Love In Many Ways

Love In Many Ways
Selamat Tahun Baru



"Masukin aja di kulkas, ntar kalo perlu baru diambil."


"Okee."


Para tamu sudah ada di halaman belakang rumah. Dan sebagian ada di ruang tamu. Lisa, Felice, Putra, Rey, Mommy dan Bunda sudah sangat sibuk mengurus ini dan itu.


.


.


.


Semua pekerjaan telah selesai. Dan semua sudah berkumpul di halaman belakang rumah, sambil menikmati hidangan semua orang bercakap-cakap.


Lisa sedang duduk di kursi bersebelahan dengan Rey dan Aqeela.


"Lisa." Indah langsung memeluk Lisa senang. "Udah lama yah kita nggak ketemu."


"Iya. Aku kangen tau." Ujar Lisa. "Paman sama Bibi mana?" Tanya nya.


"Ada, tuh disana. Lagi ngobrol." Indah menunjuk Papa dan Mamanya yang sedang berbincang dengan tamu lain.


"Oh iya yah. Trus kak Irwan mana?" Tanya Lisa lagi.


Irwan adalah kakak laki-laki Indah, yang selisih empat tahun dengannya.


"Nggak ikut. Katanya ada acara sama teman-temannya."


"Oh."


"Eh ada Rey juga, hai Rey." Sapanya saat melihat Rey.


"Hai." Rey balas menyapa.


"Ini?" Tunjuknya pada Aqeela.


"Adikku." Jawab Rey.


"Oh. Boleh aku duduk bareng kalian? Nggak papa kan?" Tunjuknya pada kursi yang ada di sebelah Rey.


"Eh iya duduk aja. Nggak papa kok." Ucap Lisa.


Indah adalah teman main Lisa dan Rey waktu masih kecil, mereka sering bermain bersama. Dari dulu Indah sudah menyukai Rey. Sebenarnya Lisa tau kalau Indah menyukai Rey tapi Lisa tak ingin pernah membahasnya.


"Hai Lis!" Sapa seseorang.


"Eh, Fakhrul? Fakhril? Waahh... Kalian. Udah pada gede yah. Hidungnya masih pesek. Hahaa..." Lisa tertawa.


Fakhrul dan Fakhril adalah sepupu Lisa. Mereka berdua adalah saudara kembar.


"Ih, apaan sih. Hidung kita emang kayak gini kali." Ucap Fakhril tak terima.


"Ini siapa?" Tanya Fakhrul sambil menunjuk Indah.


"Eh anj*r, Indah cantik gini malah gak kenal. Ini aku, sepupu mu nj*r." Sahut Indah.


"Ooohh sepupu? Nggak kenal ih!"


"Kalian berdua emang nyebelin dari dulu." Kesal Indah.


"Hai Rey, Aqeela." Sapa mereka berdua.


"Hai."


"Eh ayo duduk, sini." Mereka berdua pun duduk bersama dengan Lisa dan yang lainnya.


"Kamu sekolahnya dimana Lis?" Tanya Indah.


"Aku sekolahnya di SMAN Bakti Husada. Satu sekolah sama Rey." Jawab Lisa.


"Sekolah yang populer itu kan?"


"He-em."


"Oohh. Satu kelas juga?"


"Nggak. Rey IPA, aku IPS." Jawab Lisa lagi.


"Kalian ke sekolah nya bareng?" Tanya Indah lagi.


"Ih apasih, kepo deh." Ucap Lisa.


"Dasar pelit."


"Kak Rey, Aqeela mau kesana yah." Ucap Aqeela pada Rey.


"Iya, jangan jauh-jauh." Pesan Rey.


"Itu cewek yang sama kak Putra siapa sih?" Tanya Fakhril saat melihat Putra dengan Felice yang sedang duduk tak jauh dari mereka.


"Katanya sih itu calon Istri nya, Kak Putra udah kenalin itu cewek sama semua tamu di sini." Jawab Indah.


"Oh yah?" Lisa malah terkejut mendengar ucapan Indah.


"Iya. Mungkin bentar lagi nikah."


"Nggak lah, kak Putra kan belum lulus kuliah."


"Udah-udah ah nggak usah gibah."


Mata Lisa tertuju pada seorang perempuan yang usia nya hampir sama dengan Putra.


"Kak Frizka!" Panggil Lisa.


Yang di panggil pun menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Frizka, sini!"


Perempuan yang bernama Frizka itu pun berjalan ke arah Lisa.


"Lisa."


Lisa bangun dari duduknya dan memeluk Frizka.


"Kamu udah gede yah. Tambah tembem lagi, imut banget." Frizka mencubit pipi Lisa gemas.


"Ihh paan sih kak. Selalu deh cubit pipi Lisa." Kesal Lisa.


"Putra mana?"


"Tuh" Lisa menunjuk ke arah Putra yang sedang duduk bersama Felice dan ketiga temannya.


"Yaudah kakak kesana dulu yah. Mau nyamperin."


"Oke. Daahh..."


"Hoii bang." Sapa Frizka sambil menepuk pundak Putra.


"Loh? Frizka?" Kata Putra dengan nada terkejut.


"Iya, ini aku!" Ucap Frizka.


" Ya ampun, ini kamu? Makin cantik yah, padahal dulu kayak gembel hahaa..." Putra tertawa dengan kalimat yang baru saja dia lontarkan.


"Nggak lucu." Ujar Frizka dengan nada datar.


"Siapa nih?" Tanya Andra.


"Sepupu ku." Jawab Putra.


"Boleh gabung?" Tanya Frizka.


"Iya boleh, duduk aja." Ucap Felice sambil tersenyum.


"Siapa?" Tanya nya pada Putra.


"Calon istri dong. Calon mu mana?"


"Ada. Tapi aku simpen aja. Takut di ambil ama orang ntar." Kata Frizka dengan pede nya.


"Bilang aja kamu jomblo. Sok-sok an." Ledek Putra.


"Iya deh. Hehee..."


"Hai semua, aku Frizka." Sapa Frizka.


"Hai."


Melihat Putra sangat akrab dengan Frizka, Felice merasa sedikit cemburu. Namun dia berusaha tetap tersenyum.


.


.


.


Kembali ke kelompok Lisa...


"Ternyata yang dateng cuma segini yah." Ujar Indah, lalu meneguk minuman yang ada di tangannya.


"Iya yah, aku kira bakal banyak orang nanti." Lisa membenarkan.


"Mungkin yang nggak dateng itu punya acara sendiri."


"He-em."


"Fadil? Hoii sini!" Lisa memanggil orang yang melambaikan tangan padanya.


Fadil menghampiri Lisa. "Gila, aku hampir aja nggak ngenalin kamu. Tambah cantik yah sekarang." Ucap Fadil pada Lisa.


Mendengar kata itu, Rey sontak membulatkan mata nya terkejut menatap Fadil. Tapi dia berusaha tenang. Rey merasa sedikit cemburu.


Fadil adalah adik tiri Frizka. Tapi sifat keduanya sama-sama gesrek, ups.


"Ayo duduk, ngapain berdiri. Mau jadi patung?" Ucap Lisa pada Fadil.


"Nggak lah." Fadil pun duduk di kursi. "Hai semuanya." Sapa nya dengan ramah.


"Hai."


Kemudian mereka semua asyik berbincang-bincang. Ternyata Lisa begitu dekat dan akrab dengan Fadil. Itu membuat sedikit rasa cemburu pada Rey. Rey juga merasa sedikit risih karena kehadiran Indah yang duduk disampingnya yang terus saja menempel padanya. Sepanjang percakapan Rey hanya bicara seperlu nya. Kebanyakan dia hanya diam mendengarkan. Tapi kalau ditanya yaa di jawablah.


"Eh ini udah jam berapa?" Tanya Fakhril.


Lisa melihat ke arah jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 23.47


"Jam setengah dua belas nih. Masih lama." Ucap Lisa.


"Kembang api? Ada?" Tanya Fadil.


"Ada lah. Tuh!"


"Oh iya yah."


"Eh liat deh kak Putra mau nyanyi." Indah menunjuk ke arah Putra yang sedang memegang gitarnya.


"Iya yah. Itu kan teman Band nya kak Putra." Sahut Fakhril.


"Bener. Ntar aku mau minta foto deh." Ucap Indah bersemangat.


"Guys udah hampir waktunya. Tinggal dua belas menit lagi. Cepat ambil kembang api nya!" Sahut Fakhrul panik.


"Biasa aja kali."


"Masih lama."


.


.


.


Semua sudah bersiap-siap untuk menghitung mundur karena tinggal lima belas detik lagi.


Lisa dan teman-temannya sudah bersiap dengan kembang apinya.


Semua nya mulai hitung bersama-sama...


"Sepuluh..."


"Sembilan..."


"Delapan..."


"Tujuh..."


"Enam..."


"Lima..."


"Empat..."


"Tiga..."


"Dua..."


"Satu..."





Kembang api sangat indah. Semua orang mendongak untuk melihatnya.


"Waahh..."


"Indaahhh..."


"Happy New Years..."


"Selamat Tahun Baru..."


"Selamat tinggal tahun 2020..."


Putra langsung menyanyikan satu lagu bersama dengan teman-temannya.


~Laskar Pelangi~


Lagu: Nidji


Mimpi adalah kunci 


Untuk kita menaklukkan dunia 


Berlarilah tanpa lelah 


Sampai engkau meraihnya 


Laskar pelangi 


Takkan terikat waktu 


Bebaskan mimpimu di angkasa


Warnai bintang di jiwa 


Reff:


Menarilah dan terus tertawa 


Walau dunia tak seindah surga


Bersyukurlah pada Yang Kuasa 


Cinta kita di dunia 


Selamanya...


Cinta kepada hidup 


Memberikan senyuman abadi 


Walau hidup kadang tak adil 


Tapi cinta lengkapi kita 


Laskar pelangi 


Takkan terikat waktu 


Jangan berhenti mewarnai


Jutaan mimpi di bumi 


Oh!


Menarilah dan terus tertawa 


Walau dunia tak seindah surga


Bersyukurlah pada Yang Kuasa 


Cinta kita di dunia 


Menarilah dan terus tertawa 


Walau dunia tak seindah surga 


Bersyukurlah pada Yang Kuasa 


Cinta kita di dunia 


Selamanya...


Selamanya...


Laskar pelangi 


Takkan terikat waktu...


Semua orang ikut bernyanyi bersama. Menyanyikan lagu 'Laskar Pelangi' dengan riang. Melepas tahun yang sudah berlalu bersama-bersama. Dengan do'a yang mereka panjatkan dan syukur atas nikmat dan karunia Yang Maha Kuasa yang telah memberikan umur yang panjang.


Bersambung..


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!