
Saat ini Deus sedang berjalan-jalan di salah satu mall yang terdapat di kotanya. Alasan mengapa ia memutuskan untuk pergi ke mall ada dua.
Satu, ia ingin membeli jaket baru untuk memperbaiki fashion yang ia gemari. Perlu diketahui, Deus adalah penggemar fashion jaket. Entah mengapa ia sangat suka berpergian menggunakan jaket kemanapun itu dan akan merasa tidak begitu nyaman ketika tak memakainya.
Dua, Deus ingin sesekali melihat-lihat isi mall seperti kebanyakan orang pada umumnya. Untuk Deus yang dulunya memiliki masalah keuangan tentu saja ia tak berani menginjakkan kakinya di area 'bangunan suci' bagi orang-orang berkekurangan dalam finansial.
Karena keadaan finansialnya sudah membaik—jauh lebih membaik—Deus memutuskan untuk pergi ke tempat ini. Yah, ia juga sedikit bingung dengan tabungannya yang sudah menumpuk di rekeningnya dari hasil menjual Potion dan Item-Item di Orbis Forum. Selama ini ia tidak pernah memegang uang banyak sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap lembaran kertas olahan kapas tersebut.
"Ciee yang sudah bisa jalan-jalan di mall. Duit halal semua kan itu?"
"Berisik, odang."
"Apa itu odang?"
"Otak udang."
"K-kau masih belum puas mengejekku, ya?"
"Itu bukan ejekan, tapi kenyataan."
Haris tidak berkutik menanggapi balasan Deus. Bukannya tak mau, tapi ia tidak bisa. Haris memang memiliki keleletan yang luar biasa dalam bidang berpikir. Namun, mengapa ia sebenarnya bisa diterima dan masuk di universitas terkenal yang sama dengan Deus yang bahkan sampai di daerah pinggiran Indonesia pun tahu?
Meski memiliki tingkat daya paham yang rendah, Haris sangat tekun dalam belajar dan berbagai bidang yang ia kuasai atau tak ia kuasai. Bakat? Kemampuan tinggi sejak lahir? IQ tinggi? Haris sama sekali tidak mempunyai salah satu dari ketiganya.
Jika Deus—yang notabenenya merupakan salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang akademik di jurusannya—dapat paham hanya dengan satu kali, maka Haris harus mempelajari hal yang sama berulang-ulang hingga puluhan atau bahkan ratusan kali. Walau terdengar sangat berbeda, nyatanya peringkat Deus dan Haris tidak terlalu jauh berbeda di jurusan yang mereka jalani.
Deus selalu berada di urutan sepuluh besar pada jurusannya, sementara Haris tidak pernah keluar dari 30 besar di jurusan yang sama. Meski terdapat perbedaan yang cukup jauh, setidaknya Haris yang berkemamuan rata-rata tersebut berusaha sangat keras hingga mendapatkan peringkat luar biasa itu.
Ngomong-ngomong soal Haris, ia diajak oleh Deus untuk menemaninya pergi ke mall ini sekaligus memberi panduan. Haris cukup sering pergi ke mall dengan teman-teman lainnya seperti ini, itu karena pekerjaan part-time yang ia tekuni. Sebagai pribadi yang tekun dan ulet, tentu saja Haris bisa mengatur waktu dan kegiatannya agar bisa seimbang antar perkuliahan, pekerjaan, dan hiburan.
Memang terkadang Haris cukup menjengkelkan dan ceroboh, tapi dibalik itu ia memiliki sifat keras kepala dan pantang menyerah yang tinggi. Mungkin bisa dikatakan jika Haris merupakan salah satu manusia yang seharusnya ditiru oleh banyak orang.
Sambil berjalan mengelilingi bagian dalam, Deus juga melihat-lihat berbagai barang yang dipajang di balik dinding-dinding kaca dari berbagai toko di sana. Ia tak terlihat antusias, namun ekspresinya mengatakan bahwa dirinya sedang dalam mood baik.
"Ngomong-ngomong Deus, seberapa besar penghasilanmu dari menjual Item-Item di Orbis Online?"
"Ehm... mungkin kurang lebih sekitar tujuh puluh juta?"
"Demi kutil ayam pekalongan! Banyak sekali penghasilanmu!"
Deus sudah memberitahu Haris bahwa dirinyalah Reus yang sedang dibicarakan banyak pemain di Orbis Online. Reus yang saat ini terkenal di dunia Orbis Online ada dua, yaitu Reus sang Beginner's Merchant dan Reus si Mysterious Swordsman. Keduanya memang satu identitas, namun yang mengetahui hal ini hanyalah Haris seorang.
Dua julukan tersebut adalah julukan yang disematkan oleh para pemain Orbis Online untuk Reus.
"Hei, jangan keras-keras. Ini hanya pembicaraan pribadi kita berdua."
"A-ah ya, maaf."
Haris menundukkan kepalanya menatap lantai menyadari suaranya terlalu keras bagi pelanggan di mall. Melihat Haris, Deus hanya tersenyum kecil. Ternyata Haris bisa merasa bersalah seperti ini juga.
"Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau beli, Deus?"
"Ehm... mungkin perangkat elektronik seperti ponsel."
Menjawab pertanyaan Haris, Deus mengambil smartphone-nya dari saku celana dan melihatnya dengan tatapan iba.
"Uwaah, ketinggalan zaman sekali ponselmu."
Haris segera berkomentar begitu melihat smartphone milik Deus yang cukup tak layak pakai pada zaman sekarang. Tentu saja, Deus belum pernah mengganti ponselnya semenjak delapan tahun lalu dan ia terus menggunakan smartphone ini dengan segala macam fungsi yang terdapat di dalamnya.
Mendengar keluhan Haris, Deus tidak bisa berkata apa-apa mengenai komentar yang cukup menusuk tersebut. Yah, ia tidak pernah mempunyai uang banyak yang bisa ia gunakan untuk mengganti ponselnya. Meskipun ia bisa saja meminta pamannya yang mengurus dirinya dan adiknya untuk membelikan ponsel, ia tetap keberatan.
Setelah melihat kondisi smartphone Deus yang sangat ketinggalan zaman, Haris mengajak Deus ke suatu toko elektronik yang menjual smartphone. Deus hanya bisa mengikuti apa kata Haris karena ia sendiri hanya beberapa kali pergi ke mall dan tak pernah hafal rute-rute di dalam mall ini.
Sesampainya di toko smartphone yang dimaksud, Haris segera memberitahukan Deus tentang berbagai macam smartphone yang tersedia di sana—mengingat Deus tidak pernah kepikiran untuk mengganti ponselnya sehingga Haris menyimpulkan bahwa Deus tidak tahu menahu mengenai masalah ini.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu untuk memilih, akhirnya Deus mendapatkan sebuah smartphone baru yang dapat menggantikan ponsel jadulnya yang telah menemani dirinya selama delapan tahun.
"Bagus, cocok untuk zaman sekarang."
Haris mengacungkan jempolnya kepada Deus yang terlihat senang dengan ponsel barunya.
Selesai sesi membeli ponsel, Haris dan Deus kembali berkeliling mall sambil mencari apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh Deus. Bagi seorang mantan mahasiswa berkekurangan dalam bidang finansial, Deus masih belum terbiasa dengan membeli sesuatu yang ia inginkan.
Sebelumnya Deus akan membeli sesuatu yang ia butuhkan terlebih dahulu, setelahnya barulah keinginannya dipuaskan. Jangankan dipuaskan, bahkan Deus sendiri sangat jarang menginginkan sesuatu. Kebiasaan Deus yang satu ini masih sulit dihilangkan, tapi tidak bersifat buruk jadi seharusnya tak apa-apa.