
Ketika Reus berseru keras, pedang di tangan kirinya mengeluarkan semburan api merah tua dengan sedikit nuansa warna hitam. Api tersebut awalnya hanya berjumlah satu semburan berukuran besar tetapi setelah mencapai jarak tertentu dari lawan, semburan tersebut terpisah menjadi beberapa bagian dan mengejar lawan.
Api itu membakar lawan tanpa ampun. Tidak peduli seberapa keras mereka berteriak atau seberapa tinggi level lawannya, api merah tua kehitaman tersebut tidak menghilang sampai nyawa inangnya melayang.
"Woah, ini lebih kuat dari yang kuduga."
Reus menelan ludah ketika melihat nasib lawannya yang terkena api Inferno.
---
Inferno (Level 1-1)
Mengeluarkan api neraka dengan 10% damage setiap detik yang mengejar dan membakar lawan tanpa ampun. Setiap serangannya akan mengandung elemen Dark.
Api ini tidak akan menghilang sampai target tewas, namun dapat padam jika diserang menggunakan serangan yang mengandung elemen Light atau pengguna menginginkannya.
Energy : 300
Cooldown : 30 menit
---
"Kemampuan ini tidak boleh sembarang kugunakan."
Setelah berkata demikian Reus memandangi nasib para prajurit yang terbakar oleh api merah tua kehitaman tersebut, menjerit begitu keras meluapkan seluruh rasa sakit yang mereka terima.
Reus mulai mengayunkan dua pedang di tangannya mencabut nyawa para prajurit yang tengah terbakar oleh api merah tua kehitaman yang dia kerahkan sendiri, tak ingin membuat mereka menderita terlalu banyak.
"Kudengar mati karena terbakar hidup-hidup adalah salah satu kematian yang paling menyakitkan, setidaknya ini yang bisa kulakukan."
Biarpun Reus berkata demikian, alasan sebenarnya adalah dia tidak ingin dirinya dicap sebagai penjahat yang membantai lawan dengan kejam, walau dia sadar aksinya meracuni sepasukan musuh sebelumnya dapat terbilang kejam.
"Baji-ngan kecil!"
Belum selesai Reus membebaskan penderitaan lawannya dari api panas miliknya, Xavier berlari menuju Reus disertai pedang putihnya yang bersinar terang.
"Holy Saber!"
Reus mendecakkan lidahnya sejenak sebelum mengangkat Dragon Slayer berniat membunuh serangan tersebut sekali lagi tetapi belum sempat dia melakukannya, Crystina menghadangnya bersama Great Grega.
"Kau fokus saja pada musuh-musuh kroco, biar aku yang menangani pak tua ini."
Reus ingin memperingati Crystina tentang kekuatan Xavier namun dia segera sadar bahwa Crystina bukan pemain biasa. Wanita itu adalah Crimson Surt, salah seorang pemain peringkat atas walau tidak termasuk Hundred Best Player.
Reus hanya mengangguk pelan dan melesat meninggalkan lokasi mencari lawan-lawan kecil yang bisa dia tangani dengan mudah, sementara Crystina mengayunkan pedang besarnya secara horizontal menahan gelombang serangan Xavier selama beberapa detik kemudian serangan tersebut menghilang.
Xavier mengerutkan dahinya menyaksikan serangannya berhasil ditahan oleh seorang wanita yang tak dikenalinya. Dalam sekali lihat pria paruh baya itu dapat mengetahui kemampuan Crystina tidak terlalu jauh darinya.
"Kau membantu pemuda ini menyerang kerajaan? Kenapa?"
"Apa pedulimu?"
Crystina tidak membalas ocehan Xavier lebih jauh, dia lalu mengambil langkah besar ke depan dan membanting pedangnya sekuat tenaga secara vertikal mengincar kepala Xavier tetapi sayang, Xavier mampu menahan serangan itu dengan tamengnya.
"Tentu saja aku peduli, orang sekuat dirimu akan sia-sia jika dibunuh."
Xavier sedikit terkejut mengetahui lawan di depannya adalah Immortal Being, tetapi dia tidak merasa heran mengingat Reus adalah Immortal Being. Tidak mengherankan Immortal Being saling membantu satu sama lain.
Adu kekuatan antara Crystina dan Xavier terjadi beberapa saat hingga Xavier menghentakkan tamengnya mendorong Crystina termundur beberapa langkah. Tidak berhenti sampai di sana, Xavier menghunuskan pedangnya yang sekali lagi memancarkan sinar putih menyilaukan.
"Divine Sky Sword Art Series : Second Form – Stab the devil!"
"Kau pikir hanya kau yang punya Series Skill?"
Crystina menyunggingkan senyuman tipis sebelum ikut mengangkat pedang dan kembali mengayunkannya dengan cepat.
"Crimson Meteor Greatsword Art Series : First Form – Great Meteor!"
Tebasan Crystina bukan hanya menghalau hujaman pedang Xavier yang mengincar perutnya tetapi juga menciptakan tekanan berat di sekitarnya yang tak lama menciptakan semacam kawah pada tanah yang dipijak Crystina, berhasil membuat Xavier melangkah mundur cukup jauh.
Mata Xavier terbelalak cukup lebar melihat kekuatan Crystina yang begitu besar hingga mampu membuat tangannya yang menggenggam pedang bergemetar saking kuatnya serangan Crystina barusan.
"Semua bereaksi serupa saat pertama kali melihatnya."
Crystina tersenyum puas menyaksikan reaksi Xavier yang tidak jauh berbeda dengan lawan-lawannya yang pernah dia habisi menggunakan Crimson Meteor Greatsword Art Series.
Reaksi Xavier sebenarnya tidak perlu diherankan karena skill yang digunakan Crystina barusan memang mengandung sekitar 900% damage dari status Str dan kekuatan Great Grega dalam satu tebasan. Dalam kasus Crystina yang memfokuskan statusnya pada Str, damage yang dihasilkan sangatlah besar.
Crystina tidak menunggu Xavier pulih dari keterkejutannya, dia mengambil langkah besar mendekati pria paruh baya tersebut dan kembali mengayunkan pedangnya. Kali ini dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke langit.
"Crimson Meteor Greatsword Art Series : Second Form – Annihilation Meteor!"
Xavier bisa melihat ancaman mengerikan datang dari atas, dia tidak terlalu bodoh sampai berniat menahan serangan tersebut menggunakan tameng. Dia mengambil lompatan besar untuk mundur menghindari pedang Crystina.
Benar saja dugaan Xavier, ketika pedang Crystina menyentuh tanah, sebuah kawah sebesar lima meter terbentuk di sekitar wanita itu. Seluruh lawan yang berada pada jarak tersebut sontak terjatuh di tanah seperti tertindih oleh sesuatu yang tak terlihat.
"Beruntung aku tak menahannya."
Xavier menghela nafas lega menyaksikan kekuatan Crystina yang begitu dahsyat. Kalau saja dia bergerak spontan menahan serangan tersebut, mungkin bukan hanya tamengnya saja tetapi dirinya juga ikut hancur.
Di sisi lain Crystina berdecak pelan melihat Xavier memutuskan untuk menghindar bukan bertahan, padahal jika Xavier memutuskan bertahan Crystina yakin mampu membelah dua pria paruh baya tersebut.
Crystina tidak membuang lebih banyak waktu, dia lalu menendang tanah dan melesat menuju Xavier bersama pedang besarnya yang dihunuskan ke depan. Xavier menyambut serangan itu dengan tameng kokohnya.
"Kau membuat kesalahan, nona!"
Xavier ternyata tidak hanya menahan serangan Crystina tetapi juga mengayunkan tamengnya menghempaskan Great Grega, menghalau arah serangan begitu mudahnya. Dia kemudian mendorong pedangnya berniat menghujam tubuh Crystina dalam satu tusukan.
"Kau naif, pak tua!"
Crystina tidak membiarkan rencana Xavier berjalan semulus itu, dia melepaskan Great Grega dari genggamannya sebelum menghalau pedang Xavier ke arah lain menggunakan ayunan lengan kirinya yang terbungkus zirah besi berkualitas tinggi.
Xavier cukup terbelalak melihat tindakan Crystina. Tak pernah terbesit di benaknya bahwa wanita di depannya ini akan melepas senjatanya sendiri meski berada di dalam jangkauan serangan lawan.
Crystina tidak menyia-nyiakan keterkejutan Xavier. Dia mendorong tangan kanannya memukul zirah Xavier sekuat tenaga hingga pria paruh banya tersebut terhempas beberapa langkah ke belakang dengan ekspresi tak percaya.
"Apa-apaan wanita ini...."
Dia memandangi Crystina disertai bulir-bulir keringat dingin mulai menuruni dahi dan pipinya, kini dia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan, yaitu ketakutan.