
Lisa duduk di bangku panjang dengan sebotol air mineral ditangannya, tatapannya kosong, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi membuat orang-orang khawatir.
Bunda mengelus punggung Lisa dan bertanya dengan lembut,"Lisa... Lisa gimana?Udah baikan?" tanya bunda pelan yang dibalas anggukan oleh Lisa.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi? Kok bisa sampai seperti ini?"
Lisa menjelaskan beberapa inti permasalahannya pada Bunda, Bunda mengangguk paham dan percaya kalau Lisa tak bersalah dan ia yakin kalau Lisa tak akan mungkin melakukan hal yang nggak baik. Tapi masalahnya adalah, orang lain perlu bukti,bukan omongan belaka.
Hari itu Lisa diberi jeda 1 hari untuk menenangkan diri agar bisa lebih tenang saat menjelaskan semua yang terjadi, sedangkan Rani yang terkena gegar otak ringan masih belum sadar. Sungguh keajaiban jika Rani hanya terkena gegar otak ringan.
...*****...
Keesokan Harinya...
Perkara yang telah terjadi kemarin kini semakin rumit. Lisa dipanggil ke sekolah hari ini dan ia harus datang ke sekolah mau tak mau. la harus kembali menghadap guru BK untuk mengurus masalahnya. Panggilan ini benar-benar pribadi. Bahkan Rey pun hanya bisa mengantarnya sampai di depan pintu ruangan, ia tak bisa menemaninya sampai dalam.
Saat sampai di depan pintu ruang BK, Lisa berhenti sejenak.
"Semangat sayang, kamu harus tenang yah. Aku percaya sama kamu dan aku yakin kamu memang nggak bersalah. Pokoknya kamu harus tenang, jika kamu ada di posisi benar maka kamu tidak perlu takut! Aku akan selalu ada buat kamu bagaimanapun kondisi nya nanti." Lisa kembali mengingat pesan Rey padanya. Ia menghembuskan napasnya berat dan berusaha menyemangati dirinya sendiri.
"Ya Allah... Kenapa harus jadi kayak gini, tuntunlah hamba ya Allah, berilah petunjuk mu... Dan tetap tegar kan hamba. Amiiinn..."
Cklek...
Pintu terbuka, Lisa masuk dan dan mengedarkan pandangan melihat beberapa wajah yang tampak tegang sedang menunggunya. Ada Bu Alya, orang tua Rani,dan juga...?
"Wait... Dinda?"
Lisa kembali melihat sekali lagi untuk memastikan,matanya tak salah, itu memang Dinda. Keberadaan Dinda di dalam ruangan cukup membuatnya terkejut. Tapi yang menjadi pertanyaan, apa yang Dinda lakukan di sini? Apa Dinda juga terlibat dalam masalah ini?
"Masuk Lisa... Duduk!"
Suara Bu Alya mempersilahkan Lisa untuk duduk.
Lisa duduk dengan sopan, suasana semakin mencekam saat semua membahas masalah jatuhnya Rani.
"Saya nggak mau tau ya bu, apapun yang terjadi pokoknya pelaku yang mencelakakan anak saya harus di hukum, kalo perlu di keluarkan dari sekolah saja!Saya nggak rela anak saya satu sekolah dengan pembunuh!" ketus ibu Rani dengan ekor mata yang mengarah ke Lisa.
Bu Alya mencoba meredam suasana,"Tenang bu... Semua bisa dibicarakan baik-baik,jangan terlalu terburu-buru. Lagipula kita belum punya bukti kalau Rani memang di dorong."
"Ma jangan terlalu emosional!" bisik Ayah Rani mencoba menenangkan istri nya.
"Saya punya bukti! Dinda lihat kejadiannya yang sebenarnya. Dinda saksinya, tidak mungkin Dinda akan berbohong. Lagipula dia kan anak pemegang saham sekolah ini, tak ada untungnya berbohong!" bantah ibu Rani.
Lisa membelalakkan matanya tak percaya,ia merasa kalau sejak awal tak melihat Dinda sama sekali sejak ada dilantai 2. Lalu bagaimana ia bisa menjadi saksi nya?
Lisa refleks langsung berdiri,"Bohong bu! Saya sejak awal nggak melihat Dinda sama sekali. Bagaimana dia bisa jadi saksi? Itu bohong bu!" Lisa membantah.
Ayah Rani berusaha menengahi "Ma sudahlah... Apa tidak ada rekaman CCTV bu untuk melihat kejadiannya?" Tanya nya.
"Tidak pak... Saat itu sedang ada perbaikan beberapa CCTV. Makanya ada beberapa titik buta saat itu."
Lisa yakin kalau Dinda pasti sekuat tenaga mencoba menjatuhkan dirinya karena ia tau Dinda memang tak suka padanya. Di tambah lagi sikap Lisa selama ini pada Dinda cukup menguras emosi. Lisa melirik tajam ke arah Dinda, tetapi Dinda malah menunjukkan senyum kemenangan nya seolah ia mengejek Lisa yang selalu di pojokkan dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Dinda menceritakan semua skenario kebohongannya yang ia buat dengan begitu sempurna tanpa cela. Sehingga membuat semua orang selain Lisa langsung percaya dengan kata-kata Dinda.
"Saat itu saya sedang ambil alat di atas bu, tiba-tiba saya lihat Lisa sedang bertengkar dengan Dinda hanya karena tinta tumpah. Awalnya saya mengira semua baik-baik saja hingga akhirnya Lisa kembali berpapasan dengan Rani di tangga lalu mereka bertengkar dan saya melihat Lisa mendorong Rani hingga jatuh..."
Lisa terkejut bukan main mendengar cerita Dinda yang berbanding terbalik dengan kenyataannya, Lisa langsung membantah seketika. "Bohong bu! Saya nggak dorong Rani, tapi Rani jatuh sendiri. Jika saya dorong Rani untuk apa saya tolong lagi hingga kaki dan tangan saya sendiri terluka!?"
Bu Alya jadi bingung seketika, di satu sisi ada perkataan Lisa yang masuk akal dan di sisi lain pernyataan Dinda yang satu-satunya bukti saat ini.
Melihat keraguan di wajah Bu Alya, Dinda mulai mencoba menguasai situasi lagi. "Saya nggak bohong bu, ibu bisa panggil Tasya XI MIPA 1 bu, dia juga lihat bagaimana Lisa bertengkar dengan Rani."
Lisa semakin terkejut, ia ingat kalau yang menyuruhnya turun adalah Tasya saat itu,ia masih ingat kalau itu Tasya, siswi yang cukup berteman dekat dengan Rani dan Dinda.
Mendengar ucapan Dinda, Bu Alya langsung menghubungi Tasya untuk segera datang ke sekolah. Sekitar 10 menit kemudian, Tasya datang ke sekolah dengan raut wajah yang cemberut dan terlihat tak semangat.
"Akhirnya kamu datang juga, Tasya... Ibu minta tolong kamu bisa jelasin apa yang kamu lihat waktu Rani dan Lisa bertengkar? Kata Dinda, kamu juga melihat mereka berdua bertengkar?" tanya Bu Alya.
Tasya melempar tatapan penuh keraguan pada Dinda. Sementara Dinda langsung melotot seolah menyuruh Tasya mengiyakan semua kata-katanya. Tapi dalam hati, Tasya takut ikut campur urusan ini.
"Sa-saya...."
"Cepat jelaskan apa yang kamu lihat Tasya! Ini demi kebaikan Rani!" Dinda berbicara dengan nada yang cukup memaksakan.
"Sa-saya cuma melihat kalau Lisa dan Rani bertengkar bu, enggak yang lain. Saya nggak tau masalah ini, jangan interogasi saya!"
Tasya memiliih tak memihak siapapun saat ini. Ia sebenarnya tak ingin berbohong, namun ia juga takut dengan ancaman Dinda padanya.
Bu Alya mengangguk paham, "Baiklah kamu boleh keluar sekarang. Maaf yah kalau merepotkan kamu."
"l-iya bu," Tasya secepatnya keluar dan pergi agar tak semakin ikut campur masalah ini.
Memang pernyataan Tasya tak memihak siapapun, tapi juga bisa membuat seolah-olah Lisa memiliki dendam pada Rani.
Sidang diruang BK itu berlangsung lama, Rey yang sedang berada di luar sudah tak sabar menunggu lagi. Ia khawatir dengan Lisa saat ini. Rey langsung membuka pintu ruang BK dan ikut andil dalam permasalahan ini.
"Bu, saya nggak setuju kalau Lisa yang selalu di salahkan! Semua harus dibuktikan untuk menentukan kebenarannya! Nggak bisa asal tuduh begitu saja," Rey membantah semua tuduhan ibu Rani.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!