
Tiiingg...
Putra yang sedang sarapan pagi, mengalihkan pandangan nya ke arah ponsel nya yang terletak di sebelahnya.
Vanessha
Remember me?
Putra mengerutkan keningnya bingung saat melihat pesan yang masuk.
"Remember me?" Gumam Putra pelan.
Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba mengirim pesan seperti ini? Vanessha itu siapa? Dan kenapa aku menyimpan nomor nya?
"Kenapa, Putra?" Tanya Felice yang juga tengah sarapan pagi bersama Putra di meja makan.
"Ini... Ini ada pesan masuk. Rasanya aku nggak tau deh, tapi anehnya kenapa aku menyimpan nomor nya?!" Jelas Putra.
Felice ikut mengerutkan dahinya, "Mana coba aku liat." Putra menyodorkan hp nya pada Felice. Nama itu terasa tidak asing. Felice terlihat berpikir dan berusaha untuk mengingat-ingat nya.
"Oh astaga, ini Vanessha." Kaget Felice.
"Vanessha?" Putra masih tak mengerti.
"Iya. Vanessha teman kuliah kita dulu." Jelas Felice.
"Eh iya. Tapi kan Vanessha sudah meninggal." Pikir Putra.
Vanessha adalah salah satu fans Putra dulu, ya lebih tepatnya fans fanatik Putra. Sekaligus teman kuliah nya. Vanessha akan melakukan apapun untuk Putra tanpa peduli sama sekali dengan dirinya sendiri. Untuk menonton konser Putra saja dia pasti selalu datang lebih awal daripada penonton lain. Bahkan dia rela menghabiskan seluruh uang nya untuk membelikan hadiah untuk sang Idola.
Flashback On
Suatu malam, Vanessha mengajak Putra untuk bertemu, katanya ada suatu hal yang penting. Putra sebenarnya tak ingin pergi karena dia takut Felice akan cemburu, tapi Vanessha bilang dia sudah menunggu Putra di sebuah cafe dan tak akan pulang sebelum Putra datang. Akhirnya Putra menyetujui nya dan menemui nya karena kasihan. Selama ini Putra juga tau kalo Vanessha itu salah satu fans berat nya.
"Aku nggak mau basa-basi, langsung ke intinya aja. Ada apa?" Tanya Putra sesaat sebelum duduk di hadapan Vanessha.
Vanessha menghembuskan napasnya dengan pelan, berusaha untuk menenangkan dirinya dan memantapkan hatinya. "Aku suka sama kamu, Putra." Ucap Vanessha dengan tatapan sendu ke arah Putra. Dia menatap kedua mata Putra dengan penuh harap. Berharap Putra akan jadi milik nya dan berharap Putra akan membalas perasaannya, karena itu merupakan impian nya sedari dulu.
Melihat Putra hanya terdiam menatap nya, Vanessha kembali melanjutkan ucapan nya. "Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu dari dulu. Tapi baru sekarang aku bisa mengutarakan nya, aku udah nggak bisa pendam lagi perasan ini." Ujar Vanessha lagi.
Putra hanya terdiam tak menjawab, dia tak ingin menjawab apapun dan hanya akan mendengarkan.
"Jadi... Gimana? Kamu punya perasaan yang sama kan dengan aku? Iyakan? Jadi sekarang kita resmi pacaran kan?" Tanya Vanessha penuh harap, nada suara nya terdengar agak memaksa.
Putra menghela napas berat. "Maafin aku, Ness..."
Wajah penuh harap Vanessha seketika luntur begitu saja digantikan dengan ekspresi sedikit terkejut, saat mendengar satu kalimat itu. "Maksud kamu apa?"
"Maaf. Aku nggak bisa. Aku udah punya pacar, Ness. Dan aku nggak mungkin khianati pacar aku itu." Ucap Putra dengan pelan, takut ucapan nya akan menyinggung perasaan Vanessha.
"Tapi, Putra. Aku sayang sama kamu. Aku pengen kita bisa sama-sama. Nggak papa, aku nggak papa kalo aku jadi pacar kamu yang kedua, asal kita bisa bersama yah." Sahut Vanessha masih berharap.
"Sekali lagi maafin aku. Tapi aku nggak bisa khianatin pacar aku gitu aja."
Vanessha menggelengkan kepalanya tak percaya, air matanya mulai menetes satu per satu membasahi pipinya.
"Kamu jangan nangis, Ness." Putra mengusap air mata Vanessha dengan pelan. "Aku nggak mau kamu nangis cuma gara-gara cowok kayak aku. Kamu itu cantik, Ness dan kamu punya banyak kelebihan. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan temukan cowok yang jauh lebih baik dari aku." Ujar Putra.
Tangan Putra di tepis kasar oleh Vanessha. "Kamu jahat. Kamu nggak pernah ngerti perasaan aku, hiks..." Vanessha berdiri dari kursinya.
Putra ikut berdiri dan menatap Vanessha yang masih berurai air mata. "Ness, dengerin aku dulu."
"Nggak! Kamu jahat! Kamu egois! Nggak pernah ngerrtiin aku dari dulu!" Vanessha langsung berlalu pergi meninggalkan Putra. Pupuslah sudah harapan nya selama ini.
"Vanessha!" Panggil Putra. Namun, Vanessha tak menghiraukan panggilan nya dan tetap berlari meninggalkan Putra yang diselimuti rasa bersalah.
Vanessha menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak menghiraukan hujan yang sangat deras diluar jalanan. Karena sedang emosi dan kecewa akibat Putra mematahkan harapan nya.
Di sebuah pertigaan Vanessha tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak menghiraukan untuk menoleh kekanan ataupun kekiri, kalau-kalau ada pengendara yang lain melintas.
Dan benar saja, sebuah truk box juga sedang melintas dan melaju dengan cepat. Dan...
"AAAAAAAAAHHH..." Teriak Vanessha sesaat sebelum truk box tersebut menghantam mobilnya dari arah kiri. Mobil Vanessha terjatuh ke sungai dengan arus yang deras.
Flashback Off
Putra ingat akan kejadian saat itu. Sebenarnya Putra merasa sangat bersalah akan tragedi tersebut. Namun, ini juga bukan sepenuhnya salah Putra kan
^^^Me!^^^
Vanessha
Remember me?
^^^Me!^^^
^^^Ini Vanessha?^^^
Vanessha
Remember me?
^^^Me!^^^
^^^Kamu masih hidup?^^^
Vanessha
Remember me?
^^^Me!^^^
^^^Ness, jangan bercanda!^^^
Vanessha
Remember me?
Karena mendapat jawaban yang selalu sama. Putra hanya berpikir bahwa itu hanya pesan spam. Dan nomor Vanessha di bajak seseorang.
"Apa katanya?" Tanya Felice penasaran.
"Jawaban nya selalu sama. Sudahlah nggak usah dipikirin, mungkin cuma spam." Ucap Putra, kemudian memasukkan hp nya kedalam saku nya. Dia tak ingin terlalu ambil pusing dengan urusan yang lain, isi pikiran nya sudah cukup banyak apalagi menyangkut perusahaan Daddy yang saat ini sudah menjadi tanggungjawabnya.
"Yasudah, aku mau berangkat yah." Putra menyudahi makan nya lalu memakai jas formal nya.
Melihat Putra berdiri, Felice ikut berdiri juga. "Kamu hati-hati yah. Pulangnya jangan kemaleman." Ujar Felice setelah menyalami punggung tangan suami nya tercinta.
"Iya, kamu juga jaga rumah yah. Kalo ada apa-apa langsung telpon, oke?" Putra mengusap pelan kepala Felice.
"Oke. Nanti kalo kamu pulangnya telat ntar rumah baru nya aku culik" Gurau Felice.
"Eh jangan dong. Tapi nggak mungkin lah rumah baru nya ninggalin tuan nya. Tuan nya kan aku." Rumah baru? Yah rumah yang mereka tinggali saat ini adalah rumah yang baru saja mereka beli.
"Aku?" Felice menunjuk dirinya sendiri.
"Nona nya. Hahahaa..."
"Hahahaa... Yaudah sana gih."
Bukan nya pergi, Putra malah terlihat menyodorkan pipi nya di depan Felice. Felice yang sebenarnya tau apa maksudnya pura-pura tidak mengerti.
"Kenapa?" Tanya Felice sambil menahan senyum nya.
"Cium dong. Masa nggak ngerti juga."
"Kalo nggak mau?"
"Yah aku paksa."
"Hehehee..."
Cup!
"Selamat bekerja my husband. Cepat pulang..." Ucap Felice.
"Iya sayang. Yaudah aku berangkat yah."
"Iya." Putra mengecup puncak kepala nya istri nya sebelum berlalu pergi.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!