
Keesokannya...
Di Sekolah
Rey berniat untuk menemui Dinda, bertanya apa maksud semua ini. Ia tak percaya Dinda bisa melakukan hal sejahat ini.
Baru berjalan beberapa langkah, tampak ada beberapa kerumunan didepan salah satu kelas. Rey pun berhenti untuk bertanya, "Ini kenapa pada rame-rame?"
"Oh itu, si Tasya pindah sekolah tiba-tiba aja. Padahal tadi pagi masih masuk, tapi tiba-tiba aja udah mau pindah."
Rey tertegun mendengar kabar ini, ia agak panik. la langsung berlari menuju ruang Wakasek untuk bertanya tentang kebenaran hal ini.
.
.
.
Ruang Wakasek
"Selamat siang pak..." Sapa Rey saat membuka pintu ruangan.
"Siang, loh Rey... Kenapa di sini? Ada perlu apa?"
Rey mengatur nafasnya terlebih dahulu, "Apa benar kalau Tasya anak IPA 2 pindah tiba-tiba pak?"
"Iya kenapa, hari ini dia di pindah kan."
"Kalau saya boleh tau, dia di pindah kemana ya pak?" tanya Rey lagi.
"Katanya mau disekolahkan ke Luar Negeri, rasanya sangat sayang yah. Padahal di sini tinggal 1 tahun lagi aja baru lulus..."
"Oh ya sudah pak terima kasih infonya pak..."
"Iya-iya..."
Rey keluar dari ruang Wakasek untuk mengatur nafasnya. la segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Tasya, tapi hasilnya nihil, ponselnya diluar jangkauan.
Rey memutar otaknya keras, "Kenapa tiba-tiba kayak gini? Ini semua tiba-tiba terjadi di luar kendali. Ini pasti ada hubungannya sama Dinda!"
Rey langsung pergi untuk menemui Dinda. Kebetulan mereka berpapasan di koridor yang cukup sepi.
"Dinda!"
Dinda menengok dan menunjukkan senyum palsunya, "Oh Rey... Kenapa Rey? Ada apa nyari gue?"
"Lo pasti tau tentang semua masalah ini, gue yakin lo yang mindahin Tasya kan?"
Dinda mengangkat salah satu alisnya, "Hah? Maksudnya... Gue nggak paham sama omongan lo, jangan aneh-aneh deh. Tasya pindah sekolah?"
Rey menghela nafas kasar. "Jangan berlagak b*go, gue udah tau semuanya. Lo kan penyebab utama semua masalah ini! Masalah yang menimpa Lisa dan juga Rani. Lo kenapa lakuin semua ini sih Din? Kenapa Lo setega itu? Buat apa? Lo sadar nggak kalo lo itu ngerugiin banyak orang!" Rey berusaha memancing Dinda.
"Maksudnya? Lo ngomong apa sih Rey? Gue nggak ngerti, jangan omong kosong deh, jangan sembarang nuduh..."
"Din tolong jangan pancing amarah gue! Sekarang gue nggak mau basa-basi, gue tunggu lo sampai besok di ruang BK buat jujur dan mengakui kesalahan lo atau gue bakal seret Tasya buat kasih kesaksian!" tegas Rey.
Terserah deh lo mau ngomong apa, gue nggak paham. Gue pergi dulu yah,!" Dinda melenggang pergi dengan santai.
Rey menarik tangan Dinda dengan kasar, "Gue peringatin lo ya, segera jujur atau gue gak kasih toleransi lagi. Kalo lo mau jujur, gue nggak bakal gede-gedein masalah ini, tapi kalo lo masih banyak drama, gue nggak ragu-ragu lagi buat ngelakuin apapun!" ancam Rey dengan tegas.
Dinda menghempaskan tangan Rey, "TERSERAH!!!" Dinda melenggang pergi tanpa rasa bersalah.
Rey hanya bisa menahan emosinya saat ini untuk menghadapi salah satu mahkluk Tuhan yang menguras emosi ini.
"Gue harap lo besok mau jujur Din! Kalo sampe lo nggak jujur, gue nggak bisa jamin lagi reputasi keluarga lo. Kalo Tasya nggak bisa ngomong, biar bukti yang keluarin kekuatannya!" batin Rey berusaha untuk tenang.
Flashback On
Ia mulai curiga, ia mendekat dan mendengarkan percakapan Rey dan Tasya. Ia juga mendengarkan setiap ancaman dan bujukan Rey.
Setelah Rey pergi, ia masih diam berpikir. Saat Tasya hendak pergi, baru ia menarik tangan Tasya dan mengajaknya menjauh.
"Din-da?" kaget Tasya saat melihat Dinda ada di rumah sakit.
"Nggak usah kaget! Gue udah denger semua yang Lo bicarain sama Rey, gue peringatin lo ya! Kalo sampe lo bocorin semuanya, tamat riwayat lo!" ancam Dinda.
"T-tapi masalah ini mulai diluar kendali Din..."
"Gue lebih tau apa yang harus gue lakuin, dan lo gak berhak buat ngatur apa pilihan gue! Untuk saat ini lo cuma perlu diam!" tegas Dinda.
Tasya menunduk takut, ia sama sekali tidak berdaya, Dinda kembali pulang dan menghubungi seseorang. Ia memutar otak bagaimana caranya agar Tasya tak buka mulut dan tetap menjaga semua rahasia ini dengan baik.
.
.
.
Besoknya...
Hari masih pagi sekali, namun tiba-tiba Dinda datang ke kelas Tasya saat masih pagi hari, ia membawa Tasya sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Ke-kenapa lagi Din?" tanya Tasya gugup.
"Hari ini lo pindah! Lo gue pindahin ke sekolah lain tanpa sepengetahuan siapapun, orang tua lo udah gue kasih tau. Biaya sekolah gue yang tanggung, lo tinggal pergi aja dan ganti nomor telepon lo! Tapi jangan bilang kalo lo cuma pindah sekolah aja!" Pinta Dinda dengan nada mengancam.
"Apa?" Tasya begitu terkejut mendengar kata-kata Dinda yang begitu mendadak, "Tapi kan gue nggak siap, dan lo juga nggak ngomong apa-apa masalah ini, gue juga nggak bisa ninggalin sekolah ini. Nggak, gue nggak mau pindah sekolah!" tegas Tasya.
"Oh, lo mau keluarga lo jadi gembel gitu?" ancam Dinda.
Mendengar ucapan Dinda, Tasya seolah-olah sedang terpojok sekarang, ia bingung harus apa lagi. Jika punya kesempatan, ia akan segera menelpon Rey dan meminta bantuannya.
Melihat Tasya yang hanya terdiam, Dinda sudah tak sabar lagi, ia segera menyeret Tasya pergi. Ia membereskan tas Tasya lalu segera menyuruh Tasya pergi.
"Huh akhirnya beres juga!" Senyum kemenangan tercipta di bibirnya.
Flashback Off
.
.
.
Keesokannya...
Rey masih tak melihat sedikitpun pergerakan dari Dinda, padahal ia sudah memberi kesempatan untuk Dinda. la semakin tak sabar lagi, ia langsung mencari Dinda dan pergi memberinya peringatan untuk sekian kalinya.
Rey mencengkeram erat tangan Dinda, "Lo masih keras kepala nggak mau ngakuin kesalahan lo?"
"Aw apa sih Rey, lepasin! Rey lepasin!" keluh Dinda yang kesakitan.
Rey menghempaskan tangan Dinda dengan kasar, "Gue kemarin udah peringatin lo ya! Jangan salahin gue kalo gue bertindak kasar!"
"Apa sih Rey? Gue nggak paham maksud lo tau nggak! Lo seolah-olah nuduh gue!"
Tanpa menggubris perkataan Dinda lagi, Rey langsung pergi meninggalkan Dinda sendirian dengan emosi.
"Hahahaha... Mau ngapain aja juga percuma, karena Tasya udah nggak ada dan Rani juga nggak bisa kasih kesaksian!" gumam Dinda yang merasa menang.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!