
"Rey, gue juga bingung harus bagaimana sekarang, semua udah terjadi gitu aja. Gue nggak mau keluarga gue jadi korban, gue sayang mereka. Udah yah Rey, lupain aja. Lagian Lisa juga udah tenang kan di sekolah barunya."
"Ya nggak bisa gitu juga. Percaya nggak percaya beberapa tahun ke depan masalah kemarin pasti masih jadi bahan pembicaraan siswa-siswi di sekolah dan gue nggak mau Lisa masih di cap sebagai orang yang mencelakai Rani. Lo suka orang lain sengsara gara-gara omongan lo? Fitnah itu dosa besar Tasya! Tolong perbaiki kesalahan lo saat ini, jangan sampe kedepannya lo dapet karma yang lebih menyakitkan!" bujuk Rey.
"Ya terus apa? Gue jujur begitu aja? Untuk saat ini keluarga lo pasti lindungin gue, tapi hidup nggak cukup 1 bulan Rey! 1 tahun kemudian gimana? 5 tahun, 10 tahun, atau bahkan 15 tahun kedepan? Gue juga pengen bahagia tanpa dibayangi rasa was-was! Dan pastinya Dinda nggak bakal ngelepasin gue gitu aja kan." Tasya mengungkapkan semua ketakutannya.
"Gue bisa jamin keselamatan lo Tasya!"
"Bullsh*t! Omong kosong, bisa lo buat Dinda pergi dari hidup gue? Bisa lo buat Dinda nggak ganggu gue lagi? Bisa lo buat Dinda lupain gue? Nggak bisa kan Rey?!"
Rey terdiam sejenak, wajar kalau Tasya merasa was-was dan ketakutan seperti ini. Dinda pasti tidak akan diam saat tau kalau Tasya membeberkan rencananya.
"Percaya sama gue! Gue bisa bantu lo dan ngelindungin keluarga lo ! Tolong banget, gue bakal hargai banget kalo lo mau jujur. Gue dan keluarga gue pasti nggak akan diam dan tutup mata, kita pasti lindungin lo! Tolong lo beritahu kebenaran ini kepada semua orang " bujuk Rey.
Tasya mengusap air matanya perlahan, "Kenapa lo perduli banget sama Lisa? Dia kan cuma pacar lo?"
Rey menghela nafas panjang untuk memantapkan hatinya, "Karena dia istri gue! Dia menantu satu-satunya di keluarga gue."
Tasya terdiam, tatapan matanya menunjukkan kalau ia tak mempercayai itu semua. "Kalian kan masih SMA, masih muda, mana mungkin udah nikah. Ngaco lo!"
"Terserah lo percaya atau enggak, karena kenyataannya emang udah kayak gitu. Karena ini menyangkut masa depan istri gue, tolong lo maju dengan inisiatif lo yah. Jangan buat gue kasar dan terpaksa seret lo ke sekolah sebagai saksi!" Rey memberikan ketegasan pada Tasya sebagai peringatan.
Tasya memikirkan ucapan Rey barusan, ia bertengkar dengan hatinya sendiri, ia takut pada Dinda tapi juga takut karena terus dihantui rasa bersalah itu.
Arghhhh gimana ini. Gue takut Dinda bakal lakuin hal yang lebih parah ke gue. Gue bener-bener takut. Gue takut kalo gue jujur dia bakalan.... argghhh. Tapi apa yang di bilang Rey ada benernya. Gue nggak mungkin kayak gini terus, gue nggak mungkin bisa hidup tenang
"Kasih gue waktu buat mikirin semuanya. Karena ini juga menyangkut masa depan keluarga gue!" pinta Tasya.
"Apa sih yang harus lo pikirin lagi?!" Rey menahan amarahnya, "Oke... Oke, lo gue kasih waktu buat mikir semuanya. Tapi inget, semakin lama lo nggak berdiri sebagai saksi, maka semakin cepat gue bertindak dengan paksa!" tegas Rey.
Rey berbalik lalu pergi meninggalkan Tasya yang masih berpikir. Akhirnya Rey merasa lega karena memegang bukti ditangannya.
"Gue bisa aja serahin bukti ini secepatnya, tapi gue tau kalo Tasya cuma pion Dinda, dia nggak tau apa-apa. Gue bisa maafin dia, tapi nggak dengan Dinda!" gumam Rey sambil berjalan.
.
.
.
"Chaaaa..." Panggil Rey. Tak ada jawaban, Rey membuka pintu kamar mandi, tak ada orang disana. "Ichaa." Sahut Rey kembali.
Matanya tertuju pada balkon, yahh ayunan di balkon bergerak pelan. "Itu dia." Rey menghampirinya dengan semangat. Terlihat Lisa duduk mematung di atas ayunan dengan tatapan kosong ke depan.
"Icha maafin yah, aku telat pulang. Kamu pasti kesepian yah?"
Rey duduk di sebelah Lisa dengan pelan. "Ichaa, ngapain disini? Dari tadi aku panggil loh."
"Aku kangen Daddy, kangen Mommy juga." Ucap Lisa tanpa mengalihkan pandangannya.
Rey menghela nafas berat, ia meraih kedua tangan Lisa dengan lembut. "Icha, kamu yang sabar, kamu nggak boleh ngerasa sedih, nggak boleh ngerasa sendiri, disini masih banyak banget yang sayang sama kamu. okey?"
Lisa mengangguk lemah. Kemudian tersenyum, "Makasih Rey."
Rey meraih kepala Lisa untuk bersandar di pundaknya kemudian merangkul nya dengan erat. "Udah yah nggak usah sedih lagi. Sekarang kita makan, tadi aku beliin martabak kesukaan kamu. Mau kan?"
"Mau."
"Yaudah yuk." Rey langsung berdiri dari duduknya.
"Gendong Reyy..." Manja Lisa.
Rey hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah manja istrinya ini. "Yaudah sini bayi gede."
"Enak aja."
"Hahahaha..." tawa renyah keduanya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!