
"Apa-apaan negeri ini? Apa semua warganya memang sebegitu bencinya terhadap manusia?
Ikshan segera mengeluarkan suara hatinya yang sejak tadi dia pendam begitu merebahkan badannya di atas kasur usang yang mungkin kapas di dalamnya sudah habis. Wajahnya begitu runyam memikirkan bagaimana sulitnya mencari informasi di kota penuh kebencian seperti ini.
Semua keluhan Ikshan tidak perlu dipertanyakan lagi buktinya mengingat sejak tiba di perbatasan, baik dirinya maupun Reus telah menerima berbagai perlakuan tak pantas dan pandangan penuh kebencian dari setiap warga kota, terutama dari para Lizardmen dan Dragonewt.
"Yah, jangan marah begitu. Kebencian mereka pada manusia juga disebabkan oleh Menschrein Kingdom yang berniat memusnahkan negara berdominasi ras non-manusia."
Reus menghela nafas panjang menanggapi keluhan Ikshan, dia baru saja merebahkan bokongnya di kasur merasa begitu lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Lavore Kingdom dan langsung disambut oleh segudang masalah.
"Tapi, jika mereka tahu kita tidak ada hubungannya dengan Menschrein Kingdom—"
"Tidak ada yang berubah sekalipun mereka mengetahuinya."
Reus langsung memotong perkataan Ikshan tanpa peringatan, membuat Ikshan spontan mengerutkan dahinya. Dia lalu memandang Reus yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya satu sama lain.
"Mau itu manusia, Dragonewt, Lizardmen atau ras apapun, selama mereka memiliki akal budi dan jiwa, tanpa membuka pikiran dan melapangkan dada semua ini tidak akan hilang."
Reus menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya panjang berusaha menenangkan diri tidak termakan oleh emosi. Biarpun terlihat tenang dan logis, di dalam hatinya Reus juga merasa kesal dan marah karena diperlakukan sedemikian rupa hanya karena satu ras.
Di sisi lain Reus juga merasa begitu geram terhadap sikap manusia yang selalu congkak dan menganggap tinggi diri mereka seakan-akan menguasai seluruh dunia, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya.
Dia teringat kembali pengalaman kelamnya yang berhubungan dengan sepasang manusia yang dibencinya, Hiruma Tokoyasu dan Reana Flaregarde.
"Oh, ngomong-ngomong kalau tak salah mereka mempunyai Legion pribadi di bawah perusahaan mereka, bukan? Kalau tak salah Adventador namanya."
Tanpa diduga Reus tiba-tiba teringat suatu informasi yang sebenarnya ingin dia lupakan tetapi tidak bisa. Dia mengetahui ini ketika reuni tak terduganya di Grand Hotel Skrimata untuk bertemu Rezel, Hiruma ternyata sedang mengadakan perekrutan besar-besaran.
Bersama kenangan pahit tersebut, Reus mengigit bibirnya hingga berdarah tak ingin mengingat hal itu. Dia lalu merebahkan dan membenamkan badannya ke kasur—meski tidak bisa karena kapas di dalamnya hampir habis—merasa lelah mengingat semua itu.
Di sisi lain Ikshan yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi Reus dari waktu ke waktu sedikit mengerutkan dahinya. Ikshan memang tidak bisa menebak apa yang sebenarnya Reus pikirkan sampai ekspresinya berubah-ubah dalam kurun waktu singkat, namun dia bisa mengetahui itu pengalaman yang tak menyenangkan.
Ikshan sendiri pernah mengalami beberapa pengalaman yang tak menyenangkan, terutama kejadian yang belum terjadi belum lama ini, peristiwa di mana cintanya dikhianati.
Pada akhirnya Ikshan bangkit dari kasur dan memutuskan untuk pergi mencari informasi di sudut-sudut kota.
"Kalau begitu aku pergi dulu ke kota."
"Oke, pastikan identitasmu sebagai manusia tertutup rapat."
"Tentu saja."
Setelah mendapat kepastian Ikshan segera menghilang dari kamar seusai mengenakan topeng serta kostum khas penyamarannya, sementara itu Reus masih berbaring di kasur selama beberapa waktu ke depan sampai dia bangun sambil menghela nafas panjang.
"Kalau begitu aku akan mulai mencari informasi mengenai segel Arshwind."
Reus kemudian melangkah keluar kamar setelah bergumam demikian, berharap informasi mengenai ketujuh segel Arshwind dapat dia temukan meski sekecil debu sekalipun.
***
Berbeda dari Ikshan yang mencari informasi di berbagai seluk-beluk kota, Reus pergi ke sebuah Dungeon yang terdapat di luar kota. Dia berpikir ketujuh segel yang mengurung Arshwind di dalam Chaos Lair tidak bisa didapatkan di daerah perkotaan. Satu-satunya jalan selain bertanya kepada keluarga bangsawan maka mencari ke Dungeon terdekat.
Bailendra Kingdom adalah Negeri Naga, setidaknya Dungeon di wilayah negeri ini memiliki satu atau dua informasi mengenai tujuh segel tersebut atau begitulah yang dipikiran Reus.
Seharusnya manusia sepertinya tidak boleh asal meninggalkan kota, namun berkat lencana pemberian Strainer pemain berambut perak tersebut dapat keluar-masuk kota tanpa diinterogasi ataupun mendapat perlakukan buruk.
"Tapi, haruskah kalian mengawasiku hingga sedemikian rupa? Apa wajahku memang begitu mencurigakan?"
Reus tersenyum kering melirik dua orang Lizardmen mengekori buntutnya dengan senjata masing-masing tanpa melepaskan perhatian dari Reus.
"Tentu saja harus. Biarpun kau dipinjamkan lencana militer oleh Kapten Strainer, tetap saja kewaspadaan terhadap manusia tidak boleh berkurang sedikit pun."
"Benar benar."
Dua Lizardmen ini adalah prajurit utusan penjaga gerbang yang dikirim untuk menjaga dan mengawasi Reus, mengingat Reus sendiri adalah manusia. Meski telah ditetapkan tidak memiliki hubungan dengan Menschrein Kingdom oleh Strainer, rupanya kecurigaan para warga Bailendra Kingdom tidak bisa hilang semudah gelembung air meletus.
Reus menggaruk kepalanya sejenak menanggapi jawaban keduanya, tetapi dia tidak bisa menolak maupun membantah. Pada akhirnya dia hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan layaknya tahanan bebas bersyarat.
"Ngomong-ngomong, kau mendatangi Dungeon untuk berburu monster dan menaikkan level, bukan?
"Benar, kenapa dengan itu?"
"Maaf kalau aku menyinggungmu, tapi monster di dalam Dungeon yang ingin kau datangi sekarang levelnya lebih tinggi darimu. Apa kau sengaja cari mati?"
"Anggap saja begitu, toh aku tak terlalu keberatan jika harus mati."
Reus tidak ingin menghabiskan waktunya berdebat dan bicara omong kosong dengan dua orang ini, jadi dia memilih mengangkat bahunya sambil menghela nafas.
Dua Lizardmen tersebut mengerutkan dahi mereka sejenak tak mengerti jalan pikiran pemuda di hadapannya ini, tetapi mereka tidak menghentikan Reus dan terus mengikutinya di belakang tanpa menurunkan kewaspadaan mereka terhadap manusia yang harus mereka awasi.
Reus sendiri tidak mempedulikan keberadaan dua Lizardmen ini lebih jauh, dia membuka panel statusnya memikirkan bisa sampai sejauh mana dirinya pergi dengan level dan status seperti ini.
---
Nama : Reus
Level : 172
Kelas : Freelancer
Respect : 3.081
Str : 1.804, Dex : 2.056, Vit : 1.360, Int : 935, Luc : 920, Conquer : 1
Skill : Alchemy, Martial Arts IV (Passive), Sword Arts VII (Passive), Swing, Hollow Sword, Power Breathing, Silent Strike, Expert Solution (Passive), Dragon Smite, Dragon Aura, Dragon Skin II (Passive), Dragon Power, Dragon Spirit, Poison Breath, Sprint, Energy Wave, Jester Knife, Body Clone, Ultimate Skill : Joker Field, Sword Full Control Arts, Sword Body I (Passive), Swordmaster Aura, Laplace Forecast, Black Sky Sword Arts Series, Hyper Switch, Psychokinesis, Domain of The Conqueror, Conqueror Aura, Infinite Maxima
Title : The Harvester III, Another Alchemist, Bare Hand Fighter, Advance Player, Advance Swordsman, Skill Modifier, Golem Hunter, Dwarf Hunter, Goblin Hunter, Skill Inventor, Undead Hunter, Undead Killer, Expert Player, The Half-Dragon-Man, Undead Slayer, Special Holder, Potion Enhancer, Ultimate Holder, Hroud's Tourist, Hero of Horen Mountain, The Sovereign Killer
---
"Woah, Dex-ku mencapai 2.000? Cepat juga."
Reus tersenyum lebar memandangi jumlah status barunya yang dia peroleh dari pembantaian terhadap pasukan Lavore Kingdom, tetapi di saat yang bersamaan dahinya mengerut sejenak mendapati kenaikan level yang tak wajar.
"Apa aku pernah membunuh lawan berlevel 300 ke atas?"
Dia sadar terakhir kali dirinya memeriksa status adalah sewaktu bertempur, tapi seharusnya waktu itu Reus masih berlevel 156. Levelnya tiba-tiba meningkat dari 156 ke 172 itu kurang masuk di akal terkecuali dia pernah mengalahkan lawan berlevel di atas 300.
Sejauh ini selain Xavier yang merupakan pemimpin Elite Knight, Reus tidak pernah merasa bertemu musuh berlevel di atas 300. Paling tinggi pun hanyalah beberapa Elite Knight yang berlevel sekitar 250-an.
"Ah, jangan-jangan mengusir Lucius Maen'ra dari tubuh Aulcrat dihitung mengalahkan? Atau ini hadiah dari memecahkan Main Quest?"
Reus mengusap dagunya memikirkan penyebab kenaikan levelnya yang begitu drastis. Dia ingin mencari kemungkinan lain namun Reus tersadar dari lamunannya ketika kedua suara langkah pengawas di belakangnya terhenti, dia pun juga ikut berhenti dan menoleh ke belakang.
"Kenapa berhenti? Tugas kalian mengawasiku sampai di sini saja?"
Kedua Lizardmen tersebut tidak mengeluarkan suara apapun selain menunjukkan ekspresi penuh ketakutan. Salah satu dari mereka kemudian menunjuk ke depan dengan jari bergemetar hebat.
Reus mengangkat alisnya tidak mengerti mengapa mereka berdua terlihat begitu ketakutan, dia lalu menoleh ke depan—tepatnya lokasi yang ditunjuk oleh Lizardmen tersebut.
Berjarak sekitar 50 meter dari tempat mereka berdiri, terdapat sebuah bangunan batu tua berdiri tegak di antara reruntuhan batu di sekitarnya. Di dalam bangunan itu nampak sepasang mata merah bersinar terang disertai aura mengerikan yang dapat membuat makhluk lain ketakutan.
"Aura ini...."
Reus mengerutkan dahinya sejenak sebelum menarik pedang di punggungnya dan mengambil kuda-kuda bersiap bertarung.
Makhluk bermata merah bersinar tersebut menanggapi kuda-kuda Reus dengan auman menggelegar hingga menggetarkan tanah, lalu keluar dari bangunan batu tua dan menampakkan dirinya, sukses membuat kedua Lizardmen pengawas berteriak histeris dan Reus tersenyum kering.
"Ini sepertinya akan agak sulit."
Terlihat sesosok makhluk tinggi besar berkaki empat disertai sepasang sayap berdiri tegap, memancarkan aura kengerian dan ketakutan yang luar biasa.
---
Undead Lesser Dragon
Level : 280
---
Author ketika baca komen be like :
Template by Komik Kamvret