Orbis Online

Orbis Online
133. Festival Malam Cinta



Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari baik Reus maupun Ikshan telah sampai di sebuah kota bernama Galvest yang tidak jauh dari Alvast, ibukota Lavore Kingdom. Mereka segera memesan penginapan untuk tinggal semalam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Alvast.


   "Ngomong-ngomong Ikshan, apa yang kau lakukan setelah sampai di Alvast?"


   "Hmm... rencananya aku berjanji bertemu dengan kekasihku dan bermain bersama menelusuri Plainfest, tapi kelihatannya dia sudah bermain bersama orang lain ketika kita berlatih di tempat guru."


   "Maaf soal itu, kau malah mengikutiku."


Mendengar ucapan Ikshan, Reus merasa bersalah berlatih selama dua bulan di Randolf.


   "Kau tak perlu merasa bersalah, lagipula aku penggemarmu dulu dan berkat mengikutimu aku mendapatkan kelas Special-Class tanpa mengalami penalti dan berbagai macam hal lainnya yang mungkin mustahil kudapatkan sendirian."


Bibir Ikshan melengkungkan sebuah senyum terlebarnya tak ingin Reus merasa bersalah, lagipula dirinya memang berniat berlatih di bawah bimbingan Randolf. Tidak ada alasan bagi Reus untuk merasa bersalah.


Senyum Reus mengembang sedikit melihat wajah Ikshan yang memang tidak mengharuskan dirinya merasa bersalah, namun senyumnya bukanlah senyum lega.


Hari sudah mulai mendekati senja, waktu yang tepat untuk mulai berjalan-jalan di Negeri Festival Malam. Meski kota Galvast tidak semegah dan sebesar ibukota Lavore Kingdom, Alvast, bukan berarti tidak ada festival di tempat ini.


Menurut penduduk setempat malam ini akan diselenggarakan Festival Malam Cinta, sebuah festival di mana dahulu terdapat sepasang dewa-dewi turun dari khayangan dan menjalin cinta di tempat ini selama tujuh hari tujuh malam.


Festival ini sudah diadakan selama seminggu terakhir dan malam ini adalah malam terakhir, puncak dari seluruh kegiatan Festival Malam Cinta.


Dikatakan bahwa ketika pasangan datang dan merayakan festival ini maka Dewi Cinta akan memberikan cinta kekal bagi mereka, terutama di malam ketujuh yang merupakan puncak festival.


   "Sepertinya tahun depan aku bisa membawa Mia ke kota ini kalau kami masih bermain."


Mata Ikshan berbinar-binar mendengarkan asal-usul Festival Malam Cinta, sementara Reus hanya menganggukan kepalanya beberapa kali. Dirinya tidak pernah mempunyai kekasih, jadi ia menambahkan cerita tersebut ke dalam otaknya jika ia memiliki kekasih suatu saat nanti.


Sambil berjalan mengelilingi kota Ikshan bercerita mengenai dirinya dan Mia—sang kekasih hatinya—kepada Reus. Meski Reus tidak pernah memiliki kekasih, ia mendengarkan dengan seksama dan beberapa kali turut bersedih atau berbahagia untuk temannya itu saat sesi curhat.


Kadang Ikshan dan kekasihnya bertengkar, tapi beberapa waktu setelahnya keduanya kembali akur, namun beberapa saat kemudian mereka kembali lagi bertengkar dan akur kembali, begitu seterusnya.


   "Tapi entah mengapa belakangan ini ia bersikap dingin kepadaku, sudah lebih dari tiga bulan di dunia nyata."


Ikshan menghela nafas sekali sebelum bercerita lagi bagaimana reaksi kekasihnya itu ketika bertemu ataupun membalas pesannya. Kekasihnya juga sering jalan-jalan malam bersama teman-teman wanitanya tanpa memberitahu tujuannya pada Ikshan, membuat pria berkelas Ninja ini kesepian dan sakit hati.


   "Apa mungkin dia sudah bosan denganku, ya? Mengingat sudah lebih dari empat tahun berpacaran."


   "Yah, aku tidak bisa menjawab itu, soalnya aku tidak memiliki kenangan bagus bersama mantanku dulu."


Kali ini giliran Reus menghela nafas mengingat masa-masa SMA-nya yang masih naif terhadap dunia, terhadap kehidupan asmara.


   "Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padamu?"


Pada waktu SMA Reus bukanlah Reus yang sekarang, ia pandai berbicara dan suka bergaul dengan siapa saja, memiliki banyak teman dan sering tersenyum ramah. Namun semua itu tentu tidaklah bertahan lama.


Suatu hari Reus diajak berpacaran oleh seorang adik kelasnya bernama Reana Flaregarde, seorang putri dari pemimpin perusahaan ternama di Indonesia. Reus menerima ajakannya tanpa basa-basi dengan polosnya.


Hari-hari yang dijalani Reus cukup menyenangkan menjalin hubungan asmara bersama Rea, tetapi hubungan itu hanya berjalan sekitar lima atau enam bulan saja.


Tepat ketika ingin merayakan hari jadi keenam bulan mereka, Reus dipermalukan oleh Rea di depan banyak orang dengan memutuskan Reus dan menyatakan hari-hari bersama Reus hanyalah permainan 'anak kecil' saja. Rea sebenarnya sudah bertunangan dengan Hiruma—teman sekelas Reus sekaligus putra dari pendiri perusahaan ternama di Indonesia—sejak lama.


Rea mengajak Reus berpacaran karena rencana Hiruma yang tidak senang terhadap sikap dan sifat Reus yang begitu baik dan ramah terhadap siapapun, sehingga Hiruma berniat menghancurkan mental Reus.


Di hari itu ketika Reus dihadapkan pada kenyataan tersebut, hampir seluruh teman yang mengenalnya menjauhi Reus karena menganggap Reus adalah pria 'pencuri wanita'. Mereka tidak ingin kekasih mereka diambil atau digoda oleh Reus.


Sejak hari itu Reus diisolasi dan diganggu oleh teman-teman sekelasnya, bahkan beberapa dari mereka tidak segan menghajarnya karena hasutan Hiruma. Tidak sedikit pula para siswi menjauhi Reus karena rencana Hiruma dan Rea yang sudah tersebar.


Pada waktu itu Reus berjanji dalam hatinya bahwa dirinya tidak akan mendekati atau menerima ajakan perempuan secara asal-asalan.


Reus memang pernah berpura-pura menjalin hubungan dengan Kurenai beberapa bulan yang lalu, namun itu karena Kurenai adalah teman adiknya dan hubungan tersebut memang terbatas hanya berpura-pura dan selang beberapa hari saja. Reus tidak bermasalah jika memang sejak awal dikatakan begitu.


   "Maaf, aku mengungkit sesuatu yang seharusnya tidak diungkit."


   "Tidak masalah, lagipula malam ini adalah waktu yang tepat untuk curhat, bukan?"


Terdengar suara ledakan kembang api dari tengah kota ketika Reus menyelesaikan ceritanya, menandakan Festival Malam Cinta hari ketujuh telah resmi dimulai. Ikshan hanya bisa tersenyum masam menanggapi ketepatan waktu Reus.


Keduanya kemudian berjalan menikmati seisi festival sambil menghabiskan waktu. Meski terkadang mereka menjadi pusat perhatian karena topeng yang mereka kenakan dan berjalan berdua sebagai pria, Reus tidak terlalu tertarik terhadap tanggapan itu dan lebih memilih untuk menikmati festival.


Dirinya tidak terlalu sering keluar dan pergi ke keramaian di dunia nyata, jadi Reus ingin mengetahui bagaimana rasanya mengikuti festival bersama banyak orang.


Ketika mereka melangkah menyusuri jalan menikmati keramaian festival, langkah Ikshan tiba-tiba terhenti yang membuat Reus juga ikut berhenti berjalan. Reus kebingungan ingin bertanya mengapa Ikshan tiba-tiba menghentikan langkahnya, namun Reus dapat melihat mata bola mata Ikshan terbebalak hebat dari lubang topengnya.


Karena penasaran Reus mengalihkan pandangannya menuju arah yang Ikshan pandangi. Di sana ia dapat melihat banyak pasangan berjalan sambil bergandengan tangan, namun ada satu pasangan yang menarik perhatiannya.


Seorang pria tampan berambut pirang bermata biru cerah dilengkapi dengan zirah besi lengkap, pedang di pinggang dan tameng di belakang, berjalan bergandengan tangan bersama seorang wanita berambut cokelat kemerahan dan mata berwarna hijau zamrud yang memikat pria manapun.


Reus memang tidak mengenal pasangan itu, tetapi dari tanda kursor pemain yang melayang di atas kepala mereka serta ciri-ciri wanita tersebut Reus bisa menyimpulkan sesuatu sambil berharap dugaannya tidak benar-benar nyata.


---


Author


Gak usah ngeluh saya jarang update cerita ini, saya udah hilang minat dengan cerita ini jadi susah untuk menulisnya 😒