Love In Many Ways

Love In Many Ways
Cemburu (2)



Ngapain lo senyam-senyum?" Tanya Lisa dengan ketus.


"Ha? Nggak, nggak papa."


Lisa menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Rey. "Oh gue tau, lo suka kan sama mbak tadi? Lo suka kan sama dia makanya lo diem aja pas dia megang tangan lo? Istri lo dia apa gue? Kalo lo suka sama dia sana nikahin, jangan sama gue." Sahut Lisa kesal.


Rey menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. "Hussshh... Tenang aja, aku nggak mungkin suka sama dia jadi kamu nggak usah cemburu yah, my wife." Rey tersenyum.


"Ha? Cemburu? Eh gue nggak cemburu yah."


"Trus, tadi itu kenapa?"


"Ya gue cuma kesal aja. Gue nggak pernah cemburu tuh."


"Masa?" Goda Rey.


"Haih, udah lah. Gue mau pulang." Lisa langsung pergi begitu saja. Rey langsung menyusulnya dan berusaha menyamai langkah kakinya.


"Kita kan belum ngapa-ngapain, kok langsung pulang?" Tanya Rey.


"Bodo, males gue di sini." Lisa berjalan cepat menuju parkiran.


"Jangan gitu dong. Yuk masuk lagi, rencana nya kan kita mau jalan-jalan." Ujar Rey berusaha membujuk.


"Nggak mau! Yuk pulang, gue capek."


"Tapi Cha..."


"Nggak mau, gue mau pulang sekarang!"


Seseorang tolong tenang kan Rey agar dia tidak mengait kepala Lisa yang keras kepala dengan cangkul. Oke, tenang Rey. Turuti aja ucapan istri kecilmu.


Motor melaju saat matahari sudah tenggelam, susah tak menampakkan dirinya lagi. Posisinya kini digantikan oleh sang cahaya malam yang setia menyinari.


"Kita makan dulu yah, Cha?" Tanya Rey.


"Ha?" Sahut Lisa setengah teriak karena suara Rey hanya terdengar-dengar samar-samar di telinganya.


Rey mengurangi laju motornya, "Kita makan dulu, dari tadi siang kan belum makan."


"Terserah." Ujar Lisa dengan ketus.


Rey memberhentikan motornya tepat di samping penjual bakso urat.


"Bang, bakso nya dua mangkuk yah." Pesan Rey.


"Satu yang pedes yah, bang." Pinta Lisa.


"Nggak usah pake pedes bang." Ujar Rey.


"Aku mau yang pedes." Ujar Lisa pada Rey. "Satu mangkuk di pedesin bang." Pintanya lagi.


"Nggak usah bang."


Kalo gini mah abang bakso nya kan jadi pusing. Untung aja sabar. "Maaf mas mbak, jadi nya pedes atau nggak?"


Pedes." Sahut Lisa dengan cepat.


"Nggak." Tegas Rey.


Penjual bakso menggaruk belalang kepalanya yang tidak gatal.


"Lisa kamu nggak udah makan yang pedes-pedes." Bujuk Rey.


"Tapi gue suka."


"Tapi nggak baik buat kesehatan."


"Tapi gue suka."


"Kamu jangan makan yang pedes."


"Gue suka."


"Jangan yah sayang..."


"Gue suk-... Ha? Apa lo bilang?" Tanya Lisa. Meminta Rey untuk mengulang ucapannya tadi.


"Yaudah bang dua duanya nggak usah pedes yah." Pinta Rey.


"Siap." Jawab nya.


"He, lo bilang apa tadi?" Tanya Lisa.


"Rey gue tanya, lo bilang apa tadi?"


Rey masih tak menjawab, dia sibuk dengan hp nya.


"Lo nggak jawab, gue nggak ajak ngomong selama dua bulan!" Ancam Lisa.


"Apa sayang?" Barulah Rey memberi respon dengan pertanyaan.


"Ha? Coba ulangi?" Tanya Lisa lagi saat mendengar ucapan yang agak aneh terdengar di telinganya.


"Apa sayang?" Ulang Rey.


Lisa sontak membulatkan matanya kaget. 'Berani-berani nya si Macan Tutul manggil gue kayak gitu' Mungkin begitulah arti tatapan Lisa kepada Rey yang berusaha dia ungkapkan. Namun Rey sepertinya tidak peduli. "Sayang sayang, gue nggak suka di panggil kayak gitu sama lo."


Rey menaikkan alis kirinya. "Why? Kita kan udah nikah, apa salahnya? Istri sendiri kok." Ujar Rey dengan santai.


Dan parahnya Lisa tak bisa menyanggal lagi karena apa yang di ucapkan Rey benar adanya. "Lama-lama gue cantolin juga lo di pohon bambu!" Ujar Lisa dengan kesal.


"Silahkan dinikmati." Abang penjual nya meletakkan dua mangkuk bakso di atas meja.


"Makasih."


Lisa yang merasa lapar dengan sigap memakannya dengan rakus. Jujur saja, dia memang benar-benar sangat lapar dari tadi siang dia nggak makan dan seharian ini dia terus marah-marah dan nggak berhenti ngoceh karena adanya si Macan tutul yang selalu bersamanya. Rey melihat tingkah Lisa cuma bisa geleng-geleng kepalanya. "Pelan-pelan, ntar keselek loh."


Lisa tak mempedulikan ucapan Rey dan tetap makan dengan rakus. "Uhuk uhuk uhuk... Uhuk..."


Melihat Lisa keselek beneran, Rey dengan panik segera mengambilkan nya air minum. "ini. Ayo cepat minum." Lisa langsung meneguk air itu sampai habis.


"Kan udah di bilangin, makannya pelan-pelan aja." Ujar Rey.


"Ini gara-gara lo."


"Loh? Kenapa jadi aku?"


"Lo tadi kayak doa in gue keselek, makanya gue keselek beneran!" Sahut Lisa dengan kesal.


"Aku nggak bermaksud gitu, aku cuma ngingetin doang."


"Tapi sama aja, pokoknya kamu yang salah."


"Hem, yaudah lanjut aja makannya." Rey yang tak ingin masalah ini jadi panjang akhirnya mengalah juga. Namun, seketika acara makannya terganggu dengan suara notifikasi hp nya yang berbunyi, menandakan seseorang mengirimi nya pesan. Rey meletakkan sendoknya dan membuka pesan tadi. Dan pada akhirnya Rey sudah lupa melanjutkan makannya, dan sibuk kirim mengirim pesan dengan seseorang.


Lisa yang sedang makan melirik sekilas pada Rey. Lagi chatingan sama siapa sih? Kayaknya asyik banget.


"Rey punya gue udah habis dan gue masih mau nambah."


"Hm."


Mendengar jawaban Rey, Lisa langsung memberikan tatapan tajam yang menusuk. "Gue makan punya lo aja dah."


"Hm." Rey benar-benar sibuk dengan hp nya. Sampai-sampai tak mempedulikan istri kecilnya.


Lisa mengambil alih mangkuk Rey dan memakan bakso nya. Sesekali melihat ke arah Rey yang sedang sibuk. Pada akhirnya, Lisa juga merasa penasaran kan. "Siapa sih?" Lisa mengintip untuk melihat namun keburu di tutup oleh Rey.


"Bukan siapa-siapa."


"Kayak nya seru banget. Selingkuhan lo yah?" Tuduh Lisa.


"Apaan, bukan lah."


"Trus siapa?"


"Dari anggota OSIS doang kok."


" Awas aja kalo lo selingkuh, gue gantung lo di kamar mandi." Ancam Lisa.


"Ciee jealous..." Ledek Rey dan itu membuat Lisa agak salah tingkah.


"Ih sorry yah. Nggak usah ge-er."


"Iya deh. Udah yah, sekarang habisin makan nya cepet. Trus kita pulang, ini udah agak larut malam."


Tanpa mereka berdua sadari, abang bakso nya memperhatikan mereka berdua sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah keduanya. Bagaimana bisa mereka berdua bisa jadi sepasang kekasih? Pertanyan itu terus saja melintas di otak di tukang bakso.


Setelah selesai makan, Rey memberikan uang untuk membayarnya dan sebelum Rey dan Lisa pergi penjual bakso tersebut sempat membisikkan sesuatu pada Rey. "Sabar yah mas." Ujar nya. Dan Rey hanya tersenyum mendengar nya. Dia paham dengan maksud ucapan abang nya.


"Rey, ayo cepetan! Lama banget bayarnya." Teriak Lisa. Lisa sudah naik ke atas motor untuk segera pulang. Padahal Rey belum menyalakan motornya. Ini Rey yang mau bawa motor atau Lisa?


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!