
"Oh, ini lebih buruk dari yang kubayangkan...."
Saat ini Ikshan sedang berada di sebuah ruangan bangsawan tertentu di dalam istana kerajaan. Dia baru saja membaca sepucuk surat yang terdapat di suatu meja yang berisi Blackstar telah diberikan kepada keluarga kerajaan beberapa hari lalu.
Sekarang Blackstar telah disimpan ke dalam ruang harta kerajaan sebagai pusaka kerajaan.
Ikshan menghela nafas sejenak sebelum meletakkan kembali surat tersebut. Dia lalu mengirim pesan mengenai situasi Blackstar pada Reus.
"Ingin merampas pusaka yang ditujukan untuk keluarga kerajaan? Kau bodoh, tindakan itu sama saja dengan bunuh diri!"
Seorang pria cungkring berambut pirang yang tubuhnya terikat rantai di pojokan ruangan berseru pada Ikshan.
Ikshan memandang tajam pria tersebut. Dia memainkan rantai kusarigama yang mengikat sang pria dan menyumpal mulut pria itu dengan rantai sebelum menariknya mendekati dirinya.
"Kau bilang mengambil kembali sesuatu yang telah diambil darimu itu merampas? Aneh sekali sekali logikamu."
Sang pria tidak mampu bersuara, kali ini bukan karena mulutnya disumpal melainkan merasa takut akan tatapan Ikshan yang dapat membunuhnya kapanpun dia mau.
Ikshan menguatkan ikatan rantai pada pria cungkring itu dan sekali lagi memandang matanya penuh nafsu membunuh, membuat pria bangsawan tersebut terkencing-kencing saking takutnya.
"Jika kau masih ingin hidup maka jawab pertanyaanku. Di mana ruang harta kerajaan?"
Berkat pelatihannya selama dua bulan di bawah pengawasan Randolf, kini Ikshan mampu mengeluarkan nafsu membunuh untuk mengintimidasi orang lain. Karena pelatihan tersebut pulalah Ikshan mendapatkan skill jenis Aura, yaitu Bloodlust.
Skill ini berfungsi memperbesar nafsu membunuh dan memungkinkan Ikshan mengarahkannya pada target tertentu. Mirip dengan Dragon Aura atau Swordmaster Aura milik Reus, hanya saja skill ini dikhususkan untuk mengintimidasi dan membuat lawan ketakutan.
Pria bangsawan tersebut begitu ketakutan sampai tidak bisa berbicara meski Ikshan sudah melepaskan sumpal rantai dari mulutnya. Ikshan menghela nafas sebelum mengurangi nafsu membunuhnya agar sang pria dapat berbicara.
Setelah rasa takutnya cukup berkurang, pria bangsawan itu membeberkan semua yang dia ketahui. Mulai dari lokasi ruang harta kerajaan, seberapa besar penjagaannya, berapa banyak prajurit di sana, hingga isi ruang tersebut yang diketahuinya.
"Bagus, kalau begitu tidurlah."
Ikshan mengerahkan Bloodlust sekuat mungkin berhasil membuat pria itu kehilangan kesadaran.
"Di kisah manapun ruang harta memang selalu berada di bawah tanah."
Ikshan meregangkan tubuhnya sejenak sebelum kembali mengirimkan pesan pada Reus tentang lokasi ruang harta kerajaan beserta seluruh informasi yang berhasil dia dapatkan dari pria bangsawan.
Ketika dia sibuk mengetik pesan, telinganya menangkap seruan keras disertai kepanikan yang tidak sedikit dari lorong. Semua seruan tersebut tidak terdengar terlalu jelas namun ada satu hal yang dia pahami.
"Seheboh apa perhatian yang dia tarik kali ini?"
Ikshan menghela nafas sambil menggaruk kepalanya membayangkan sebesar apa aksi Reus sekarang.
Setelah suasana lorong menjadi lebih tenang barulah Ikshan meninggalkan kamar dan pergi menuju ruang harta kerajaan yang terletak di bawah tanah tanpa menimbulkan banyak suara.
***
Di jalan besar tak jauh dari wilayah penjara, Reus terus mengayunkan pedangnya tanpa henti mencabut setiap nyawa prajurit yang datang kepadanya. Awalnya jumlah prajurit yang datang memang hanya puluhan, tetapi semua itu hanya bersifat sementara.
Seiring berjalannya waktu prajurit yang harus dihadapi Reus terus bertambah.
Berkat jumlah lawan yang cukup memusingkan kepalanya, Reus juga mengerahkan Dragon Aura dan Swordmaster Aura hampir tanpa henti. Dia juga memanfaatkan Telekinesis dalam menghadapi begitu banyaknya prajurit.
"Pengeluaran Energy-ku terlalu besar."
Reus terus mengayunkan pedangnya menebas prajurit sambil bergumam. Dia juga menyempatkan diri untuk mengonsumsi Energy Potion untuk memulihkan Energy-nya yang terus menipis.
Reus lebih mengandalkan serangan jarak jauh seperti Energy Wave dan Hollow Swords setiap kali cooldown kedua skill tersebut pulih. Dia juga sudah menghabiskan seluruh sihir di dalam Flame Shoot Skill Orb sehingga satu-satunya skill yang paling diandalkan olehnya saat ini adalah Telekinesis.
Telekinesis merupakan salah satu skill dengan daya konsumsi Energy terkecil sekaligus satu dari sedikit skill tanpa cooldown yang dia miliki. Jangkauan serangnya juga jauh sekaligus ampuh melawan banyak lawan dalam satu waktu.
Sering kali Reus menerbangkan lawan-lawannya ke langit dan membiarkan mereka terbunuh oleh gravitasi. Meski dengan cara ini dirinya tidak mendapatkan exp, Reus bisa menghemat tenaganya untuk menghadapi lawan yang lebih kuat.
Contohnya seperti sekarang.
"Hei hei hei, melawan seorang tahanan kecil yang kabur saja kalian tidak bisa? Jangan bercanda."
Saat semua lawan di depan berhasil di sapu bersih, pandangan Reus dikejutkan oleh sesosok manusia setinggi dua meter dengan badan besar layaknya batu raksasa. Sosok itu mengenakan zirah besi yang melindungi hampir seluruh tubuhnya serta di pundaknya tersandar sebuah pedang raksasa.
"Oh, siapa kau, tuan manusia raksasa?"
"Ah, aku? Namaku Brandon Lastcrow, anggota Elite Knight yang diutus kemari karena ketidakbecusan mereka."
Brandon melirik pada para prajurit yang saat ini merasa kesal diremehkan oleh seorang Elite Knight.
"Elite Knight? Berapa levelmu?"
"Levelku? Terakhir aku mengukurnya sekitar 250-an kalau tak salah ingat."
"Oh, boleh juga. Lebih seratus level dariku."
Sikap main-main Brandon segera menghilang ketika mendengar pernyataan Reus. Wajahnya menjadi begitu serius menatap Reus.
"Hei kecil, kau yakin levelmu 150-an? Tidak salah?"
"Tentu saja, memangnya kenapa?"
Keheningan memenuhi ruang di antara keduanya untuk sementara sebelum tawa Brandon yang keras mengisi udara. Dia tertawa terbahak-bahak selama beberapa saat.
"Ah maaf, aku pikir kau itu berlevel sekitar 200 ke atas sehingga bisa memukul mundur banyak prajurit ini, tapi aku salah sangka. Mereka sungguh tidak becus menghadapi seseorang yang setingkat dengan level mereka bahkan setelah mengepungnya."
Suara tawa Brandon mengundang kebencian dari pihaknya sendiri. Banyak prajurit di sana yang ingin sekali menikam Brandon dari belakang tetapi merasa tidak mampu melakukannya.
Sebagai Elite Knight berlevel 250-an, Brandon merasa geli terhadap prajurit di sekitarnya mengingat level rata-rata prajurit Lavore Kingdom sekitar 150-an ke bawah, sementara lawan mereka hanya seorang diri dengan level yang kurang lebih sama.
Brandon berhenti tertawa setelah puas, dia lalu memandangi Reus yang tengah mengonsumsi Energy Potion seperti air mineral.
"Apa yang kau lakukan? Kau sungguh ingin bertarung melawanku, Elite Knight berlevel 250 ini?"
Brandon mengangkat dagunya sambil menyunggingkan senyum remeh memandang Reus rendah. Tidak pernah terlintas sekali pun akan ada seseorang berlevel jauh lebih rendah berani menantang dirinya.
"Elite Knight? Mengukur kekuatan lawan saja tidak becus, bagaimana kau bisa dipanggil Elite Knight?"
"Kau!"
Brandon mengangkat senjata raksasa di pundaknya, menghunuskan pedang tersebut pada Reus dengan wajah tak senang.
"Kau akan menyesal di neraka karena mengatakan itu."
"Ah, maafkan aku, sepertinya kaulah yang akan menyesal di neraka."
Tidak ingin kalah Reus juga mengangkat pedangnya membentuk kuda-kuda sambil membalas ucapan Brandon lebih pedas, membuat sosok pria bertubuh raksasa tersebut makin terpancing.