
Beberapa hari sudah berlalu semenjak dirinya terakhir log out, hal pertama yang dilakukan Deus adalah mandi dan membuat mie instan untuk mengganjal rasa laparnya. Tentu dirinya tidak lupa melakukan peregangan kecil agar ototnya tidak terkejut dengan pergerakannya.
"Ini apa-apaan...."
Sambil menyantap mie instannya, Deus duduk menonton berita mengenai Orbis Online pada saluran televisi yang khusus membahas Orbis Online. Beberapa kali ia menghela nafas melihat video rekaman dirinya bertarung melawan tiga Knight berlevel 60-an seorang diri saat berada di Kaki Horen Selatan diputar oleh Orbis News.
"Bagaimana pendapat anda sebagai salah satu pemain dengan kelas pengguna pedang?"
Begitu video itu berakhir presenter menanyakan pendapat salah satu pemain yang diundang oleh pihak Orbis News untuk memberikan tanggapan. Pemain tersebut butuh beberapa waktu hingga mengangkat pendapatnya.
"Gerakannya sungguh efektif dalam setiap ayunan pedangnya, lalu disertai kekuatan dan kecepatan yang luar biasa pada level yang rendah itu membuatnya sangat mendominasi pertarungan tersebut."
"Begitukah? Lalu bagaimana pendapat anda terhadap salah satu skill yang dapat merubah penampilannya?"
"Hm.... Menurut pengamatanku ia bukan hanya mengaktifkan skill itu untuk meningkatkan kekuatannya, tapi juga beberapa skill yang bersifat sama dalam satu waktu."
Presenter itu sedikit terkejut, pasalnya dalam Orbis Online skill pasif yang mampu meningkatkan status seseorang meski hanya sementara itu cukup langka, jika tidak menghitung Magic Skill tipe pendukung. Bahkan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan lebih dari satu skill sejenis itu.
Pembahasan mengenai aksi Deus di dunia Orbis Online pun masih berlanjut, sementara orangnya sendiri memilih untuk mengabaikannya dan konsentrasi terhadap rasa mie di lidahnya. Entah mengapa ekspresinya terlihat sangat menikmati makanan murah tersebut, padahal penghasilannya dari Orbis Online sendiri sudah cukup besar baginya untuk berkali-kali makan di restoran terkenal.
Seusai rasa laparnya terpuaskan, Deus mengalihkan perhatiannya pada komputer yang saat ini tengah menampilkan halaman Orbis Forum, lebih tepatnya toko online miliknya. Benar, saat ini Deus sedang menjual berbagai Equip dan Item yang ia dapatkan dari pertempuran melawan pasukan Ash sebelumnya.
Memang kebanyakan Equip dan Item yang ia dapat dari pertempuran tersebut berlevel tidak lebih dari level 50, tapi itulah yang membuatnya terkenal di kalangan pemain pemula. Rata-rata Item yang disediakan olehnya sangat bagus untuk pemain di level itu.
Tidak lupa pula ia meletakkan berbagai macam Potion yang telah ia buat sebelumnya ketika masih tersambung, membuat Potion-Potion tersebut langsung diserbu oleh berbagai pemain. Deus tersenyum bahagia menyaksikan barang jualannya laris manis.
Saat Deus mulai terlena ke dalam khayalannya, ponselnya bergetar mengeluarkan suara khas menandakan ia menerima panggilan dari seseorang. Ia segera mengangkatnya.
"Ya, dengan Rudeus."
"Ah kakak, akhirnya kau mengangkat panggilanku!"
Suara Almira, adik perempuannya terdengar keras dari ponselnya membuat Deus hampir jatuh saking terkejutnya.
"Ada apa? Tidak biasanya kau memanggilku."
"Kakak saat ini sedang di mana?"
"Di apartemen, kenapa?"
"Bukan itu maksudku! Di Orbis Online!"
Dahi Deus mengerut ketika adiknya ingin mengetauhi posisinya bermain setelah sekian lama, itu menarik rasa penasarannya. Ia kemudian menjelaskan bahwa saat ini dirinya sedang berada di sekitar Kaki Horen Selatan.
"Jadi yang ada di Orbis News itu beneran?"
"Ehm, yang mana?"
Almira menjelaskan panjang lebar kepada Deus, membuat pemuda itu sedikit tertekan.
"Ah, ya itu memang videoku."
"Sungguh? Kau tak terdengar senang."
"Bagaimana aku bisa senang jika kemampuanku terkuak begini?"
"Bukankah itu bagus? Apalagi Legion papan atas melirikmu."
Deus mendesah pelan sembari mengusap dahinya pelan mendengar pernyataan itu dari adiknya sendiri. Dirinya tidak begitu suka bermain dalam kelompok besar yang terdiri dari orang-orang yang tak ia kenal, maka dari itu ia hanya bisa mengeluh dan menjelaskan hal ini kepada Almira.
"Kakak berencana bermain sebagai pemain solo?"
"Kupikir juga begitu, tapi saat ini aku sedang bersama rekan yang sangat cocok untukku. Dia seorang Phan—Ninja."
Lidah Deus hampir terpeleset membocorkan kelas yang dimiliki Ikshan, untungnya ia dapat mengatasinya segera.
Membicarakan kelas avatar di dalam Orbis Online adalah hal yang cukup tabu di kalangan pemain. Mengapa? Hal itu dikarenakan jaringan informasi canggih yang dapat dengan mudah membocorkan kelas seseorang.
Seringkali kemampuan seorang pemain dilihat dari kelas yang digunakannya. Di antara keempat tingkat kelas yang sejauh ini diketahui, kelas tingkat Special-Class-lah yang sangat disegani dan diantisipasi oleh berbagai macam pemain.
Pasalnya hampir setiap pemain ternama memiliki kelas Special-Class yang sangat hebat dari segi penambahan status maupun skill-skill bawaannya.
Ambil saja contoh skill Handy Weapon milik Ikshan yang baru-baru ini didapatkannya setelah menjadi Phantom Reaper. Skill tersebut dapat mengecilkan senjata sebesar apapun hingga ke ukuran tertentu, bayangkan saja jika pedang raksasa dua tangan berkekuatan besar yang seharusnya digunakan dengan dua tangan bisa diayunkan menggunakan satu tangan tanpa mengeluarkan kekuatan besar, apa yang akan terjadi?
"Oh, kelas Ninja, ya? Apakah itu perempuan?"
"Bukan, dia laki-laki. Kenapa?"
"Tidak apa-apa, nanti Kurenai akan sedih jika mengetahui kakak berpetualang berdua bersama seorang perempuan."
Deus yang mendengar itu terbatuk-batuk tersedak liurnya sendiri, tak menyangka adiknya malah membawa-bawa Kurenai yang tak disinggung sedikitpun sebelumnya.
"Kau ini ya, aku dan Kurenai bukanlah pasangan kekasih yang sesungguhnya. Aku hanya menjaganya dari laki-laki lain selama Prom Night tersebut."
"Benarkah? Kurasa kalian sudah terlihat seperti pasangan sungguhan."
Sebenarnya Deus merasa bahwa tak keberatan mempacari Kurenai mengingat gadis itu sangatlah cantik, tapi ketika ia memikirkan itu Deus melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia merasa belum pantas menjaga anak seseorang di keadaannya yang masih begini. Seorang pemuda yang kurang menonjol di masyarakat dan terkesan anti-sosial.
Lagipula, Deus juga merasa bahwa tidak ada yang menarik darinya untuk dilirik oleh perempuan, apalagi perempuan secantik Kurenai, jadi ia tidak menanggapi hal-hal berbau romantis dengan serius.
Deus berdeham pelan sebelum mengalihkan pembicaraan, tak ingin membahas Kurenai lebih lanjut.
"Ekhm, kalau begitu ada perlu apa sampai menghubungiku lewat ponsel? Jarang kau menghubungiku seperti ini."
"Itu... aku ingin minta tolong."
"Tolong apa?"
Dahi Deus sedikit mengerut mendengar permintaan tolong dari adiknya sendiri. Sejauh ini Almira jarang sekali meminta bantuannya sejak kematian kedua orangtua mereka, jadi permintaan bantuan ini membuat Deus terkejut.
"Beri aku diskon perlengkapan full-set kelas Mage!"
"Kututup."
"Tu-tunggu sebentar! Aku juga ingin menjelaskan keadaanku sampai meminta diskon begini!"
Deus menghela nafas sebentar merilekskan kepalanya yang mulai berdenyut. Ia tak pernah menyangka adiknya meminta bantuannya hanya karena hal seremeh itu.
Tapi jika dipikir-pikir kembali, perlengkapan yang Deus jual barusan kebanyakan tidak melebihi level 50-an, mengapa seorang Almira yang notabenenya di Orbis Online berlevel lebih dari 80 ingin membeli perlengkapan berlevel di bawah levelnya sendiri?
Setelah Almira menjelaskan situasinya dengan sedikit terbawa perasaan, Deus kembali menghela nafas tak menyangka ada kejadian buruk yang menimpa adik sekaligus teman-temannya itu.
"Jadi, level kalian terus menurun sampai level 40 karena dipaksa mengikuti perang oleh Legion kalian?"
"Ya, begitulah...."
Memang benar ketika Deus berselancar di internet beberapa saat lalu, matanya melihat berita tentang perang kecil antara Legion menengah, salah satunya adalah Legion tempat bernaungnya Almira dan kawan-kawannya.
"Kenapa kalian tidak keluar saja dari Legion?"
"Kalau kami keluar maka kami akan diburu dan dibunuh terus sampai level kami kembali menjadi 10 atau 20."
Deus yang merasa tidak enak hati mendengarnya, kemudian mencari informasi mengenai Legion tempat bernaungnya Almira dan kawan-kawannya. Itu adalah Gaia's Tree, sebuah Legion menengah yang bermarkas di sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Baliendra Kingdom.
Bibirnya menyunggingkan senyum kecil sambil mengusap-usap dagunya memikirkan sesuatu yang bisa ditebak oleh sebagian kecil orang.
"Halo? Kakak?"
"Ah ya, maaf. Kalau keadaanmu memang begitu tidak perlu diskon, aku akan memberikannya secara cuma-cuma."
"Benarkah?!"
"Ya, tapi setidaknya naikkan levelmu. Kau jelas ketinggalan jauh dariku sekarang."
"Ughh... aku tidak bisa membantahnya."
Setelah diskusi kecil tersebut berakhir, Deus mengakhiri panggilan dan mengirim beberapa Equip yang ia simpan kepada Mirage—avatar Almira di Orbis Online—secara cuma-cuma. Ia juga menambahkan beberapa Equip yang bisa digunakan oleh teman-teman Mirage, Violet dan lainnya.
Begitu selesai memberikan semua yang diperlukan Almira, Deus mencari-cari informasi mengenai Legion Gaia's Tree yang menarik perhatiannya ini.
"Hmm, ternyata Legion itu tidak sekuat yang kupikirkan."
Sambil menggigit-gigit garpu besinya, Deus memperhatikan kondisi Gaia's Tree yang saat ini mengalami kemunduruan hebat berkat perang tanpa henti melawan Legion lain. Ia merasa ketua Legion ini sangat putus asa ingin memenangkan perang ini dan berniat mengerahkan segalanya, tapi entah apa alasannya terus berperang meski tahu akan mengalami banyak kerugian.
Tentu masih mustahil bagi Deus menghancurkannya Legion ini untuk sekarang, namun bukan tidak mungkin jika di masa depan ia mendapatkan kekuatan lebih untuk meratakan Legion busuk ini dengan tanah.