Orbis Online

Orbis Online
131. Perpisahan - Arc 2 End



   "Tak terasa sudah dua bulan semenjak kalian berdua berlatih di sini, kemampuan kalian meningkat pesat dibandingkan sebelumnya."


Randolf tersenyum lebar menatap kedua muridnya, Ikshan dan Reus yang masih mengatur nafas mereka yang tak beraturan setelah menghadapi Randolf dalam latih tanding terakhir sebelum kembali berpetualang di tanah Plainfest.


Keduanya hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan Randolf, padahal sampai sekarang mereka belum bisa membuat Randolf kehilangan nafas apalagi melukainya meski menyerang bersama-sama. Apa itu bisa dikatakan meningkat pesat? Setidaknya itu yang mereka pikirkan selama ini.


Randolf memang hanya membatasi pelatihan ini hanya sampai dua bulan saja, dirinya hanya berjanji pada Harleina untuk melatih Reus selama dua bulan, Ikshan pun hanya ikut berlatih atas permohonan pribadinya sendiri.


Sesudah berhasil mengatur nafas, Ikshan dan Reus bangkit berdiri dan memberikan penghormatan pada Randolf, keduanya bisa merasakan selama pelatihan ini ilmu pedang dan kusarigama mereka cukup berkembang meski belum bisa menyamai Randolf.


   "Ikshan, maaf aku tak terlalu handal dalam mengajari teknik kusarigama, tanganku lebih terbiasa dengan pedang."


   "Tidak masalah guru, biarpun begitu ilmu kusarigamaku cukup berkembang."


Biarpun di luar Ikshan mengatakan itu sebenarnya dalam hatinya ia mengumpat. Tak terlalu handal dalam mengajari teknik kusarigama? Padahal setiap gerakan Randolf menggunakan kusarigama begitu luwes dan efektif, berbeda jauh dari Ikshan yang masih ragu-ragu dalam memainkan kusarigamanya.


   "Oh ya, Reus, permainan pedangmu berkembang sangat pesat. Aku saja sampai tak percaya ada orang yang begitu berbakat pedang, bahkan diriku saja tidak semahir dirimu ketika seusiamu."


Reus tersenyum kecut menanggapi pernyataan tersebut, tak yakin apakah Randolf sungguh memujinya atau menghinanya. Meski perkembangan teknik pedangnya bisa dikatakan pesat, Reus masih belum bisa menyentuh Randolf sekalipun sejak kedatangannya kemari.


   "Ngomong-ngomong soal pedang, kau sudah mendapatkan Sword Full Control Arts, bukan?"


   "Ya, semua itu berkat guru. Terima kasih banyak."


Selama dua bulan ini pelatihan Reus memang difokuskan pada teknik berpedangnya untuk mendapatkan skill tersebut, mengingat skill ini akan sangat berdampak pada pertarungan-pertarungannya di masa depan.


---


Sword Full Control Arts (1-3)


Melepaskan batas dan meningkatkan segala kemampuan sebuah pedang hingga 115% selama sepuluh menit, meningkatkan kecepatan kenaikan Sword Arts sebesar 203% selama sepuluh menit, meningkatkan serangan dengan pedang hingga 33% selama sepuluh menit, meningkatkan damage dan efek seluruh skill yang berhubungan dengan pedang hingga 53% selama sepuluh menit.


Energy : 500


Cooldown : 1 jam


---


Sekedar informasi Ikshan juga mendapatkan skill serupa berkat latihan tekunnya menggunakan kusarigama dan sabitnya, Scythe Full Control Arts yang tak berbeda terlalu jauh dengan Sword Full Control Arts.


   "Reus dengarkan aku, jangan pernah menggunakan Full Control pada Blackstar jika tidak benar-benar mendesak. Kau sendiri sudah tahu kenapa aku mengatakan ini, bukan?"


Reus menundukkan kepalanya mengingat-ingat kejadian yang masih membekas di benaknya ketika menggunakan Blackstar Full Control, ia takkan pernah melupakan rasa sakit tersebut. Jika saja kesadarannya tidak hilang mungkin ia bisa jadi gila karenanya.


Setelah merenung beberapa saat Reus menganggukkan kepalanya pelan, lagipula setelah mengetahui betapa berbahayanya dan masa lalu Blackstar Reus berniat menggunakan pedang lain dalam perjalanannya. Ia tidak ingin terlalu bergantung pada pedang tersebut.


Randolf mengucapkan beberapa kata lagi sebelum membiarkan kedua muridnya pergi, lalu memberikan keduanya senjata sebagai hadiah. Ikshan diberi sebuah kusarigama berwarna merah kehitaman, sementara Reus diberi dua pedang yang bilahnya berwarna merah dan hijau kebiruan.


---


Sword of Tartaros


Pedang yang ditempa di api neraka dengan logam berkualitas tinggi.


Level Req : 300


Dmg : 1.100-1.200


Dur : 4.000


Bonus Skill : Inferno


Setiap serangan akan mengandung elemen api menambah damage sebanyak 5% dari Str.


---


Sword of Aether


Pedang yang ditempa di tengah badai langit dengan logam berkualitas tinggi.


Level Req : 340


Dur : 3.200


Bonus Skill : Wind Slash, Lightning Flash


Setiap serangan akan mengandung elemen angin dan petir menambah damage sebanyak 5% dari Agi dan 5% dari Int.


---


Dapat terdengar suara menelan ludah dari Reus, begitupula Ikshan ketika memeriksa kualitas senjata yang diberikan Randolf. Kedua pedang ini bahkan jauh lebih baik daripada Dragon Slayer Sword, terutama pada poin Durability-nya. Kusarigama pemberian Randolf pun tidak jauh berbeda dari dua pedang ini.


   "Ada apa? Kalian kurang puas?"


   "Ti-tidak, hanya saja senjata ini terlalu berharga untuk kami pegang...."


Ikshan lebih dulu melontarkan penolakannya merasa senjata yang diterimanya sungguh tidak pantas dipegangnya dan berniat mengembalikannya, tetapi Randolf langsung menolak.


   "Senjata-senjata itu telah menemaniku sepanjang perjalananku di masa mudaku dulu, kurasa mereka bisa berguna bagi kalian. Aku juga masih mempunyai selusin senjata berkualitas sama dengan mereka bahkan beberapa lebih kuat, jadi jangan sungkan untuk mengambilnya."


Kali ini tak ada dari mereka yang berani melayangkan protes, Reus dan Ikshan saling berpandangan membagikan pikiran yang sama. Jika kata-kata Randolf sungguhan maka tempat ini tak boleh diketahui oleh pemain lainnya, kalau tidak para Legion besar akan berusaha merebutnya dari Randolf.


Mereka hanya bisa tersenyum kering memikirkan hal tersebut, mau bagaimanapun juga dengan kemampuan para Legion besar yang sekarang mereka mungkin bukan tandingan Randolf.


   "Oh ya, Reus, ada yang ingin kuberi padamu. Kemarilah."


Reus sedikit kebingungan melihat Randolf tak membawa apa-apa lagi selain pedang di pinggangnya, tapi ia hanya bisa menurut.


   "Aku akan memberikan beberapa skill dan ingatanku, kuharap kau bisa menghentikan Order of Chaos sebelum mereka menguasai dunia ini."


Belum sempat Reus bereaksi Randolf sudah menyentuh keningnya, memberikan beberapa skill dan ingatan kepada Reus selama beberapa saat membuat Reus terbelalak hebat. Setelah proses tersebut selesai tubuh Reus kehilangan tenaganya hendak tumbang, Ikshan dengan sigap menahannya.


Reus yang masih kebingungan memegangi kepalanya yang diserang sakit kepala hebat, kemudian menatap Randolf.


   "Dengan kemampuanmu aku yakin kau bisa menumpas habis Order of Chaos."


Dahi Ikshan sedikit mengerut mendengar pernyataan Randolf itu, sementara Reus masih dilanda kebingungan dan sakit kepala. Butuh beberapa waktu bagi Reus untuk menenangkan diri setelah menerima berbagai skill dan ingatan dari Randolf.


   "Baik, aku akan melakukan segala yang kubisa."


Tak mau membuang waktu lebih lama lagi Reus dan Ikshan melangkahkan kakinya menuju utara berniat melanjutkan perjalanan yang telah lama tertunda setelah memberikan penghormatan pada Randolf sekali lagi.


Tentang masalah desa Rockfall, Ikshan dan Reus sudah menumpasnya habis sebagai bentuk latihan dari Randolf, jadi mereka tak mengkhawatirkan desa tersebut.


Setelah keduanya berjalan cukup jauh hingga tak terlihat lagi sesosok makhluk menampakkan dirinya dari balik pohon menatap Randolf setajam mungkin.


   "Kau yakin memberikan semua itu? Bahkan lokasi tempatmu menyembunyikan Whitestar?"


   "Mengapa tidak? Aku yakin dia bisa mencapai apa yang tak bisa kucapai, terutama masalah ramalan itu."


Sosok makhluk tersebut menghela nafas berat mengingat-ingat ramalan yang dimaksud Randolf, ia tahu benar apa isi ramalan itu. Ia menatap Randolf sekali lagi selama beberapa saat, lalu menatap langit biru.


Ia hanya bisa berharap keyakinan Randolf kali ini benar-benar dapat menghentikan ramalan tersebut.


Arc 2 : Badai Mulai Bergerak - Selesai


---


Author


Hai, lama tak berjumpa di cerita ini.


Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada para pembaca yang telah setia membaca dan mendukung sampai bab ini, terima kasih banyak.


Kedua, saya ingin meminta maaf karena belakangan ini saya tidak bisa update. Alasannya saya mulai kehilangan minat dengan Orbis Online dan fokus mengerjakan cerita saya yang lain, yaitu Absolute Soul. Tapi tenang saja, Orbis Online akan tetap saya kerjakan sampai tamat, meski mungkin akan lebih cepat dan sedikit bab dari perkiraan.


Ketiga, saya tidak tahu apa yang ingin saya sampaikan lagi, tapi mumpung masih ada tempat saya ingin mempromosikan cerita saya yang sedang saya senangi belakangan ini, yaitu Absolute Soul.


Seperti cerita saya yang lain, Absolute Soul berlatar fantasi tetapi lebih kepada modern-fantasi dan bumbu romance-nya lebih terlihat, jika kalian penggemar romance.


Ya, mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan, jika ada yang ingin ditanyakan silahkan bertanya di komentar di bawah, saya akan menjawab pertanyaan yang layak dijawab, terima kasih! See you on next chapter!