
Pertarungan Reus melawan belasan Orc yang menghalangi satu-satunya jalan keluar dari desa Viredeta sama sekali tidak berujung baik, malah sebaliknya. Staminanya mulai terkuras dan keletihan membuat tubuhnya gemetar tak bertenaga.
Sekarang bukan hanya belasan Orc yang berhadapan dengannya, tapi juga puluhan Goblin, Hobgoblin, Skeleton, Wolf, Troll, Orc, dan beberapa monster mob lainnya tengah mengepung Reus dari belakang maupun samping.
Tak ada jalan kabur lagi baginya, yang ada hanyalah kematian dan penalty.
"Hah.. hah... ini benar-benar gawat."
Sementara mengatur nafas mengembalikan sedikit tenaganya, Reus mengamati daerah di sekitarnya untuk mencari jalan keluar. Meski sebenarnya Viredeta hanyalah sebuah desa kecil, tembok kayu yang mengelilinginya setinggi lima meter yang mana bahkan tidak mudah bagi Reus melompatinya.
Selain itu dirinya saat ini sedang dikepung oleh puluhan monster berlevel di atasnya. Hal tersebut tentu tidak bisa membuat dirinya lari dengan mudah.
"Ah, aku harus menggunakan itu lagi. Karena keadaan memaksa, apa boleh buat. Black Form : On!"
Dalam sekejap sosok Reus diselimuti jubah hitam pekat dan status Str dan Dex-nya meningkat hingga 50% jauhnya. Melihat perubahan dari sang penyusup, para monster segera menyerang Reus dengan barbar.
Reus memaksa tubuhnya dan bertarung melayani kerumunan monster-monster yang menyerangnya. Kali ini gerakannya jauh lebih sedikit dan lambat dari sebelumnya, lalu ia lebih mengandalkan Ring of Ice yang ia kenakan untuk memberi status cold dan freeze pada lawan-lawannya.
Staminanya yang telah menipis akibat pertarungan menghadapi belasan Orc penjaga gerbang tadi sangatlah mempengaruhi gerakannya sehingga Reus kembali terhenti di tempat. Sekarang ia sedang bersandar di sebuah dinding rumah mengistirahatkan kakinya sejenak sekaligus mengatur nafas, namun Reus sadar bahwa saat ini dirinya tengah terpojok.
Kondisinya yang begitu lelah dan tak bertenaga ini sudah bukan karakter yang bisa mengatasi kerumunan monster mob ini sendirian. Bukan hanya staminanya, tapi juga Energy-nya juga habis menyentuh angka nol.
'Gawat, bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini kalau staminaku habis.... Tunggu dulu, bukankah aku pernah membeli Vigor Potion sebelum ini?'
Di tengah rasa putus asanya, Reus mendadak teringat akan Vigor Potion yang ia beli dari Orbis Forum ketika ia sedang membuat HP Potion I di perkemahan pemain. Ia pun segera mengambil Vigor Potion I dari Inventory, kemudian meminumnya habis hingga tetes terakhir.
Tepat setelah Reus menegak habis Potion tersebut, ia merasa staminanya berangsur-angsur pulih yang diiringi sebercak cahaya ungu samar-samar memancar dari tubuhnya untuk sesaat. Meski tidak pulih sepenuhnya, ia dapat merasakan kalau tenaganya terisi kembali.
Reus kemudian mengambil Energy Potion I dari Inventory dan meminumnya juga sehingga menyebabkan bar Energy-nya terisi lagi hingga 20%. Mengetahui Energy Potion I yang ia buat bekerja dengan baik, Reus kembali tersenyum dan memperoleh kepercayaan dirinya lagi.
"Blaze Javelin!!"
Dari arah jam duanya terdengar seruan keras. Di sana terlihat sesosok Lich—salah satu monster mob dengan ras Undead—melemparkan sebuah skill tipe Magic berbentuk tombak api merah kejinggaan.
Melihat ini Reus pun mengayunkan Blackstar dan menebas skill tersebut untuk memakannya, namun hal yang mengejutkan dirinya terjadi.
Blaarr!!
"Uaarrghh!!"
Sebuah ledakan tercipta begitu Reus menebas Magic Skill itu. Ia juga terlempar menghantam dinding bangunan yang ada di belakangnya hingga membuat retakan besar di sana. Akibat serangan barusan, bar HP-nya berkurang sampai sekitar 15%.
Blackstar memiliki Ability bernama Magic Devour yang mampu melahap skill tipe Magic, kemudian penggunanya dapat memilih sihir yang telah dilahap akan dikeluarkan lagi atau ingin diubah menjadi Energy. Namun entah mengapa, Ability ini tidak aktif ketika Reus menebas skill Blaze Javelin.
Reus mencoba berpikir ulang, mengapa Magic Devour tidak aktif? Mengapa skill itu tidak dimakan oleh Blackstar? Padahal di pertarungan-pertarungan sebelum di desa ini Magic Devour dapat aktif tanpa halangan ataupun kesulitan, bagaimana bisa?
Ketika memecahkan pertanyaan itu dalam kepalanya, ia tanpa sengaja menemukan sesuatu yang sedikit ganjil. Persentase bar Energy-nya berubah menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Hal ini membuat dirinya kembali berpikir lagi tanpa mempedulikan pasukan-pasukan monster yang secara perlahan mendekatinya.
Memang benar ia ingin menebas skill Blaze Javelin dari musuh, melahap lalu mengonversikannya menjadi Energy, tapi bukankah Magic Devour tidak bisa memakannya?
'Apa jangan-jangan karena perbedaan levelku dengan pengguna skill itu Magic Devour tidak mampu menyerap semuanya dalam sekejap?'
Spekulasi Reus tentang hal itu tepat sekali. Magic Devour milik Blackstar bukannya tidak aktif, tapi kemampuannya menurun karena ada perbedaan level antara pengguna Blackstar dan pengguna Magic Skill itu. Itulah melatarbelakangi kejadian barusan.
Perbedaan level pada pengguna skill akan sangat berpengaruh pada damage yang dapat dibuatnya. Misalkan saja terdapat seorang pemain berlevel 100 dan level 10 menembakkan satu skill yang sama dengan level yang sama pula, manakah yang memberi damage lebih besar? Tentu saja pemain berlevel 100, bukan?
Hal itulah yang terjadi di belakang menurunnya kekuatan Magic Devour ketika berhadapan dengan skill tipe Magic yang lebih tinggi levelnya dari pada penggunanya.
Reus yang baru saja menyadari hal tersebut hanya tersenyum masam mengingat betapa bodohnya dirinya. Meskipun dunia ini merupakan dunia virtual, tidak ada yang tak terbatas dalam pemakaian kemampuan karakter atau yang disebut sebagai skill ini.
Ia pun bangkit berdiri berniat memperjuangkan nyawa dalam Orbis Online sebisa mungkin sekaligus memikirkan bagaimana caranya ia bisa lari dari tempat ini.
""Serang!!""
Bersama seruan perintah menyerang yang entah asalnya dari mana, monster-monster di sekitar Reus mulai menyerang si penyusup secara bersamaan dari berbagai arah. Reus sendiri mendecakkan lidahnya melihat keadaan terpojoknya yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain bertarung melawan puluhan atau bahkan ratusan monster ini.
Tidak bisa berpikir lebih jauh lagi, Reus akhirnya pasrah dan memutuskan untuk membantai semua monster yang berniat menyerangnya. Ia mengaktifkan Hollow Swords, kemudian meluncurkan kelima pedang ungu kehitaman semi transparan tersebut untuk menebas semua musuh yang berada di jarak jangkauannya.
Ketika melihat pedang-pedang Hollow Swords-nya melayang-layang menebas musuh yang berada dalam jarak jangkauan, Reus menemukan satu jalan keluar yang praktis dan pasti. Walaupun agak gila, tapi inilah satu-satunya kesempatan Reus untuk keluar dari desa monster Viredeta ini.
"Bisa atau tidak peduli amat, yang penting coba dulu!"
Dengan perasaan tak yakin 100% akan bekerja, Reus menarik pedang-pedang Hollow Swords yang ia ciptakan mendekatinya. Dua pedang ia arahkan ke dekat dua kakinya dan menginjakknya berdiri di sana, sedangkan tiga lainnya tetap menebas monster-monster yang berusaha menyerangnya.
Setelah memastikan dapat berdiri di atas pedang semi transparannya, Reus pun menggerakkan dua pedang di kakinya melayang ke atas dan menjauhi medan pertarungan di bawah sambil menjaga keseimbangan. Tiga pedang sisanya pun secara otomatis mengikuti Reus dari belakang karena melebihi jarak maksimal.
"Berhasil..? Aku berhasil!? Aku berhasil! Aku lolos! Aku lolos, berengsek! Aku lolos dengan ide gila ini, kurang ajar!!"
Menyadari ide gila yang ia rancang barusan berhasil membuatnya lolos dari kematian dan penalty, Reus berteriak sekeras mungkin merayakan kelolosannya itu. Namun ia yang terlalu gembira karena berhasil lolos itu sempat melupakan keseimbangannya sendiri dan hampir saja jatuh ke bawah. Untungnya ia sadar dan segera memperbaikinya.
Benar, Reus melayang dengan bantuan skill Hollow Swords-nya. Menggunakan hal inilah ia dapat pergi dari desa Viredeta. Satu lagi ide gila dari Reus telah membuka kemungkinan baru pada titel Skill Modifier.