
"Kenapa emangnya? Kok nanya nya gitu?"
"Nggak papa sih, hehehee... Cuma penasaran aja. Aku tebak pasti kamu pinter banget." Ucap Lisa polos.
Faro tersenyum hangat melihat Lisa, "Aku tau, pasti kamu takut kan aku bakal ambil gelar kamu?"
"Eh nggak, nggak gitu maksudnya. Niat aku cuma nanya doang kok." Jawab Lisa gelagapan. "Ah udahlah lupain aja, nggak penting juga. Yaudah aku mau ke toilet bentar." Tanpa menunggu jawaban Faro, Lisa langsung pergi begitu saja.
Namun, saat dalam perjalanan ia tak sengaja melihat Dinda yang tengah mengobrol dengan Rey. Lisa langsung saja bersembunyi di balik tembok, dengan sesekali mengintip sambil mendengarkan apa yang keduanya bicarakan.
"Tuh anak kebal api neraka apa gimana? Suka banget godain suami orang! Serasa pengen ku gampar pake panci!" Kesal Lisa.
Setelah Rey pergi, Lisa pergi menghampiri Dinda karena kesal. "Dinda, tunggu!"
Dinda menengok, "Ya kenapa?"
"Bukan nya apa-apa, tapi tolong bisa nggak kamu jauhin Rey! Kamu kan tau dia itu pacar aku, kamu nggak usah deketin dia terus jadinya aku yang risih liatnya!"
Dinda mengerutkan keningnya, "Tapi aku sama Rey nggak ada hubungan apa-apa. Kita cuma sebatas profesionalitas anggota OSIS."
"Gue cewek dan gue bisa liat sendiri mana kerja mana deketin, gue nggak buta yah!" Nada suara Lisa semakin meninggi.
"Tunggu-tunggu! Kayaknya lo salah paham deh..."
"Salah paham gimana maksudnya?! Gue punya mata dan gue bisa liat sendiri kok." Kesal Lisa. "Udah deh, gue malas memperpanjang. Intinya gini... Lo jangan coba deketin Rey, sampe berani lo deketin Rey lagi, bapak lo gue pelihara!" Ancam Lisa.
Ucapan Lisa membuat Dinda mundur selangkah. Dinda ingin membalas memaki Lisa saat ini juga. Namun ia takut itu akan merusak imagenya di depan publik. Dinda hanya menatap kesal Lisa kemudian berlalu pergi begitu saja.
Lisa senang sendiri dibuatnya, ia bahagia bisa melihat Dinda sekesal itu. "Hahahaa... Akhirnya tuh parasit pergi juga!" Ucap Lisa sambil tersenyum sinis.
"Ekhem..."
Mendengar suara deheman, Lisa berbalik untuk melihat siapa yang bersuara, "Eh Rey... Lagi apa? Gimana ulangannya tadi? Bisa kerjain semua kan?" Tanya Lisa basa-basi.
Rey melipat kedua tangan nya di depan dada, lalu menatap Lisa dengan datar. "Mau ngapain tadi? Pelihara bapak-bapak?" Rey mengangkat salah satu alisnya.
"Hehehee... Nggak kok, kata siapa? Aku tadi cuma bercanda doang kok. Gimana tadi ulangannya, bisa kerjain semua kan?" Lisa mencoba mengalihkan pembicaraan.
Rey menatap tajam lalu mengarahkan jari telunjuk dan jari tengah nya menuju kedua matanya, lalu di arahkan ke mata Lisa.
"Enggak, series tadi cuma bercanda. Sumpah deh!" Lisa menggoyang-goyangkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.
Rey kembali masuk kedalam ruangannya, meninggalkan Lisa yang bernapas lega setelah kepergiannya. Bisa-bisa nya Rey mendengar semua percakapan nya tadi.
"Hidup gini amat ya Allah, punya pacar goodlooking di tambah posesif lagi, kudu super sabar!" Gumam Lisa.
.
.
.
Lisa kembali masuk ke dalam kelas dan belajar untuk mempersiapkan ulangan mata pelajaran kedua.
"Lis, tumben kamu rajin belajar."
"Emang salah?"
Mira menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Nggak salah sih. Cuma aneh aja gitu. Biasanya kamu kan santai aja gitu kalo ada ulangan kayak gini, otak kamu kan encer."
"Ya nggak papa, mau belajar aja gitu."
"Noh liat si Sarah sama Al, bucin teros udah lupa belajar." Cibir Mira sambil menunjuk Sarah dan Al yang duduk sebangku sambil tertawa bareng.
"Iri bilang bos!" Sahut Al.
"Makanya cari pacar juga, biar bisa bucin!" Sambung Sarah.
"Denger aja lu pada!" Sahut Mira.
"Aku nggak budek!" Sahut Al lagi.
"Oh iya, Faro mana Ra?" Tanya Lisa saat tak melihat Faro di dalam kelas.
"Nggak tau juga!" Jawab Mira.
"Oh iya Lis, kayaknya Faro bakal jadi saingan kamu deh. Dia kan pinter juga, dia nggak bisa remehin." Sahut Sarah sambil berbalik badan menatap Lisa.
"Iya bener tuh. Jangan sampe gelar kamu diambil!" Sambung Mira.
"Gimana kalo kita buat perjanjian?" Tawar Al.
"Perjanjian?"
"Maksudnya?"
"Ya jadi gini. Maaf nih, Lis.Tapi kalo di liat-liat kayaknya Faro bakal..." Al sengaja menggantungkan ucapannya.
"Bakal apa? Jangan ngade-ngade. Aku masih bisa pertahanin gelar aku yah!" Kesal Lisa.
"Hehehee, kan aku cuma tebak. Yaudah kalo gitu kita buat perjanjian. Kalo misalkan kamu masih bisa dapat peringkat pertama tahun ini, kamu boleh minta 1 permintaan ke setiap kita. Tapi kalo kamu gagal, kamu harus nurutin 1 permintaan setiap permintaan dari kita oke!"
Lisa cukup tertarik dengan penawaran ini, "Masing-masing anak 1 permintaan, kalo mereka ada 4 orang plus Vhino, berarti ada 4 permintaan dong? Wah lumayan banget nih!" Gumam Lisa girang.
"Gimana?"
"Oke deal! Kalian jangan lupain perjanjian ini oke! Aku tunggu kalian di hari pembagian lapor!"
"Oke siap!"
*Tiiingg...
Tiiingg...
Tiiingg*...
Bel berbunyi, pelajaran kedua akan segera dimulai. Lisa pun pergi untuk kembali ke ruangan nya. Semangat nya semakin membara karena taruhan dengan teman-temannya. Ia benar-benar bertekad untuk mengalahkan Faro dan meraih peringkat pertama.
"Kalo aku bisa juara pertama nanti..., teman-teman bakal kabulin permintaan ku, bisa minta sesuatu ke kak Putra plus kak Felice, dan pasti di kasih hadiah sama Rey. Aku memang pinter cari peluang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!" Gumam Lisa sambil senyam-senyum kelewat senang.
...*****...
Malam Hari⛼🌛
Selesai sholat Isya, Lisa langsung pergi ke ruang belajar untuk belajar lebih keras agar bisa mencapai juara pertama. Rey yang melihatnya pun keheranan. Pasalnya kemaren-kemaren kan Lisa sangat sulit belajar, lah sekarang?
"Tumben tuh anak rajin belajar, ada apaan yah?" Gumam Rey. Rey pun masuk sambil membawakan susu dan beberapa cemilan untuk Lisa. "Nih, di makan!"
"Oh oke, makasih!"
"Tumben rajin banget belajarnya, abis ruqiah dimana?" Tanya Rey.
"Nggak papa, aku cuma khawatir aja sama posisi aku nantinya. Pengen usaha aja biar posisi aku nggak tergantikan. Bayangin aja kalo aku bisa pertahanin gelar aku sampe lulus nanti, uuwwiihh keren banget dah gua!"
"Kurangin halu, banyakin belajar! Lebih baik berusaha untuk mewujudkan impian daripada duduk manis menunggu impian terwujud. Impian nggak bakal terwujud kalo kita nggak berusaha!" Tutur Rey bijak.
"Siap pak Bos!" Lisa hormat bak tentara.
"Yaudah nih makan, belajarnya nanti dilanjut ntar kamu nggak bisa konsen kalo kamu nggak makan apapun!" pinta Rey.
"Bantuin belajar dong pak Rey, sekalian suapin!" Ucap Lisa manja.
"Kumat lagi nih!"
Mereka berdua tertawa bersama. Malam itu hingga akhir terakhir ujian, mereka selalu belajar bersama-sama. Rey begitu bahagia melihat Lisa yang terlihat begitu semangat dan sangat rajin belajar.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!