
Begitu mendengar Tasya berjalan mendekat, Rani langsung berpura-pura tidur. Tasya duduk dan menaruh parcel buah di atas meja, "Hai Ran... Gimana kabar lo hari ini? Kemaren lo lagi tidur, sekarang tidur lagi? Huh... mungkin ini cara Tuhan buat ngurangin rasa bersalah gue." Pikir Tasya saat melihat Rani yang tertidur.
Tasya duduk dengan tatapan sendu, "Gimana Ran? Gue masih sama aja, gue bener-bener pengen jujur kesemua orang. Sebenci-benci nya gue ke Lisa, gue nggak pernah berani main-main sama nyawa."
.
.
.
Tak terasa, sudah hampir seminggu Tasya terus datang dan menceritakan serpihan-serpihan kejadian jatuhnya Rani. Akan tetapi, Rani tak benar-benar yakin, ia tak ingin dengan kondisi nya yang lupa ingatan dimanfaatkan oleh orang lain, ia akan berbicara saat ia benar-benar mengingat semuanya.
Kini ingatan Rani sudah pulih 70%, namun ingatan tentang jatuhnya ia masih remang-remang. Tiap kali ia ingin mengingatnya, kepalanya langsung terasa sakit dan pusing.
...*****...
Lisa telah menjalani masa skorsing nya, ini hari pertamanya masuk sekolah sebagai kelas 12. Dan entah kenapa dan entah bagaimana, berita tentang jatuhnya Rani menyebar luas di sekolah dengan begitu cepat. Tentu saja itu menjadi buah bibir seisi sekolah.
Lisa turun dari mobil sport Rey yang berwarna biru, terdapat kacamata hitam mahal yang bertengger di batang hidungnya.
la melepaskan kacamatanya dengan anggun. Memakai sedikit make up tipis, baju yang rapi, tercium aroma wangi, barang-barang mahal yang ia pakai serta penampilan yang sempurna membuat Lisa sedikit tidak dikenali anak lain.
"Mau di temenin masuk kelas?" Tanya Rey.
Lisa tersenyum, "Nggak usah... Aku nggak papa kok! Aku masuk kelas dulu ya..." Lisa mencium punggung tangan Rey.
"Hm yaudah, tapi kalo ada apa-apa langsung kabarin yah."
"Iya sayang, daaahh..." Lisa berjalan pergi dengan anggun.
Rey hanya memperhatikan Lisa dari jauh dengan cemas. Ia takut opini anak-anak lain mempengaruhi mental Lisa lagi.
Al terkejut kagum melihat Lisa yang terlihat beda hari ini, tepatnya terlihat sangat cantik. Dengan rambut yang tergerai dan terlihat lembut mengkilap.
Al pun menghampiri Lisa, "Halo, maaf dek... Ini Lisa kan?" Tanya Al memastikan.
Lisa menatap Al lalu tersenyum miring, "Iya kakak. Kenapa yah? Ada yang mau dibanting?"
"Iddihh... Habis di skorsing kok makin cantik?"
"Kenapa emangnya? Mau minta balikan? Nyesel sih pasti putus dari aku..." Gurau Lisa.
"Yaudah balikan yuk, jadiin aku suami kedua kamu, kamu jadi pacar kedua aku, hahahaaa..." Tawa Al.
Lisa langsung memukul lengan Al, "Gila"
"Aww... Sakit tau."
"Gak peduli kakak, yuk ke kelas."
"Emang yah... Orang-orang cuma berani ngomong di belakang doang, giliran berhadapan langsung, nyalinya ciut! Pec*ndang!" Ejek Lisa dengan terus terang.
Salah satu siswi yang menjelek-jelekkan Lisa tersinggung, ia menjelek-jelekkan Lisa secara langsung karena terprovokasi.
"Heh, belagu banget lo! Pembunuh aja bangga!"
Mendengar suara itu Lisa tersenyum miring. Lisa berhenti melangkah dan berjalan mendekati siswi tersebut dengan santai. "Kata siapa gue pembunuh?"
"Kata orang-orang! Semua orang di sekolah ini juga tau kalo lo itu pembunuh!"
"Heh..." Lisa terkekeh sinis, "Lucu yah... Pertama, gue nggak bisa disebut pembunuh hanya karena gosip, kedua, gue nggak bunuh siapapun, dan ketiga, jika emang gue bunuh orang, nyatanya nggak ada bukti fisik tuh!"
"Halah jangan ngeles lo, sok pinter banget!" Bantah siswi tersebut.
Lisa menunjukkan smirk-nya, "Jangan asal ngomong yah, kalo nggak tau kebenaran nya mending diem aja deh daripada entar malu-maluin, atau... urat malu lo udah putus yah?"
Siswi tesebut menggenggam tangannya menahan amarah. Baru saja ia ingin bersuara, akan tetapi Lisa kembali menyahut.
"Umur lo udah diatas 17 tahun. Karena kata-kata lo, gue bisa tuntut lo dengan tuntutan pencemaran nama baik. Menurut Pasal 310 ayat (1) KUHP, menurut R. Soesilo, kuis dapat dilakukan maka pencemaran nama baik itu harus dilakukan dengan cara menuduh seseorang telah melakukan perbuatan yang tertentu dengan maksud tuduhan itu akan tersiar atau diketahui orang banyak. Oleh karena itu, tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa barang bukti berbentuk surat diperlukan dalam membuktikan pencemaran nama baik secara lisan. Yang terpenting adalah bahwa tuduhan tersebut dilakukan di depan orang banyak."
Siswi itu terlihat gelagapan mendengar kata-kata Lisa yang begitu tepat sasaran.
Lisa kembali tersenyum miring melihat reaksi siswi tersebut, "CCTV ada, saksi sebanyak ini juga ada, kurang apa lagi? Minta surat keterangan sekolah itu gampang bagi gue."
"Lo!!!" Siswi itu hendak memukul Lisa, namun ia kembali menggenggam tangannya karena merasa diposisi yang tidak menguntungkan. Ia benar-benar kalah telak.
"Cukup Rokib dan Atid yang nyatet perbuatan gue, mulut kotor lo nggak usah ikut campur! Cukup Tuhan yang menghakimi gue, akhlak lo nggak usah sok-sokan campur tangan! Otak doang plus, akhlaknya minus!"
Siswi itu merasa tersinggung lalu pergi meninggalkan Lisa begitu saja. Lisa hanya tersenyum sinis, "Gue peringatin kalian semua, kalo mental masih lemah, jangan coba-coba adu mulut sama gue!"
Salah seorang siswa menyahut dengan nada menyindir, "Belagu bener jadi cewek... Palingan juga nggak tajir-tajir banget lo, punya pacar 1 aja belagu."
Al yang sedari tadi diam langsung menoleh dan menyahut. "Lo bilang apa tadi? Lo tuh cowok bukan sih? Mulutnya bisa dijaga nggak? Lo nggak nyadar yah, ucapan lo itu kayak b*ncong!"
"Heh, gue nggak ngomong sama lo yah!" Gertak siswa tersebut.
"Lah, emang kenapa? Lo berani sama gue, ayo sini maju lawan gue, jangan cuman berani sama cewek!"
Lisa memegang tangan Al yang sudah emosi. "Udah Al nggak usah di ladenin, biar aku aja yang jelasin. Kan kasihan anak nggak tau apa-apa, malah di pukulin."
"Jadi gini, sultan itu diakui sayang, bukan mengakui. Untuk masalah pacar... Gue nggak di jual apalagi diobral, makanya cuma punya satu. Ya kali Ferrari pembelinya sebanyak Avanza? Tau ah, mau dijelasin kayak gimanapun otak lo nggak nyampe! Males gue ngomong panjang lebar!"
Lisa melenggang pergi dengan anggun meninggalkan anak itu, ia sedang malas berurusan dengan orang-orang tidak berguna seperti mereka.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!