
Lima hari telah berlalu semenjak pertemuan kelompok Reus dengan para bangsawan di Istana Naga. Selama hari-hari itu berlalu hari ini mereka kedatangan seorang Lizardmen dan Dragonewt.
Mereka mengenalkan diri sebagai utusan Julius yang datang untuk membantu Reus dan lainnya.
"Jadi, namamu Lucia dan namamu Dante?"
"Benar, tuan Reus."
Reus memperhatikan keduanya dari bawah hingga ke atas secara bertahap.
Dalam sekali lihat dia bisa menebak bahwa Lizardmen perempuan bernama Lucia ini memiliki kelas sejenis Priest atau Cleric yang berperan sebagai penyembuh dalam suatu kelompok, sedangkan pria Dragonewt dengan nama Dante itu dilihat dari tombak yang dibawanya kemungkinan kelasnya jika bukan Dragoon maka kelas pemegang tombak lain.
Namun, melihat dirinya merupakan Dragonewt yang memiliki darah naga Reus sepenuhnya yakin Dante memiliki kelas Dragoon. Itu salah satu kelas terbaik di tingkat Silver-class untuk pengguna tombak.
'Mungkin karena di Party kami tidak ada penyembuh Yang Mulia Julius mengirimkan seorang penyembuh berlevel tinggi serta pengawalnya.'
Reus bisa melihat Lucia ini merupakan penyembuh berlevel 270 sedangkan level Dante hanya tertinggal hitungan jari satu tangan dari Lucia. Mengirimkan penyembuh serta petarung berlevel tinggi seperti ini meski mengetahui level Reus masih di antara 250-an membuat Reus curiga.
Kemungkinan mereka berdua bukan hanya berniat membantu tetapi juga mengawasi serta membatasi kegiatan kelompok Reus yang memungkinkan Bailendra Kingdom mengalami kerugian.
Julius sungguh berhati-hati terhadap kelompok Reus.
Saat Reus menilai keduanya sebaik mungkin dia mendapati Dante menoleh ke sana kemari seakan mencari sesuatu. Dia mengetahui alasan Dante terlihat begitu gelisah.
"Jika kau mencari Ikshan dan Ibane mereka sedang menaikkan level di Dungeon terdekat."
"Ah, niatku terbaca semudah itu, ya?"
"Jangankan terbaca kau justru memperlihatkannya secara terang-terangan."
Dante tersenyum kering bingung harus menanggapi apa. Padahal dia telah diberi tugas rahasia untuk mengawasi kelompok Reus tapi dia malah gagal sebelum menjalankannya.
Reus menjelaskan dirinya tidak peduli jika mereka berdua juga ditugaskan untuk mengawasi kelompoknya. Asalkan tak menghalangi mereka mengambil langkah yang tak merugikan Bailendra Kingdom itu sudah lebih dari cukup.
"Mungkin itu saja pesanku selama kalian berada di sekitar kami. Selebihnya kalian bebas melakukan apapun."
Begitu selesai menyambut keduanya Reus kembali ke kamarnya untuk membuat potion sebanyak mungkin agar persediaan selama pertempuran mencukupi. Dia berpesan agar sebisa mungkin tidak diganggu selama membuat potion.
Lucia dan Dante mengangguk menuruti perkataan Reus sebelum saling memandang satu sama lain dengan raut kebingungan.
"Lucia, apa telingaku yang salah dengar atau memang manusia itu sedang membuat potion untuk persediaan perang? Kudengar dari tuan Oscar dia seorang petarung jarak dekat."
"Kurasa kau tak salah dengar, Dante. Aku juga mendengar hal yang sama. Tuan Ariel juga memberitahuku hal serupa."
Keduanya sedikit ragu namun memutuskan untuk menuliskan hal ini dalam laporan harian mereka nanti. Saat ini mereka harus fokus mengawasi berbagai hal yang Reus, Ikshan, dan Ibane perbuat agar mereka tak berbuat aneh selama masa praperang.
Selain menunggu dan mengawasi kamar Reus dari ruang tamu penginapan, Lucia dan Dante hampir tidak melakukan apa-apa dan itu membuat para pegawai di sana menjadi tegang.
Lucia dan Dante hanya duduk di sana sampai sebuah keributan kecil terjadi di depan penginapan. Mereka memutuskan untuk memeriksa keributan tersebut barang kali Ikshan dan Ibane telah kembali dan berbuat ulah namun jangankan memeriksa, mereka bahkan sudah bisa melihat apa yang terjadi dari tempat mereka duduk.
"Hei, panggilkan koki penginapan! Minta dia bersiap memasak sesuatu dengan ini!"
Saat Ibane sampai di pintu penginapan dia menemukan Lucia dan Dante sedang memandanginya dengan tatapan heran.
"Ah, kalian pasti Lucia dan Dante, utusan Tiga Dewan Naga yang disebutkan Reus, bukan? Tolong kerja samanya ketika perang meletus nanti."
Dia mengenalkan diri sejenak dan menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan. Siapaun bisa menebak pertanyaan di balik ekspresi kaget bercampur bingung saat memandang Ibane menyeret monster sapi itu.
"Aku punya skill Cooking jadi selama beberapa hari terakhir jika koki penginapan sedang senggang aku menantangnya adu masakan sekaligus mempersiapkan persediaan makanan untuk perang nanti. Kalau kalian mau kalian bisa ikut menjadi jurinya nanti, oke?"
Tanpa menunggu jawaban dari Lucia dan Dante, Ibane kembali melangkah menuju dapur bersama monster sapi setengah hidupnya. Dia meninggalkan keduanya dalam keadaan lebih bingung dari sebelumnya.
Seingat mereka baik Oscar maupun Ariel telah memberitahukan bahwa Ibane kemungkinan besar merupakan petarung jarak dekat dan memiliki Dragon Aura yang luar biasa kuat. Jikapun Oscar dan Ariel menyatukan Dragon Aura mereka mungkin masih belum menyamai setengah aura naga Ibane.
Tapi sekarang? Keduanya tidak melihat ataupun merasakan sesuatu seperti Dragon Aura atau sejenisnya dari Ibane, justru mereka malah melihat Ibane sebagai koki yang gemar memasak.
"Aih, seperti biasa Ibane memang bersikap semaunya. Sikapnya itu memang menyebalkan tapi dia bukan orang jahat kok. Tolong dimaklumi."
Saat perhatian Lucia dan Dante masih terpaku pada sosok aneh Ibane, sebuah suara datang dan mengejutkan keduanya. Mereka hampir saja menarik senjata dan bersiaga jika bukan karena Ikshan menahan lengan mereka agar tak bersikap demikian.
"Tidak perlu sampai menarik senjata. Aku datang ke sini bukan untuk mencari gara-gara."
Ikshan lalu mengenalkan dirinya. Meskipun kemungkinan Lucia dan Dante dapat mengenali dirinya dari jarak seratus meter tidak ada salahnya mengenalkan diri kepada rekan satu kelompok dalam perang nanti, bukan?
Setelah selesai menyapa keduanya Ikshan pamit kembali ke kamarnya untuk memperbaiki perlengkapannya sekaligus membuat beberapa Equip cadangan untuk Reus, Ibane, maupun dirinya sendiri jika mereka memerlukan senjata cadangan pada waktunya nanti.
Baik Lucia maupun Dante diam-diam mengucurkan keringat dingin di punggung memelototi sosok Ikshan yang tiba-tiba muncul tanpa bisa mereka deteksi, padahal secara level seharusnya mereka masih di atas manusia tersebut.
Jika saja Ikshan adalah musuh dan berniat membunuh maka keduanya bisa tewas tanpa mengetahui apa atau siapa yang membunuh mereka.
"Lucia.... Apa kita harus menulis laporan mengenai ini semua?"
"Aku... tidak yakin."
Tidak ada satupun dari keduanya memiliki keberanian untuk melaporkan apa saja yang kelompok Reus bisa setelah menyaksikan kemampuan Ikshan yang jauh dari kata normal.
Biarpun mereka berdua belum melihat kekuatan ataupun kemampuan Reus dan Ibane, Lucia dan Dante dapat mengira-ngira sejauh apa kekuatan keduanya secara kasar. Jika mereka bertarung secara berkelompok Lucia dan Dante yakin mereka tidak akan bertahan lebih dari setengah menit.
Kalau Reus, Ikshan, ataupun Ibane menginginkannya maka mereka sudah tewas sejak tadi.
Saat mereka masih membeku dalam ketakutan suara Reus menyadarkan Lucia dan Dante. Keduanya terperanjat ketika menyadari Reus bahkan menepukkan tangan di depan wajah mereka agar pasangan Lizardmen dan Dragonewt tersebut tersadar.
"Hei, aku punya surat yang ditujukan kepada Yang Mulia Julius. Surat ini berisi beberapa informasi mengenai musuh kita di Menschrein Kingdom sana. Bisa kalian sampaikan kepada Yang Mulia Julius?"
Dante yang lebih cepat pulih dari keterkejutannya menerima surat pemberian Reus itu dengan wajah heran.
"Bagaimana bisa? Apa kau sungguh mempunyai hubungan dengan Menschrein Kingdom?"
"Aku punya mata dan telinga di pihak musuh, tapi kuharap aku tak perlu menggunakan mata dan telingaku hanya untuk memastikan surat ini jatuh ke tangan Yang Mulia Julius."
Reus menyunggingkan senyuman penuh arti menjawab pertanyaan Dante yang kini mengangguk cepat sebelum melangkah pergi sambil menarik tangan Lucia sesegera mungkin agar bisa lolos dari tekanan aneh di antara ketiga pemain abnormal tersebut.