
"Felice mau bantu Mom!" Ucap Felice.
"Yaudah sini kak, sama Lisa aja." Lisa menarik tangan Felice ke arah dapur.
Kemudian mereka semua melanjutkan pekerjaan masing-masing.
"Mom, ini mau di apain?" Tanya Putra.
"Itu, simpan aja di kulkas. Nggak ke pake juga." Jawab Mommy.
"Wah... Kak Felice jago masak ternyata." Ucap Lisa kagum. Saat melihat Felice yang dari tadi mondar-mandir mengambil bahan-bahan lalu mencampurnya menjadi satu.
"Ah nggak kok. Cuma tau dikit aja." Ucap Felice.
"Ya harus jago dong. Menantu Daddy harus jago masak kayak Mommy." Sahut Daddy.
"Hehee..."
"Putra, kamu bawa ini ke halaman belakang rumah." Pinta Mommy.
"Biar ku bantu." Sahut Felice.
Putra dan Felice berjalan ke halaman belakang rumah.
Tok.. Tok..Tok...
Suara seseorang mengetuk pintu rumah. Bel rumah sedang macet, makanya nggak bisa di pake.
"Lisa, tolong buka pintunya nak!" Pinta Mommy.
"Iya Mom!"
Lisa berjalan dari arah dapur menuju pintu rumah.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu lagi.
"Sebentar!" Sahut Lisa dengan sedikit berteriak.
Cklek...
Pintu terbuka. Dan terlihat lah Rey bersama keluarga nya.
"Bunda." Lisa memeluk Bundanya Rey dengan senang.
"Eh, Lisa. Udah lama yah nggak ketemu." Bunda membalas pelukan Lisa dengan hangat.
"Ayah." Lisa ganti memeluk Ayahnya Rey.
Ayah balas memeluk Lisa. "Kangen yah? Kamu sih udah lama nggak ke rumah. Ngapain aja?" Tanya Ayah.
Lisa melepas pelukannya. "Nggak ngapa-ngapain kok Yah."
Saking seringnya Lisa ke rumah Rey dulu, Lisa sangat akrab dengan keluarga Rey. Bahkan Lisa sudah di anggap sebagai anak oleh Ayah dan Bunda nya Rey.
"Hai, Aqeela." Lisa kemudian menyapa Aqeela.
"Hai."
"Rey." Sapa Lisa. "Semuanya ayo masuk!" Kemudian mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah.
"Lisa... Siapa nak?" Sahut Mommy sambil berjalan ke arah ruang tamu.
"Eh, ada Ibu Mauri. Silahkan duduk." Sapa Mommy.
Mommy kemudian ikut duduk dan berbincang-bincang dengan mereka.
Lisa kemudian berjalan ke arah dapur dan memberitahu Daddy nya.
"Dad... Ada kelurga Agrananda." Ucap Lisa dengan nada berbisik.
"Bener?"
"Iya Dad. Daddy mendingan ke sana deh."
"Ya udah kamu selesaiin ini yah. Tinggal di potong-potong aja." Pinta Daddy.
"Siiapp."
Daddy pun menghampiri mereka di ruang tamu.
Lisa sibuk mengerjakan pekerjaan yang Daddy suruh dengan cekatan.
"Hoii Bolot, di depan ada siapa?" Tanya Putra yang baru saja datang bersama Felice dari halaman belakang rumah.
"Nggak tau tuh Kang, mungkin Debt Collector. Hahaa..." Ucap Lisa sambil tertawa.
"Kang king kang kung, sembarangan. Manggil nya bisa lebih bagus dikit nggak? Emang kakak Akang-akang." Kesal Putra.
"Yang mulai duluan siapa? Yang manggil Lisa 'Bolot' yang duluan siapa?" Ucap Lisa tak terima.
Felice hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Iya deh. Maafin yah sayang. Emang yang di depan itu siapa sih?"
"Keluarga Agrananda." Jawab Lisa.
"Oh."
.
.
.
"Wahh, Rey udah tambah tinggi yah sekarang." Ucap Daddy saat melihat Rey.
Rey hanya tersenyum menanggapinya.
"Iya, sampe kita nggak bisa ngenalin loh. Kan udah lama nggak ketemu. Rey kok udah jarang ke sini yah? Kenapa?" Tanya Mommy.
"Nggak papa Mom. Emang lagi males keluar rumah aja." Jawab Rey sambil tersenyum.
"Aqeela juga tambah cantik yah." Ucap Mommy.
"Hehee... Makasih Mom." Ucap Aqeela sambil tersenyum.
"Lisa sama Rey satu sekolah kan?" Tanya Daddy.
"Iya, mereka satu sekolah." Jawab Ayah nya Rey.
"Tapi beda kelas." Ujar Rey.
"Kalo Rey masuknya ke IPA. Lisa mungkin IPS yah?" Tanya Bunda.
"Iya. Lisa suka nya yang bersejarah gitu. Soalnya suka mengenang masa lalu. Makanya masuknya ke IPS." Ucap Mommy.
Keluarga Hariwijaya dan Keluarga Agrananda memang sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka sudah berteman lama sekali. Jadi tak heran jika mereka begitu akrab. Mereka sudah saling menganggap sebagai keluarga.
Rey yang melihat Lisa ke dalam pun berinisiatif untuk menghampirinya.
"Mmm... Dad, Mom, boleh nggak Rey ke sana? Sekalian bantu-bantu." Ucap Rey meminta izin.
"Iya boleh. Ke sana aja, Lisa nya ada di sana kok." Ucap Mommy.
"Yaudah, Rey kesana yah." Rey berdiri dari duduknya dan berjalan ke sana.
"Aqeela ikut."
Rey dan Aqeela berjalan ke arah dapur.
"Hai kak Putra." Sapa Rey saat melihat Putra.
"Eh Rey. Sini bantu kakak." Ucap Putra pada Rey.
"Iya kak."
"Aqeela sini!" Panggil Lisa saat melihat Aqeela hanya berdiri tak tau harus apa.
"Siapa nih kak?" Tanya Rey saat melihat Felice.
"Calon kakak ipar kita Rey!" Sahut Lisa sebelum Putra menjawab.
"Sekaligus pendamping hidup kakak. Ibu dari anak-anak ku nanti. Heheee..." Ujar Putra cengengesan.
"Paan sih." Felice memukul Bahu Putra ringan.
Felice mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rey. "Felice!"
Rey membalas uluran tangan Felice. " Rey"
"Udah nggak usah lama-lama. Ntar kamu jatuh cinta loh." Ucap Putra pada Rey.
"Ah nggak kok kak. Nggak mungkin lah Rey nikung kak Putra." Ucap Rey.
"Ya... Siapa tau." Kata Putra.
"Ini... adik mu juga?" Tanya Felice pada Putra.
"Bukan. Ini tetangga sebelah. Tapi udah kayak keluarga, orang tua mereka akrab sama Daddy Mommy, jadi otomatis kami juga akrab dong." Ujar Putra. "Udah ku anggap adikku juga."
"Oh." Felice manggut-manggut tanda mengerti. "Kalo yang ini?" Tanya nya saat melihat Aqeela di sebelah Lisa.
"Itu, adik ku." Jawab Rey.
"Manis nya..." Ucap Felice.
"Aqeela, Salaman dong sama kak Felice." Pinta Lisa.
Aqeela menyalami Felice. "Aqeela."
"Felice."
"Udahkan? Ya udah, Rey! Bantu kakak siapin meja sama kursi di halaman belakang rumah." Kata Putra.
"Oke."
Putra dan Rey ke halaman belakang rumah, sedangkan Lisa, Felice dan Aqeela berada di dapur. Untung saja Felice jago masak. Lisa juga bisa masak, karena sering di ajarin sama Mommy nya.
"Kak Felice, Lisa anterin minum dulu yah ke depan." Lisa sudah membuat minum untuk semua orang di ruang tamu.
"Iya."
Lisa kemudian berjalan sambil membawa nampan yang berisi minum untuk tamu yang ada di ruang tamu. Lisa meletakkannya di meja didepan mereka.
"Di minum! Ayah, Bunda." Ucap Lisa.
"Iya. Makasih nak."
Lisa berlalu pergi kembali ke dapur untuk membantu Felice lagi.
Tak berapa lama Mommy dan Bunda datang ke dapur, katanya mau bantu-bantu. Sementara Daddy dan Ayah ada di ruang tamu masih berbincang-bincang.
Saat melihat Felice, Bunda heran. "Ini siapa?" Tanya nya.
"Calon menantu dong." Ucap Mommy.
"Waahh... Cantik yah."
Felice menyalami Bunda. "Felice, Tante."
"Putra nggak salah pilih nih."
"Iya dong." Kata Mommy sambil tersenyum.
"Lisa, ini makanan nya di bawa ke halaman belakang nak!" Pinta Mommy saat sebagian makanan sudah jadi.
"Oke."
"Aqeela bantu yah kak." Aqeela ikut membantu Lisa membawakan makanan kebelakang.
Saat sampai dihalaman belakang semua sudah tertata rapi.
"Loh? Kak, kok malah tinggal main game sih. Bantuin dong!" Ucap Lisa. Saat melihat Putra dan Rey malah asyik mabar.
"Kamu kerjain dulu deh, ntar kakak bantu. Lagi asyik nih." Ujar Putra.
"Jangan lama-lama."
"Iya deh."
Lisa dan Aqeela kembali ke dapur lagi untuk mengambil makanan yang harus dibawa ke halaman rumah belakang.
.
.
.
Semua sudah hampir selesai dan para saudara dan kerabat Daddy dan Mommy pun sudah banyak yang datang.
"Mom, ini diapain?" Tanya Lisa.
"Masukin aja di kulkas, ntar kalo perlu baru diambil."
"Oke."
Para tamu sudah ada di halaman belakang rumah. Dan sebagiannya lagi ada di ruang tamu. Lisa, Felice, Putra, Rey, Aqeela, Mommy dan Bunda sudah sangat sibuk mengurus ini dan itu. Sedangkan Daddy dan Ayah sibuk menyapa para tamu.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!