
Setelah menyaksikan kekuatan Reus yang mampu mengalahkan Brandon tanpa kesulitan, tidak ada lagi prajurit yang berani menghalangi jalannya. Jalanan tersebut segera ditinggalkan oleh mereka, menyisakan kumpulan jasad tak bernyawa lengkap dengan perlengkapannya.
"Kau... siapa sebenarnya...?"
Di saat semua prajurit sudah buru-buru pergi meninggalkan lokasi, Reus bisa mendengar suara lemah dari Brandon yang tengah meregang nyawa. Melihat pedang raksasanya menembus tubuhnya, Reus yakin Brandon tidak akan bertahan lebih dari satu menit.
Reus mendekati pria berbadan bongsor sekarat itu.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang ahli pedang yang ingin pergi ke Bailendra Kingdom tetapi kalian menghalangi, terlebih lagi mengambil pedang berhargaku."
"Pedang... berharga?"
Brandon melirik pedang di tangan Reus merasa bingung, bagaimana mungkin ada pedang berkualitas lebih tinggi seperti pedang tersebut?
"Kau pasti heran mengapa ada pedang yang lebih berharga dari pedang ini, bukan?"
Brandon hanya menganggukkan dagunya pelan tidak mempunyai banyak tenaga yang tersisa. Biarpun dia sadar dirinya sedang sekarat dan sebentar lagi mati, setidaknya dia ingin rasa penasaran di hatinya lenyap.
Reus menghela nafas sambil menggaruk kepalanya sejenak.
"Aku tidak bisa menjelaskan rincinya tetapi pedang itu merupakan pedang yang sangat berbahaya. Pemilik sebelumnya berpesan padaku bahwa pedang tersebut tidak boleh sampai jatuh di tangan yang salah."
Brandon tidak terlihat puas tetapi dia memaklumi penjelasan Reus meski hanya setengah. Dia menghela nafas panjang untuk terakhir kali sebeum mengangkat suaranya.
"Ambil... pedangku...."
"Hmm? Kau yakin?"
"Aku tidak... membutuhkannya... di dunia sana.... Lebih baik... dia berada... di tangan... orang kuat...."
Tepat setelah berkata demikian, Brandon menghembuskan nafas terakhirnya. Bibirnya tersenyum pada Reus, sebuah senyuman yang tidak dimengerti oleh Reus.
Reus ingin menolaknya namun di saat yang sama dia tak memiliki alasan untuk menolaknya. Pada akhirnya Reus meraih gagang pedang raksasa itu dan hendak menyimpannya ke dalan Inventory, tetapi sebuah panel semi transparan muncul menghentikannya sejenak.
Brandon Lastcrow mewariskan Great Grega kepada anda. Apakah anda ingin menerimanya?
Ya / Tidak
Alis Reus sedikit terangkat membaca isi panel tersebut.
"Oh, ada fitur semacam ini?"
Reus bergumam sebentar sebelum menekan tombol 'Ya' di sana. Dalam seketika pedang besar yang tertancap pada tubuh Brandon menghilang menjadi butiran pixel. Kini pedang besar bernama Great Grega itu bersemayam di dalam Inventory Reus.
Great Grega
Level Req : 240
Dmg : 850-870
Dur : 1.320
Melawan monster damage +30%
"Pedang yang boleh juga."
Reus bergumam pelan memandang layar semi transparan yang berisi informasi mengenai Great Grega, pedang besar Brandon yang diberikan kepadanya. Dia menutup panel informasi tersebut setelah puas membacanya.
"Mungkin aku akan meminta Ikshan mengecilkan senjata ini dengan Handy Weapon-nya."
Tersungging sebuah senyum licik di bibir Reus setelah berkata demikian, dia bisa membayangkan bagaimana reaksi lawan ketika mengetahui bahwa pedang tersebut sebenarnya adalah pedang dua tangan raksasa yang dikecilkan ukurannya.
Biarpun secara kekuatan Dragon Slayer Sword masih lebih kuat namun itu dikarenakan Level Requirement-nya yang tinggi sekaligus termasuk pedang berkualitas mengerikan, sementara status kekuatan Great Grega terbilang cukup wajar untuk pedang besar dua tangan selevelnya.
Kalau Ikshan tidak bisa menyusutkan ukuran Great Grega, mungkin dia dapat menjual pedang ini di Orbis Forum. Pedang sekelas Great Grega termasuk mahal dan sulit dicari.
"Apa yang kau bayangkan sampai wajahmu aneh begitu?"
Lamunan Reus terpecah ketika mendengar suara seseorang. Dia menoleh sumber suara tersebut dan menemukan Sylph memandangnya dengan wajah heran.
Reus berdeham sejenak sebelum memperbaiki raut wajahnya yang terbilang aneh. Pipinya sedikit memerah karena malu.
"Tidak perlu dipikirkan. Jadi, para tahanan sudah keluar dari Alvast dengan aman?"
"Ya, saat ini mereka sedang berusaha melakukan perjalanan menuju keluar kerajaan."
"Bagus jika begitu."
Reus tersenyum kecil mendengar laporan Sylph. Dia kembali memandang Sylph.
"Jadi, keluarga bangsawan mana yang menjadi target balas dendammu?"
"Target balas dendamku hanya ada satu, keluarga Zackfone. Kediaman mereka berada di daerah bangsawan tinggal, di sekitar istana."
"Begitukah? Kebetulan tujuanku juga ke istana, pedangku disimpan di ruang harta kerajaan."
Alis Sylph terangkat cukup tinggi saat mendengar perkataan Reus, dia sedikit menyipitkan matanya memandang Reus.
"Kau masih berniat ke sana? Membobol ruang harta kerajaan berarti kau akan menjadi buronan terbesar seantero Lavore Kingdom, mungkin terbesar sepanjang masa sejak kerajaan ini berdiri."
"Kau sungguh berkata demikian setelah melihat jasad-jasad ini?"
Sylph memalingkan wajahnya sejenak memandang area sekitar. Dia menepuk dahinya baru menyadari pertanyaannya barusan adalah pertanyaan bodoh.
Sebelum Reus atau Sylph mengangkat suara sekali lagi, derap langkah berjumlah besar mulai terdengar disertai getaran pada jalanan.
Pada tikungan tak jauh dari tempat keduanya berdiri dapat terlihat sekelompok pasukan besar yang terdiri atas prajurit baru. Jumlahnya lebih sedikit namun perlengkapannya sedikit berbeda dari pasukan sebelumnya.
"Oh, pasukan utama mereka sudah bergerak?"
"Pasukan utama?"
"Ya, biasanya mereka hanya dikerahkan ketika perang melawan Gavore Kingdom atau kerajaan lain. Level mereka sekitar 200 ke atas."
Reus mengangkat alisnya mendengar pernyataan Sylph. Sepasukan berlevel 200 ke atas? Bukankah itu ladang uang? Seperti itulah kira-kira isi pikiran Reus saat ini.
"Baik, mari kita mulai menghabisi mereka."
"Hei, tunggu sebentar! Jangan asal maju begitu atau kau bisa mati dengan mudah!"
Saat langkah kelima Reus dihentikan oleh Sylph. Penyihir muda itu menjelaskan pasukan ini bukan seperti prajurit di penjara sebelumnya.
"Mereka memiliki formasi tertentu yang dikhususkan untuk membunuh, kemampuan mereka memainkan senjata juga tidak rendah. Jika harus dibandingkan mungkin dengan delapan sampai sepuluh orang mereka bisa menandingi Elite Knight yang kau lawan sebelumnya."
Dahi Reus mengerut ketika mendengar penjelasan Sylph. Biarpun dirinya mampu menghabisi Brandon yang merupakan salah satu Elite Knight tanpa kesulitan besar, bukan berarti Reus mampu melawan puluhan orang sekuat itu seorang diri. Terutama Energy-nya cukup terkuras setelah menghadapi Brandon sebelumnya.
"Aku bisa melihat kondisimu. Lebih baik kau beristirahat sejenak memulihkan Energy, aku akan mengurus mereka semua."
Setelah berkata demikian Sylph menaikkan ketinggiannya sambil mendekati sepasukan berlevel 200-an itu dari udara. Reus ingin menghentikan Sylph yang terlihat bertindak gegabah tetapi dia mengurungkan niat tersebut saat mengingat kekuatan sihir yang ditunjukkan Sylph di penjara.
"Daripada beristirahat memulihkan Energy, lebih baik aku mencari tempat berlindung agar tak terkena sihir nyasar."
Reus menggaruk kepalanya sejenak sambil memandang pasukan di sana sebelum berlari kecil mencari gang kosong yang biasanya terdapat di sela-sela gedung untuk berlindung. Jika Reus tidak berlindung ada kemungkinan dirinya akan ikut menjadi korban berkat sihir berskala besar milik Sylph.
Benar saja, tidak lama kemudian Reus mulai mendengar suara gemuruh dahsyat yang berasal dari sihir Sylph.
"Setidaknya tunggu aku sampai berlindung!"
Reus mempercepat langkahnya menuju gang kosong di antara gedung sambil memegangi kepala khawatir ada batu terbang jatuh mendarat di ubun-ubunnya karena sihir Sylph.
Author
Sedikit pengumuman, karena kuota telah terpenuhi jadi seperti yg dijanjikan, saya bisa memastikan bahwa Orbis Online akan update setiap hari hingga akhir bulan Agustus 2021.
Selamat menikmati update terlampau langka ini dari saya 👍