
"Wuah, Ibane mengamuknya keterlaluan."
Ikshan tersenyum kering menyaksikan pusaran angin berbentuk ular naga yang merupakan sihir milik Ibane dari kejauhan. Dia merasa kalah berkontribusi pada perang ini mengingat sebagian besar skillnya tidak begitu cocok ketika bertarung dalam jumlah yang kurang diuntungkan seperti ini.
"Kau berani mengalihkan perhatian di tengah pertempuran?!"
Salah seorang prajurit maju mengarahkan senjatanya kepada Ikshan namun berakhir tewas ketika pemberat logam kusarigama yang Ikshan lembar menembus zirah pelindung sang prajurit begitu mudahnya.
"Uwah, kusarigama ini terlampau kuat. Apa senjata ini tidak apa-apa diberikan kepadaku?"
Ikshan bisa mengerti jika dia dapat memotong zirah besi lawannya dengan bagian sabit kusarigamanya tapi pemberat logamnya mampu menembus zirah pelindung prajurit Menschrein Kingdom? Selain menggunakan kusarigama pemberian Randolf dia belum pernah melakukan hal serupa sebelumnya.
Saat ini Ikshan berada di tengah kepungan pasukan Menschrein Kingdom namun dia tak merasa tegang atau takut sedikitpun, justru sebaliknya dia merasa lebih percaya diri ketika mengetahui kemampuan Crescent Dragon Slayer melebihi ekspetasi awalnya.
"Aku memang tak punya jurus berlingkup luas seperti Ibane ataupun Reus tapi kalian akan menyesal tidak segera menyerangku selagi ada kesempatan."
Ikshan tersenyum tipis melihat para prajurit merasa ragu untuk maju. Dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengayunkan rantai Crescent Dragon Slayer, memainkannya dengan tangkas menghabisi semua musuhnya satu per satu secepat kilat.
Begitu musuh di sekitarnya habis Ikshan segera maju mendekati prajurit Menschrein Kingdom di garis terdepan sambil memutarkan badan sekaligus menarik rantai kusarigamanya secara horizontal.
"Moon Scythe Art Series : First Form – Crescent Moon!"
Dalam satu serangan tersebut barisan paling depan lawan segera terbabat habis seperti memotong rumput. Hal itu membuat para prajurit menjerit merasa mereka tak akan bisa menang melawan musuh seperti ini.
Sayangnya, serangan Ikshan belum selesai.
"Mari kita lanjutkan dengan yang satu ini! Moon Scythe Art Series : Second Form – Orbital Dance!"
Ikshan memainkan kusarigamanya dengan tangkas menghubungkan setiap serangan tanpa menghentikan momentum sabit kecilnya, menghabisi setiap musuh yang dia lihat.
Permainan kusarigama Ikshan yang tidak bisa dihentikan oleh para NPC kemudian mengundang perhatian pemain. Dia menghentikan putaran kusarigamanya ketika melihat beberapa pemain mengenakan Equip berlambangkan Gaia's Tree.
"Hei, ninja bertopeng bodoh, kau tidak sadar kau kalah jumlah? Kau yakin berniat menghadapi kami seorang diri? Kami berbeda dari para prajurit bodoh ini!"
Mendengar ocehan salah satu anggota Gaia's Tree tersebut Ikshan menghela nafas panjang sebelum mengerahkan Bloodlust, memberi tekanan sekaligus menakuti prajurit sekaligus pemain yang ada di sekitarnya.
Dia tak melewatkan kesempatan itu untuk maju menyerang. Anggota Gaia's Tree sedikit terkejut saat tersadar lawan mereka maju setelah terlena oleh ketakutan Bloodlust Ikshan. Mereka kemudian berniat maju menyerang bersamaan tetapi gerakan mereka tertahan oleh belasan rantai berwarna biru yang terikat pada tanah.
Ikshan tersenyum dingin sejenak lalu mengayunkan kusarigamanya memenggal kepala para anggota Gaia's Tree secepat kilat. Alhasil, berkat kecepatannya menghabisi beberapa anggota Gaia's Tree tersebut pemain lain merasa ragu untuk menyerang Ikshan.
"Apa anggota Gaia's Tree memang isinya hanya sampah yang bisa berceloteh saja? Menjijikkan."
Setelah berkata demikian Ikshan melanjutkan aksinya membabat setiap prajurit maupun pemain yang menghadang jalannya, terutama anggota Gaia's Tree yang sejauh ini hanya bisa bermain mulut tanpa memberi perlawanan sedikitpun.
Selain menggunakan teknik serta skill kusarigamanya, Ikshan juga mulai memakai berbagai sihir petir yang dia dapatkan dari Elemental Rune berelemen petirnya untuk menahan gerakan lawan yang tak dia duga.
Aksi Ikshan mungkin tak menyebabkan ledakan besar seperti Ibane atau Reus namun melihat rekan mereka gugur satu per satu dengan kecepatan yang tak terbayangkan, pihak musuh merasa teror yang disebabkan Ikshan lebih mendalam dibanding kedua orang lainnya.
Ditambah skill Bloodlust yang sesekali dikerahkan, Ikshan makin terlihat seperti iblis bagi prajurit maupun pemain di sana.
***
Reus sudah cukup menunggu di tengah medan perang. Dia memang berjanji akan membiarkan Ibane dan Ikshan menghabisi pasukan Menschrein Kingdom agar dapat berkontribusi dalam perang ini tetapi dia tidak mengatakan tak akan bergabung lagi.
Saat Reus hendak mengerahkan Pscyhokinesis untuk terbang melesat menuju pasukan musuh di depan sana, dia melihat sekelompok pemain datang bergerombol menuju ke arahnya. Reus segera mengambil posisi siaga.
Ketika jarak Reus dan sekelompok pemain tersebut sudah mulai menipis dia bisa melihat mereka semua mengenakan semacam kain kuning pada lengan kiri mereka.
"Ah, mereka rupanya."
Reus tersenyum kecil sebelum menyarungkan pedangnya kembali dan mendekati kelompok pemain tersebut. Di barisan paling depan dapat terlihat sesosok tak asing sedang melambai ke arahnya.
"Kakak!"
Benar, meskipun telah mengenakan berbagai Equip baru, satu-satunya pemain yang memanggil Reus dengan sebutan kakak tidak lain dan tidak bukan hanyalah adik Reus, Almira—Mirage dalam Orbis Online.
"Yo, Mira. Kalian baik-baik saja?"
Reus menyapa Mirage dan lainnya. Dia bisa melihat selain Mirage terdapat juga Violet, Fira, Kuro serta Edmund yang merupakan teman satu Party sekaligus dunia nyata Mirage. Tidak lupa juga para pemain lain yang hendak lepas dari kekangan Gaia's Tree.
Reus cukup terkejut saat mengetahui jumlah pemain yang ingin keluar dari Gaia's Tree tapi tak bisa karena ancaman petinggi mereka yang pernah disebutkan oleh Mirage beberapa hari sebelum perang dimulai.
Dia memandang pemain di belakang kelompok Mirage yang terlihat ragu terhadap Reus tetapi dia dapat memahami perasaan mereka.
"Oke, kalian bisa mundur ke belakang. Serahkan diri baik-baik kepada para prajurit Bailendra Kingdom dan setelah semua ini berakhir, kalian akan segera dibebaskan."
"Pengkhianat! Beraninya kalian mengkhianati Legion!"
"Kalian harus dibunuh lima puluh kali dulu agar bisa jera!"
"Kejar! Bunuh para pengkhianat itu!"
Sekelompok besar pemain mengejar kelompok Mirage dan kawan-kawan dari belakang saat menyadari anggota Legion mereka berkhianat.
"Hmm, kedengarannya mereka bukan pemain pengungsi, bukan?"
"Kakak, jangan berkata santai begitu! Mereka berjumlah sekitar 50 orang dan mereka semua berlevel di atas 180! Ini bukan keadaan santai!"
Diperingati oleh adiknya sendiri, Reus hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk pipi. Entah apakah itu karena kekhawatiran sebagai saudara atau murni ketidakpercayaan Mirage terhadap dirinya.
Apapun itu tak bisa menghalangi Reus menghabisi mereka yang datang dengan niat buruk.
Reus mengambil sebuah Item berbentuk tanduk dari Inventory dan meniupnya. Tanduk tersebut segera berubah menjadi sesosok Minotaur dengan kapak besar menggantung di punggungnya.
"Tuan, anda memanggil?"
"Aku sebenarnya tak ingin memanggilmu di tengah medan perang seperti ini tapi apa boleh buat."
Reus meminta Minotaur tersebut, Bull untuk menjaga sekaligus mengantar kelompok Mirage sekaligus pemain pengungsi ke tempat aman. Bull mengangguk pelan sebelum menjalankan perintah tuannya.
"Kak Reus, aku akan membantumu dari belakang! Walaupun kekuatanku tidak seberapa itu lebih baik daripada tak melakukan apapun sama sekali!"
Saat Reus sudah mulai bersiap bertarung menghadapi para pengejar, Violet—Kurenai di dunia nyata—menyerukan keinginannya membantu Reus dari belakang. Reus yang mendengar itu tersenyum kecil dan menoleh ke arah Violet.
"Violet, kau sudah membantuku banyak kali saat aku masih berlevel rendah. Kini giliranku membantumu."
"Tapi—"
"Tak perlu khawatir. Aku bahkan tidak butuh lima menit untuk membereskan mereka semua."
Violet belum sempat membalas kata-kata Reus namun sosok pemain berambut putih keperakan tersebut sudah melesat menuju para pengejar kelompok Mirage.
Melihat Reus tanpa pikir panjang maju seorang diri menghadapi kelompok pengejar, para pemain yang selama ini diam-diam mengikuti arahan Reus melalui Mirage agar dapat lepas dari eksploitasi dan tirani Gaia's Tree bertanya kepada Mirage.
"Hei Mirage, apa tak apa-apa membiarkannya maju seorang diri? Kalau tak salah kau memanggilnya kakak, bukan?"
Mirage menggaruk pipi tak yakin harus berkata apa untuk menanggapi pertanyaan tersebut.
Dia sadar bahwa kakaknya itu amat keras kepala jika memutuskan sesuatu dan sulit mengubah pikirannya tetapi di sisi lain, dia teringat Reus memiliki sebuah Ultra-Equip berbentuk pedang yang belum pernah dia lihat dan Mirage menyadari Reus sedang memegang pedang tersebut.
Level Reus memang sudah cukup tinggi dan dia memiliki Ultra-Equip yang termasuk langka, lalu ditambah Special-class yang pernah dia ceritakan, Mirage cukup yakin kakaknya itu merasa bisa mengalahkan semuanya namun di saat yang bersamaan dia juga merasa khawatir.
"Aku akan membantunya dari belakang bersama Violet. Kalian pergilah ke tempat aman bersama Minotaur panggilan kakakku."
Mirage mengangkat tongkat sihirnya. Sebagai pemain berkelas Mage dia bisa mendukung Reus dari jauh tanpa perlu takut membatasi gerakan Reus, terlebih lagi Violet yang seorang Gunner juga membantunya.
"Yah, setelah semua yang telah dia lakukan untuk membantu kita, aku juga tak ingin tinggal diam tanpa berterima kasih."
"Aku setuju dengan Kuro. Aku juga akan tinggal melindungi mereka berdua. Bagaimana denganmu, Fira?"
"Kalian memutuskan semua itu secara sepihak dan masih menanyakan pendapatku? Kita masih satu Party, kan?"
Kuro, Edmund, serta Fira mengangkat senjata mereka mengikuti Mirage dan Violet. Kelas Kuro adalah Samurai, begitupula Edmund yang seorang Dual Swordsman. Keduanya merupakan petarung jarak dekat dan tugas mereka adalah melindungi Mirage serta Violet yang merupakan daya serang nomor satu dalam Party mereka.
Fira memang bukanlah petarung murni dan kelasnya juga hanyalah Blacksmith biasa, sebuah kelas khusus produksi tetapi dia juga dapat bertarung mengandalkan palunya dari jarak menengah.
Saat kelima pemain tersebut memutuskan untuk membantu Reus, Bull sang Minotaur datang menghentikan mereka.
"Semua itu tidak diperlukan. Kalian harus pergi ke tempat aman. Serahkan semuanya kepada tuanku."
".... Kau sebagai makhluk panggilannya tidak merasa khawatir atau ingin membantunya? Bukankah dia tuanmu?"
"Perintah tuanku hanyalah sebatas melindungi dan mengantar kalian ke tempat aman. Lagipula, jika melawan kecoak-kecoak seperti mereka maka tuanku tidak butuh bantuan. Lihat?"
Bull menunjuk Reus yang tengah menghadapi kelompok pengejar berjumlah tidak kurang dari 50 pemain—atau lebih tepatnya sedang membantai rombongan tersebut dengan santai seolah semua itu bukanlah sesuatu yang berarti dalam kecepatan yang tak bisa dipercaya.
Mirage dan keempat teman Party-nya melotot melihat pemandangan tersebut, bahkan pemain pengungsi yang sebelumnya merasa Reus terlalu sombong tidak bisa mengalihkan perhatian mereka dari sosok pemain tersebut.
Mereka yang menyaksikan hal itu mulai berpikir bahwa pihak yang membutuhkan bantuan bukanlah Reus melainkan kelompok pengejar dari Gaia's Tree.