota ini mengingat tujuan utamanya adalah Bailendra Kingdom untuk mengumpulkan informasi mengenai ketujuh segel Arshwind, jadi dia tidak perlu khawatir ke mana dirinya akan pergi setelah kota ini.
'Jika memungkinkan aku akan pergi ke Shadow Mountain untuk mengambil Whitestar.'
Terbayang di benaknya sebuah pedang yang persis seperti Blackstar, tetapi berwarna putih sepenuhnya memancarkan cahaya suci nan murni.
Menurut ingatan yang diberikan Randolf, dalam Shadow Mountain terdapat Dungeon bernama Abyss Edge, salah satu Dungeon tersulit di seluruh Plainfest yang pernah ditemukan oleh para pemain. Dia setidaknya ingin mengetahui bagaimana rasanya berada di dalam salah satu dari Five Great Dungeon yang pernah ditemukan.
Reus memang tidak berharap dapat menyelesaikan Dungeon tersebut dalam sekali coba, tetapi setidaknya dia bisa mencoba lebih dulu sebelum menyerah, mengingat ada kemungkinan Whitestar memiliki kemampuan yang sama seperti Blackstar.
"Mungkin aku akan mengikutimu mencari petunjuk untuk membebaskan Arshwind dan menghancurkan Order of Chaos."
Bingung mengenai jalan mana yang akan dia ambil setelah ini, akhirnya Ikshan memutuskan untuk mengikuti sekaligus membantu Reus.
Dia sendiri sudah mengetahui tentang keberadaan Order of Chaos yang begitu mengancam dunia Orbis Online serta kebenaran mengenai sejarah kelam Blackstar, Ikshan merasa ikut harus ikut andil dalam menghentikan ambisi Order of Chaos yang ingin menyelimuti dunia dengan kegelapan.
Meskipun Ikshan percaya bahwa Reus dapat melakukannya, dirinya tetap tidak tega membiarkan Reus menanggung beban tersebut seorang diri dan tahu ada kalanya di mana Reus tak bisa menghadapi Order of Chaos sendirian. Dia akan membutuhkan setiap bantuan yang ada.
Reus tersenyum kecil menanggapi jawaban Ikshan yang cukup mengejutkan dirinya, mengingat Order of Chaos bukanlah organisasi yang bisa dikalahkan seperti Legion.
"Baiklah, lagipula aku juga membutuhkan teman seperjalanan yang bisa diajak berbicara."
"Baguslah jika begitu."
Keduanya melemparkan senyum sebelum membenturkan tinju mereka menandakan Reus dan Ikshan telah sepakat.
Reus memutuskan pergi mencari penginapan sekaligus mengisi ulang perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya menuju Bailendra Kingdom, sedangkan Ikshan bertanya kepada penduduk setempat mengenai toko senjata atau tukang penempa di sekitar.
"Yah, untuk berjaga-jaga hindari tindakan mencolok."
Sebelum berpencar Ikshan memberikan pasangan jubah dan topeng baru pada Reus untuk dikenakannya. Identitas mereka sebagai 'pemain bertopeng misterius yang membantai sekelompok anggota Gaia's Tree' dapat dikenali dengan mudah mengingat topeng keduanya cukup menarik perhatian.
Pada akhirnya Reus mencari lorong yang cukup tertutup dan mengganti jubah serta topengnya, kali ini dia nampak lebih cerah dan sedap dipandang dari sebelumnya. Warna topeng serta jubah Reus sebelumnya memang memberi kesan gelap dan mencengkam, wajar jika pandangan orang-orang di sekitar kepadanya menjadi berubah.
Perhentian Reus yang pertama adalah toko serba terdekat berniat membeli banyak perbekalan.
"Maaf, semua stok makanan dan minuman habis diborong oleh seseorang sebelumnya."
"Habis?"
Alis Reus terangkat cukup tinggi mengetahui hal tersebut, dirinya sungguh tak menyangka ada orang yang mampu menghabiskan semua stok pada sebuah toko.
'Apa mungkin ada NPC bangsawan yang sedang mengadakan pesta sampai menghabiskan stok Item?'
Reus menggeleng pelan menepis pemikiran itu. Dia tahu meskipun hanya NPC, para bangsawan ini pastilah menyukai hal-hal mewah, mustahil ada bangsawan memborong habis dari toko kecil yang ditujukan untuk rakyat jelata seperti ini.
Pada akhirnya Reus meninggalkan toko serba itu setelah membeli beberapa kebutuhannya yang lain, dia melangkah menuju toko lain namun anehnya toko-toko yang ia datangi juga kehabisan perbekalan seperti sebelumnya.
"Apa-apaan dengan kekosongan stok ini?"
Sambil duduk mengeluh di sekitar alun-alun Alvast, Reus menghela nafasnya kebingungan terhadap keadaan aneh ini. Dia sudah mengujungi beberapa toko serba, tetapi semuanya mengatakan barang dagangan mereka habis diborong oleh seseorang.
Reus berpikir bahwa seseorang yang dimaksud para pemilik toko sebelumnya jika bukan pemain dari Legion maka pemain berkekuatan ekonomi tinggi.
"Tapi, bukankah Legion tidak terlalu membutuhkan stok perbekalan seperti ini? Terutama membelinya terang-terangan dari toko-toko kecil begini."
Reus menggelengkan kepalanya pelan mengingat kembali sebagian besar anggota beberapa Legion memanglah pemain, tetapi beberapa di antaranya juga memiliki NPC yang membutuhkan tiga kebutuhan primer sama seperti pemain di dunia nyata, yaitu pangan, sandang, dan papan.
Meskipun begitu, jika Legion tersebut termasuk ukuran besar mereka takkan membeli kebutuhan-kebutuhan itu dari tangan ketiga, melainkan tangan kedua atau malah langsung dari produsennya.
"Jika itu Legion kecil sih tidak terlalu dipikirkan, tapi yang diborong habis ini sampai lebih dari lima toko...."
Sekali lagi Reus menghela nafasnya merasa bingung apa yang harus dia lakukan terhadap stok perbekalannya yang cukup menipis.
Memang benar dia dan Ikshan mampu berburu beberapa hewan atau monster dalam perjalanannya, tetapi tidak ada dari keduanya yang dapat memasak bahan liar dengan enak, terutama memasak di alam liar.
Biarpun Reus cukup pandai memasak dia tidak pernah memasak di alam liar sebelumnya, mengingat dia termasuk golongan orang rumahan. Tanpa kompor dan peralatan masak standar lainnya dirinya tidak bisa apa-apa di hadapan bahan makanan.
Saat Reus termenung memikirkan nasib perbekalannya yang diambang kematian, telinganya menangkap suara gaduh dari suatu tempat, dia segera menengok pada suara gaduh itu sedikit penasaran.
Di sana Reus dapat melihat sepasang muda-mudi sedang berlari dari sekelompok orang, dia bisa melihat terdapat kursor pemain di atas kepala mereka semua, namun ada satu hal yang membuat Reus membelalakkan matanya, dua sosok yang sangat familiar tertangkap pandangannya.
"Dunk? Kynel?"
##+##
Author
Hai para pembacaku, tolong jangan sia-siakan poin kalian di cerita ini, mending kalian sumbangkan poin kalian di novel-novel fantasi ranking atas biar novel fantasi makin dikenal.
Kalau kalian sumbang ke sini itu gak ngaruh, tolong ya jangan nyumbang poin lagi, kalau koin gak papa karena jadinya tip buat saya, kalau poin gak usah karena jadi sia-sia