
"Dia udah buat Lisa pingsan Pak. Kepala Lisa kena bola basket karena dia yang kena Pak! Saya sebagai lelaki nggak terima sama perlakuan dia kepada Lisa!" Ucap Al dengan tegas.
"Tapi aku nggak sengaja."
"Nggak sengaja gimana? Jelas-jelas kepala Lisa kena bola. Bagian mana nya yang nggak sengaja? Ha?" Nada suara Al semakin meninggi. Al benar-benar marah, sangat-sangat marah. Dia tak akan pernah terima wanita nya di sakiti, apapun alasannya.
"Kebetulan aja dia lewat. Dan saat itu aku lagi umpan nin teman aku bola tapi teman aku itu nggak nangkap, trus bola itu kena Lisa!" Jelas Gino.
"Aku nggak pernah percaya dengan yang nama nya kebetulan. Kenapa harus main basket segala sih? Saat itu kan lagi jam istirahat?"
"Kan hari ini jam olahraga untuk kelas saya kan Pak? Jadi terserah saya mau basket saat jam istirahat, kan nggak papa." Sahut Gino.
"Sudah cukup!" Bentak Pak Rudi saat melihat Al dan Gino malah adu mulut.
"Hei kamu, sini!" Panggil Pak Rudi pada seorang siswa yang sedang berada di ruangan itu, tampak nya dia sedang mencari sesuatu.
Siswa itu mendekat. "Ada apa Pak?" Tanya nya.
"Kamu ngapain?"
"Saya di suruh sama Bu Ria untuk ambil dokumen nya Pak." Jawab siswa tesebut.
"Oh. Itu dokumen nya dalam lemari pintu sebelah kanan warna map nya warna biru, nanti kalo udah selesai tolong kamu panggilkan Lisa, Lisa kelas 11 IPS 5 suruh dia datang ke sini!" Pinta Pak Rudi.
"Baik Pak!" Siswa tersebut berjalan membuka lemari dan mengambil dokumen yang dimaksud, kemudian berlalu pergi.
.
.
.
Beberapa menit kemudian...
"Permisi Pak, ada apa yah?" Tanya seseorang dari arah pintu ruangan. Semua yang berada di dalam ruangan langsung berbalik dan melihat Lisa sedang berdiri di sana.
"Masuk!" Pinta Pak Rudi.
Lisa yang mendengar perintah Pak Rudi masuk dengan perasaan was-was.
"Apakah benar tadi kamu pingsan gara-gara kena bola basket? Dan jika memang benar, apakah Gino yang melakukan nya? Dan, apakah dia sengaja?" Tanya Pak Rudi beruntun.
Lisa yang mendapat pertanyaan demikian, merasa agak gugup. "Be-benar Pak. Saya, saya tadi pingsan gara-gara kena bola basket. Tetapi saya tidak tau siapa yang melakukannya dan saya juga tidak tau apakah orang yang melempar tersebut sengaja atau tidak." Lisa menjelaskan sesuai dengan apa yang dia alami.
"Tapi, bagaimana kamu bisa tau Al, kalo Gino pelaku nya? Atau kamu memang melihat kejadian nya?" Tanya Pak Rudi bertanya lagi pada Al. Pak Rudi ingin hari ini masalah ini harus segera selesai, supaya tak ada kejadian yang sama terulang kembali.
"Tidak Pak, saya tidak melihat kejadiannya. Karena pada saat kejadian terjadi saya berada di kantin. Tetapi, Alex dan Ryan yang memberitahu saya bahwa Lisa pingsan gara-gara kena bola dari Gino." Sahut Al.
"Dan, untuk Gino. Apakah benar kamu melempar bola pada Lisa? Dan kamu melakukannya dengan sengaja?" Tanya Pak Rudi.
"Benar Pak. Saya yang telah mengenai Lisa, tapi saya benar-benar nggak sengaja Pak." Ucap Gino.
"Oke, saya ingin hari ini masalah ini harus selesai. Masalah ini tidak usah di besar-besarkan. Untuk Lisa, apakah kamu sudah memaafkan pelakunya?"
"Iya Pak. Saya sudah memaafkannya, lagian dia juga tidak segaja melakukannya." Ucap Lisa sambil tersenyum.
"Untuk Al?"
Al terdiam tak menjawab. Memang dia masih menyimpan dendam pada Gino, dan enggan untuk memaafkan nya.
Al menghela napas berat mendengar permintaan Lisa. "Iya. Saya maafin." Ucap nya dengan datar.
"Nah kan, kalo gitu salaman dong."
Gino mengulurkan tangannya pada Al. "Maafin aku yah Al."
Dengan enggan Al membalas uluran tangan itu. "Hmm."
"Lisa maafin aku yah." Gino kembali mengulurkan tangannya pada Lisa.
Lisa membalas uluran tangan itu. "Iya nggak papa kok."
"Yasudah, masalah nya sudah selesai, kan? Lain kali kalo ada masalah itu di selesaikan baik-baik yah. Kalian boleh keluar, jangan lupa obatin luka nya itu yang lebam-lebam!" Pinta Pak Rudi.
"Baik Pak." Ucap mereka dengan serempak.
"Kami permisi Pak." Ucap Lisa.
Mereka bertiga berjalan keluar ruangan tersebut, tetapi saat di luar ruangan. Al memberikan sedikit peringatan pada Gino. "Jangan pernah lo sakitin Lisa lagi, kalo nggak mau berurusan sama gue!" Ucap Al dengan tegas, tatapan nya tajam menusuk ke arah Gino. Kalimat yang dia ucapkan itu terdengar seperti ancaman.
Lisa memegangi tangan Al. "Al. Nggak usah di perpanjang!" Cegah Lisa.
Gino hanya mendengarkan lalu berlalu pergi, tak berniat untuk menjawab sepatah kata pun.
"Al, kita ke UKS." Lisa menarik tangan Al berjalan menuju UKS.
Jam istirahat sudah selesai dari tadi, semua siswa-siswi berada di dalam kelas nya masing-masing. Jadi otomatis, Lisa dan Al tak akan ada yang melihat.
"Ngapain ke UKS? Kita masuk kelas aja." Ucap Al menolak. Tetapi meskipun begitu dia tetap mengikuti langkah Lisa.
"Udah diem aja."
Sesampainya di depan UKS. Lisa menyuruh Al menunggu nya di luar UKS, sedangkan diri nya masuk kedalam untuk mengambil kotak P3K, handuk kecil dan es batu.
"Al, kamu duduk dulu!" Pinta Lisa. Mereka berdua duduk di kursi panjang depan UKS.
Lisa membuka kotak P3K dan mengambil satu plester. "Kamu ngapain sih pake berantem segala?" Tanya Lisa sambil menempelkan plester tadi di dahi Al.
Al tak menjawab, dia hanya terdiam.
"Jawab Al!" Pinta Lisa sambil menatap kedua mata Al yang masih agak memerah.
"Aku nggak suka kalo ada yang sakitin kamu, aku nggak mau kamu terluka. Apalagi yang lakuin cowok, nggak akan mungkin pernah aku maafin." Ucap Al dengan nada suara yang dingin. Al menunduk kan kepala nya, melihat ke arah lantai.
"Tapi aku nggak kenapa-kenapa, Al. Aku baik-baik aja. Kamu nggak perlu kayak gitu, kamu sendiri yang nyakitin orang lain, apalagi dia nggak sengaja!" Lisa masih menatap Al yang tertunduk.
"Aku nggak peduli, Lisa. Apapun alasan nya, dia tetap nyakitin kamu. Sengaja nggak sengaja, itu tetap akan buat aku emosi!"
"Al, dengerin aku! Aku nggak papa. Lain kali kamu nggak usah berlebihan kayak gini, aku nggak suka. Aku nggak suka kamu mudah emosian!" Ucap Lisa dengan sendu.
Mendengar ucapan Lisa, Al langsung mendongak kan kepala nya dan menatap Lisa. "Berlebihan? Aku nggak berlebihan, Lisa. Aku ngelakuin ini itu karena aku sayang sama kamu. Ya, aku tau, mungkin aku tadi memang berlebihan karena emosi aku, aku bener-bener nggak tahan denger kamu pingsan. Tapi aku nggak akan mungkin bisa terima, kalo kamu di sakitin apalagi kalo kamu terluka!"
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!