
"Kenalin nama ku Zidan, ganteng manis dan imut sejagat raya!" Ucap Zidan dengan pede nya sambil mengulurkan tangannya didepan Lisa.
Lisa membalas uluran tangan tersebut sambil tersenyum. "Lisa."
"Kalo aku Dion, ganteng baik hati dan rajin menabung se isi semesta!" Dion mengulurkan tangannya juga.
"Lisa."
"Mbak!" Putra memanggil penjaga toko itu.
"Saya beli ini semua yah!" Putra menunjuk semua pakaian yang sudah dia pilih tadi.
"Baik Mas, Tunggu sebentar yah!" Penjaga toko itu membungkus semua yang sudah dipilih oleh Putra.
"Abis ini kalian mau kemana?" tanya Dion.
"Makan!" Jawab Putra singkat.
"Yaudah bareng aja. Kita juga mau makan." Kata Zidan dengan semangat.
"Okee."
.
.
.
"Sumpah, adek kamu cantik bener." Kata Dion. Mereka sudah duduk menunggu makanan yang sudah mereka pesan.
Lisa hanya tersenyum menanggapinya karena selama ini sudah banyak yang mengatainya cantik. Dia bahkan mencapai predikat 'Siswi Paling Populer' di sekolahnya. Karena dia tidak hanya cantik tapi juga pintar. Banyak yang iri dan menyaingi Lisa karena Lisa selalu jadi nomor satu. Tapi dia tak ambil pusing akan hal itu. Lisa hanya sedikit tidak nyaman dengan predikat itu.
"Ya iyalah kakaknya ganteng adiknya cantik. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. Hahaa..." Putra tertawa mendengar ucapannya sendiri.
"Iya deh. Aku yakin pasti banyak yang ngantri buat adikmu. Eh ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum?" Tanya Zidan kepada Lisa.
"Kalo belum boleh kan aku ngedaftar buat calon. Hehee..." Sahut Dion sambil cengengesan.
Mendengar kata 'pacar' Lisa langsung teringat pada Rey.
Sebelum Lisa menjawab, Putra keburu bicara. "Nggak lah. Dia nggak pernah ngomong apa-apa tuh sama aku. Lagian kalo dia pacaran tanpa ngasih tau aku, aku nggak bakal restuin hubungannya."
"Siapa ello?!"
"Permisi." Tiba-tiba datanglah seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka tadi.
"Wahh akhirnya datang juga. Ada yang berbaik hati hari ini? Buat traktir?" tanya Dion.
"BBS!" Sahut Zidan dengan cepat.
"Ha?"
"Eh. 'Bayar-Bayar Sendiri' maksud nya." Jawab Zidan.
"Ohh."
"Yaaa kok gitu sih. Nggak seru banget." Dion mengeluh.
...*****...
🏠Rumah Keluarga Agrananda🏠
Rey sedang duduk di ruang keluarga sambil memetik senar gitar.
Aqeela datang menghampiri Rey."Kak Aqeela mau kerumah teman yah. Mau kerja tugas!"
"Dimana?"
"Deket kok. Aqeela cuma naik sepeda. Yah... kak, boleh yah!"
"Yaudah tapi jangan lama-lama, awas loh!" Ancam Rey.
"Iyya. Yaudah Aqeela pergi yah kak."
Piiingg...
Suara notifikasi hp Rey membuatnya beralih pandangan ke arah hp nya.
The Fantastic Three017🤪🌈🏴
Ghea Laknat🤪🌈🏴
@Rey. Lagi ngapain?
Sini deh!
Vhino Bacot🤪🌈🏴
Iyya, buruan.
^^^Me!^^^
^^^Kemana?^^^
Ghea Laknat🤪🌈🏴
Nonton bioskop. Kita tunggu
di pintu masuk.
Vhino Bacot🤪🌈🏴
Buruan.
^^^Me!^^^
^^^Tapi gue males keluar.^^^
Ghea Laknat🤪🌈🏴
Nggak bisa. Kamu
harus ikut. Udah buruan
ke sini. Kita tunggu sampai
kamu dateng.
Huft...
Rey menghela nafas berat. Lalu beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar. Dia mengambil jaketnya dan hendak beranjak keluar kamar. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dia baru ingat sesuatu.
Loh! Kan aku udah pacaran sama Lisa. Kok aku bisa lupa yah. Dia lagi ngapain yah? Aku bilang nggak yah ke dia kalo aku mau keluar? Mmm... Nggak usah deh kan cuma bentar doang.
Setelah berfikir keras, Rey melanjutkan langkahnya keluar.
.
.
.
🏭Gedung Bioskop🏭
"Eh itu Rey!" Ghea menunjuk Rey yang sedang berjalan sambil celingukan mencari temannya.
"Mana?"
"Yang itu. Itu tuh!"
Oh iya. Reeeyy!" Panggil Vhino.
Merasa dipanggil Rey menoleh.
"Sini!"
Rey berjalan ke arah mereka berdua.
"Lama bener sih. Aku sampe lumutan nungguin nya loh." Ucap Vhino.
"Yaudah yuk masuk." Ajak Ghea. Mereka pun berjalan masuk.
"Kita nonton apa yah?" Tanya Vhino.
"Mmm... gimana kalo AADC aja." Ghea memberi saran.
"Paan tuh?"
"AADC. 'Ada Apa Dengan Cinta' Hehee!" Jawab Ghea.
"Ahh nggak ah. Aku nggak suka itu, gimana kalo The Call of the Wild?" tanya Vhino.
"Yang itu aja." Rey menyetujui saran Vhino.
"Nngak mau. Disini yang nentuin aku, yang kasih peraturan aku. Jadi kita nonton film... mmm... film Dilan 1990, ahhh bikin baper aja. Ah nggak ah kita nonton Yowis Ben aja." Ucap Ghea dengan semangat.
"Yee kamu mah film nya itu itu aja. Film bucin. Nggak ada yang lebih seru apa? " Vhino protes dengan pilihan Ghea.
"Ini yang paling seru. Kita nontonnya ini aja."
"Mmm... yaudah kalo gitu kalian beli tiket. Aku beli makan sama minum. Okee." Vhino sudah akan melangkahkan kakinya pergi namun kemudian terhenti.
"Eitsss tunggu dulu. Kan yang janji katanya yang bakal bayarin semua itu kamu. Jadi yang beli tiket itu kamu, yang beli makan sama minum juga kamu. Aku sama Rey tinggal nunggu aja." Kata Ghea dengan entengnya.
"Huh. Enak bener yah hidup mu. Nyesel juga sih aku kalo kayak gini." Gumam Vhino.
"Apa? Kamu bilang apa?" Tanya Ghea saat mendengar Vhino bergumam tidak jelas.
"Ah nggak kok. Aku cuma... Yaudah aku pergi dulu. Daah." Vhino langsung pergi begitu aja.
"Rey, yuk duduk. Nunggu Vhino dulu."
Rey mengangguk lalu kemudian ikut duduk di sebelah Ghea.
"Mmm... Rey. Aku boleh nanya nggak?" tanya Ghea.
"Boleh." Ucap Rey.
"Kamuu.. udah jadian kan sama Lisa?"
"Iya?"
"Mmm... Kok bisa kamu jadian sama Lisa?" Tanya Ghea dengan ragu.
Ghea dan Vhino memang tidak tau kalo Rey sebenarnya akrab dengan Lisa. Karena sudah lama sekali semenjak SMA Rey nggak pernah kerumah Lisa lagi ataupun ngajak Lisa bicara. Dulu pas masih SMP hampir tiap hari Rey ke rumah Lisa untuk bermain ataupun belajar bareng.
"Aku kasih tau kamu, tapi janji yah kamu nggak bakal ngasih tau siapa-siapa!"
"Janji!"
"Hmm... Sebenarnya aku tuh udah lama suka sama Lisa. Tapi.. tapi aku kira kalo dia nggak suka sama aku, jadi aku berusaha buat menahan perasaan ini dan berniat untuk buang perasaan ini jauh-jauh. Pada akhirnya Al teman satu kelas Lisa datang ke rumah suatu hari dan cerita sama aku kalo Lisa tuh sebenarnya suka sama aku. Awalnya sih aku nggak percaya tapi ternyata Al bawa bukti dan pada akhirnya aku percaya kalo ternyata dia suka juga sama aku dan aku memutuskan untuk menyatakan perasaan ku ini." Rey menjelaskan panjang lebar. Sebenarnya Rey itu tipe orang yang tidak suka ngomong terlalu banyak, tapi ntah kenapa kalo menyangkut Lisa dia bisa ngomong tanpa rem.
Ghea mengangguk-nganggukkan kepalanya paham. "Ohh.. jadi gitu. Tapi gimana ceritanya kamu bisa suka sama Lisa? Maksud nya kok bisa? Bukannya selama ini kamu sama Lisa nggak saling kenal yah? Selama ini aku nggak pernah tuh ngeliat kamu ngajak Lisa ngomong? Walaupun kalian tetanggaan."
"Kalo itu.. sebenernya dulu tuh aku akrab banget sama Lisa pas masih SMP. Hampir setiap hari aku kerumahnya. Ke sekolah pun kami bareng-bareng. Tapi setelah aku ngerasa kalo aku suka sama Lisa. Yahh, aku ngejauh gitu dari Lisa karena dulu tuh aku takut kalo aku terus-terusan sama Lisa nanti perasaan ini malah makin lebih besar gitu dan aku takut ditolak jadi aku memutuskan untuk menjauh dari Lisa. Selama SMA aku nggak pernah sekalipun ngajakin dia ngomong makanya kami kayak nggak saling kenal gitu."
"hmmm. Jadi gitu." Ghea merasa dalam hatinya merasakan rasa cemburu. Sebenarnya selama ini dia menyukai Rey, tapi sama sekali nggak berani menyatakan rasa sukanya karena merasa takut Rey akan menolaknya dan persahabatannya akan hancur.
"Aku cerita sama kamu, karena aku udah anggep kamu saudara. Jadi kamu jangan ngecewain aku." Pesan Rey.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!