Orbis Online

Orbis Online
160. Kematian Kedua



Pemandangan pertama yang dilihat Deus setelah terus terkoneksi dalam Orbis Online selama beberapa hari terakhir adalah langit-langit apartemennya. Pandangannya begitu kosong seperti orang yang baru kehilangan semangat hidup.


Butuh beberapa saat bagi Deus untuk mendapatkan kesadarannya kembali. Dia menggelengkan kepalanya pelan sambil sesekali menepuk pipinya sendiri.


   "Ah, pengalaman yang mengerikan."


Deus sedikit merinding saat mengingat detik-detik terakhirnya sebagai Reus di Orbis Online. Tidak pernah dia sangka kematian keduanya akan berakhir di tangan orang terkuat se-Lavore Kingdom.


Dia menarik serangkaian nafas berusaha menenangkan diri. Setelah merasa lebih tenang barulah Deus bangkit dari kasur dan melakukan peregangan ringan. Dia tidak ingin mengalami cedera serius sesudah berbaring terus-menerus selama beberapa hari.


Deus membuka gorden ruangannya membiarkan sinar mentari masuk begitu menyudahi peregangan kecilnya.


   "Sebaiknya aku menghubungi Ikshan terlebih dahulu."


Setelah berkata demikian Deus meraih ponselnya dan mengirim pesan pada akun Orbis Forum Ikshan yang telah dia ketahui cukup lama tentang kematiannya. Tentu dia tidak ingin rekannya bertindak gegabah dan ikut mati.


Dalam pesannya Deus juga memberitahukan tentang keberadaan Xavier yang merupakan pemimpin sekaligus orang terkuat Elite Knight dan seluruh Lavore Kingdom. Jika bertemu dengannya maka Deus mengharuskan Ikshan lari sekuat tenaga dan mencari tempat yang aman.


   "{Oh kawan, kau sedikit terlambat memberitahukannya.}"


Tanpa diduga Deus, Ikshan langsung membalas pesannya. Ikshan menuliskan bahwa dirinya juga mati tetapi bukan karena Xavier yang disebutkan Deus, melainkan salah seorang Elite Knight lain yang menggunakan panah. Dia menyerang Ikshan dari jarak jauh saat hampir mencapai ruang harta kerajaan.


Deus menepuk dahinya tak menyangka Ikshan ikut mati di saat yang hampir bersamaan dengannya.


   "Yah, bagaimanapun juga kami sudah bebas dari penjara. Setidaknya kami akan bangkit di suatu tempat di Alvast."


Deus mendesah setelah berkata demikian, dia lalu melangkah menuju laptopnya dan membuka Orbis Forum, lebih tepatnya fitur jual-beli online yang tersedia. Deus melihat-lihat Item yang terjual dalam angka ribuan Byl, terutama Item berbentuk pedang besar dua tangan.


Alasan Deus membuka Orbis Forum dan meneliti harga Item tersebut tidak lain dan tidak bukan untuk membuka harga Great Grega.


Deus pengguna pedang satu tangan sementara Great Grega merupakan pedang dua tangan. Biarpun dirinya mampu mengayunkan pedang tersebut menggunakan sebelah tangan dibantu Telekinesis, ukurannya yang terlampau besar akan lebih menyulitkan Deus dalam pertarungan dibanding memudahkan.


Lagipula dibanding Great Grega, Deus memiliki Dragon Slayer Sword yang mempunyai kekuatan lebih besar, bahkan Dragon Slayer Sword merupakan pedang satu tangan. Terutama setelah melihat Special Trait Set-nya yang bersinkron dengan perlengkapan seri Dragon pemberian Arshwind, sulit bagi Deus melepaskan Item itu sekarang.


   "Ngomong-ngomong soal pedang, kalau tak salah Xavier mempunyai Series Skill, bukan? Divine Sky Sword Art Series kalau tak salah."


Deus menyandarkan badannya pada punggung kursi sambil menengadahkan kepalanya memandangi langit-langit, mengingat kembali pertarungannya melawan Xavier.


Deus bukan tidak menyadarinya saat bertarung, melainkan dia mengesampingkan masalah itu terlebih dahulu mengingat kemampuan Xavier begitu tinggi sampai-sampai dirinya kalah hanya dalam dua serangan.


Divine Sky Sword Art Series bukanlah skill yang asing di benak Deus. Dia ingat bahwa Randolf, guru pedangnya dalam pelatihan dua bulan di Orbis Online, menciptakan dua buah Series Skill pedang dengan memadukan dua Series Skill yang berbeda.


Skill yang digunakan Xavier, Divine Sky Sword Art Series merupakan salah satu akar Black Sky Sword Art Seris miliknya yang diberikan Randolf selain Black Abyss Sword Art Series.


   "Sekeras apapun aku berpikir jika aku tak bisa mengalahkannya maka Blackstar tidak akan mungkin kembali ke tanganku."


Deus menghela nafas berat setelah berkata demikian, kepalanya sedikit berdenyut ketika mengingat kembali dua serangan mengerikan yang dikerahkan Xavier sebelumnya.


Serangan pertama bisa menyebabkan sekitar 20% HP-nya hilang diikuti sejumlah besar HP-nya ikut menurun berkat efek membakar dari elemen Light yang berlawanan dengan elemen Dark, sementara serangan keduanya sungguh menghabisi seluruh HP Deus yang tersisa.


Jika bukan karena HP yang telah dia simpan dalam HP Stack, mungkin Deus tidak akan bisa bangkit lagi untuk memberikan serangan terakhir.


Berkat Special Trait Set perlengkapan seri Dragon-nya, Deus mampu menggunakan skill mengerikan bernama Dragonman Form selama dia mengenakan perlengkapan seri Dragon secara utuh.


Alasan mengapa Deus tidak menggunakannya ketika melawan Xavier yang pertama adalah dia tidak sempat mengerahkannya. Gerakan Xavier terlalu cepat sampai Deus tidak sempat merespon, ditambah kekuatan besarnya yang menjadi kejutan bagi Deus saat itu.


Sekarang setelah berhadapan melawan pria paruh baya tersebut, Deus sudah mendapat gambaran sebesar apa kekuatan Xavier yang sesungguhnya.


   "Jika Dragonman Form ditambah Dragon Power dan Dragon Spirit, lalu beberapa skill lain...."


Deus mulai menghitung seberapa besar peluangnya menang melawan Xavier di lain kesempatan dengan kekuatan penuhnya sejak awal. Penyebab kekalahan Deus kali ini adalah dirinya belum terlalu siap dan dikejutkan oleh kemampuan Xavier yang terlampau dugaannya.


Berbeda dari melawan Arshwind, kali ini tidak ada Blackstar di tangannya sehingga Deus tak mempunyai cara lain selain mengandalkan Dragonman Form beserta seluruh skill yang telah dia koleksi sampai sekarang.


   "Baik, seharusnya ini sudah cukup."


Deus mengangguk pelan memandangi secarik kertas berisi coret-coretan mengenai perhitungan kasar saat dirinya menggunakan kekuatan penuhnya. Tidak buruk bagi pemain di level yang sama bahkan terlampau tinggi namun, Deus merasa semua ini belum cukup.


   "Satu-satunya yang bisa meningkatkan peluangku menang secara drastis mungkin hanya Ultimate Skill : Joker Field – Ultimate Buff Work."


Deus mengusap dagunya sejenak mengingat-ingat pertama dan terakhir kali dirinya menggunakan skill tersebut. Dia sudah mengerahkan Joker Field sebanyak dua kali setelah mendapatkannya tetapi, belum tentu Xavier tak mampu mengatasi skill sejenis Unlimited Buff Work.


Pada akhirnya Deus meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah sebelum menarik kertas lain dan mulai menghitung ulang. Kali ini dengan segala sesuatu yang dia miliki, termasuk penggunaan Item serta cara mengkombinasikan skill yang lebih efektif sekaligus efesien.


Saat Deus sedang dipusingkan oleh perhitungannya sendiri, tiba-tiba bel pintunya berdering keras mengejutkan Deus hingga hampir terjatuh dari kursi.


   "Siapa yang datang pagi-pagi begini?"


Deus menghela nafas sejenak sebelum bangkit mendekati pintu dan membukanya, sukses membuat Deus cukup terkejut memandangi siapa tamu yang datang sepagi ini.


Di balik pintu yang telah terbuka terlihat seorang gadis yang lebih muda dan pendek dari Deus, memiliki paras menarik serta berambut cokelat panjang yang dikuncir kembar dua. Manik mata hijau zamrudnya juga terlihat begitu indah seperti permata.


   "Mira? Sedang apa kau di sini?"


Ya, gadis tersebut adalah Mira, adik kandung Deus. Wajahnya terlihat cemberut, tidak begitu senang dengan reaksi Deus barusan.


   "Kenapa aku di sini? Bukankah aku sudah mengirimimu pesan bahwa aku akan kemari?"


   "Pesan?"


Deus merogoh sakunya mengambil ponsel lalu memeriksa bagian pesan masuk. Memang benar di sana terdapat pesan dari Mira namun dia sengaja mengabaikannya karena menganggap pesan tersebut tidak terlalu penting.


Mira bisa melihat reaksi Deus yang kini tengah tersenyum canggung padanya. Dia tahu apa yang ingin kakaknya itu katakan sehingga dia hanya menghela nafas.


   "Kakak belum membaca pesanku, bukan? Kalau begitu biarkan aku masuk dan menjelaskannya secara langsung agar lebih mudah berdiskusi."


   "Y-ya."


Deus hanya bisa menurut. Dia mempersilahkan Mira masuk dan menunggu sementara dirinya pergi membasuh diri terlebih dahulu mengingat sudah berhari-hari lamanya sejak terakhir Deus mandi.


Mira juga sempat protes karena aroma badan Deus tak terlalu sedap sehingga membuat Deus buru-buru melangkah menuju ke kamar mandi untuk membasuh diri.