
Setelah Ikshan kembali ke penginapan, dia langsung menemui Reus yang berada di kamarnya tengah membuat begitu banyak Potion. Dia perlu mengisi ulang persediaannya seusai pertempuran besar lalu.
"Woah, kau seperti seorang alkemis sinting yang menggilai Potion belakangan ini."
"Yah, tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya, bukan? Persediaan harus selalu siap dipakai."
Reus tersenyum kecil menanggapi perkataan Ikshan di depan pintu kamarnya, begitu pula Ikshan yang tersenyum kepadanya.
"Ini undangan dari raja, dia berkata bebas memasuki istana kapan saja dengan adanya undangan tersebut."
Ikshan melemparkan surat berisi undangan yang diberikan Aulcrat tepat di depan Reus duduk. Pemuda berambut perak itu segera menghentikan kegiatannya mengubah bahan-bahan tertentu menjadi Potion, dia lalu membuka dan membaca surat tersebut.
Reus hanya melihat isi undangan itu sekilas, tidak perlu membaca terlalu detail untuk mengetahui isinya. Lagipula, tanpa surat undangan itu sekalipun dirinya bisa keluar masuk istana dengan bebas seperti yang dilakukan Ikshan.
Pasukan istana sekalipun tidak akan bisa menghentikannya tanpa setidaknya sepuluh Elite Knight untuk menghadang jalannya.
"Baiklah, kapan sebaiknya kita pergi?"
"Mungkin secepatnya? Kita harus mengambil Whitestar di Shadow Mountain dan mencari petunjuk untuk membebaskan Arshwind di Bailendra Kingdom, bukan? Lebih cepat lebih baik."
Reus mengusap dagunya sejenak merenungkan ucapan Ikshan. Beberapa saat kemudian Reus bangkit dari kasur dan menyimpan semua Potion hasil buatannya ke dalam Inventory, lalu melangkah mendekati Ikshan sambil mengeluarkan Dragon Slayer Sword.
"Kalau begitu bisakah aku memintamu memperbaiki status Dur pedang ini lagi? Aku akan membayarmu jika kau menolak memperbaikinya dengan gratis."
"Tidak perlu bersikap begitu, Reus. Kau pikir berapa hutangku padamu sampai bisa berdiri dengan kekuatan seperti ini sekarang?"
Ikshan tersenyum kering menanggapi perkataan Reus. Meskipun dirinya keberatan terhadap kecepatan menurunnya status Dur pedang Reus yang menurutnya perusak senjata tercepat yang dia ketahui, Ikshan tidak akan mengambil sepeserpun biaya dari Reus untuk memperbaikinya.
Selain karena dirinya bisa berada di sini dengan kekutan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahan memperbaiki status Dur Dragon Slayer Sword disediakan oleh Reus sendiri. Ikshan pun hanya perlu memukulkan palunya beberapa kali, tidak terlalu membuang tenaga ataupun waktu.
"Kalau begitu aku takkan sungkan."
Reus kemudian menyerahkan Dragon Slayer Sword beserta belasan keping Dragon Scale kepada Ikshan, membuat pria tersebut mengerutkan dahinya.
"Reus, ini sedikit berlebihan, kau tahu? Memperbaiki pedang ini hanya membutuhkan sekitar satu keping Dragon Scale setiap 300 status Dur."
"Yah, anggap saja bonus dariku. Aku memiliki ratusan sisik tidak berguna itu."
Setelah berkata demikian Reus melangkah meninggalkan Ikshan yang kini menggaruk kepalanya disertai keherananan.
"Tidakkah dia mengingat perkataanku tentang harga Dragon Scale yang bisa mencapai 50.000 Byl tiap kepingnya?"
Ikshan menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan keluh kesahnya, dia lalu menghela nafas berat sejenak sebelum pergi ke kamarnya memperbaiki Dragon Slayer Sword.
***
Reus memiliki banyak waktu bebas setelah mendekam di kamarnya selama beberapa hari lamanya untuk melatih Telekinesis dan membuat Potion sebanyak mungkin. Dia merasa perlu menyegarkan diri beberapa waktu sekali.
Reus menarik nafas dalam-dalam ketika merasakan segarnya udara luar.
"Rasanya sudah lama sekali aku tak menghirup aroma lain selain bau Potion."
Seusai puas menghirup aroma udara, perhatian Reus kini tertuju pada suatu meja tempat di mana terdapat tiga orang yang dia kenal berkumpul. Di sana terlihat Kynel, Dunk, dan Crystina. Reus segera mengenali Crystina dalam sekejap karena ciri-ciri Ogre serta pedang besarnya yang mencolok.
Reus kemudian berjalan mendekati ketiganya.
"Oh Reus, sudah menghimpun cukup Potion?"
Kynel yang pertama menyadari keberadaan Reus, diikuti oleh Dunk dan Crystina yang kini ikut memandang Reus.
"Katakanlah sudah, walaupun jumlahnya masih kurang memuaskan."
''Jumlah Potion yang dibuat selama beberapa hari tanpa henti masih belum cukup?!''
Ketiganya tanpa sadar kompak menjerit dalam hati, ingin mengatai Reus secara langsung namun masih sayang level dan Item di dalam Inventory mereka.
Kedatangan Reus membuat situasi di antara mereka menjadi canggung, tak ada satupun dari mereka yang ingin membuka topik pembicaraan sampai suara seseorang memecahkan keheningan tersebut.
"Yo, kalian ingin makan siang juga? Kebeteulan sekali."
Seperti biasa Ramsey yang tidak bisa membaca suasana datang dan menghancurkan situasi canggung itu, dia datang membawa Gordon di pelukannya yang membuat Reus berdiri dari kursi dan segera menjauh.
"Ada apa denganmu, Reus?"
"Tanyakan itu sekali lagi dan akan kuhabisi kucing peliharaan kesayanganmu."
"Habisi dengan apa?"
Tangan Reus ingin meraih pedang di punggungnya ketika Ikshan membalas ucapannya namun dia lupa, saat ini dirinya tidak menyiapkan senjata apapun karena memberikan Dragon Slayer Sword pada Ikshan untuk diperbaiki.
Pipi Reus sedikit memerah saat menyadari tangannya tidak menggapai apapun selain udara, dia berdeham pelan sebelum kembali mengangkat suaranya tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Ramsey.
"Kalau tidak ada pedang maka akan kugunakan tangan dan kakiku."
"Reus, kau ahli pedang sedangkan aku ahli bela diri. Kau yakin bisa mengalahkanku menggunakan tangan kosong?"
Ramsey memasang senyum penuh kemenangan sambil sedikit mengangkat dagunya, sementara Reus melotot kepadanya. Reus tidak percaya dirinya kalah adu mulut dengan Ramsey, seseorang yang otaknya sedikit bermasalah.
Pada akhirnya Reus hanya bisa menelan kemarahannya dan duduk di salah satu kursi terdekat. Dia tidak berniat kembali ke kursinya yang saat ini telah diduduki oleh Ramsey dan Gordon.
Percakapan konyol Reus dan Ikshan mengundang gelak tawa dari Kynel, Dunk, dan Crystina. Mereka ingin menahan tawa tetapi tidak berhasil.
Reus duduk sambil menahan malu sedangkan Ramsey tidak mengerti apa yang ketiganya tertawakan, dia malah memesan makanan untuk makan siang tanpa berniat melanjutkan debatnya dengan Reus.
"Baiklah, cukup tertawanya. Reus, apa ada yang ingin kau sampaikan kepada kami?"
Crystina yang pertama kali mengangkat suaranya ketika berhasil berhenti tertawa. Perhatian Ramsey, Kynel, serta Dunk kini tertuju pada pemuda berambut perak yang duduk tidak jauh dari mereka.
Reus mengangkat sebelah alisnya merasa heran tiba-tiba diperhatikan, padahal dirinya kemari hanya untuk sekedar mencari udara segar setelah berhari-hari mengurung diri di dalam kamar demi mengisi ulang persediaan Potion-nya.
Dia memandangi keempat orang yang sekarang menatap kepadanya penuh penasaran. Reus menghela nafas sebelum mengangkat suaranya.
"Aku sudah mendapat undangan dari raja, kita bisa masuk ke istana kapan saja dan aku berencana akan pergi besok bersama Ikshan."
Pernyataan Reus itu mengundang dahi keempatnya mengerut, terutama Crystina yang wajahnya nampak begitu buruk.
"Reus, undangan ini bisa saja perangkap agar dirimu datang ke istana dan dapat dikepung menggunakan seluruh kekuatan mereka. Kau tidak berpikir akan datang, bukan?"
"Maaf ketua Crystina, saat ini di luar sana Order of Chaos sedang mengumpulkan kekuatan dan sekutu untuk persiapan perang besar di masa depan. Biarpun dunia ini hanya game semata, aku tak bisa melihat NPC dibantai dan diperbudak dengan kejam oleh tangan-tangan biadab."
Perkataan Reus berhasil membuat Crystina dan lainnya menaikkan alis, mereka ingin memaki Reus karena berani berkata demikian tanpa rasa bersalah setelah membantai ratusan hingga ribuan prajurit Lavore Kingdom beberapa waktu lalu.
"Apa? Mereka menghalangi jalanku merebut kembali Blackstar, tentu saja kumusnahkan siapapun yang menghadangku tanpa terkecuali."
Reus ternyata mampu membaca pikiran keempatnya dengan akurat meski tanpa skill serupa, mereka hanya tertawa malu menanggapinya.
"Ngomong-ngomong ketua Crystina, ini mungkin kesempatanmu untuk membangun realsi dengan Lavore Kingdom dan mendapatkan kepercayaan mereka agar dapat menggantikan posisi Gaia's Tree di negeri ini. Apa kau tak terpikirkan hal ini?"
Perkataan Reus kali ini sukses membuat Crystina tertarik, kini wanita berambut merah disertai sebuah tanduk hitam pada dahinya tersebut memandang Reus dengan serius.
"Sebelum kau menyebutkannya tidak, namun sekarang aku tertarik."