Love In Many Ways

Love In Many Ways
Takkan Terulang



Lisa baru teringat dengan Rey. Oh iya yah, Rey apa kabar sekarang? Kok dia udah nggak ada kabar yah? Sekarang lagi ngapain yah dia? Dinda pasti terus saja nempel-nempel sama Rey, apalagi kan nggak ada yang ganggu.


Ia kemudian membuka riwayat chat nya dengan Rey. Iseng-iseng Lisa membaca satu per satu pesan dari Rey. Ntah kenapa sekilas dia merasa merindukan perhatian dari si Macan tutul. Semua pesan yang di kirim oleh Rey dari paling awal sampe paling bawah tak pernah dia balas sekali pun, dia hanya membaca nya sekilas kemudian mengabaikannya.


Tapi kenapa sekarang Rey sudah tak pernah mengirimi nya pesan? Terakhir Rey mengirim pesan saat siang di sekolah tadi. Tapi sekarang? Sekarang sudah tak ada lagi notifikasi darinya. Itu aneh menurut Lisa. Biasa nya kan kalo Rey mengirim pesan pada Lisa dan tak kunjung di balas, sejam kemudian Rey akan mengirim pesan lagi. Ntah itu menanyakan kesehatan, keselamatan, atau apapun lah yang pasti Rey akan khawatir. Tapi sekarang kenapa? Atau Rey lagi sibuk? Ah ntahlah.


Terlintas suatu pemikiran di benak nya, serasa dia ingin membalas pesan dari Rey yang terakhir. Namun dia juga bingung, ntar Rey malah jadi ge-er lagi. Lisa melangkahkan kaki nya ke arah balkon, lalu duduk di atas ayunan sembari menatap langit gelap di luar sana. Balas nggak yah? Tapi... Kan pesan nya udah dari tadi siang. Tapi...


Sekarang Lisa lagi memikirkan, apa dia harus membalas pesan dari Rey atau tidak, jujur saja saat ini Lisa sedang dalam perasaan tak menentu. Ntah kenapa dia harus jadi susah-susah memikirkan suatu hal tentang Rey. Ia jadi kepikiran tentang Rey, bahkan dia kepikiran soal perubahan sikap Rey sekarang. Menurutnya, Rey yang sekarang sangat beda jauh dari saat pertama mereka menikah. Rey yang sekarang lebih dingin dan cuek, yah meskipun masih ada perhatian nya sih tapi tak seperti dulu lagi.


Lisa menghela napas berat, dia menyandarkan kepalanya pada ayunan tersebut lalu memandang ke arah luar sana. Menatap langit yang gelap segelap hati nya saat ini. Perlahan ia mengayun dirinya dengan pelan sambil memejamkan matanya dengan pelan.


~Resah Jadi Luka~


Ku menemukanmu saat ku terjebak


Di situasi yang membuatku resah


Kau merangkulku di saat yang lain menindasku


Ingin rasanya aku selalu bersamamu


Tapi mengapa tiba-tiba seakan kau pergi


Melepas rangkulanmu dan berhenti melindungiku tanpa sebab


Mungkin alam semesta tak menerimanya


Dan waktu tak memberi kesempatannya


Tapi setidaknya kau telah merubahku


Dari resah menjadi luka


Ku menemukanmu saat aku terjatuh


Ke dalam ruang yang penuh kepahitan


Kau melindungiku di saat yang lain menyerangku


Ingin rasanya aku melihatmu di setiap langkahku


Tapi mengapa tiba-tiba seakan kau pergi


Melepas rangkulanmu dan berhenti melindungiku tanpa sebab


Mungkin alam semesta tak menerimanya


Dan waktu tak memberi kesempatannya


Tapi setidaknya kau telah merubahku


Dari resah menjadi luka


Menunggu alam semesta menerima


Dan angin membawakan jawabannya


Karena detak jantung dan nadiku akan selalu


Merindukanmu


...*****...


Pagi Hari🌄🌞


Lisa menatap bayangan nya di cermin sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdrayer dengan pelan. Huh, hari yang di penuhi dengan kesepian. Rasa nya benar-benar sepi saat tak ada Rey di rumah. Tak ada yang ngomel, tak ada yang suruh ini itu, tak ada yang larang ini itu, sepi rumah tuh.


Haih, udahlah nggak usah banyak mikir. Mending aku kerumah sebelah, kangen aku tuh sama kamar ku yang indah.


Dengan mengunakan baju kaos rumahan, Lisa berjalan menuruni tangga. Hari ini adalah hari minggu jadi yah sekolah libur lah.


"Kak Lisa. Kak Lisa mau kemana?" Baru aja Lisa ingin membuka pintu rumah, sahutan Aqeela menghentikan pergerakannya.


Lisa berbalik dan melihat Aqeela. "Mau ke rumah sebelah, Dek."


"Oh yaudah." Aqeela terlihat menjatuhkan dirinya di atas sofa.


"Yaudah kalo gitu kamu jagain rumah yah. Kakak cuma sebentar kok." Sahut Lisa agak keras.


"Iya iya." Teriak Aqeela dari ruang tengah.


Lisa berjalan dengan santai nya menuju ke rumah nya yang dia rindukan. Rumah yang sudah agak lama tak dia tempati, rumah yang menjadi tempat bernaung nya, di rumah itu dia selalu bisa tertawa bahagia, dan rumah yang dia tempati untuk berkumpul bersama dengan semua keluarga nya.


Lisa membuka pintu dengan pelan. Seperti dugaan nya, rumah sepi tak berpenghuni. Tapi yah tetap bersih, karena ART nya sering bolak-balik untuk membersihkan nya, kalo semua ruangan di rumah sudah bersih maka ART tersebut akan pulang ke rumah nya. Lisa melangkahkan kaki nya pelan masuk ke dalam rumah, berjalan dengan pelan dia mulai mengamati setiap ruangan dengan seksama. Serpihan-serpihan suasana yang dia rindukan mulai kembali berputar di otak nya. Mulai dari ruang keluarga, tempat saat dia berkumpul dan mengobrol sampai dengan dapur tempat saat dia dengan satu keluarga nya memasak bareng. Sungguh itu kehidupan yang sangat indah bagi nya. Saat-saat yang dia rindukan dan saat-saat yang tak akan pernah dia lupakan sampai kapan pun.


Sekarang semua telah berubah, Daddy yang selalu memanjakan nya dan tempat nya berlindung kini sudah tak ada lagi. Mommy yang selalu dia banggakan, dan Mommy yang selalu dia jadikan panutan dan contoh, sosok yang hangat itu kini berada di luar kota. Sedang sibuk mengurus semua bisnis nya. Dan yang terakhir, kak Putra. Kakak yang selalu jadi tempat dia bercerita, yang selalu menjaga nya dan terkadang membuatnya kesal, kini sudah terlalu sibuk dengan semua urusan nya. Dia sibuk mengurus perusahaan Daddy dan kini dia tinggal di rumah mertua nya.


Keluarga yang saat ini dia rindukan, kini tengah sibuk. Mungkin saja kebahagiaan dulu tak akan pernah dia rasakan kembali. Kehangatan yang di berikan keluarga nya mungkin saja tak ada dua nya.


Tanpa dia sadari, setetes air mata mengalir dengan pelan dari pelupuk matanya. Membayangkan semua kebahagiaannya dulu membuat Lisa tak ingin berada di situasi seperti sekarang ini. Tapi apalah boleh buat, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah. Yah dia hanya bisa berharap. Suatu saat nanti semua akan indah. Lisa menaiki tangga, menuju ke arah kamar nya.


Lisa membuka pintu kamar nya, dan menatap seantero ruangan itu. Tak ada yang berbeda, semua masih sama. Barang-barang nya juga masih lengkap. Lisa merebahkan dirinya di atas kasur dan menatap langit-langit kamar nya. Begitu banyak kenangan yang telah dia lalui di dalam rumah ini. Mulai dia kecil sampai sebesar ini. Perlahan air matanya kembali menetes, kali ini lebih deras dari sebelum nya. Dia menangis tak mengeluarkan suara sama sekali, hanya kelopak matanya yang terus saja meneteskan air mata. Dan membasahi pipi serta telinga nya dengan pelan.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!