
Setelah gelombang kedua tumpas sampai monster terakhir, pasukan Raid mengatur kembali posisi mereka. Kali ini tidak seperti sebelumnya. Reus memerintahkan untuk mengambil formasi perang yang pada umumnya digunakan.
Para pemain Tanker di depan, kemudian menyusul pemain tipe Attacker di belakang, lalu Healer dan Mage, dan di barisan terakhir terdapat pasukan pemain berkelas Archer atau sejenisnya. Formasi ini digunakan karena Reus merasa inilah babak terakhir dari perang antara monster melawan pasukan Raid pemain untuk memperjuangkan kota Livetuna dari kehancuran.
Sinar mentari yang terik di siang hari ini membuat semua pemain merasa gerah dan kepanasan, tapi mereka memiliki stok persediaan makanan dan minuman sendiri di dalam Inventory masing-masing sehingga bisa menghilangkan rasa kering pada kerongkongan untuk sementara. Benar, hari sudah mulai siang di dalam Orbis Online.
Reus sendiri berada di barisan paling depan memandang jauh ke depan-tepatnya memperhatikan gerbang desa Viredeta-agar dirinya dapat cepat bertindak saat pasukan musuh kembali menyerang. Ia ditemani oleh Ramsey dan Dalon di sisi kanan dan kirinya, sementara Kynel berada di barisan di mana Mage berkumpul.
Meski Kynel sendiri tidak percaya diri pada kelompok sosial seperti ini dan merasa tertekan, namun hasilnya tak seperti yang ia bayangkan. Beberapa Mage mengajaknya berbicara dan menjalin hubungan dengannya. Itu bisa dilihat dari tempat Reus berada, ia sedang berbincang ria bersama teman barunya.
"Jadi kali ini apa rencanamu, Reus?"
"Tidak ada rencana, hanya peperangan murni yang tersisa."
"E-eh? Serius?"
"Duarius."
Dalon hanya bisa terbengong mendapat jawaban yang tak diharapkan olehnya dari Reus. Yah, itu memang benar. Dalam situasi sekarang tidak ada strategi yang cukup bagus untuk memenangkan perang.
Reus memang sudah merasakan sesulit apa para monster elit ketika dirinya terperangkap di dalam desa Viredeta, tapi saat ini ia tak bisa memikirkan rencana bagus lainnya. Hanya pertarungan antar pemain dan monster yang biasa dilakukan.
'Dan untuk itu kekuatan Ramsey sangat dibutuhkan.'
Ia melirik Ramsey yang tengah bermain-main bersama Gordon versi kecil di sampingnya. Hal itu membuatnya bergeser menjauhi Ramsey dalam sekejap.
Reus sendiri takut kucing karena suatu pengalaman yang ia terima saat masih kecil. Ia pernah menolong seekor kucing yang tenggelam di sebuah sungai, namun apa yang ia dapat sebagai imbalannya adalah beberapa cakaran maut yang menyebabkan dirinya trauma sampai sekarang. Sebagai anak kecil tentu saja kejadian semacam itu sangat membekas di ingatannya.
Mengabaikan Ramsey dan Gordon yang tengah bermain-main menghilangkan rasa tegang dan penat, Reus melihat pedangnya-Blackstar-memeriksa seberapa cepat kemajuan yang ia dapatkan dari menyerap semua monster-monster yang berhasil ia serap sebelumnya.
---
Blackstar
Level : 21
Next Level : 27%
---
'Oh, ini benar-benar bekerja.'
Reus tersenyum antusias mengetahui pedangnya telah mengalami kenaikan level dengan waktu yang terbilang cukup singkat. Yah, itu semua berkat perang ini yang menyediakan banyak monster-monster mob yang bisa ia buru sebanyak mungkin.
Meski dirinya dapat mengerjakan Quest resmi dari Quest Center, menurutnya mencari monster yang tempatnya menyebar ke mana-mana itu sangat merepotkan. Maka dari itu Reus merasa perang ini cukup menguntungkan walau kemungkinan besar ia bisa mati dan terkena penalty sebagai hukumannya.
Di dunia Orbis Online level, status, Equip, serta skill sangatlah berpengaruh dan dipandang tinggi. Semakin tinggi level dan status seseorang, maka semakin segan pula pemain lain kepadanya. Di tempat kedua dipandanglah Equip yang menyertai level dan status sebagai taraf ukuran seorang pemain, lalu di tempat terakhir dilihatlah skill.
Skill memang langka, namun karena kelangkaan itulah yang membuat skill tidak begitu penting karena semua bergantung pada kemampuan sang pemain. Itulah yang terpenting dari VRMMORPG.
"Musuh terlihat! Musuh keluar dari gerbang!"
Mendengar seruan tersebut, Reus dan pasukan Raid lainnya segera berdiri dengan Equip mereka masing-masing bersiap untuk bertempur. Reus sendiri mengambil satu langkah mendekat untuk memastikan pasukan musuh, sementara Ramsey yang sudah menunggani Gordon versi besar-sudah membesar seperti ukuran semula-menggengam erat bulu-buku Gordon agar tidak terjatuh saat Gordon mengepakkan sayapnya dengan kecepatan penuh ke depan.
Di depan sana-tepatnya di gerbang desa Viredeta-terlihat segerombolan Orc, Hobgoblin, Collosal Wolf, Troll, White Troll, dan beberapa ras monster mob lainnya. Walau berbeda-beda, nampaknya Equip yang mereka kenakan berkualitas sama dan bisa dikatakan berstatus cukup tinggi.
Sebagian besar monster mob itu mengenakan Equip zirah besi perak disertai pancaran cahaya ungu remang-remang, senjata berwarna gelap beraura ungu pula, serta pancaran hawa hebat yang bisa membuat monster-monster level rendah lari terbirit-birit. Hal itu cukup membuat para personel pasukan Raid terkejut dan kebingungan.
"Equip ber-Enchant Divine, kah?"
Semua yang mendengar ucapan Dalon itu terkejut bukan main. Siapa yang menyangka kalau pihak monster memiliki Equip dengan Enchant Divine sebanyak itu? Ini jelas-jelas imbalance sekali dari pihak lawan.
"Bukan, itu hanya efek buff dari Equip-nya. Equip Divine hanya terlihat berwarna ungu ketika dilihat di dalam Inventory saja."
Semuanya menghela nafas mendapat koreksi kesalahan Dalon yang segera ditanggapi oleh Ramsey. Bagaimana tidak? Jika saja Equip yang dipakai pihak musuh benar-benar Equip ber-Enchant Divine peluang kemenangan mereka takkan sampai sepuluh persen.
Pengaruh Equip tingkat tinggi memang sangat besar hingga dapat membuat jurang perbedaan yang mendalam sekalipun. Bagaimanapun juga, pasukan Raid pemain ini takkan bisa menang melawan pasukan monster yang sebagian besarnya mengenakan Equip ber-Enchant Divine.
"Cih, memang harus, ya?"
Reus mendecakkan lidahnya sembari bergumam sendiri. Untuk mengurangi banyak musuh sekaligus memang inilah satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan. Ia tidak bisa mengelak lagi.
Bersama rencana kurang matang yang bisa ia pikirkan, Reus melangkah maju meninggalkan pasukan baris depan. Hal ini membuat semua pemain yang melihat perbuatannya itu terkejut dan kebingungan. Apa yang membuat komandan utama mereka maju sendirian begitu saja?
"Semua Mage di bawah level 40 siapkan Magic Skill terkuat kalian!!"
Sebelum semuanya tambah kebingungan, Reus segera melayangkan perintah selanjutnya untuk para Mage di pasukan Raid jarak menengah. Melihat kesuksesan rencana-rencana Reus sebelumnya, tentu mereka segera menuruti perintahnya namun dengan pandangan dan pikiran kebingungan.
Ia sudah berjarak sekitar 100 meter dengan pihak musuh, tapi belum ada tanda-tanda Reus memberi perintah menyerang atau apapun. Ini membuat semua pemain di pasukan Raid bingung sekaligus khawatir dan mulai bertanya-tanya.
Namun semuanya semakin menjadi-jadi, terdengar suara teriakan Reus dari kejauhan.
"Semua Mage tadi, tembakkan Magic Skill kalian ke arahku!"
Mendengar seruan tersebut, para Mage yang sudah menyiapkan Magic Skill terkuatnya masing-masing terkejut bukan main. Tidak hanya Mage, tapi juga seluruh pemain yang mendengar perintahnya. Dalon serta ketua party lain juga sama terkejutnya dengan pemain lain. Hanya Ramsey dan Kynel yang tak terkejut, namun mereka cukup khawatir terhadap Reus di depan seorang diri itu.
"Manusia hanya seorang diri! Serang!!"
""Serang!!""
Tidak ingin menunggu lebih lama, pasukan monster mengambil langkah terlebih dahulu untuk menyerang duluan menggunakan rombongan elit mereka, Orc yang menunggangi Collosal Wolf. Sedangkan pasukan-pasukan lain juga ikut menyusul di belakang mereka.
Reus mengerutkan dahinya mengetahui tidak ada satu Magic Skill pun yang meluncur ke arahnya. Ia sebenarnya tahu apa yang mereka takutkan, itu karena dirinya merupakan ahli strategi sekaligus komandan yang hebat dalam peperangan. Kehilangan seorang ahli strategi handal sekaligus komandan adalah hal berat bagi suatu pasukan perang.
Ramsey mendecakkan lidahnya, kemudian mengangkat suara.
"Cepat tembakkan dan serang berombongan!! Mage lontarkan Magic Skill ke arah Reus terlebih dahulu, lalu pasukan terdepan serang sekuat tenaga!!"
Tidak tahan dengan lambatnya daya paham pasukan, Ramsey pun mengerahkan suaranya sekuat tenaga hingga pasukan pemanah di barisan belakang dapat mendengar suaranya.
Memahami apa yang dikatakan Reus dan Ramsey, Dalon pun ikut bersuara.
"Cepat lakukan perintahnya! Ini perang, jangan ragu-ragu! Percayalah pada ahli strategi kalian!"
Sorakan dari Dalon membuat para Mage menjadi lebih yakin. Penampilannya memang menarik dan berkharisma, hal itu bisa membuat semua orang mendengarkan dan percaya terhadap dirinya. Jika ia percaya pada Reus, maka secara otomatis pasukan Raid juga percara kepada Reus.
"Semuanya tembak!!"
"Tembak!!"
"Tembakkan sihirnya!!"
Selang beberapa detik setelah Dalon melontarkan suaranya, semua Mage yang berada di bawah level 40 segera menembakkan Magic Skill terkuat yang mereka miliki ke arah Reus yang berjarak cukup jauh dari mereka.
Reus tersenyum menyambut puluhan Magic Skill yang diarahkan kepadanya melalui langit itu. Ia pun segera mengerahkan Hollow Swords, kemudian menungganginya untuk terbang menggapai semua Magic Skill tersebut.
Ia mengayunkan Blackstar menyerap semua Magic Skill yang dikirim dari jarak yang cukup jauh itu berkali-kali sampai habis tak bersisa. Menyerap semua skill ini membutuhkan waktu sekitar 10 detik.
Setelah semuanya lenyap dilahap Blackstar, ia memutar tubuhnya menghadap segerombolan pasukan monster mob di bawahnya dan melaksanakan rencananya.
"Makan ini! Magic Storm!!"
Tanpa basa-basi, Reus mengayunkan pedangnya mengeluarkan beberapa Magic Skill yang telah ia peroleh menghancurkan pasukan terdepan musuh yang berupa Orc menunggani Collosal Wolf. Tentu setelah membuat kesan keren itu, ia segera melayangkan perintah berikutnya.
"Semua pasukan, serang!!"
""Serang!!""
Bersama perintah itu, semua pasukan pemain Raid yang dipimpin Ramsey dan Dalon di barisan terdepan langsung maju menyambut pihak musuh. Hal yang sama juga dilakukan oleh pihak musuh, tapi situasinya sedikit berbeda.
Pihak Raid lebih unggul karena memiliki Reus yang merupakan satu dari sedikit pemain abnormal dalam dunia Orbis Online.