Love In Many Ways

Love In Many Ways
Penyelamatan



"Ish, kemana sih kalian?! Ayo cepat keluar! Kalian nyerah aja deh, kalian nggak bakal mungkin bisa selamat." Ghea kembali berjalan pelan di dalam ruangan itu mencari-cari.


Faro dan Lisa tetap tak bergeming. Mereka berdua terdiam dari bawah meja. Mereka tau kalo saat ini Ghea sedang berjalan pelan ke arah nya.


"Hahahaa.... akhirnya aku menemukan kalian!" Sahut Ghea senang.


Mendengar kalimat tersebut, Lisa dan Faro tetap tak ingin keluar dari tempat persembunyian mereka. Faro tak akan sebodoh itu, dia tau kalau itu hanya akal-akalan dari Ghea agar dia dan Lisa menyerah. Lisa menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan nya.


"Ck, kayaknya mereka nggak ada disini deh. Cepat banget larinya, awas aja kalo sampe mereka ketemu bukan hanya Lisa yang akan gue cincang-cincang tubuhnya tapi lelaki yang membawa nya juga." Gerutu Ghea sembari berjalan keluar ruangan dan menutup pintu dengan keras.


Tubuh Lisa bergetar mendengar ucapan Ghea barusan. Dia sangat takut, Ghea akan memutilasi dirinya. Tadi saja dia sudah putus asa dan pasrah saat Ghea akan mencolok matanya dengan gunting, namun akhirnya Faro memberikan nya kembali harapan untuk tetap hidup.


"Ro, a-aku... aku... aku takut..." Ucap Lisa dengan pelan. Air matanya kembali mengalir, baru kali ini ia merasakan takut yang luar biasa.


Faro menoleh pada Lisa yang berada di sampingnya. "Kamu tenang yah, kita pasti bisa keluar dari tempat ini." Ucap Faro menenangkan. Namun sepertinya itu tidak mempan. Buktinya Lisa masih saja menangis dan tubuhnya masih gemetaran.


Faro yang merasa kasihan rasanya ia ingin memeluknya, ingin memberikan rasa perlindungan padanya. Namun Faro tak selancang itu, ia tak akan mungkin mau menyentuh wanita tanpa izin dari wanita tersebut. Si es batu menghormati sekali seorang perempuan.


"Lis, kamu tenang yah." Faro menatap Lisa. "Yaudah, aku... boleh peluk kamu?" Yang ditanya hanya sibuk menangis, sudah tak sempat untuk menjawab pertanyaan. Faro yang tak mendapat jawaban, malah merasa was-was. Harusnya dia menenangkan nya, tapi gimana caranya?


Sepertinya dia punya phobia. Pikir Faro sambil menatap Lisa.


"Mmm... Maaf yah." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Faro menarik tubuh Lisa masuk ke dalam pelukan nya. "Maafkan aku, aku cuma mau kamu tenang. Sekarang kamu tenang yah." Faro mengusap-usap punggung Lisa dengan pelan.


"Aku... aku ta-takut..." Ucap Lisa dengan suara bergetar. Bukan nya tenang, Lisa malah semakin menangis. Lisa mempererat pelukan nya pada Faro. Ntah kenapa sekilas ia merasa pelukan itu hampir sama dengan pelukan suami nya.


"Husshh... Kamu tenang yah, jangan berisik. Nanti mereka tau keberadaan kita." Ujar Faro menenangkan.


Faro mengambil ponselnya dari dalam sakunya kemudian menelpon seseorang.


"Halo."


"....."


"Dimana?"


"....."


"Kalian kesini sekarang, aku butuh bantuan kalian."


"....."


"Tapi kalian harus berhati-hati, dirumah ini terdapat banyak penjaga."


"....."


Faro menutup telponnya, baru saja dia menelpon Bryan dan kedua teman lain nya untuk meminta bantuan.


"Sekarang kita harus apa?" Tanya Lisa.


"Kita tunggu teman yang lain."


"Mmmm... Makasih yah. Kamu udah pertaruhkan nyawa kamu buat nyelamatin aku." Ujar Lisa pelan.


"Iya sama-sama." Ucap Faro sambil tersenyum.


...*****...


Al memberhentikan mobilnya agak jauh dari rumah itu. "Yang ini?" Tanya nya.


"Menurut alamat yang dikirim Faro sih iya, tempat nya disini." Ucap Sarah sembari melihat handphone nya.


"Yang bener aja, masa tempat nya didalam sana? Kayak nggak cocok banget, kotor dekil trus kumuh lagi." Sahut Vhino sambil bergidik.


"Lah iya, memang ini kok." Sanggah Sarah.


"Eh itu ada orang, ayo nunduk!" Sahut Mira. Sontak mereka semua yang berada di dalam mobil langsung menundukkan kepala nya saat melihat ada dua orang yang ada di depan rumah itu.


"Sepertinya rumah ini banyak penjaga nya deh." Ucap Al.


"Jadi kita masuk nya gimana?" Tanya Mira.


"Nggak papa. Kayaknya kalo cuma dua bisa kita atasi." Kata Al.


"Vhino kamu ikut aku." Ajak Al.


"Kemana?" Tanya Vhino.


"Udah ikut aja. Kalo Sarah sama Mira kalian berdua tunggu disini dulu. Kalian ngerti kan apa yang harus kalian lakukan?" Tanya Al.


"Yaudah yuk, Vhin. Kita turun." Al menghela napas sejenak kemudian turun dari mobil, diikuti oleh Vhino.


Al dan Vhino terlihat berpura-pura berjalan dan keliling-keliling di pekarangan rumah tersebut. Seolah memancing dua penjaga yang sedang berdiri dengan gagah di samping pintu masuk rumah.


"Hei kalian siapa?" Tanya salah satu penjaga sembari berjalan menghampiri.


Al terlihat tersenyum. Tepat sasaran


"Saya?" Tanya Al pura-pura sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kalian berdua, siapa lagi?" Ucap lelaki bertopeng lainnya.


"Kita cuma lewat aja kok, iyakan Al?" Ucap Vhino.


"He-em."


"Lewat yah tinggal lewat aja. Ngapain kalian kayak keliling-keliling di sini?"


"Ih, bapak ini galak banget. Eh topeng nya lucu deh, boleh pinjem nggak?" Tanya Vhino.


Tanpa aba-aba, Al langsung menendang bagian perut salah satu lelaki tersebut. "Wah berani sekali yah." Ucap nya dengan tatapan kesal.


"Siapa yang takut?!" Tantang Vhino.


Pada akhirnya mereka langsung adu fighting. Dua lawan dua. Tujuan Al adalah membuat mereka berdua pingsan, agar mereka tak bisa memberitahu teman nya yang lain. Sarah dan Mira langsung mengambil kesempatan ini untuk segera masuk ke dalam. "Ayo ayo cepet." Kata Sarah. Mereka langsung berlari masuk ke dalam rumah itu.


"Pelan-pelan, jangan sam-..." Belum sampai ucapan Sarah, Mira langsung menarik Sarah merapat pada dinding. Tentu saja itu membuat Sarah terkejut setengah mati. "Kenapa sih?"


"Husshh... Jangan berisik, disitu ada seorang penjaga." Ucap Mira dengan nada suara sepelan mungkin.


"Kita lewat sana aja, gimana?" Tanya Sarah sambil menunjuk jalan lain dengan ekor matanya.


"Yaudah yuk, tapi pelan-pelan." Bisik Mira.


Mereka kembali berjalan pelan mencari Lisa dan Rey. Sesekali mereka membuka pintu ruangan, siapa tau apa yang mereka cari ada di dalam salah satu ruangan.


"Eh, Rah. Ini ada pintu, tapi kok kayaknya kebawah." Ucap Mira samb menunjuk sebuah pintu.


"Mmmm... Kayaknya ini pintu menuju ruang bawah tanah deh." Kata Sarah sambil berpikir.


Mira membuka pintu itu dengan pelan, dan benar saja ternyata ada tangga menuju ke bawah. "Yuk turun, tapi kamu duluan yah. Hehehee..." Ucap Sarah cengengesan.


"Yang bener aja. Huu dasar!" Ucap Mira dengan kesal. Kemudian berjalan menuruni tangga dengan pelan. "Gelap ***."


"Udah jangan berisik!" Bisik Sarah.


"Mana hp kamu? Ayo cepetan nyalain senternya!" Pinta Sarah saat mereka telah sampai dibawah, dan benar saja tak ada cahaya sedikit pun didalam sana. Hanya sebuah kegelapan yang menyelimuti ruangan tersebut, dan terasa menyeramkan karena terasa sangat sepi tak berpenghuni. Mira menyalakan senter hp nya, kemudian menyapu seluruh ruangan dengan senter.


Drrtt... Drrtt...


"Bentar, hp aku bunyi." Sarah merogoh tas nya kemudian mengambil hp nya.


"Ya, halo Al?"


"Kamu dimana?"


"Ini kita lagi diruangan bawah."


"Ha? Dimana itu?"


"Diruangan bawah, letak ruangan nya di bawah."


"Iya tau, tapi itu dimana? Aku sama Vhino mau nyusul nih, aku takut kalian kenapa-napa." Suara Al terdengar khawatir.


"Oh, udah nggak papa. Kalian carinya diatas aja, aku sama Mira nyari nya disini. Kita berdua nggak bakal kenapa-napa kok. Kita kan wonderwomen."


"Iya aku tau. Tapi tetap aja khawatir."


Mira sibuk menyapu ruangan dengan senternya, sampai matanya terpaku pada sebuah meja panjang yang ada di tengah-tengah ruangan. "Rah, Sarah. Itu apa?" Ucap Mira sambil menunjuk ke arah meja panjang tersebut.


Sarah mengikuti arah jari telunjuk Mira dan melihat ke arah sebuah meja. "Ha? Apa itu?" Kaget Sarah.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!