
Korban lemparan batu Reus sudah tidak terhitung jumlahnya namun yang Reus yakini hujan batu tersebut sukses membunuh setidaknya seratus prajurit tak jauh di sana. Belum lagi berkat efek racunnya yang terus mengurangi HP, tidak banyak yang bisa diperbuat oleh para prajurit.
Satu-satunya jalan mereka saat ini adalah maju dengan gagah berani menuju tempat Reus dan kawan-kawan berada.
"Kalian mengambil pilihan yang salah."
Reus menarik pedangnya menyambut sekian prajurit yang masih selamat mendekatinya.
"Dragon Smite! Energy Wave!"
Reus menebaskan Dragon Slayer Sword membelah udara. Tebasan pedangnya mengeluarkan gelombang energi yang menewaskan beberapa prajurit terdepan seketika saat terkena serangannya.
Berkat kelihaian Ikshan menempa dan merombak ulang, Reus tidak kehilangan Special Trait Set yang diberikan perlengkapan seri Dragon-nya. Karena itulah perpaduan Dragon Smite dan Energy Wave begitu mematikan bagi lawannya yang berada dalam jarak jangkauannya.
Reus tidak menunggu para prajurit lainnya semakin dekat, dia justru mendekati beberapa prajurit tersebut sambil mengerahkan Hollow Swords. Kelima pedang-pedang tersebut kini melayang di sekitar tubuh Reus dan menyerang musuh-musuhnya secara otomatis, sementara Reus fokus menghabisi lawan lain.
"Bukankah aku satu-satunya yang tidak berguna di sini?"
Saat medan pertempuran didominasi oleh Reus, Dunk yang berdiri tak jauh di belakangnya bergumam dengan senyum masamnya. Gumaman itu menarik perhatian Kynel dan Crystina, keduanya merasa bersimpati pada Dunk yang hampir tidak melakukan apapun sejauh ini.
Berbeda dengan Crystina yang memang sengaja menghemat tenaga untuk menghadapi Xavier, Dunk seharusnya membantu Reus mengurangi pasukan yang berdatangan, namun sayang bukannya membantu Dunk justru menjadi hambatan bagi Reus.
Kynel sudah menciptakan banyak bebatuan untuk Reus gunakan sebagai senjata jarak jauh, sedangkan Dunk? Selain menghajar beberapa lawan di balik tembok sebelumnya tidak ada yang bisa dia lakukan, terutama saat ini.
Ketika Dunk menghela nafas berat merasa dirinya tidak berguna, Crystina datang menepuk bahunya sambil tersenyum.
"Jangan kau bandingkan dengan pemain se-abnormal Reus. Bahkan jika dia bertarung melawanku sekarang mungkin aku yang akan kalah."
Dunk sedikit membelalakkan matanya merasa tak percaya dengan perkataan Crystina. Bagaimana mungkin seorang pemain berlevel 300 seperti Crystina bisa kalah dari Reus yang hanya berlevel 150-an? Pikiran itulah yang melayang di benak Dunk sekarang.
Beberapa saat setelahnya Reus melangkah kembali ke arah mereka sambil mengonsumsi sebotol Energy Potion.
"Sudah selesai?"
"Ya, begitulah. Pasukan utama mereka tidak akan terlalu merepotkan dengan begini."
Crystina memandang jauh ke depan melihat begitu banyak mayat tak utuh, baik itu di bekas target hujan batu yang Reus gunakan atau pertempuran singkat yang baru saja terjadi beberapa meter di depan mereka.
Ketika keadaan dirasa mulai tenang dan hening, Reus menoleh ke belakang dengan cepat kemudian mengayunkan pedangnya pada udara mengejutkan sekaligus membuat heran Crystina dan lainnya, namun tindakan Reus terjawab saat terdengar suara benturan antar logam di udara disertai sedikit percikan api.
Beberapa saat berselang, sebuah anak panah mendarat di tanah tidak jauh dari tempat Reus berdiri. Reus sampai termundur beberapa langkah ke belakang saking kuatnya serangan barusan.
Mata Reus segera teralihkan pada sesosok wanita tengah berlutut sebelah kaki dengan sebuah busur di tangan pada daerah bekas hujan batu yang dia buat sebelumnya.
"Pemanah? Dari jarak sejauh itu?"
Crystina terkejut ikut melihat sesosok wanita pemanah yang baru saja melepaskan anak panah dari jarak ratusan meter. Dunk dan Kynel tidak bisa berkata-kata ketika menyadari hal yang baru saja terjadi.
"Ah, dia adalah pemanah Elite Knight yang menyerangku beberapa waktu lalu. Kalau tak salah Xavier memanggilnya Arcus."
Ekspresi Reus menjadi lebih serius, dia memainkan Dragon Slayer Sword di tangannya sejenak sebelum membentuk kuda-kuda.
"Benar, namanya memang Arcus namun akulah yang akan membunuhmu."
Di saat yang sama Reus mendengar suara seorang pria berada tak jauh darinya. Dia sontak mengambil satu langkah mundur tetapi belum sempat Reus bereaksi, sesosok pria tiba-tiba muncul di samping kirinya mengayunkan pedang secara vertikal mengarah padanya.
"Sialan!"
Dalam posisi seadanya Reus mengayunkan pedangnya menangkis serangan sang pria sambil memutar badannya. Serangan Reus berhasil membuat pedang sang pria terpental namun di saat yang bersamaan posisi tubuh Reus saat ini tidak memungkinkan untuk bergerak bebas.
"Kena kau."
"Urggh!"
Reus mengerang keras merasa begitu kesakitan, terdapat pula perasaan terbakar pada luka lengan atasnya seperti serangan Xavier sebelumnya. Perhatiannya teralih oleh anak panah putih yang menancap di tanah tak jauh darinya.
"Serangan berelemen Light?"
"Benar, kebanyakan Elite Knight seperti kami mempelajari skill dengan elemen Light untuk memerangi makhluk kegelapan sepertimu."
Setelah berbicara pria tersebut mengangkat kembali pedangnya kali ini tinggi-tinggi berniat mengayunkan pedangnya membelah dua Reus tetapi sebelum itu terjadi, Crystina lebih dulu menghadangnya menggunakan pedang besar.
Crystina yang tiba-tiba berada di belakang Reus kemudian mengayunkan Great Grega, sayangnya serangan itu berhasil dihindari oleh sang pria hanya dengan beberapa langkah sederhana ke belakang.
"Oh, kau sungguh mendapat bantuan dari orang lain ternyata."
Pria itu tersenyum tipis menanggapi serangan Crystina.
"Reus, kau tak apa-apa?"
"Ya, hanya butuh waktu sampai lenganku beregenerasi kembali. Tidak masalah."
Reus segera mengonsumsi HP Potion untuk mengembalikan HP-nya yang hilang sekaligus meregenerasi lengannya yang putus barusan. Menyembuhkan cedera separah itu dalam sekejap bukan karena bantuan sistem semata, tetapi untuk melakukannya HP pemain yang tersisa akan diambil sebagai bayaran regenerasi super itu.
Crystina maju menyerang sang pria menggunakan pedang besarnya tetapi setiap serangannya jika tidak dihindari maka hanya ditahan oleh tameng pada tangan kirinya.
Selagi Crystina melindungi dirinya, Reus memungut Dragon Slayer Sword pada lengannya yang terputus menggunakan tangan kiri. Di saat yang sama pula Reus menarik kepalanya ke belakang menghindari serangan panah yang melesat dari jauh.
"Dunk, Kynel, buat perlindungan yang aman untuk kalian! Kami akan mengatasi ini!"
Setelah berkata demikian Reus menggeram kecil lalu berlari menuju wanita pemanah jarak jauh tersebut sambil membawa Dragon Slayer Sword di tangan kirinya. Secara perlahan lengan kanan Reus mulai tumbuh lengkap dengan kerusakan pada Dragon Scale Cloak.
Pemanah wanita itu tidak menunggu Reus berlari lebih jauh, dia kembali melepaskan anak panah. Reus yang telah mengaktifkan Adrenaline Mode bisa sedikit melihat anak panah yang tengah melesat dalam kecepatan tinggi tersebut, dia dapat menghindarinya cukup mudah tanpa perlu menghentikan larinya.
Sang pemanah wanita sedikit terbelalak saat menyaksikan Reus mampu menghindari tembakannya. Dia buru-buru mengambil anak panah lain dan menarik busurnya tetapi saat dia mulai membidik, Reus menghilang dari pandangannya.
"Ke mana dia?"
Mata wanita itu menyapu lingkungan sekitar mencari Reus namun tidak berhasil menemukannya, sampai dia menyadari terdapat bayangan tak jauh di depannya yang semakin lama semakin mendekat. Dia sontak menengadahkan dagunya disertai busurnya yang terangkat.
Wanita tersebut kesulitan membidik karena matahari berada tepat di belakang Reus yang tengah melayang di udara. Dia mengeratkan giginya sendiri lalu melepaskan tembakan.
"Heh, tembakan yang panik sekali."
Reus tersenyum kecil melihat anak panah meluncur cepat ke arahnya. Dia mengerahkan Telekinesis untuk menarik dirinya ke bawah agar jatuh lebih cepat, berhasil mengejutkan pemanah wanita.
Saat kakinya menyentuh tanah, Reus segera melesat menggunakan Sprint menutup jarak di antara keduanya. Dalam sekejap Reus hanya berada beberapa meter di depan pemanah wanita.
Sebelum pemanah wanita tersebut sempat menarik busur serta anak panahnya, Reus mengangkat tangan kirinya terlebih dahulu.
"Telekinesis!"
Reus menghempaskan sang pemanah cukup kuat ke belakang, di saat yang sama pula wanita pemanah itu melepaskan sebuah anak panah lain, sayangnya Reus mampu menghindarinya berkat Adrenaline Mode dibantu Laplace Forecast yang dapat membaca prediksi gerakan apapun beberapa detik ke depan.
Reus kemudian menarik tubuh pemanah wanita tersebut ke bawah tanah sesudah membuang busurnya ke arah lain dengan Telekinesis terlebih dahulu. Dia merasa wanita ini sangatlah berbahaya ketika memegang busur.
Wanita tersebut mengerang sejenak dan berusaha mengggapai busurnya yang berjarak cukup jauh namun Reus datang dan langsung menginjak tangannya. Sang wanita terperanjat sebelum sontak memandang wajah Reus.
"Kau kalah."
Reus tersenyum kecil sambil berkata demikian.