
"Maaf, bisa kau katakan sekali lagi?"
"Ja-jadilah pacarku!"
Reus terdiam mematung mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir manis pemain berkelas Gunner bernama Violet ini. Matanya cukup terbelalak dan secara tak sadar Reus memasang ekspresi terkejut.
Bagaimana tidak? Seorang mahasiswa berpenampilan rata-rata dan berekonomian kurang—meski sekarang bisa dengan mudahnya menghasilkan uang—sepertinya dapat mendengar pernyataan cinta yang ditujukan pada dirinya, bagaimana itu bisa terjadi?
Memang 'cinta' itu tidak mengenal fisik maupun harta, tapi bukankah mereka baru saja kenal beberapa hari yang lalu? Tidakkah hal ini terlalu cepat? Begitulah isi pikiran Reus yang meragukan pernyataan pemain bergender perempuan di depannya ini.
"Violet, katakan alasanmu menginginkanku sebagai pacar."
"E-eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Bukankah kamu juga tiba-tiba menyatakan perasaan itu?"
Violet sedikit tergugup mendengar balasan Reus yang cukup masuk akal. Ia kembali tertunduk menatap tanah dengan wajahnya yang memerah. Pandangannya melayang ke sana kemari mencari alasan, tapi tidak menemukan alasan yang tepat.
Selang beberapa detik, Violet menghembuskan nafasnya dan melirik Reus.
"Ka-kalau aku mengatakan yang sebenarnya kakak tidak akan marah?"
"Untuk apa aku marah?"
Reus membalas ucapan Violet dengan ketus. Ia menyilangkan kedua tangannya dilipat di depan dada menunggu alasan Violet. Ia terlihat tidak sabar ingin mendengar alasan sebenarnya mengapa Violet ingin dirinya menjadi pasangannya.
Setelah itu, Violet menceritakan alasan yang sebenarnya mengapa ia ingin Reus menjadi pacarnya. Hal itu membuat wajah Violet merah padam, sedangkan Reus hanya menghela nafas berat disertai ekspresi agak kesal.
"Jadi, kamu berjanji di pesta Prom Night Sabtu nanti akan membawa pacarmu sebagai bukti agar laki-laki di sekolah berhenti mengejarmu, tapi kau berbohong kalau kau sudah mempunyai pacar?"
Violet mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan interogasi dari Reus sambil menutup rapat matanya. Reus yang mendapat kepastian ini memegang dahinya dan menggelengkan kepalanya. Dahinya sedikit berdenyut atas permintaan Violet.
Reus ingin sekali menolaknya, tapi apalah dayanya yang telah terikat satu permintaan yang harus ia penuhi untuk membayar Hollow Swords Skill Emblem yang diterimanya dari Violet sebelumnya. Ia benar-benar merasa diperdaya.
"Kenapa kau tidak meminta Hideo atau Shian?"
"Mereka sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, tidak mungkin aku mengajak mereka."
Reus menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia sudah berhasil menenangkan dirinya.
"Baiklah, aku akan menjadi pacarmu sampai Prom Night itu selesai."
"Benarkah!?"
"Ya. Lagipula, kamu salah satu dari sedikit teman Mira, kurasa membantu sedikit tidak apa-apa."
Sambil berbalik memunggungi Violet, kemudian melangkahkan kakinya memasuki lorong lebih dalam lagi. Melihat Reus berniat meninggalkan dirinya, Violet segera menyusul Reus dari belakang dengan langkah sedikit terburu-buru. Perlu diketahui, Violet takut gelap.
***
Sepuluh menit semenjak Reus dan Violet selesai beristirahat, mereka berjalan menelusuri lorong ini lebih dalam. Sejak mereka memutuskan untuk melanjutkan penelusuran tidak ada monster mob ataupun monster NPC Gnome Bandit yang menyerang mereka—bahkan terlihat pun tidak. Keadaan ini cukup aneh.
"Baik."
Reus mencabut pedangnya dari punggung sementara Violet menarik kedua pistol peraknya dari pinggang bersiap menghadapi sesuatu yang cukup besar. Meskipun Violet adalah seorang pemain berlevel tinggi, ia belum pernah sekalipun memasuki Gua Lafos ini sehingga satu-satunya yang paling memungkinkan mencegah serangan mendadak hanyalah Reus.
Mereka melangkah maju dengan sehati-hati mungkin mewaspadai seluruh area yang bisa dijangkau.
Begitu langkah kesepuluh tercapai, Reus dapat melihat sesosok monster bertubuh besar berotot kekar setinggi lima meter, memiliki sepasang tanduk hitam melengkung di pelipis kiri dan kanannya, terdapat lingkaran gelang besi yang menggantung di bawah lubang hidungnya, secarik kain melingkar di pinggang, serta membawa kapak dua tangan besar. Tak hanya itu, di sekitarnya juga terdapat sekitar lima Dwarf yang pastinya bagian dari Gnome Bandit.
"Violet, itu—"
"Minotaur level rendah. Sepertinya monster ini adalah Dungeon Boss."
Reus menelan ludahnya mendengar balasan Violet yang diluar perkiraannya. Ia pernah membaca di suatu artikel di internet jika monster Minotaur dalam Orbis Online sangatlah kuat meskipun hanya level rendahan. Level paling rendah yang Minotaur miliki ialah level 30.
Entah mengapa, Reus menjadi senang dan gelisah disaat yang bersamaan. Mungkin ia senang karena level bos yang harus ia lawan lebih tinggi darinya, sedangkan yang membuat dirinya gelisah adalah perasaan tak yakin bisa mengalahkan Dungeon Boss ini.
"Violet, kau jadi backup-ku saja."
"O-oke."
Setelah memberi arahan pada Violet, Reus segera maju melesat ke arah salah satu Dwarf yang membawa sebuah tongkat berujungkan tengkorak kecil—Shaman Dwarf—dan menyerangnya dengan Swing sekuat tenaga sembari berputar beberapa kali sebelum tebasannya kena agar damage yang dihasilkan lebih besar—walau hanya sedikit.
Zraaatt! Zraatt!! Zraaatt!!
Tiga tebasan Swing sekaligus dalam serangan pertama membuat HP Shaman Dwarf tersebut menurun drastis. Hal ini membuat Dwarf lain dan sang Minotaur menyadari keberadaannya. Namun meski dirinya sudah ketahuan, Reus memberi ayunan terakhir pada Shaman Dwarf yang langsung menghabisi bar HP-nya.
"Graaaaooo!!"
Sang Minotaur mengaum keras mendapati salah satu rekannya terbunuh oleh pemain berambut perak ini. Ia mengangkat dan mengayunkan kapaknya secara vertikal menyerang lawannya. Sayang sekali, karena gerakannya lambat Reus dapat menghindarinya dengan mudah.
Reus menedang tanah kembali melesat ke depan, kali ini ia melewati ruang besar diantara kedua kaki sang Minotaur. Saat ia melalui bawah monster itu, secara tak sengaja ia melihat 'itu'-nya. Spontan saja perutnya merasa mulas dan ingin muntah, tapi ia menahannya karena saat ini dirinya sedang dalam pertarungan.
Sambil berlari ke arah Dwarf-Dwarf lain, Reus mengambil sebotol Poison I dan sebotol Energy Potion I dari Inventory. Reus mengonsumsi cairan berwarna ungu dari Energy Potion I, lalu memecahkan botol Poison dengan pedangnya agar bilahnya dialiri racun.
Begitu persiapan selesai, Reus mengayunkan pedangnya lagi menyerang para Dwarf yang tersisa. Serangannya tak berhenti meskipun terblok oleh perisai atau senjata musuh. Saat pedangnya tertahan dan tidak bisa digunakan untuk sementara, ia menggunakan tangan dan kakinya yang sudah dilindungi Ice Golem Gauntlet dan Ice Golem Boots.
"Aku juga ingin menguji skill ini. [Hollow Swords]!"
Seketika itu juga terdapat gumpalan asap ungu gelap keluar dari tubuh Reus. Gumpalan asap ungu gelap tersebut berkumpul di lima titik yang berbeda berjarak satu meter dari Reus. Dalam beberapa detik, gumpalan asap itu membentuk lima pedang semi transparan ungu kehitaman yang menggantung disekitar Reus.
Zraat!!
Kelima pedang ungu kehitaman tersebut langsung menyayat para Dwarf yang menjadi lawan Reus tanpa dikomando. Damage yang diterima para Dwarf itu cukup banyak dan segera mengambil jarak aman dari pemain berambut perak ini.
"Hollow Swords, ya? Bagus juga skill ini."
Bibir Reus melengkung ke atas memberikan sebuah senyum penuh arti kepada para Dwarf yang ia lawan sekarang begitu menyaksikan sendiri seperti apa skill yang baru saja ia terima dari Violet. Ia pun menendang tanah dan melesat ke depan, lalu....
"Pertarungannya dimulai!!"