
Gelombang kedua mendekat, Reus kembali memerintah para pasukan Raid untuk menangani serbuan dari pasukan monster-monster yang tengah berlari menyerbu ke arah mereka dengan membabi buta.
"Gelombang kedua! Serangan yang sama!"
""Siap!!""
Serbuan pemain Tanker yang disusul Healer dan Mage di belakang menjaga dan memberikan damage utama pada pasukan musuh membuat lawan kewalahan. Seusai serangan besar beruntun dari para Mage, pemain Archer di belakang melepaskan ratusan anak panah yang menghujani monster-monster mob yang mendekat.
Meskipun strategi ini cukup ampuh hingga melenyapkan 9 dari 10 total pasukan musuh sebelumnya, sepertinya langkah tersebut sudah diantisipasi oleh pihak lawan. Mereka memisah pasukan menjadi beberapa bagian sehingga serangan kejutan barusan hanya bisa menghancurkan 3/10-nya pihak lawan.
Reus sendiri melihat situasi perang ini dari atas pohon. Ia menyingkapkan sebuah senyum di bibirnya, kemudian turun dari tempatnya 'bertengger' dan berlari ke depan membawa Blackstar di tangannya.
"Pasukan kejutan nomor dua, sekarang!"
Sembari berteriak memberi arahan kepada pasukan Raid, Reus telah sampai di garis terdepan bersiap mengayunkan pedang hitamnya membelah salah satu Orc yang menunggangi Collosal Wolf di hadapannya menggunakan Swing. Dalam satu tebasan itu sepasang Orc dan Collosoal terbelah seketika.
"Round Swing!"
Skill yang barusan dipakai Reus untuk membelah musuhnya tersebut adalah salah satu skill hasil modifikasinya antara Swing dan gerakan memutar pedangnya sesaat sebelum menebas. Ia memanfaatkan gaya sentrifugal dari putaran pedangnya dan skill Swing yang memperkuat damage tiap satu tebasan atau serangannya sehingga menghasilkan kekuatan besar tanpa harus membuang banyak tenaga.
Sementara Reus membuat salam pembukaan sebagai pasukan Raid paling depan, tiba-tiba muncul rombongan pemain dari kedua sisi kiri dan kanan hutan yang mengapit pihak lawan di tengah. Pasukan di kedua sisi tersebut kebanyakan memilih kelas dengan kekuatan tempur jarak dekat hingga menengah.
"Mage berelemenkan tanah, buat dinding raksasa di belakang pasukan musuh!"
""Baik!""
Sesaat setelah perintah Reus melayang, muncullah sebuah dinding raksasa di belakang pasukan musuh yang menghalangi jalan mereka mundur. Hal ini tentu membuat pihak musuh terkejut sekaligus kewalahan.
Di sisi lain, Reus menyeringgaikan senyum mengerikan yang cukup dingin begitu melihat keterkejutan dan kepanikan pasukan musuh. Rencananya berjalan cukup lancar sejauh ini, namun bagian inilah yang sebenarnya diincar oleh Reus sejak awal.
Memberi serangan yang sama sebagai umpan, lalu melancarkan strategi pamungkas yang mengepung sekaligus memojokkan pihak musuh. Bukan hanya itu, Reus juga mengincar menargetkan titik di mana moral para monster-monster mob ini hancur berantakan.
Moral yang dimaksud di sini adalah istilah yang mirip keberanian atau semangat juang dalam peperangan. Jika moral pasukan tinggi maka semakin tinggi pula persentase keberhasilan kemenangan suatu pihak yang bisa diraih, lalu hal sebaliknya juga bisa terjadi. Hal inilah yang ditunggu-tunggu oleh Reus untuk dimanfaatkan.
"Pasukan terdepan, habisi!!"
Walau sebenarnya tidak perlu diperintah pun para pemain Raid akan menghabisi mereka, Reus ingin berteriak sambil menyerukan perintah. Mungkin agar kesannya lebih keren atau lebih terkesan seperti komandan. Bagaimanapun juga, Reus masih dipandang sebelah mata oleh beberapa pemain yang mengikuti Raid ini bahkan sampai sekarang.
Dan di sanalah pasukan utama pihak monster berakhir dengan mudahnya. Meski kalah jumlah, jelas pihak pasukan pemain lebih unggul dalam kualitas dan strategi. Tidak mungkin bagi mereka untuk kalah.
Braaakk!!
"Sialan!!"
Di desa Viredeta—lebih tepatnya di sebuah bangunan yang merupakan tempat di mana para monster berkumpul untuk membahas rencana mereka tentang penaklukkan Livetuna—terdengar suara meja, kursi, serta beberapa berabotan rumah lainnya yang hancur. Sosok Orc yang merupakan pemimpin monster mob di desa ini—Raevolg—sedang menghancurkan beberapa barang.
"Tu-tuan Raevolg, tenanglah."
Praang!
Terganggu oleh suara salah satu monster rekannya, Raevolg melemparkan piring makan yang hendak ia santap bersama makanannya ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Di raut wajahnya terlukis jelas bahwa ia sedang marah besar dan tidak terima akan suatu hal yang sama sekali tak ia sangka.
"Bisa-bisanya ada yang menghentikan rencana sempurna kita! Terlebih lagi semua pasukan utama kita musnah?! Yang benar saja!! Bagaimana aku bisa mempersembahkan kemenangan kepada tuan Maen'ra kalau begini?!"
Graakk!!
Tidak tahan ingin melampiaskan kemarahannya lagi, Raevolg memukul dinding bangunan sekuat tenaga yang membuat lubang besar pada dinding tersebut. Urat-urat di pelipisnya terlihat jelas dari jarak menengah saking marahnya Raevolg.
Semua orang yang berada di sana cukup cemas akan nyawa mereka menyaksikan kemarahan ketua mereka sendiri yang tidak bisa terkendali. Sebagai ketua sekaligus pimpinan kelompok monster yang hendak meratakan Livetuna sama dengan tanah, tentunya Raevolg adalah yang terkuat di antara semua monster ini.
Jika harus dibaca menggunakan sistem RPG Orbis Onlie, saat ini Raevolg memiliki level 120 dan status yang jauh di atas levelnya sendiri. Di dunia Orbis Online level dan status memang tidak begitu terikat satu sama lain, semua bergantung pada kemampuan pemainnya dalam mengembangkan diri mereka masing-masing.
Sama halnya seperti Reus, Raevolg juga mempunyai kekuatan yang tak imbang dengan levelnya. Namun alasan mengapa keduanya merupakan keberadaan yang cukup abnormal di dunia Orbis Online tidaklah sama.
Raevolg berasal dari ras Orc yang jelas-jelas memiliki status Str jauh lebih tinggi di antara status rata-rata monster mob pada umumnya. Selain itu, ia juga sering berlatih dengan memfokuskan latihannya pada kekuatan fisik serta ketahanan. Ditambah lagi kelas yang ia ambil dan Equip yang ia kenakan, tentu membuatnya menjadi sekelas pemain profesional.
Jika dilihat dari sisi RPG, Raevolg bisa dikatakan Dungeon Boss—atau dalam situasi ini Field Boss.
Berbeda dari Reus yang memilih ras manusia sebagai rasnya dalam Orbis Online—ras yang tidak memiliki keistimewaan apapun kecuali status yang rata-rata—tentunya sejak awal keduanya sudah berbeda jauh. Namun karena faktor keberuntungan tingkat tinggi dan usaha Reus semenjak dirinya masuk ke dalam dunia virtual ini, ia menjadi salah satu pemain abnormal dalam Orbis Online.
Tidak hanya faktor keberuntungan dan usahanya, tapi juga kemampuan dan daya pikirnya yang bisa dikatakan cukup tajam bagi para penggemar game. Itulah hal-hal yang membuat Reus menjadi pemain abnormal—tentunya ia tak menyadari hal ini.
Melihat faktor-faktor ini tentu tidak mengherankan kalau Raevolg ditunjuk untuk mempimpin para monster menghancurkan Livetuna yang biasanya hanya berisi orang-orang lemah. Meski begitu, Raevlog termasuk monster yang cukup kuat jika dijejerkan dengan monster-monster tipe Boss berlevel sama.
"Gondur, siapkan semua pasukan elit yang kita punya secepatnya."
Setelah merasa sedikit tenang, Raevolg memberi perintah kepada salah satu rekan monsternya yang memiliki ras White Troll—ras Troll berkulit putih yang cukup langka bisa ditemukan di Orbis Online.
"Baik."
Seusai menerima perintah, White Troll bernama Gondur itu melangkah keluar dari bangunan dan bergegas pergi ke tempat di mana pasukan elit mereka berada.
Sementara itu Raevolg duduk kembali di sebuah sofa empuk yang sedikit rusak karena bobotnya yang lebih berat dibanding manusia biasa. Ia merenung memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memenangkan pertempuran ini dari pihak musuh yang bahkan berhasil menghabisi pasukan utamanya dengan mudah.
"Tuan Raevolg! Saya mendapat surat dari tuan Maen'ra!"
Di tengah keheningan itu terdengar suara seorang Goblin kecil yang langsung masuk ke dalam bangunan dari lubang dinding yang dibuat Raevolg sebelumnya. Awalnya ia sedikit khawatir dengan suasana tegang dan hening ini, namun apa yang ia bawa sekarang sangatlah penting bagi Raevolg.
"Apa itu? Cepat berikan."
Tanpa mengucapkan apapun selain itu, Raevolg mengambil surat yang dibawa Goblin tersebut dengan kasar dan segera membacanya. Sewaktu membaca ia mengerutkan dahinya sedikit dan semakin bertambah melihat isi-isi tulisan di bagian bawah, tapi bagian akhir surat itu membuatnya tersenyum lebar.
Tak hanya tersenyum, Raevolg kali ini juga tertawa hebat sampai suaranya membuat takut rekan-rekan monsternya yang masih berada di sana. Entah mengapa, sepertinya ia mendapat sesuatu yang bagus dari seseorang yang disebut Maen'ra ini.