Love In Many Ways

Love In Many Ways
Bucin



"Tapi kalo kamu dijodohin gimana, Rey?" Tanya Vhino.


"Hayo loh, gimana tuh? Ada rencana nggak?" Tanya Lisa dengan nada meledek.


"Ehem... Ehemm, Ayye." Sarah berdehem meledek.


"Nggak mungkin lah." Sanggah Rey.


"Tapi kalo beneran gimana? Mau nggak tuh?" Seru Al.


"Widdih, kan jadi sepasang sejoli bucin-bucin, aciee ciee..." Ledek Lisa cengengesan.


"Kayak kamu nggak bucin aja sama Al..." Sarah balik meledek Lisa.


Vhino langsung bernyanyi, "Dasar bucin budak cinta ayye..." Vhino berjoget dengan santainya.


"Kalian mau ngerasain bucin juga? Ya cari pasangan lah jangan jadi jomblo terus, yakan pacar?" Ucap Al dengan santainya sambil merangkul pundak Lisa yang sedang ngemil.


Seketika Lisa terkejut dengan Al yang dengan seenaknya merangkul nya. "Al, ngak usah pegang-pegang!" Tegas Lisa, sambil melemparkan tatapan tajam pada Al.


Al menurunkan tangannya dari bahu Lisa, "Apa salah nya sih? Kan kita udah pacaran, nggak papa kali."


"Nanti di liat sama anak-anak lain. Kamu mau mereka tau hubungan kita?" Ucap Lisa dengan nada pelan.


"Biarin aja mereka tau. Kalo perlu sekalian seluruh dunia seluruh semesta tau kalo aku itu benar-benar cinta sama kamu." Sahut Al dengan mesra.


Ucapan Al membuat Lisa tersenyum. Lalu Lisa mencubit pipi Al gemas. "Ih, mulai deh."


"Aw, sakit pacar." Al mengusap pipinya sambil meringis.


"Ya maap kan gemes, ututuh... sakit yah? Sini aku usap." Lisa mengusap pipi Al yang meninggalkan bekas merah akibat cubitannya tadi.


"Bukan di sini yang sakit." Ucap Al manja.


Mereka sibuk mengobrol sampai lupa dengan para jomblo yang sedang menatap mereka.


"Trus dimana?"


"Di hati ku."


Lisa kembali mencubit perut Al, namun cubitannya pelan. "Paan sih kamu Al? Dasar reseh."


Vhino berdehem. "Ehem, di mohon untuk tidak menyebar keuwuan di tempat ini."


"Jiwa jomblo ku meronta-ronta untuk cepat-cepat menikahi Ghea" Vhino mengedipkan satu matanya pada Ghea yang sedari tadi diam saja.


Ghea hanya memberi tatapan tajam pada Vhino.


"Mohon bersabar ini ujian hidup untuk para kaum jomblo." Sahut Sarah.


Mira ikut bersuara. "Kalian nggak usah uwu- uwu di depan kita, ntar aja kalo kalian lagi berdua.


"Kok malah ngomongin aku sama Al? Kita kan tadi lagi ngomongin Rey, yaudah lanjut!" Ucap Lisa mengalihkan pembicaraan.


"Kalo misalkan kamu bener-bener di jodohin sama Ayah kamu gimana Rey?" Tanya Vhino.


"Secara kan Ayah kamu sama Papa nya Dinda itu sahabatan. Masa mereka nggak ada rencana apapun sih? Kalo mereka ada rencana buat nikahin kamu gimana? Kamu seneng atau seneng banget?Uhuhu... Pasti seneng banget, jangan lupa undang kita Rey. Kamu kan cocok sama Dinda, iyakan teman-teman?" Ucap Lisa panjang lebar.


Sarah mengangguk. "Bener tuh. Dinda kan cantik, baik lagi."


Rey hanya tersenyum menanggapi apa yang diucapkan oleh Lisa.


Seandainya kamu tau, Lis. Aku belum sepenuhnya move on dari kamu. Sulit rasanya, sangat-sangat sulit untuk sekedar melupakan perasaan ini. Apa kamu tau, Lis? Apa kamu mengerti? Atau hanya pura-pura? Aku masih sakit melihat kamu sama Al, ntah sampai kapan aku harus kayak gini.


Rey tersenyum lemah. Rey terdiam mendengar ledekan teman-temannya. Sampai akhirnya Ghea yang sedari tadi diam saja akhirnya bersuara.


"Udah deh teman-teman! Kita makan aja, nggak usah ribut-ribut!" Kesal Ghea.


Sarah yang melihat tingkah Ghea yang tak seperti biasanya, bertanya, "Kok ngegas? Kok kesal? Kamu marah? Kamu kenapa?" Tanya Sarah beruntun.


Mendengar ucapan Sarah, Ghea baru tersadar dan semakin gugup saat semua orang menatapnya heran. Pasalnya dari tadi dia hanya terdiam tak mengatakan apapun sambil memasang wajah yang datar.


"A-aku, aku cuma..."


Vhino langsung menyela ucapan Ghea membantu nya keluar dari situasi ini. "Udah deh teman-teman. Si Ghea mah emang kayak gitu, dikit-dikit kesal, dikit-dikit marah. Jadi maklumi saja yah, mending kita lanjutin aja makannya."


Al langsung teringat satu hal yang sedari tadi ingin dia ucapkan namun tak pernah sempat, "Eh, sepulang sekolah kalian nonton latihan basket kan?" Tanya nya.


Sarah langsung menjawab dengan cepat dan antusias. "Kalo aku sih, nggak disuruh pun aku bakalan nonton. Aku nggak pernah kelewat kalo soal nonton basket. Kamu nonton kan, Mira?"


"Kalo aku langsung pulang. Karena lagi nggak ada orang di rumah. Jadi mau pulang cepat." Jawab Mira.


"Yaelah. Kalo Ghea?" Tanya Sarah pada Ghea.


"Nonton aja Ghea, aku juga mau nonton. Ntar kita bareng. Oke?" Ajak Vhino.


"Nggak."


"Jangan di paksa. Ghea nggak suka di paksa." Ucap Sarah mengerti.


"Kalo Ghea nggak nonton, aku juga langsung pulang aja deh." Sahut Vhino.


"Dasar bucin." Seru Mira.


Sarah ikut meledek Vhino. "Cinta ku bertepuk sebelah tangan tapi aku balas senyum keindahan... Bertahan satu ciii-nta..." Sarah bernyayi ria.


"Males aku ngeladenin kalian."


"Pacar? Nonton kan?" Bisik Al pada Lisa.


"Nggak deh." Gurau Lisa.


"Nonton aja, pacar. Nanti kasih aku support biar aku tambah semangat."


"Aku capek. Mau langsung pulang!"


"Aku ngambek nih?"


"Yaudah iya aku nonton, tadikan aku cuma bercanda."


"Kalo gitu lopyu."


"Lopyu to."


.


.


.


Lapangan Basket🏀


Lisa dan Sarah sudah berada di atas tribun. Melihat ke arah lapangan basket dimana ada dua jagoan di sana. Siapa lagi kalau bukan Rey dan Al?


"Rey..."


"Rey..."


"Rey..." Teriakan para pendukung Rey menggelegar tiada hentinya. Semua begitu bersemangat dapat menyaksikan idola mereka tampil dalam balutan baju basket.


Sarah menyenggol Lisa, "Lis, ayo dong teriak, semangatin mereka berdua." Pinta Sarah, kemudian melanjutkan acara teriak-teriaknya.


Lisa hanya duduk memperhatikan. Menurutnya dia tidak teriak-teriak pun Al akan semangat, kedatangannya saja di lapangan basket pasti sudah membuat Al semangat. Hihii... Bisa terlihat dari lapangan kalau Al kayaknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk sesekali melihat ke arah Lisa, sambil melemparkan senyum manis nya. Sungguh sangat bucin, hemph.


"Reyy..." Teriak Sarah dengan sangat bersemangat. "Aall... Kalian bisa!"


Suara nih anak bisa merusak indera pendengaran ku. Ish, suaranya bisa dikontrol nggak sih?


Dengan kesal Lisa menutup telinganya rapat-rapat. "Sarah." Panggilnya.


Sarah tak menengok sedikitpun, dia malah tambah bersemangat berteriak-teriak histeris. Sarah tak mempedulikan panggilan itu atau memang tak mendengar nya?


"SARAH!" Teriak Lisa pada Sarah dan berhasil membuat Sarah menengok ke arahnya dengan pandangan bingung. "Kenapa?"


"Aku mau pulang yah."


"Ha? Kok pulang? Belum selesai nih." Cegah Sarah.


"Ini udah jam setengah tiga, Mommy lagi ada di rumah, ntar dia nyariin aku lagi."


"Yaudah deh, kamu hati-hati yah. Aku di sini dulu masih mau nonton."



{Si CoRe😋}



{Si Pacar yang manja😋}


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!