Love In Many Ways

Love In Many Ways
Kesaksian Palsu



Hari Pertemuan...


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, Ibu Rani yang juga hadir dalam pertemuan justru membuat semuanya semakin rumit, Ibu Rani membuat pertemuan, ia mengundang semua pemegang saham untuk memutuskan apakah Lisa bersalah atau tidak.


Hari ini, para pemegang saham yang memiliki saham lebih dari 10% ikut menghadiri pertemuan ini. Ada setidaknya 5 orang yang hadir, termasuk ayah Dinda, Rani dan ayah Rey.


Lisa, Rey dan Dinda menunggu diluar ruangan terlebih dahulu. Para orang besar itu sedang merundingkan perkara ini didalam ruangan, tak lama kemudian Lisa di panggil untuk masuk ke dalam.


Dengan jantung yang berdetak tak karuan, Lisa melangkah memasuki ruangan hening itu, "Se-selamat pagi.." sapa Lisa yang gugup.


"Masuk Lisa!" suara Bu Alya mengintruksi Lisa untuk masuk.


Lisa berdiri dengan gugup didepan orang-orang berkuasa itu. Bu Alya mulai menanyakan satu-persatu pertanyaan pada Lisa.


"Apa kamu ada di tempat kejadian, saat Rani


jatuh?"


"Iya bu..."


"Kamu melihat dari awal hingga akhir saat Rani jatuh?"


"Iya bu..."


"Apa kamu mendorong Rani?"


"Apa?! Enggak bu, demi apapun saya nggak pernah dorong Rani! Dia jatuh sendiri bu, saya berkata jujur!"


Beberapa orang tampak berunding tentang jawaban Lisa, lalu dipanggil lah Dinda dan Rey agar masuk untuk menyatakan pendapat mereka sesuai apa yang mereka lihat. Mereka berdua masuk untuk memberikan saksi, Dinda ditanya terlebih dahulu.


"Dinda... Apa benar kamu melihat semua kejadiannya?"


"Iya bu.."


"Tapi, apa yang kamu lakukan di sana? Kenapa sejak kemarin Lisa selalu berkata kalau dia tidak melihat kamu?"


Dinda terdiam sejenak mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini, "Oh itu... Sa-saya, saya ambil barang di gudang buat acara perpisahan bu!"


Rey merasa aneh mendengar jawaban Dinda yang terdengar tidak masuk akal baginya, "Ngapain kamu ambil barang sendiri? Kan biasanya kamu suruh siswa lain buat ambilin? Dan itu juga bukan tugas wakil ketua OSIS kan, itu tugas siswa lain?" Rey berkata tanpa menjaga tata krama lagi karena jengkel dengan kesaksian Dinda sejak kemarin.


Dinda tergelagap mendengar kata-kata Rey yang membuatnya sedikit panik, "Itu..., kan aku lewat gitu. Trus lihat anak-anak yang mau ambil tapi kesulitan, ya udah aku bantuin sekalian."


"Siapa yang ambil?"


"Tasya..."


Semua tampak kembali berunding, Bu Alya kembali bertanya pada Dinda, "Apa kamu melihat kalau Lisa mendorong Rani?"


Semua mata memandang ke arah Lisa yang membuat suasana semakin tegang menunggu jawaban Dinda, "I-iya bu..."


Seketika Lisa terkejut mendengarnya, "Jaga mulut lo ya! Jangan fitnah lo, gue nggak pernah dorong Rani, kesaksian lo itu palsu! Lo cuma bohong, dasar tukang fitnah!" Lisa marah dan hampir memukul Dinda, tapi Rey menahannya.


Semua terkejut melihat tingkah Lisa yang tiba-tiba tampak emosional, beberapa orang juga memiliki keyakinan kalau Lisa memang mendorong Rani karena marah, bisa dilihat dari sikapnya yang emosional ini. Ada yang beranggapan bahwa Lisa takut ketahuan makanya dia bisa semarah ini.


Rey semakin bingung sekarang, ia bingung harus apa dan bagaimana. Gimana nih? Nggak mungkin aku bohong sekarang, sikap Lisa yang emosional ini udah dilihat semua orang, dan pasti mereka semua sudah menduga. Dan orang-orang bakal mikir kalo Lisa emang dorong Rani.


Rey semakin bingung dengan situasi yang semakin rumit ini.


Bu Alya mencoba menenangkan Lisa, "Lisa, udah nak! Jangan seperti ini nak... sudah, kita rundingkan semuanya ya, kamu tenang dulu!"


Lisa sedikit tenang mendengar kata-kata Bu Alya, sekarang Ibu Rani justru ikut bersuara, "Bagaimana? Pasti Lisa yang dorong Rani, kalau bukan, siapa lagi?"


Akhirnya semua setuju untuk mendengarkan penjelasan Rey juga, sementara Rey yang masih bingung sempat bengong karena berpikir apa yang harus ia katakan. Apakah ia harus berbohong untuk menyelamatkan Lisa, atau tidak untuk menepati janjinya.


"Rey... Apakah kamu melihat kejadiannya?"


Rey menjawab walau masih bengong, "Iya bu."


"Kamu melihat Rani dan Lisa di sana?"


"Iya"


"Lisa ada di dekat Rani saat kejadian itu?"


"Iya."


"Lalu Rani jatuh ke bawah?"


"Iya."


Lisa terkejut mendengar semua jawaban Rey yang hanya meng-iyakan semua pertanyaan Bu Alya. Padahal kemarin Rey sudah berjanji untuk membantu Lisa dengan berbohong agar semuanya cepat selesai dan Lisa tak bisa dinyatakan bersalah. Lisa semakin khawatir karena mulai berada di posisi yang tidak menguntungkan saat ini.


"Apakah kamu melihat Lisa mendorong Rani?"


"Tidak..."


"Tapi kamu melihat Rani jatuh?"


"Iya!


Ibu Rani langsung berpendapat dengan menyahut, "Lihat kan? Mana mungkin Rani jatuh sendiri? Pasti Lisa dorong Rani karena baru selesai bertengkar dan sempat memiliki dendam, dia pasti benci Rani! Lihat saja dia tadi hampir memukul Dinda kan? Ayah ibunya sudah meninggal, makanya tingkahnya seperti anak tidak berpendidikan!"


"JAGA MULUT IBU!"


Ayah Rey dan Rey membentak bersamaan karena penghinaan Ibu Rani yang membuat keduanya emosi. Lisa hanya terdiam, dadanya terasa sesak mendengar hinaan Ibu Rani yang juga ikut menyeret kedua orangtuanya.


"Bu, meski saya tidak melihat apakah Lisa mendorong Rani atau tidak, tapi saya tau kalau Lisa sama sekali tidak mendorong dia! Rani itu memang terjatuh sendiri, dia tidak di dorong Lisa! la jatuh karena lantai yang licin!" jelas Rey.


Lisa semakin terkejut dengan penjelasan Rey, tadinya ia cukup berharap kalau Rey akan berbohong dan semua akan selesai dengan cepat. Tapi nyatanya tidak! Dari pandangan Lisa, Rey hanya memperburuk keadaan dengan menceritakan kebenaran.


Semua ribut dan berusaha menyatakan pendapat masing-masing, dada Lisa semakin sesak mendengar keributan di ruangan itu. Lisa mundur selangkah demi selangkah, ia diam-diam membuka pintu dan pergi keluar tanpa menghiraukan situasi lagi.


"Lisa... Melissa..." Bu Alya memanggil-manggil Lisa namun tak dihiraukan.


Lisa berlari keluar dan duduk di bawah pohon dengan mata berkaca-kaca, awalnya ia mencoba baik-baik saja, tapi setelah Ibu Rani menyeret kedua orang tuanya, ia menjadi lemas seketika.


la duduk meringkuk memeluk kedua kakinya dan menangis, "Hiks... Mommy... Daddy... Kenapa jadi kayak gini? Hiks, Lisa nggak dorong Rani! Lisa nggak salah! Hiks..."


Lisa bingung harus apa, saat ini pandangan Lisa dan Rey benar-benar berbeda, dan ini justru akan memicu kesalah-pahaman antara mereka.


"Kenapa Rey nggak ngertiin aku sih! Hiks... Argh! Kenapa semua jadi kayak gini, hiks!" Lisa marah dan memukul-mukul pohon dibelakangnya hingga tangannya berdarah.


Dinda yang melihat nya dari kejauhan langsung berjalan mendatangi dengan santainya dan tersenyum menyapa Lisa yang menangis, "Hai Lisa... Gimana? Masih hidup kan?"


Lisa menghentikan tangisannya dan mengangkat kepalanya keatas menatap Dinda, "Hiks... Maksud lo apa sih ngomong kalo gue yang dorong Rani! Mata lo buta apa gimana? Gue nggak dorong Rani yah, lo tuh bohong, fitnah, kesaksian lo itu palsu!" Sahut Lisa emosi.


Dinda memanyunkan bibirnya dengan wajah meledek, "Ututu... Nggak salah ya? Ya udah, off baperan sayang..."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!