
Selagi Deus membasuh diri, Mira sedang bekerja di dapur memasak sesuatu. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya menyelesaikan kegiatan masing-masing.
"Kau sudah bisa memasak, Mira?"
"Kak, aku bukan anak kecil yang biasa kau urusi lagi. Setidaknya aku bisa mengurus diri sendiri."
Deus memandangi hidangan di meja makan dengan heran setelah keluar dari kamar mandi. Mira baru saja selesai menata alat makan di meja ketika datang.
Deus hanya diam tak membalas, dia mengambil piringnya yang telah berisi lauk dan sayur lalu berjalan menuju meja belajarnya berniat melanjutkan meneliti mengenai harga yang tepat untuk Great Grega namun, Mira menarik kerah bajunya dari belakang sebelum Deus melangkah lebih jauh.
"Kakak mau ke mana?"
"Mau ke meja dan meneliti harga Item, kenapa?"
"Duduk dan makan di meja makan! Itu tidak etis!"
Kekuatan fisik Deus tidak terlalu bagus dibanding Mira yang cukup terlatih hingga menyabet medali emas pada acara pekan olahraga beberapa bulan lalu, Deus tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman tangan gadis tersebut.
Pada akhirnya Deus terpaksa meninggalkan kegiatannya sejenak dan fokus makan.
"Ngomong-ngomong, dari mana kau dapat bahan makanan untuk memasak? Seingatku dapurku cukup kosong."
"Aku sudah mengira kakak terlalu fokus bermain sampai tidak mempedulikan sekitar, jadi aku menyempatkan diri berbelanja sebelum kemari."
Mira menjawab Deus tanpa menghentikan suapan demi suapan pada mulutnya. Melihat reaksi Mira, Deus tidak lagi berbicara saat makan. Dia lebih memilih untuk menikmati hidangannya.
"Oh ya, kak. Sudah dengar tentang kegaduhan yang terjadi di ibukota Lavore Kingdom?"
Deus yang tengah meresapi rasa makanan di lidahnya tiba-tiba tersedak saat Mira bertanya demikian, membuat gadis itu terkejut sekaligus keheranan.
"Ah, maksudmu kejadian yang menimpa Legion-mu?"
"Lebih tepatnya Alvast bukan hanya Legion-ku saja."
Mira menjelaskan mengenai kejadian yang menggemparkan dunia Orbis Online beberapa waktu terakhir, sementara Deus meneguk air minum sambil menyimak cerita Mira dari awal sampai akhir.
Di beberapa bagian kejadian itu dijelaskan berlebihan, pelakunya dikabarkan adalah dua orang pemain berkekuatan besar. Hanya dengan dua orang saja mereka mampu meluluhlantakkan Gaia's Tree cabang Alvast.
Rumor mengatakan bahwa dua orang tersebut adalah salah satu Hundred Best Player yang memiliki masalah dengan Gaia's Tree namun seluruh pemain yang menyandang gelar serupa menolak keterlibatan mereka dalam kejadian itu.
"Legion juga menutup-nutupi hal ini dengan alasan memalukan tetapi karena kabarnya terlalu besar, petinggi hanya menyatakan Legion cabang Alvast diserang oleh pemain tak dikenal berkekuatan besar ke publik, sementara dalam Legion sendiri beredar kabar sebenarnya tentang dua pemain yang menyerang."
Setelah berkata demikian kini giliran Mira meneguk air mineral baru saja menghabiskan hidangannya sebelum memandang Deus kembali dengan mata memicing.
"Apa kakak terlibat hal ini?"
"Kenapa kau berpikir begitu? Bukankah aku hanya seorang pemula yang baru mulai bermain beberapa bulan? Bagaimana bisa aku menghancurkan sebuah Legion meski hanya cabang?"
Deus tersenyum penuh arti kepada Mira saat berkata demikian, membuat adiknya itu sedikit geram namun tak menemukan alasan tepat untuk marah. Mira menghela nafas panjang dan kembali memandang Deus, kali ini dengan serius.
"Kalau kejadian itu memang disebabkan oleh kakak maka aku, Kurenai, dan lainnya akan keluar dari Legion."
Dahi Deus sedikit mengerut mendengar pernyataan Mira barusan. Dia memicingkan matanya, memandang Mira dalam-dalam.
"Kau serius? Kalian akan diburu hingga turun berpuluh-puluh level jika meninggalkan Legion setahuku."
"Kami serius. Cukup banyak anggota yang sudah muak pada tindakan Legion yang semena-mena, kami sudah memutuskannya sejak kabar kakak menyerang Legion menyebar."
Terpancar sinar keseriusan pada mata Mira, Deus bisa melihat bahwa adiknya sungguh berniat melakukannya. Deus menghela nafas sadar tidak bisa menghentikan Mira dan kawan-kawannya.
"Baiklah, aku juga akan membantu kalian dengan beberapa Equip dan Potion. Hitung-hitung mengurangi kekuatan tempur Gaia's Tree."
"Sungguh?!"
Setelah obrolan tersebut Deus kembali menuju meja belajarnya, sedangkan Mira membereskan peralatan makan yang terpakai. Jika Deus sungguh memberikan beberapa Equip dan Potion secara gratis padanya, hal yang dilakukan Mira adalah wajar.
Selagi Mira membereskan peralatan makan, Deus masih mencari harga yang tepat untuk Great Grega. Sudah belasan menit berlalu namun belum ada satupun senjata Ultra Equip sejenis pedang dua tangan ditemuinya pada Orbis Forum, membuatnya menghela nafas panjang.
"Apa yang sebenarnya kakak lakukan?"
"Hmm? Aku mencari harga yang bagus untuk senjata yang ingin kujual."
"Senjata?"
Deus tidak menjelaskan lebih jauh dan langsung menunjukkan informasi mengenai Great Grega pada Mira.
"Oh, ini? Great Grega, Level Requirement 240.... Hah?!"
Mata Mira terbelalak lebar melihat informasi Great Grega. Dia mendekatkan wajahnya pada monitor untuk memastikan apakah penglihatannya ada yang salah atau tidak namun mau berapa kalipun dirinya pastikan, informasi pedang dua tangan tersebut tidak berubah.
Mira melotot pada Deus sambil menunjuk monitor laptop.
"Apa kakak gila?! Ini senjata Ultra Equip berlevel tinggi yang dicari-cari oleh pemain lain dan kau ingin menjualnya?!"
"Aku tahu aku gila! Sejak kapan ada orang waras menantang sebuah Legion seorang diri selain Hundred Best Player, hah?!"
"Kakak mengaku diri sendiri gila?"
Mira mengambil beberapa langkah mundur dengan wajah sedikit panik disertai ketakutan, berhasil membuat Deus tersedak oleh nafasnya sendiri. Dia tidak menyangka bahwa sangkalannya karena sering disebut gila oleh Ikshan dari Orbis Online ikut terbawa ke dunia nyata tanpa disadari.
Butuh beberapa waktu bagi Deus menjelaskan pada Mira bahwa dirinya bukan benar-benar gila.
"Kak, sepertinya kau terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam Orbis Online."
"Aku tahu...."
Deus hanya bisa tersenyum masam mendengar ucapan Mira yang sama sekali tidak salah.
"Kesampingkan yang lain, aku menjualnya karena Equip ini tidak terlalu berguna bagiku."
"Tidak berguna? Equip setingkat Ultra?"
Mira memandang Deus seperti melihat orang gila sekarang merasa ada yang tak beres pada otak kakaknya itu, sementara Deus sendiri tidak menyangkal lebih jauh. Dia kemudian menunjukkan alasan mengapa dia tidak begitu memerlukan Great Grega.
"Ini.... Di mana kakak mendapat Equip ini?"
Mata Mira tidak berkedip memandangi informasi mengenai Dragon Slayer Sword yang terpampang di monitor.
"Aku bisa mengatakannya tapi aku ragu kau akan percaya."
Deus menceritakan pengalamannya terjebak di dalam Chaos Lair dan menghadapi Arshwind The Anarchy Lord seorang diri yang berlevel 500-an. Dirinya tidak menang tetapi mampu memberikan perlawanan yang cukup berarti.
Mira mendengarkan seluruh cerita Deus dari awal sampai akhir dengan mulut terbuka lebar. Dia menolak untuk mempercayainya namun Deus tidak mempunyai alasan untuk berbohong padanya.
Mira menghela nafas berat sambil memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.
"Melawan ras terkuat di seluruh Orbis Online yang berlevel 500 dengan level 75 dan mampu memberi perlawanan? Mampu memakai senjata apa saja tanpa terbatas Level Requirement atau senjata khusus kelas tertentu? Karaktermu terlalu gila, kak."
"Aku tidak menuntutmu percaya atau memahaminya tapi itulah yang terjadi."
Deus mengangguk pelan memahami keadaan Mira saat ini, dia tidak mengharapkan Mira percaya terhadap ceritanya mengingat pemain berlevel tertinggi saat ini saja mungkin baru berlevel sekitar 350-an ke bawah.
Deus tidak menunjukkan Sword of Tartaros dan Sword of Aether pemberian Randolf kepada Mira karena khawatir adiknya itu bisa pingsan melihat kekuatan kedua pedang tersebut.