Orbis Online

Orbis Online
247. Pertempuran Naga dan Manusia VII



   "Huh?"


Rasa sakit yang menembus dadanya membuat mata Reus sontak melotot tak percaya saat menyadari sebuah bilah melengkung menghujamnya dari belakang.


Padahal lawannya sedang berada beberapa meter jauhnya di depan namun, dia justru mendapat serangan dari belakang? Apakah itu masuk akal?


   "Hmm, melihat reaksimu tebakanku barusan kelihatannya tidak salah. Kau terbiasa bertarung menghadapi musuh yang mudah ditebak pola gerakan serta skillnya sehingga saat menghadapi serangan kejutan beruntun seperti ini membuat gerakanmu tumpul, bukan?"


Reus ingin membalas kata-kata sosok tersebut namun berkat rasa sakit berkelanjutan di dadanya membuat Reus tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya bisa meringis sebelum menoleh ke belakang melihat sosok penyerangnya dan menemukan sebuah bayangan hitam berwujud humanoid setinggi dua setengah meter memegang sabit raksasa.


   "Bayangan...? Sabit...?"


   "Baru sadar? Sepertinya kau lebih lamban dari yang kukira."


Sosok bertopeng tertawa sinis mendengar reaksi Reus. Dia memang tidak bisa melihat ekspresi di balik topengnya namun dia mengetahui saat ini Reus diserang oleh berbagai kejutan yang tak pernah dia hadapi.


Reus tidak bisa mendapatkan kata yang bagus untuk menanggapi perkataan sosok bertopeng tetapi biarpun dia menemukan kalimat tanggapan yang bagus sekalipun, rasa sakit pada dadanya menghalangi suaranya keluar.


Melihat Reus nampaknya tak mampu berbuat apa-apa lagi sosok bayangan tersebut menarik sabit raksasanya dari badan Reus, membuat pemain berambut perak itu jatuh ke tanah tanpa tenaga.


Reus ingin segera bergerak selagi tubuhnya bebas namun dia kehilangan kontrol atas tubuhnya. Badannya terasa seperti terkekang oleh sesuatu tak kasat mata.


   "Tidak bisa bergerak? Merasa tersengat? Pendarahan tak mau berhenti? Hihihi, tidak ada yang bisa lolos sekali terkena serangan fatal Shadow Reaper."


Selagi berkata demikian bayangan bersabit seolah melayang mendekati sosok bertopeng. Reus kini bisa menduga rahasia di balik serangan dua arah misterius sebelumnya.


Sosok bayangan yang disebut Shadow Reaper itu bukan melayang melainkan sejenis Magic Skill yang dapat mengubah bayangan penggunanya menjadi sesosok pemegang sabit. Itu bisa dilihat dari tubuh bagian bawah sang bayangan terhubung oleh bayangan yang memanjang dari kaki sosok bertopeng.


Reus tak tahu pasti namun jangkauan sosok bayangan itu tidaklah kurang dari sepuluh meter dan setiap kali bayangan tersebut muncul maka bayangan sosok bertopeng akan memanjang terlebih dahulu.


Reus juga bisa melihat saat ini dirinya terkena beberapa Debuff berupa Stun, Bleeding, Shock serta status Debuff asing berlambangkan tengkorak yang tak pernah dia ketahui. Debuff Bleeding membuat sekian persen HP Reus terus berkurang setiap detiknya, sementara Shock sepertinya menumpulkan gerakan Reus melalui sengatan listrik berkelanjutan yang aneh.


Dia tidak bisa merasakan badannya seolah seluruh tubuhnya mengalami mati rasa kecuali area mata dan mulut.


   "Lambang tengkorak ini...."


   "Ah, kau terkena Debuff itu? Beruntung sekali diriku."


Sosok bertopeng itu tertawa lantang sebelum menjelaskan Debuff berlambangkan tengkorak tersebut adalah salah satu Debuff yang tak bisa dihilangkan ataupun disembuhkan, sebuah Debuff paling dibenci oleh para pemain, Everlasting Curse.


Everlasting Curse dibenci oleh pemain karena efeknya yang dapat meniadakan ketahanan target terhadap Debuff, serta membuat Debuff lain yang masih berefek sebelum atau sesudah Everlasting Curse mengenai target tidak akan bisa disembuhkan sampai korbannya mati.


Menurut penjelasannya sendiri, Everlasting Curse merupakan efek dari skill Shadow Reaper-nya namun kemungkinannya amatlah rendah sehingga bisa aktif saat melawan Reus seperti ini menandakan dirinya sangat beruntung.


   "Singkatnya, tidak peduli apapun yang kulakukan, dengan Stun yang membuatku terbaring tak bisa bergerak serta Debuff Bleeding yang mengurangi HP-ku secara bertahap ini, aku tetap akan mati?"


   "Jika kau tak mau aku bisa mencabut nyawamu lebih cepat."


Sosok bertopeng mengejek Reus yang tidak bisa apa-apa lagi, sementara pemain berambut putih keperakan tersebut tersenyum kering menyadari situasinya. Dia tak pernah menyangka akan menghadapi dua kematian dalam waktu yang berdekatan.


Biarpun demikian, setidaknya kematian Reus kali ini terdengar lebih layak dibanding mati karena terlalu banyak meminum alkohol. Dia juga merasa cukup puas setelah mencoba dan menyaksikan kekuatan kombinasi skill terkuatnya.


Reus sebenarnya masih memikirkan beberapa cara untuk keluar dari situasi ini tapi melihat Everlasting Curse serta beberapa Debuff yang nampaknya tidak akan menghilang sampai dirinya mati, Reus menghela nafas berat.


   "Yah, setidaknya aku berhasil membuka jalan bagi pasukan Bailendra Kingdom dan sedikit banyak mengetahui kekuatan pemain berkelas Special-class selainku."


Sosok bertopeng mengangkat sebelah alisnya mendengar gumaman Reus. Dia bisa menebak Reus merupakan pemain dengan Special-class yang langka sejak awal karena tidak mungkin pemain biasa mampu menghadapi dirinya yang saat ini menerima peningkatan status tertentu dari skillnya yang cukup banyak.


   "Sepertinya kau menerima kematianmu dengan mudah. Kalau tidak keberatan bisa kutahu nama dan levelmu? Aku akan memasukkan namamu ke daftar pemain yang harus kuwaspadai."


   "Sudah kuduga kau adalah pemain. Kenapa kau berpura-pura menjadi NPC segala?"


   "Kau menggunakan topeng agar identitasmu sebagai pemain tidak diketahui, bukan? Apa yang aneh dari itu?"


Reus ingin menepuk dahi tak menyadari hal sesepele itu namun tubuhnya tak bisa bergerak, pada akhirnya dia hanya tersenyum kering terhadap kebodohannya.


Reus menolak keinginan sosok bertopeng. Meskipun kini dirinya tidak bisa bergerak dia tak sudi membocorkan identitas yang selama ini sudah susah payah dia sembunyikan.


   "Yah, tidak masalah jika kau tak ingin memberitahuku. Yang perlu kulakukan hanyalah membuka topeng itu dan identitasmu bisa langsung terlihat olehku."


Sosok bertopeng tersebut berjalan mendekati Reus hendak mengambil topeng tengkorak yang menutupi wajah pemain berambut putih keperakan itu tetapi nampaknya dia telah salah mengira bahwa Reus sudah pasrah menerima kematian.


   "Hollow Swords!"


Kelima pedang berwarna hitam semu muncul mengintari tubuh Reus dan bergerak menyerang lawannya. Sosok bertopeng tidak mengira Reus masih ingin bertarung dalam kondisinya yang sedemikian rupa sehingga Reus berhasil menyarangkan beberapa serangan pada lawannya meski tidak terlalu dalam.


Sosok bertopeng secara refleks melompat mundur menghindari tebasan kelima pedang semi tembus pandang tersebut tetapi saat dia berniat mengambil langkah lebih jauh, tubuhnya tertekan oleh sesuatu yang tak terlihat.


Dia membelalakkan matanya merasa terkejut serta bodoh telah melupakan skill Reus yang satu ini.


   "Sialan! Kau menjebakku!"


   "Rasakan kelezatan pedang-pedang kesayanganku!"


Tanpa bisa merasakan ataupun menggerakkan badannya, Reus mengerahkan Psychokinesis untuk menahan gerakan lawannya sebelum mendorong kelima pedang Hollow Swords-nya menuju tubuh sang sosok bertopeng.


   "Trik kecil! Shadow Reaper!"


Sesosok bayangan hitam bersabit muncul dari bayangan sosok bertopeng. Bayangan tersebut berhasil melindungi sosok bertopeng dari ancaman kelima pedang terbang Reus namun sebagai gantinya, bayangan itu langsung menghilang.


   "Huh, skill seperti ini tidak bisa membelengguku!"


Sosok bertopeng berseru keras dan sukses mematahkan tekanan Psychokinesis Reus yang berhasil membuat pemain berambut putih keperakan yang terbaring di atas tanah tersebut terbelalak hebat.


Padahal selama ini belum pernah ada lawan yang berhasil membebaskan diri dari Psychokinesis-nya. Kemungkinan hal ini terjadi karena perbedaan level tinggi di antara mereka. Reus mengira bahwa sosok bertopeng ini berlevel setidaknya di atas 300-an.


   "Kali ini kau akan kupastikan mati! Aku tak peduli lagi nama ataupun levelmu! Kau terlalu berbahaya untuk seorang pemula!"


   "Benarkah? Kalau begitu kau harus menunggu sedikit lebih lama agar dapat melihatku berubah menjadi butiran piksel."


"Huh? Apa maksudmu?"


Sosok bertopeng memasang wajah kebingungan sejenak tidak mengerti perkataan Reus namun tak lama kemudian, dia dapat merasakan ancaman dari arah langit.


Benar saja, dari langit melesatlah dua orang berkecepatan tinggi sambil mengayunkan pedang mereka menghantam sabit besar sosok bertopeng yang membuat dahinya melotot hebat. Sayangnya, kekuatan kedua kekuatan orang itu tidak sebanding dengan sosok bertopeng.


Dengan mudah dia dapat menghempaskan kedua orang tersebut dan melayangkan sebuah serangan telak mengubah mereka menjadi butiran piksel biru.


   'Dua—tidak, tiga orang yang sama?! Bagaimana bisa?!'


Sosok bertopeng mempelototi Reus yang kini memasang sebuah senyum lebar. Dia ingin menghabisi Reus secepatnya tetapi lagi-lagi dirinya dihadang oleh sesosok lain serupa dengan Reus.


Dia ingin mengumpat keras dan mengutuk Reus tapi hal tersebut dia tunda setelah membereskan pengganggu baru ini. Dia mendorong sabitnya sekuat tenaga menghempaskan sosok lain Reus itu, namun ketika dia hendak mengayunkan senjata beberapa serangan sihir melesat ke arahnya membuat dia terpaksa mengambil posisi bertahan.


   'Pedang dan sihir?! Swordmage atau Swordcaster?! Ditambah skill ilusi—tidak, kelihatannya itu bukan sekedar ilusi.'


Sosok bertopeng menjerit dalam hati mengutuk Reus yang nampaknya tidak sesederhana yang dia pikirkan. Dia memang menebak kelas Reus adalah Swordmage atau Swordcaster, kelas pengguna pedang dan sihir tetapi mengingat pertarungan mereka sebelumnya, dia merasa status Str Reus terlalu tinggi untuk kelas setengah fisik dan magis itu.


Belum pula dua sosok yang identik dengan Reus sebelumnya, lalu bertambah seorang lagi yang baru saja melancarkan serangan sihir, sosok bertopeng tidak bisa menganalisis kelas maupun kemampuan Reus lagi.


Sosok bertopeng segera bersiap menghadapi serangan berikutnya namun belum sempat dia mengubah posisinya menjadi siaga, sosok seperti kembaran Reus sudah maju lebih dulu dan melayangkan enam tebasan berkabut hitam yang teramat kuat dengan kedua pedangnya.


Keenam tebasan pedang kembaran Reus itu berhasil ditahan oleh sabit sosok bertopeng dengan cukup kesulitan. Dia ingin melakukan serangan balasan tetapi seakan tak memberi celah, sosok kembar Reus tersebut segera memutar badan dan mengayunkan kedua pedangnya bersamaan.


   "Swing! Dragon Smite! Double Anchor!"


Satu serangan tersebut berhasil membuat sosok bertopeng terhempas beberapa langkah ke belakang. Dia memang sempat menahan serangan barusan namun kekuatan tebasannya sedikit lebih kuat dari dua orang sebelumnya.


Sosok bertopeng dilanda berbagai pertanyaan mengenai sosok kembaran Reus dan kekuatan mereka namun seakan kejutan belum selesai, sosok bertopeng dapat merasakan ancaman dari belakang. Benar saja, terlihat dua sosok Reus lainnya tengah melayangkan serangan lain dengan pedang.


   "Terus saja bermunculan! Memangnya kalian ini semut?!"


Sosok bertopeng melompat ke atas menghindari dua serangan berbahaya dari belakang tapi saat dia berpikir sudah menghindari serangan fatal, pandangannya menangkap sesosok bayangan terjun dari langit dengan kedua pedang berselimutkan kabut hitam sepanjang 10 meter terangkat tinggi.


   "Sunless Sky!"


Tidak bisa berbuat apa-apa di udara membuat sosok bertopeng hanya bisa mengangkat sabitnya untuk bertahan.


Sepasang pedang dan sebuah sabit saling berbenturan di atas udara menciptakan gelombang kejut serta ledakan cukup besar, mengejutkan semua orang yang menyaksikan pertarungan tersebut dari jauh.