Orbis Online

Orbis Online
37. Rapat Strategi



Kira-kira satu jam lamanya berjalan, pasukan Raid yang diikuti Reus sampai di wilayah desa Viredeta yang diduga adalah markas dari Monstrous Invasion di dekat Livetuna. Ketua Raid memutuskan untuk mendirikan perkemahan yang berjarak sekitar satu kilometer jauhnya dari desa Viredeta.



Party si ketua membagikan perlengkapan kemah kepada setiap party yang mengikuti Raid ini. Meski begitu, bukan berarti mereka memberikannya secara gratis. Mereka juga meminta bayaran sekitar 1.500 Byl per tendanya. Bayaran sebesar itu tak begitu mahal dan semua pemain setuju.



   "Ng? Reus, kau tak membeli tenda dari ketua Dalon?"



   "Tidak. Daripada tidur aku lebih memilih untuk berjaga-jaga atau menaikkan level."



   "Aduh, maksudnya kemah tidak seperti itu. Kemah di tempat ini hanya untuk menunggu informasi dari bagian pengintai yang menyelidiki desa Viredeta."



   "Pasukan pengintai?"



   "Mereka terdiri dari empat pemain kelas Thief berkemampuan tinggi yang sudah berangkat lebih dulu untuk mengintai tempat sasaran. Sementara menunggu mereka ketua menyarankan kita beristirahat dan memulihkan tenaga di sini sambil para pemimpin party mendiskusikan strategi penyerangan."



Reus mengangguk pelan mendengar penjelasan dari Kynel. Memang keputusan yang dibuat oleh ketua Dalon itu tepat mengingat tidak ada cara untuk memulihkan stamina di dunia ini kecuali beristirahat. Lalu, menunggu informasi yang sudah diverifikasi kebenarannya itu memang langkah yang tepat.



Selagi menunggu, Reus mengambil posisi duduk dan membuat beberapa puluh botol HP Potion I di tempat yang agak sepi. Berhubung tempat beristirahat yang diambil Reus dan Kynel cukup jauh dan terasing dari pemain lainnya, ini kesempatan emas bagi Reus.



   "Reus, kamu seorang Alchemist?"



   "Bukan, aku Swordsman."



   "Tapi kenapa kamu bisa membuat Potion? Bukankah hanya kelas Alchemist yang dapat membuat Potion?"



   "Ah, secara kebetulan aku mendapat skill Alchemy yang memungkinkanku membuat Potion tanpa harus mengambil kelas Alchemist."



Selesai menjelaskan, Reus kembali membuat HP Potion I dan beberapa Potion lain yang bisa ia buat. Di depannya terlihat Kynel yang tengah memperhatikan cara Reus membuat berbagai Potion yang hanya sekejap itu. Reus sendiri bisa mengerti rasa penasaran Kynel hingga melihatnya dengan seksama.



Seusai kegiatan membuat Potion-nya selesai, Reus membuka Inventory-nya dan mengambil sesuatu dari sana.



   "Apa itu, Reus?"



   "Ini? HP Potion II Recipe."



   "Kamu mau membuat HP Potion II?"



   "Bukan membuat, tapi lebih tepatnya mempelajari cara dan bahannya. Level skill Alchemy-ku belum mencukupi untuk itu."



   "Heh, aku baru tahu kalau skill khusus kelas produksi juga memiliki level."



Mengacuhkan Kynel, Reus mengerahkan konsentrasinya kepada lembaran HP Potion II Recipe yang ia beli dari Orbis Forum beberapa waktu lalu. Meski level Alchemy-nya tidak mendukung untuk dirinya membuat HP Potion II, Reus hanya ingin mengetahui bahannya semata agar bisa ia siapkan jauh-jauh hari sebelum Alchemy-nya naik level.




Bagi kondisi keuangan Reus yang sekarang jumlah itu tak begitu banyak mengingat tabungannya yang belum dikonversi menjadi uang nyata di Orbis Forum masih cukup banyak.



   "Oh iya, ketua party kita siapa?"



Gubrak!



Terdengar suara Kynel yang tiba-tiba terjatuh tanpa alasan yang jelas. Reus yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam kebingungan sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa Kynel bisa jatuh seperti itu?



***



Setelah sedikit berdiskusi, Reus mengalah dan menuju ke pertemuan para ketua party. Ia dan Kynel sempat beradu argumen mengenai siapa yang menjadi ketua party, namun karena Reus yang mengundangnya ke dalam party secara otomatis Reus adalah ketua party yang ditunjuk oleh sistem.



Reus sebenarnya tidak ingin menjadi ketua party karena menurutnya menjadi pemimpin itu merepotkan. Kalau bawahannya salah, pasti pemimpinnya yang terkena imbasnya dari orang yang di atasnya. Lalu, seorang pemimpin juga harus menyiapkan strategi-strategi yang sulit dalam hal apapun. Masih banyak hal lain yang membuat Reus tak ingin menjadi ketua atau pemimpin.



Namun karena sistem menunjuknya dan Kynel menolak mengambil jabatan itu, Reus hanya bisa mengalah sambil menggerutu.



Saat ini ia sedang berjalan melalui pemain-pemain lain yang sedang beristirahat di tenda masing-masing menuju ke tenda khusus tempat yang dipersiapkan untuk para ketua party sebagai tempat menyusun strategi. Selagi berjalan, ia diperhatikan oleh para pemain-pemain yang tengah beristirahat itu.



Sekilas memang Reus terlihat sangat biasa bersama Equip yang ia pakai, namun yang membuat perhatian pemain lain terpusat ke arahnya karena Ice Golem Gauntlets dan Ice Golem Boots yang ia kenakan. Mengapa seorang Swordsman yang bersenjatakan pedang sebagai senjata utama menggunakan Gauntlets dan Boots sebagai senjatanya? Padahal Gauntlets dan Boots itu adalah senjata utama yang dipakai oleh kelas Monk, Fighter, dan sejenisnya.



Reus sendiri tahu bahwa Equip yang ia kenakan memang tidak wajar bagi kebanyakan pemain, tapi itulah yang membuat dirinya istimewa. Seorang Swordsman bersenjatakan pedang, Gauntlets, dan Boots di saat yang bersamaan? Hal itu takkan aneh jika mereka mengetahui kalau Reus dapat membuat Potion seperti halnya pemain berkelas Alchemist.



Mengacuhkan pandangan-pandangan dari pemain lain, Reus melangkah masuk ke dalam sebuah tenda yang cukup besar untuk sepuluh orang di dalam sekaligus.



Ketika ia memasuki tenda tersebut, terlihat beberapa pemain sedang berkumpul di satu meja yang sama. Reus yang tiba-tiba masuk itu membuat perhatian para pemain di dalam tenda teralihkan kepadanya. Mereka sama-sama terkejut dan bingung di saat yang sama.



Sebelum terjadi kesalahpahaman, Reus segera mengangkat suaranya kepada pemain di tempat itu.



   "Ehm, aku salah satu ketua party yang berada di barisan paling belakang. Kudengar para ketua party sedang melakukan rapat strategi, jadi aku kemari untuk bergabung dalam rapat ini."



   "Oh, aku baru tahu kalau masih ada ketua party lain selain kami. Kalau begitu silahkan ambil tempat untuk bergabung."



Reus mengangguk mendengar jawaban dari seorang pemain pria bertampang tampan yang nampak sangat berkarisma, bersurai kuning pirang keemasan, bermanik mata biru cerah, badan yang cukup proposional, dengan senjata berupa busur berwarna emas mengkilap di punggungnya. Sepertinya pemain itu adalah ketua yang memimpin Raid kali ini.



Reus segera bergabung bersama mereka setelah mendapat tempat duduk, lalu mendengarkan diskusi mereka.



Meski ia tidak ingin menjadi pemimpin, setidaknya Reus orang yang cukup bertanggung jawab terhadap posisi apa yang ia isi secara ikhlas maupun tidak.