
"Faro, please introduce yourself." Kata Miss Dita ramah.
Siswa tersebut mengangguk pelan tanda mengerti. "Hi everybody. My name is Alfaro Caesar Giavanno, I hope we can study together here. Thank you." Ujar Faro dengan sopan.
"Baik Faro, silahkan duduk di sebelah sana, di bangku kosong yang agak tengah itu." Pint8a bu Alya sambil menunjuk sebuah bangku.
Mendengar hal itu Sarah langsung protes, apalagi kan itu milik sahabatnya. "Loh Miss, itu bangku nya Lisa Miss."
"Nggak papa. Nanti Lisa duduk di samping nya Faro. Ayo Faro silahkan duduk."
"Baik terima kasih Miss." Faro berjalan ke arah bangku tersebut di ikuti dengan tatapan Sarah dan Mira yang tajam.
...*****...
🏠Rumah Keluarga Agrananda🏠
Rey berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat melewati ruang tamu dia melihat adik kecilnya sedang duduk sendirian sambil menulis. "Dek, Ayah sama Bunda ada di rumah nggak?" Tanya Rey.
Aqeela menoleh, "Nggak, Ayah sama Bunda lagi pergi. Emang kenapa kak?"
"Nggak kenapa-napa. Kalo Lisa udah makan belum?"
"Kak Lisa udah makan. Tadi di bikinin bubur sama Bunda."
"Oh yaudah, makasih infonya." Rey hendak beranjak, kembali melangkahkan kakinya. Namun, tiba-tiba Aqeela kembali memanggil.
"Eh kak Rey. Informasi tadi nggak gratis yah."
Rey yang sudah menduga hal ini hanya bisa tersenyum. "Trus mau nya apa?"
"Kak Rey tolong bantuin Aqeela kerjain ini. Aqeela kurang paham. Yah yah, boleh yah?" Ujar Aqeela memohon.
"Iya deh. Tunggu bentar yah kakak mau ganti baju dulu."
"Oke deh. Aqeela tunggu yah."
"hm." Rey kembali melanjutkan langkahnya ke arah kamarnya yang terletak di lantai atas. Rey membuka pintu kamar dengan pelan. Terlihat Lisa sedang nonton tv sambil makan cemilan plus rebahan di atas kasur. Rey hanya melihatnya sedetik kemudian berlalu masuk ke dalam ruang ganti dan menganti pakaiannya.
Lisa yang melihat tingkahnya yang tak seperti biasanya agak heran. Tumben si Macan tutul nggak bawel. Tumben dia nggak nanya ini itu, tumben dia nggak nyuruh ini itu. Eh tapi yah bagus lah, hidup ku bakal jadi tenang kalo kayak gini terus.
Pintu ruang ganti terbuka, Rey keluar dari ruang ganti itu dengan memakai kaos putih dan celana santai. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dia keluar dari kamar nya dan terlihat tak menghiraukan sama sekali dengan apa yang di lakukan Lisa. Kalau Lisa sih yah bodo amat, yang penting dia nggak ganggu dan nggak banyak ngomong, itu udah jadi kenikmatan dunia rasanya.
Aqeela dengan sigap langsung memperlihatkan nya pada Rey. "Ini kak, Aqeela kurang paham."
"Kurang paham atau memang nggak tau?"
"Yaaa emang nggak tau. Hehehee..." Ucap Aqeela sembari cengengesan. Aqeela merasa sangat bangga punya kakak seperti Rey, ya karena kakak nya ini selalu bisa di andalkan. Apapun yang di tanyakan oleh Aqeela pasti ada jawabannya kalo dia nanya nya sama Rey. Pokoknya Rey tau semua nya deh, Aqeela juga pernah bingung bertanya-tanya berapa sih IQ nya kakak nya ini? Dan kenapa Aqeela nggak sepintar kak Rey?! Dan masih banyak lagi pertanyaan Aqeela yang dia simpan. Bahkan kadang dia merasa iri pada kakak nya, Rey kalo penghafalan atau jawab soal kayak gini cuma sekali baca langsung ngerti. Lah Aqeela? Kudu baca ampe 5 sampe 7 kali baru bisa.
Rey terlihat memperhatikan dengan seksama, terlihat dia berpikir. "Oh jadi gini, ini sama ini di kalikan dulu, baru jumlah nya ini di kurangi dengan soal yang ini trus ini di jumlahkan lagi, nah jumlahnya ini, ini dia hasil akhirnya." Rey menjelaskan dengan rinci cara pengerjaan soal tersebut.
Aqeela tampak berpikir, berusaha keras mencerna penjelasan kakak nya.
Melihat Aqeela terdiam, Rey kembali bertanya. "Udah paham?"
Dengan pelan Aqeela menggeleng. "Nggak."
Rey menghela napas kemudian mengambil buku yang lain untuk memberikan suatu contoh. "Misalkan, ini di kalikan dengan ini, nahkan jumlah nya ini 213 trus di kurangi sama yang ini, trus..." Rey menjelaskan satu per satu agar Aqeela bisa mengerti maksudnya dengan mudah. "Gimana? Paham?" Tanya Rey lagi setelah sekian lama nya dia menjelaskan.
"Iya paham kak. Yaudah sini Aqeela mau kerjain. Kak Rey pergi aja, Aqeela udah paham." Ujar Aqeela sambil mengambil kembali buku dan pulpen nya.
"Yaudah kakak mau ke kamar dulu, kamu kerja yang bener."
"Iya iya udah sana gih."
Rey kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya. Rey membuka pintu kamar dengan pelan, dan semua aktifitas di dalam kamar itu sama saja. Lisa masih nonton sambil tiduran, kerjaan nya mah cuma gitu doang, cuma males-malesan kagak jelas banget dah. Tanpa peduli Rey berjalan masuk dan mengambil tas nya. Kemudian berjalan ke arah lemari pakaian dan memasukkan baju-baju nya ke dalam tas.
Lisa yang sedari tadi sok cuek, diam-diam melirik pada Rey. Oke, mengaku saja dia sebenarnya penasaran juga dengan apa yang dilakukan oleh Rey. Saat melihat Rey mengambil baju nya dan memasukkan nya ke dalam tas nya dirinya mulai bertanya-tanya.
Rey kenapa? Dia mau kemana? Kok kayak mau pergi gitu? Apa dia marah akibat kejadian tadi pagi? Trus sekarang dia mau kemana?
Tak tahan dengan rasa penasaran nya, akhirnya Lisa. memberanikan diri untuk bertanya. "Mau ngapain lo?" Jangan pernah ada di antara kalian yang berharap Lisa akan bertanya baik-baik. Buktinya aja sekarang dia sok cuek, dengan cara pandangan nya di arahkan di tv dan nada suara nya terdengar ketus.
Tak ada jawaban dari Rey, Lisa menoleh sekilas pada Rey yang terlihat masih sibuk dengan barang-barang nya lalu kembali menonton tv nya. Ngeselin banget sih tuh orang. Di tanya kagak di jawab, emang dia kagak punya pendengaran apa? Atau dia kagak denger? Budek dong. Emang dia mau kemana sih? Apa jangan-jangan dia marah karena kejadian tadi pagi, trus dia bakal pindah kamar? Trus nanti dia akan talak aku? Trus nanti cerai? Ha astagfirullah mikir apaan coba. Tapi kalo bener gimana? Seneng nggak yah aku, kalo sampe si Macan tutul beneran talak aku.
Pikiran Lisa terus-terusan traveling ke sana kemari, memikirkan kemungkinan apa yang akan dilakukan oleh Rey dengan barang-barang yang dia masukkan ke dalam tas nya seolah-olah dia akan pergi. Kalau beneran di talak sama Rey dia bakal seneng atau gimana? Mungkin ada sih rasa seneng nya karena kan jadi bebas tapi kalo di talak yaaa jadi janda dumz. OMG kan dia masih muda, masa jadi janda muda? Kayak judul lagu dong.
Lisa menggelengkan kepalanya, menghindari semua pikiran-pikiran negatif nya. Mencoba untuk berpikir positif saja. Pandangan matanya memang kepada tv yang menyala, tapi tidak dengan pikirannya. Apalagi saat ini terlihat Rey sedang memilih-milih baju nya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!