Orbis Online

Orbis Online
140. Gaia's Tree.... Lagi



   "Permisi, apakah kau mengenal seseorang bernama Reus?"


Kedatangan dan pertanyaan tiba-tiba Dunk tersebut mengejutkan si gadis sampai dia mengarahkan tongkatnnya pada wajah Dunk, membuat pria tampan tersebut sedikit panik.


   "Maaf maaf, aku tidak bermaksud lancang!"


Dunk segera mengangkat kedua tangannya ke udara sembari mengambil beberapa langkah ke belakang begitu ditodongkan tongkat oleh sang gadis, menandakan dirinya sungguh tidak bermaksud menyerang atau sejenisnya. Dia hanya murni penasaran terhadap gadis ini.


Sorot mata gadis itu menyipit memandangi Dunk dari atas hingga ke bawah menaruh kecurigaan besar terhadap pria tersebut, membuat Dunk berkeringat dingin. Dia tidak merasa heran mengingat dirinya duluanlah yang tiba-tiba bertanya seakan-akan mereka sudah saling kenal.


Setelah pemeriksaan singkat itu selesai, si gadis menurunkan tongkatnya dari wajah Dunk, lalu meletakkan kembali tongkatnya ke tempat sebelumnya. Dia kemudian menyuruh Dunk duduk menggunakan bahasa isyarat tangan.


Dunk hanya bisa menuruti keinginan sang gadis sambil tersenyum canggung. Dirinya sudah siap diusir kembali ke mejanya, tetapi justru si gadis malah menyuruhnya duduk tanpa berbicara.


Meskipun populer di kalangan wanita, Dunk tidak terlalu bagus dalam berkomunikasi dengan perempuan, terutama wanita yang tak tertarik terhadapnya dan nampak menyeramkan seperti si gadis. Dirinya tidak bisa berkutik jika berhadapan dengan wanita seperti itu.


Si gadis menyeruput secangkir teh yang dia pesan sebelum mengangkat suaranya.


   "Kau kenalan Reus?"


   "Ah, ya, bisa dikatakan begitu."


Sebelum si gadis mulai mencurigainya lebih dalam lagi, Dunk segera menjabarkan ciri fisik dan sifat Reus yang dia ketahui, sekaligus bagaimana dia bisa bertemu dengan Reus untuk meyakinkan sang gadis.


   "Kau diselamatkan oleh Reus?"


   "Meskipun hanya di dunia virtual, tetap saja dia menyelamatkanku dalam artian yang sebenarnya."


Dunk kemudian menceritakan pertemuan pertamanya dengan Reus ketika dirinya terkepung beberapa Zombie Knight dalam keadaan HP rendah.


Awalnya Dunk sudah benar-benar pasrah akan keadaannya dan siap mati, namun berkat kedatangan Reus, Dunk kembali mendapatkan keberaniannya. Setelahnya seperti yang diketahui, Dunk dan Reus membentuk satu party hingga jatuh ke dalam jebakan dan terkirim ke Chaos Lair, lalu berakhir dengan kematian yang tak terduga.


Tentu dia tidak menceritakan tentang Chaos Lair atau Arshwind begitu saja kepada si gadis, dia juga belum sepenuhnya yakin bahwa gadis ini adalah kenalan Reus yang dia tahu.


   "Diselamatkan, ya?"


Sang gadis menghela nafasnya sembari menatap mejanya, mengingat kembali suatu kejadian beberapa waktu lalu yang berpengaruh besar terhadap dirinya di dunia ini.


   "Apa aku boleh mengajukan beberapa pertanyaan mengenai Reus yang kau maksud? Mungkin saja Reus yang kita bicarakan ini adalah dua orang yang berbeda."


   "Tidak masalah, aku juga ingin memastikannya."


Pada akhirnya Dunk dan gadis berambut ungu tersebut saling melemparkan pertanyaan mengenai Reus sampai keduanya mengetahui bahwa Reus yang mereka bicarakan sejak tadi adalah orang yang sama.


   "Pertanyaan terakhir, kenapa kau bisa mengetahui aku kenalan Reus?"


   "Ah, soal itu...."


Dunk menjelaskan terdapat rekaman video pertempuran di desa Viredeta yang mana Reus dengan Black Form-nya sangat mencolok pada pertarungan tersebut, lalu ada dua orang lain di belakangnya yang tidak kalah diperhatikan. Dua orang itu adalah Ramsey dan gadis di depannya ini.


Si gadis mengangguk pelan memahami maksud Dunk, dia memakluminya karena namanya sendiri naik cukup pesat setelah pertempuran tersebut, terutama di kalangan pemula dan pemain di bawah level 100.


   "Oh ya, namaku Dunk, maaf tidak memperkenakan diriku sebelumnya."


   "Ah tidak masalah, aku juga meminta maaf karena terlalu curiga."


Keduanya saling meminta maaf setelah memastikan sosok Reus yang mereka bicarakan adalah orang yang sama.


Si gadis mengangkat topi lebar ala penyihirnya itu menunjukkan tanduk hitam kecilnya sambil tersenyum lebar, membuat Dunk terpana melihatnya.


   "Namaku Kynel. Salam kenal, Dunk."


   "Dunk? Kynel?"


Mata Reus terbelalak cukup lebar menyaksikan kedua kenalannya itu dikejar-kejar oleh sekelompok orang. Dia sedikit kebingungan apa yang dilakukan keduanya di kota ini.


Reus hendak menggapai pedang di pundaknya ingin menghampiri sekaligus menolong mereka, tetapi dirinya tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka sampai dikejar-kejar sekelompok orang tersebut.


Saat dirinya memikirkan alasan Dunk dan Kynel dikejar banyak orang seperti itu, Reus dapat melihat lambang Gaia's Tree di beberapa perlengkapan kelompok yang mengejar mereka, mengakibatkan dahi Reus mengerut hebat.


   "Gaia's Tree lagi?"


Dapat terlihat seutas urat di pelipis Reus begitu mengetahui kelompok tersebut adalah anggota Gaia's Tree, merasa Legion ini menganggap diri mereka yang mempunyai kuasa dan kekuatan tak tergoyahkan.


Reus bisa melihat informasi mengenai beberapa orang di kelompok pengejar itu. Kebanyakan level mereka hanyalah 100 ke bawah, tetapi jumlah mereka mendekati puluhan, jumlah yang mustahil diimbangi hanya dengan dua orang saja.


   "Tidak heran mereka hanya bisa lari."


Reus memijat dahinya yang sedikit berdenyut mengira-ngira berapa level yang sudah diperoleh Dunk dan Kynel sejak terakhir kali dirinya bertemu, namun dia sadar dirinya sendiri pun akan bimbang melawan begitu banyak lawan sendirian di posisi mereka.


Pada akhirnya Reus menarik pedang di punggungnya, lalu melemparkannya tepat di jarak antara kedua kenalannya dan pengejar mereka, membuat langkah mereka terhenti sekaligus menarik perhatian, termasuk Dunk dan Kynel yang sedang dikejar.


   "Hah? Siapa kau?!"


   "Siapa aku, katamu?"


Sambil mengucapkan itu Reus mengibaskan jubahnya bergaya selayaknya pahlawan, lalu meletakkan dua tangannya di pinggang.


   "Aku musuh bebuyutan kalian, Gaia's Tree."


Menanggapi ucapan orang aneh yang tiba-tiba menyatakan musuh bebuyutan, para anggota Gaia's Tree saling memandang satu sama lain sebelum tertawa terbahak-bahak. Reus menaikkan alisnya melihat mereka tidak serius menanggapi pernyataannya.


   "Musuh bebuyutan? Ada-ada saja orang ini."


   "Dia tidak memiliki perlengkapan berlambang Legion, bagaimana bisa dia menyebut dirinya musuh bebuyutan kita?"


Tawa keras mereka sampai merebut perhatian warga setempat, tetapi tidak begitu lama. Sesudah tawa mereka berhenti salah satu dari mereka segera menyuruh beberapa orang memberi Reus pelajaran.


   "Kami mengerti, kalian tangkap saja kedua orang itu."


   "Orang ini biar kami saja yang memberinya pelajaran."


Terdapat sekitar empat orang berbadan besar yang melangkah menuju Reus beserta senjatanya bersama aura intimidasi yang cukup kuat bagi orang biasa, tapi mereka tidak tahu siapa yang di hadapan mereka.


Reus mendecakkan lidahnya kesal merasa dirinya begitu diremehkan, namun dia sadar ini dikarenakan topeng yang melindungi identitasnya sebagai pemain serta penampilannya yang tidak terlihat kuat.


   "Sepertinya kalian terlalu meremehkanku, ya."


Reus menghela nafas sebelum mengambil satu lagi pedang di punggungnya, lalu menendang tanah sembari mengaktifkan Sprint melesat menuju keempatnya dalam seketika dan beberapa saat kemudian Reus berada di belakang mereka.


   "Butuh 20 orang atau lebih seperti kalian untuk setidaknya menghentikanku."


Tepat setelah Reus mengangkat suaranya, keempat pemain tersebut jatuh tersungkur di atas tanah tanpa kepala di leher mereka.


   "Flash Dragon Smite."


 


Author


Update spesial ultah OO