
Keadaan perang setelah ledakan raksasa akibat Apocalypse Trigger milik Reus bukan hanya berhasil mengguncang udara dan daratan, tetapi juga sukses meneror hati para prajurit Menschrein Kingdom.
"Apa-apaan ini.... Inikah yang dinamakan perang...?"
"Tidak, mungkin ini yang dinamakan pembantaian."
Kabar mengenai situasi pasca ledakan raksasa Apocalypse Trigger langsung menggema ke seluruh medan pertempuran. Kabar ini sangat merugikan Menschrein Kingdom yang diketahui kehilangan lebih dari 10.000 pasukannya dalam sekali serang.
Saat jenderal pemimpin utama pasukan Menschrein Kingdom mendengar penyebab ledakan besar barusan dirinya tidak mempercayainya namun setelah melihat langsung situasi garis terdepan pasukannya, mau tak mau dia harus menerima kenyataan.
"Sepuluh ribu prajurit... tewas dalam sekejap."
Seorang pria paruh baya tanpa rambut mengenakan zirah logam berkualitas tinggi disertai selembar jubah merah mencolok jatuh berlutut menyaksikan pemandangan penuh darah yang terlihat jelas meski berjarak dua kilometer jauhnya dari tempatnya berdiri.
Para prajurit di sekitar yang melihat pria tersebut jatuh berlutut seakan kehilangan seluruh tenaganya itu bisa mengerti.
Pria paruh baya itu, jenderal utama yang diutus Raja Menschrein Kingdom untuk menjatuhkan Bailendra Kingdom merasa putus asa melihat pihak musuh mempunyai kekuatan yang dapat menghabisi ribuan pasukannya dalam sekejap.
"Jenderal Delorion, jangan berputus asa seperti itu. Kita masih jauh dari kata kalah."
Jenderal yang dipanggil Delorion itu mengalihkan perhatiannya kepada sumber suara. Berjarak sekitar lima meter terdapat seorang wanita cantik datang bersama beberapa pengawal mendekati Delorion.
Wanita tersebut berpenampilan kasual, berbeda dari semua orang yang hadir di medan perang ini dia terlihat santai dan sama sekali tak terbebani—atau tepatnya tidak peduli terhadap ledakan raksasa yang menewaskan sepuluh ribu pasukannya.
Delorion segera bangkit dari posisi berlututnya menghadap sang wanita dengan penuh hormat.
"Ratuku.... Mengapa engkau kemari? Medan perang adalah tempat berbahaya. Mohon menunggu di tempat aman."
"Tidak perlu kau khawatirkan diriku. Aku mempunyai pengawal tangguh yang tak akan kalah dari siapapun."
"Tapi, tetap saja...."
Delorion melirik pengawal ratu. Dia memang merasa pengawal sang ratu memancarkan hawa serta aura kuat yang berbahaya, tetapi sebagai seorang pengabdi serta salah satu bangsawan tinggi di Menschrein Kingdom dia tak bisa melepas kekhawatiran terhadap ratunya sendiri.
Sang ratu memahami perasaan Delorion yang tak mau dirinya mengalami kejadian buruk namun dia bersikukuh menyaksikan langsung pertempuran ini.
"Jenderal Delorion, saat ini masih ada hal yang lebih perlu kau khawatirkan daripadaku."
".... Jika ratu berkata demikian."
Delorion menjelaskan mengenai situasi pertempuran—meski tidak bisa dikatakan pertempuran. Sepuluh ribu pasukan Menschrein Kingdom telah lenyap bahkan sebelum kedua pasukan berbentrokan.
Entah apakah itu disebabkan oleh jurus atau perangkap yang disiapkan oleh lawan, Delorion berpendapat jika hal seperti itu dapat digunakan berulang kali maka Menschrein Kingdom bisa kalah sebelum mengeluarkan kartu andalan mereka.
"Tenang saja, jurus ataupun perangkap sekuat itu tidak mungkin digunakan terus-terusan."
"Aku memahami itu tapi tetap aja...."
Delorion tidak bisa menahan ketakutannya jika dugaan tersebut salah dan saat dia mengirimkan pasukan lagi ke depan, ledakan serupa sekali lagi menghancurkan kekuatan serta moral seluruh prajurit Menschrein Kingdom yang tersisa.
"Huh, dasar manusia. Keserakahan saja besar tapi dasarnya memang pengecut."
"Ratuku, apa yang engkau kata—"
Belum sempat Delorion menyelesaikan perkataannya sang ratu sudah mengangkat tangannya dan mengerahkan sebuah sihir kepada Delorion. Energi sihir berwarna merah mengalir dari tangan ratu meresap ke dalam dada Delorion membuat sang jenderal tersebut menjadi lebih tenang dan keberaniannya meningkat.
"Apakah kau sudah tenang, Jenderal Delorion?"
"Terima kasih atas apa yang engkau lakukan, Ratuku. Kepalaku sudah lebih dingin."
"Bagus, kalau begitu lanjutkan tugasmu."
Sang ratu mengangguk sejenak dan membiarkan Delorion pergi memberikan pidato untuk menaikkan semangat pasukannya setelah berkata demikian. Dia diam-diam tersenyum lebar sambil memandangi sosok baru Delorion.
"Nyonya Ceres, bukankah tidak baik menggunakan sihir seperti itu di tempat ini?"
Salah seorang pengawal ratu bertanya dengan suara kecil. Dia takut jika ada orang yang menyadari sihir yang digunakan sang ratu—Ceres dan mencurigai gerakan mereka.
"Tidak masalah. Jikapun ada kalian bisa membereskannya, bukan?"
Pengawal yang bertanya itu menutup mulutnya tak bisa membalas. Perkataan Ceres tidak salah, baik dia maupun pengawal lain akan segera bergerak saat menyadari ada hal yang membahayakan rencana mereka.
"Tapi, ledakan yang barusan itu kuat juga. Apa kalian bisa menahannya jika ledakan tersebut terjadi lagi?"
"Kami bisa menahan sebagian namun untuk keseluruhannya akan sulit."
Ceres mengusap dagunya menyembunyikan rasa kagumnya saat mendapat jawaban dari salah satu pengawalnya. Padahal dia merasa yakin terhadap kekuatan para pengawalnya ini dalam menyerang maupun bertahan namun mendengar mereka sulit menahan seluruh dampak ledakan tersebut membuat Ceres kagum sekaligus khawatir.
'Mungkinkah terdapat Immortal Being yang membantu Bailendra Kingdom? Bukan tidak mungkin mereka merencakan sesuatu seperti ini.'
Dalam hati Ceres bergumam menduga bahwa kekuatan sebesar ini jika bukan berasal dari kekuatan murni seseorang berlevel tinggi maka hal ini merupakan perangkap tertentu yang disiapkan oleh Immortal Being.
Dia sudah melihat bagaimana Immortal Being bertarung dan membuat rencana, beberapa bahkan mengejutkannya yang telah melalui banyak pertarungan seumur hidupnya.
Ceres kemudian menghela nafas sejenak sebelum mengangkat suara.
"Royce, kau bisa mengerahkan pasukan Immortal Being langsung ke depan?"
"Jika majikanku memerintahkan."
Sebuah suara tanpa wujud menjawab pertanyaan Ceres dari arah bayangan tenda strategi pihak Menschrein Kingdom.
"Bagus, bawa mereka maju. Biarkan mereka bertarung di depan agar semangat prajurit meningkat."
"Sesuai perintahmu."
"Ah, Royce, kalau bisa sembunyikanlah auramu. Kau terlalu mencolok jika memancarkan aura itu di tengah lapangan pertempuran."
Suara yang nampaknya berasal dari seseorang bernama Royce tersebut tidak lagi terdengar. Hal itu membuat pengawal Ceres menggeretakkan gigi merasa kesal terhadap sosok tanpa wujud tersebut.
"Immortal Being kurang ajar! Bukan hanya tidak menghormati Nyonya Ceres, tapi dia juga tak menjawab perintah Nyonya Ceres dengan benar! Biar kucincang tubuhmu jadi seratus bagian!"
"Sudahlah, jangan marah begitu. Biarkan dia berbuat sesukanya."
"Tapi, Nyonya Ceres, tidak peduli seberapa anda menyukainya sikap kurang ajar makhluk itu tidak bisa dibiarkan!"
Pengawal tersebut masih tidak terima sikap Royce yang nampak tak menghormati tuannya sendiri. Pengawal lain juga sama kesalnya seperti pengawal itu tetapi tak berani menyuarakannya karena telah melihat kejadian tertentu di masa lalu.
Benar saja, tidak lama kemudian pengawal tersebut terdiam merasakan sesuatu yang menggeliat di dalam dadanya.
"Kamu berisik sekali untuk seorang pengawal rendahan."
Ceres mengangkat tangan kirinya yang kini terdapat sebuah jantung semi tembus pandang. Dia kemudian meremas jantung tersebut hingga hancur dan seketika itu juga pengawal yang mempermasalahkan sikap Royce jatuh ke tanah tak bernyawa dengan darah mengalir dari ketujuh lubang pada wajahnya.
Tubuh pengawal itu segera mengering sebelum hancur menjadi debu meninggalkan pakaiannya.
"Nah, begini lebih baik. Suara berisik yang tak enak didengar seperti itu tidak kubutuhkan."
Ceres mengibaskan rambut panjangnya sebelum melangkah pergi dari perkemahan pasukan Menschrein Kingdom bersama pengawalnya yang tersisa tanpa satupun prajurit di sana menyadari kejadian barusan.