Love In Many Ways

Love In Many Ways
Culik



Tiiingg...


Putra meraih ponsel nya yang ada di samping nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop nya.


Vanessha


Remember me?


Rey berdecak kesal saat melihat orang yang mengirimi nya pesan. Nomor dan pesan yang sama.


^^^Me!^^^


^^^Mau kamu apasih?^^^


^^^Iseng banget!^^^


Vanessha


Aku mau kamu


^^^Me!^^^


^^^Gila!^^^


"Ada apa Tuan?" Tanya asisten Putra saat melihat wajah kesal tuan nya..


"Nggak, nggak papa." Putra meletakkan hp nya kembali lalu melirik sekilas pada jam tangan nya.


"Udah sore." Gumam Putra. "Mmmm... Kamu siapin mobil, saya ingin ke rumah Mommy dulu." Pinta Putra.


"Baik Tuan." Setelah menunduk hormat asisten nya keluar ruangan untuk melakukan apa yang diperintahkan.


.


.


.


Ding... Dong...


Putra memencet bel rumah dengan pelan. Tak ada jawaban Putra kembali melakukan hal yang sama.


Ding...Dong...


Masih tak ada jawaban.


"Kayak nya dirumah nggak ada orang deh. Jam segini pasti Mommy masih kerja, tapi kalo Lisa kan jam segini udah pulang sekolah. Kemana lagi tuh anak?!" Gumam Putra sambil berpikir. "Ah iya, mungkin saja ada di rumah nya Rey."


"Kamu tunggu saya di mobil aja, saya cuma sebentar kok." Pinta Putra pada asisten mya yang senantiasa mengekorinya.


"Baik Tuan."


Tok... Tok... Tok...


Putra mengetuk pintu rumah pelan.


Cklek!


Pintu terbuka dengan pelan.


"Eh kak Putra, ada apa kak?" Tanya Aqeela.


"Lisa sama Rey ada nggak?"


"Mmm... Kak Rey sama kak Lisa belum pulang dari sekolah." Ujar Aqeela.


"Masa sih? Kok pulang nya telat banget. Biasa nya kan jam segini mereka sudah pulang."


"Aqeela juga nggak tau kak."


"Yaudah kalo gitu kak Putra pergi dulu yah." Pamit Putra.


"Eh kak Putra nggak masuk dulu?"


"Nggak usah dek. Kakak langsung pergi aja. Kamu jaga rumah baik-baik yah. Dadadahh..." Putra mengacak rambut Aqeela pelan.


"Oke kak."


Putra kembali berjalan menuju mobilnya yang terpikir di depan rumah. Jujur saja, dia sedikit khawatir dengan Lisa dan Rey yang ternyata belum pulang dari sekolah, padahal jam sudah menunjukkan pukul 16.42 tapi Putra berusaha untuk tetap tenang dan tak berpikir negatif dulu. Mungkin saja mereka berdua ada acara di sekolah makanya telat pulang. Begitulah akhirnya Putra menyimpulkan.


"Kemana kita, Tuan?" Tanya asisten nya saat baru saja Putra masuk ke dalam mobil.


"Langsung pulang." Jawab Putra.


"Baik, Tuan."


Tiiingg...


Putra mengambil handphone nya di saku jas nya kemudian melihat siapa si pengirim pesan


Vanessha


Temukan aku🙃


Nih orang maksudnya apaan sih? Nggak jelas banget.


Putra memutar bola matanya jengah. Kemudian menyimpan kembali ponselnya. Dia tak ingin peduli dengan si pengirim pesan. Putra berpikir kalo orang itu hanya iseng saja.


.


.


.


"Kamu kenapa?" Tanya Felice sembari meletakkan secangkir kopi panas di atas meja. Lalu ikut duduk di samping Putra.


"Aku khawatir sama Lisa." Putra tak bisa menyembunyikan ekspresi gelisahnya. Sedari tadi dia kepikiran terus dengan adik kecilnya.


"Emang ada apa?"


"Lisa sama Rey belum pulang sejak sore tadi, aku takut mereka kenapa-napa." Ucap Putra.


Felice menghela napas pelan, dia merasa kasihan dengan Putra. "Mungkin mereka lagi ada urusan, kamu nggak usah pikirin kamu kan capek. Kan ada Rey yang jagain Lisa. Jadi kita harus berpikir positif kalo mereka itu baik-baik aja."


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Kayak nya ada orang, bentar yah aku bukain." Ujar Felice.


Felice membuka pintu rumah dan terlihat seorang lelaki yang datang dengan napas ngos-ngosan. Lelaki itu tak lain adalah Fadil.


"Kak Putra ada, kak?" Tanya Fadil.


"Ada di dalam. Ayo silahkan masuk." Ucap Felice ramah dan mempersilahkan Fadil masuk. "Putra... Ada yang cariin!" Sahut Felice sambil kembali berjalan masuk disusul oleh Fadil fi belakang nya.


"Siapa?" Tanya Putra.


"Ini." Ujar Felice.


"Eh Fadil. Ada apa?" Tanya Putra saat melihat Fadil yang sedang berdiri di samping Felice.


"Ayo duduk dulu." Ucap Felice.


Fadil mengangguk mengerti, kemudian duduk di sofa berseberangan dengan Putra.


"Ada apa? Tumben ke sini malem-malem."


Fadil terlihat menghela napas berat, kemudian berkata, "Kak Putra. Lisa sama Rey di culik." Ucap nya to the point.


"APA?!" Ucap Putra dan Felice bersamaan.


"Haih, kamu yang bener aja jangan bercanda dong." Putra masih tak percaya.


Fadil menatap Putra serius, "Serius kak. Aku nggak lagi bercanda. Kalo aku bercanda mana mungkin aku ke sini malem-malem."


Putra terlihat sangat terkejut. "Jadi bener? Kamu nggak bercanda kan?"


"Ya Allah kak, serius."


"Tau darimana?" Tanya Felice.


"Faro yang ngasih tau aku. Kata nya tadi pagi pas mau berangkat sekolah dia liat Rey sama Lisa dicegat sama beberapa lelaki bertopeng di tengah jalan. Faro udah berusaha bantu tapi nihil dia nggak berhasil, dan Lisa sama Rey di bawa pergi sama lelaki bertopeng itu." Jelas Fadil.


"Seharian ini aku udah cari mereka kemana-mana sama teman-teman aku. Tapi aku sama sekali nggak nemuin mereka, jadi aku langsung kesini." Sambung Fadil.


Putra terlihat berpikir, "Bentar, Faro itu siapa?"


"Teman aku kak. Ah itu nggak penting. Jadi sekarang kita harus ngapain kak?"


Putra dan Felice terlihat berpikir. "Gimana kalo kita lapor polisi aja?" Tanya Felice.


"Sabar dulu. Kita nggak bisa asal lapor, harus menunggu 24 jam baru laporan bisa diterima." Ucap Putra.


"Tapi Putra. Ini mereka dalam bahaya loh, aku nggak mau mereka kenapa-napa." Sahut Felice panik.


"Iya aku tau. Aku juga khawatirin mereka." Sahut Putra.


"Putra gimana ini? Kalo mereka di apa-apain gimana? Kalo mereka nggak di kasih makan gimana? Putra aku takut kalo..." Felice mulai tak terkontrol.


"Sayang kamu diem dulu yah. Ini aku juga lagi mikir ini, aku juga sama khawatir nya."


"Kita harus bertindak sendiri. Gimana caranya agar mereka bisa cepat ketemu?" Gumam Fadil.


Semua terdiam dan berusaha berpikir. Memikirkan jalan keluar dari masalah saat ini.


Drrttt... Drrttt...


"Bentar, Mommy telpon." Ucap Putra. "Halo, Mom."


"Halo. Kamu liat adik kamu nggak? Mereka berdua belum pulang dari sekolah. Ini udah malem kok mereka pulang kerumah?"


"Mmmm.... Mom. Lisa sama Rey..." Putra merasa was-was apakah dia harus memberitahu atau tidak. Dia takut Mommy nya akan syok bila mendengarnya.


"Kenapa? Ngomong nya yang jelas dong, nak.Mommy cemas ini."


"Mereka di culik, Mom."


"APA?"


"Mereka berdua di culik, Mom. Maafin Putra."


"Putra. Kamu jangan bercanda dong."


"Putra serius, Mom. Mommy tenang yah, Putra akan berusaha nemuin mereka berdua secepatnya."


"Mommy, kesana sekarang."


"Kenapa Rey? Mommy nggak kenapa-napa kan?" Tanya Felice yang masih saja khawatir.


"Kata nya Mommy mau kesini." Jawab Putra pelan.


Sementara Fadil hanya diam dan sibuk mengotak atik ponselnya. Berusaha untuk mencari keberadaan Lisa. Dia menanyakan pada semua teman-temannya tapi tetap saja tak ada yang tau.


"Kak Putra, sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Fadil.


"Ini sudah larut malam, nggak mungkin kita cari mereka sekarang. Kita istirahat saja dulu. Besok kita susun rencana untuk mencari keberadaan mereka."


Fadil mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Yasudah kalo begitu Fadil pulang dulu yah, kak. Besok pagi kesini lagi." Ucap Faro berpamitan.


"Kamu nginep aja disini. Jadi kamu nggak usah bolak-balik lagi." Ujar Felice.


"Iya kamu nginep aja." Sambung Putra.


"Yaudah deh, kak. Ntar aku kasih tau Mama sama Papa."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!