Orbis Online

Orbis Online
136. Umpan Sederhana yang Manjur



Sesudah pertarungan remeh melawan Charion di festival, Reus dan Ikshan kembali ke kamar yang mereka pesan di penginapan untuk beristirahat. Pertarungan tersebut tidak cukup untuk membuat Reus bertarung serius, namun lain halnya dengan Ikshan yang baru saja mengalami patah hati.


Ikshan butuh beberapa waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian tersebut.


   "Yah, itu wajar mengingat dia baru saja patah hati."


Reus menghela nafas mengingat kembali saat dia mengalami hal yang serupa di masa lalu. Biarpun Reus sudah tidak terlalu memikirkannya, tetap saja dia masih merasa sakit ketika mengingat hal tersebut.


Selagi menunggu beristirahat Reus membuka Inventory-nya memeriksa apa yang ia dapat dari mengalahkan Charion, sayangnya tidak ada Item bagus yang dijatuhkan pemain tersebut. Reus kembali menghela nafas sebelum membuka Orbis Forum mencari informasi tertentu.


   "Oh, dia langsung koar-koar?"


Reus tertawa kecil melihat seseorang dari Gaia's Tree sedang mengamuk melalui tulisan di situs tersebut, menarik perhatian beberapa akun lainnya, terutama anggota Gaia's Tree lainnya. Reus tahu bahwa orang yang sedang mengamuk ini adalah Charion yang tak terima dirinya dikalahkan semudah itu oleh Reus yang tidak pernah dia dengar sebelumnya—mengingat identitas Reus belum terbongkar sepenuhnya.


Di topik tersebut terlihat jelas Charion sangat melebih-lebihkan dan memperlihatkan Reus adalah pemain jahat nan kejam untuk menarik simpati pemain lain. Beberapa pemain yang membaca pernyataannya tidak langsung percaya karena belum ada bukti, namun tidak sedikit pula yang langsung mendukung pernyataan Charion, terutama para anggota Gaia's Tree.


   "Sepertinya besok aku akan kedatangan banyak tamu."


Dapat terlihat beberapa anggota Gaia's Tree yang ikut berkomentar pada topik tersebut mendukung pernyataan Charion dan berniat datang ke Galvest untuk memberi Reus pelajaran, bahkan beberapa dari mereka yang telah berada di sini menyatakan akan segera mencarinya.


Reus kemudian mengetik sesuatu yang memprovokasi pada bagian komentar topik itu, tentu beberapa pemain segera melontarkan berbagai komentar lain yang bisa dikatakan cukup kejam sebagai balasan, tetapi Reus tidak peduli. Dia hanya menyatakan bahwa besok pagi waktu Orbis Online dirinya akan menunggu di depan gerbang Galvest.


   "Kau sedang apa, Reus?"


   "Ah, Ikshan? Sudah merasa lebih baik?"


   "Ya, kurang lebih. Setidaknya aku bisa menerimanya walau rasanya sangat sakit."


Reus menepuk pelan pundak Ikshan ingin meringankan beban rekannya itu, namun dia tahu tidak ada yang bisa dirinya lakukan untuk masalah ini. Ikshan harus menerima dan merelakan kepergian Mia, mendapatkan kedamaian batin.


Meski terdengar sok bijak, Reus sendiri sudah pernah mengalaminya jadi dia tidak merasa salah ketika mengucapkannya pada Ikshan.


   "Ngomong-ngomong Reus, apa kau tak masalah?"


   "Hmm? Tentang apa?"


   "Tentang anggota Gaia's Tree itu."


Wajah Ikshan terlihat murung ketika dia mengangkat Gaia's Tree merasa bersalah karena menyeret Reus ke dalam masalah ini, padahal dirinyalah yang memiliki masalah dengan mereka. Reus sendiri hanya tertawa kecil menanggapinya membuat Ikshan bingung tujuh keliling.


   "Kau tak perlu khawatir soal itu, sebenarnya aku juga memiliki masalah dengan Legion itu."


   "Maksudmu?"


Reus kemudian menjelaskan mengenai perang antar Legion yang saat ini sedang ramai dibicarakan di berbagai media, salah satunya adalah Gaia's Tree. Dia juga mengemukakan bahwa Gaia's Tree merupakan Legion adiknya, Almira, tetapi Gaia's Tree mengekslopitasi tenaga para anggotanya demi perang dan mengancam mereka agar tidak keluar dari Legion.


Salah satu alasan Reus bersedia berlatih begitu keras di bawah pengawasan Randolf juga karena hal ini, dia ingin secepatnya mampu meratakan Gaia's Tree sampai ke tanah.


Meski dirinya tidak yakin dapat mampu melakukannya dalam waktu dekat, setidaknya jika dia berhasil mendapatkan Whitestar yang disembunyikan Randolf pada Shadow Mountain maka Reus merasa dapat menurunkan kekuatan Legion tersebut hingga setengahnya.


Sekalipun dirinya mati di saat menghancurkan Gaia's Tree, setidaknya kerugiannya jauh lebih sedikit dibanding sebuah Legion yang kehilangan setengah kekuatannya.


Lagipula saat ini Gaia's Tree juga di tengah peperangan melawan beberapa Legion lain, jika dia berhasil menurunkan kekuatannya sampai setengah maka kehancurkan Legion tersebut hanya tinggal menunggu waktu.


Ikshan yang mendengarkan rencana Reus itu hanya bisa terdiam, tak menyangka rekannya ini memiliki ambisi yang begitu besar sampai menghancurkan sebuah Legion tanpa memasuki ataupun bekerja sama dengan Legion lain.


Umumnya siapapun yang mendengarkan ini pasti akan tertawa merasa hal tersebut sangatlah mustahil dilakukan, namun Ikshan paham bahwa Reus mempunyai kekuatan yang mampu mewujudkannya.


Reus adalah The Dominator Lapace di Avora Online dulu, pemain yang mendominasi seluruh aspek pada game tersebut. Ikshan percaya jika Reus ingin maka dia bisa melakukannya.


   "Kekuatan tanpa ambisi itu percuma, bukan? "


Keduanya melemparkan senyum satu sama lain sebelum saling menyentuhkan kepalan tinju.


   "Baik, aku juga akan membantumu sebisaku."


   "Sebenarnya aku tidak bermaksud menarik simpati atau berusaha mengajakmu, tapi baiklah, sekalian kau bisa balas dendam."


   "Aku tidak bermaksud balas dendam, tapi yah tidak apa-apa. Itu hanya akan menambah motivasiku."


Mereka kemudian tertawa lantang merasa besok akan menjadi hari yang berat, mengingat Reus sudah mengumumkan keberadaan sekaligus ciri-cirinya di gerbang Galvast. Dia hanya bisa berharap mereka yang datang tidak ada yang berlevel terlalu tinggi.


***


Keesokan paginya dapat terlihat beberapa pemain tengah berkerumun di sekitar gerbang Galvast. Biarpun dikatakan beberapa jumlah mereka mencapai puluhan dan levelnya tidak terlalu rendah, semuanya di atas level 100 dan memiliki lambang Gaia's Tree di salah satu perlengkapan mereka.


   "Apa dia sungguh akan datang kemari?"


   "Entahlah, tapi dia mengatakan bahwa dia akan datang kemari di pagi hari waktu dalam game."


   "Bukankah sudah jelas ini jebakan? Dia bisa saja memancing kita berkumpul di sini dan melarikan diri melalui jalan lain."


Puluhan pemain tersebut saling berdiskusi mengenai kemunculan seseorang yang mengatakan ada pemain solo yang berani membunuh pemain yang merupakan anggota Gaia's Tree, bahkan dia memancing dan menantang para anggota Gaia's Tree lainnya untuk menghadapinya di sekitar gerbang ini.


Sudah cukup lama pemain-pemain ini berkumpul dan menunggu orang yang dimaksud, tetapi orang tersebut tidak kunjung datang dan merasa jelas-jelas pernyataan itu hanya akal-akalannya saja agar dia bisa lolos melewati jalur lain.


   "Oh, mereka sungguh datang dan jumlah mereka juga tidak begitu sedikit."


Saat para pemain tengah berdiskusi mengenai kedatangan orang yang mereka tunggu, tiba-tiba dari arah dalam kota nampak dua sosok berjubah lengkap dengan topeng di wajah mereka. Salah satunya menggunakan topeng tengkorak setengah wajah yang merupakan ciri-ciri orang yang mereka tunggu.


Para pemain yang awalnya sibuk berdiskusi dan menunggu akhirnya berdiri memandangi dua sosok tersebut, mereka mengangkat senjatanya siap menghabisi kedua sosok itu.


   "Kau punya nyali juga datang kemari setelah membunuh salah satu anggota kami."


   "Tentu saja aku datang, akulah yang mengundang kalian kemari mengapa aku yang tidak hadir? Bukankah itu hanya akan mempermalukan namaku?"


Sosok bertopeng tengkorak setengah wajah tersebut tidak gentar mendapati puluhan pemain di sekitarnya. Dari balik topeng matanya menyusuri setiap pemain yang ada di sekitar, bahkan dia juga bisa mengetahui terdapat beberapa pemain dengan busur bersembunyi di pepohonan.


   "Huh, baiklah jika kau sebegitunya menginginkan kematian. Akan kuberikan kematian yang sangat kau inginkan itu!"


Salah seorang pemain bertubuh besar maju bersama senjata kapak besarnya siap menebas sosok bertopeng tengkorak setengah wajah itu yang dirasa terlalu percaya diri, memberikannya pelajaran berharga.


Sayang sekali bukannya sosok tersebut yang menerima serangan, tetapi justru sebaliknya, dia sendiri yang tiba-tiba merasakan sakit pada beberapa bagian tubuhnya.


Zraat!!


Beberapa saat kemudian tubuh pemain tersebut terhempas ke belakang dengan berbagai luka sayatan di sekujur tubuh mengejutkan semua pemain di tempat itu, terkecuali kedua sosok bertopeng tersebut.


Mata mereka terbelalak hebat menyaksikan apa yang baru saja terjadi, sulit mempercayainya jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri.


   "Ada apa? Maju dan seranglah aku."


Sambil memprovokasi para pemain di sekitarnya, sosok bertopeng tengkorak itu terlihat memegang sebuah pedang kecokelatan di tangan kanannya, lalu menarik satu pedang lagi dari punggungnya, kali ini pedang berwarna hitam legam yang nampak sangat tajam dan mengintimidasi.


   "Sungguh umpan sederhana yang manjur."