
Dengan pelan, Faro mulai mengurut kaki Lisa. Sesekali Lisa meringis menahan sakit. Benar-benar sakit. Dalam hati dia menggerutuki kebodohan nya yang tak mengikat tali sepatu nya dengan benar.
"Ngapain kamu?" Tanya seseorang.
Lisa dan Faro langsung menoleh ke arah sumber suara yang bertanya. Dan betapa terkejutnya Lisa saat melihat sosok lelaki yang sedang berdiri di samping nya.
Seseorang yang sudah lama dia rindukan kehadiran nya. Seseorang yang dia rindukan kehangatan nya. Seseorang yang membuat nya jadi bingung akan perasaan nya saat ini. Dan seseorang itu juga yang membuat perasan nya tak menentu.
"Rey?" Ujar Lisa kaget. Tentu saja dia terkejut dengan kehadiran Rey yang tiba-tiba datang begitu saja. Yang ikut lomba udah pulang semua? Atau hanya Rey? Kok Rey pulang nggak ngasih kabar? Pertanyaan demi pertanyaan terus saja melintas di otak Lisa.
"Ngapain berduaan di sini?" Tanya Rey dingin. Nada suara nya terdengar agak menakutkan. Seperi nya dia cemburu, lagian siapa sih yang nggak cemburu kalau melihat istri nya dengan orang lain.
"I-ini... Ini..." Lisa bingung harus menjawab apa. Jujur saja nyali nya menciut saat mendengar nada suara Rey yang terdengar tak bersahabat.
Sedangkan Faro hanya menatap Rey dengan bingung. Isi kepala nya juga mulai di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan. Terlebih lagi dia tak pernah melihat Rey di sekolah ini. Dan lebih membingungkan lagi, Lisa yang dia kenal sebagai cewek galak dan jutek terlihat agak canggung pada cowok yang baru dia lihat.
"Apa?" Tanya Rey lagi.
"Ini... I-ni... A-aku aku..." Lisa benar-benar bingung harus menjawab apa saat ini. Kesan nya seperti dia kedapatan menyontek saja saat ulangan.
Mungkin karena tak ingin berlama-lama, Rey langsung menarik tangan Lisa agar Lisa mengikuti langkah kaki nya. Yang di tarik pun menurut saja, meskipun kaki nya sedang sakit dia berusaha menahan nya, Lisa berjalan sedikit pincang. Tapi itu tak sebanding dengan ketakutan nya saat ini. Rey yang kali ini benar-benar menakutkan, bahkan menatap mata nya saja Lisa tak berani.
Baru beberapa langkah mereka berjalan. Belum jauh dari tempat nya duduk tadi, dan belum jauh juga mereka berdua berjalan meninggalkan Faro yang menatap mereka berdua dengan bingung, Lisa sudah tak bisa menahan rasa sakit di kaki nya. "Awww... Kaki ku Rey..." Keluh Lisa, dia sudah tak bisa melanjutkan langkahnya.
Rey menoleh pada Lisa, kemudian menatap kaki Lisa. Ternyata Rey tak menyadari luka yang ada di kaki istri nya. Mungkin karena di butakan oleh bara api cemburu sampai-sampai dia tak memperhatikan kaki yang saat ini sedang terluka.
Rey tak tega melihat Lisa yang terlihat sangat kesakitan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rey langsung menggendong Lisa dengan gaya bridal style.
"Eh, Rey." Sontak Lisa kaget dengan reaksi Rey. "Rey, lo ngapain? Turunin gue! Semua orang liatin kita!" Pinta Lisa.
"Diem." Ujar Rey dingin. Baru dengan satu kata dari Rey, Lisa langsung mengunci mulutnya rapat-rapat, tak ingin membuat Rey tambah terbakar.
Rey membawa Lisa ke dalam UKS. Dia mendudukkan Lisa di atas ranjang yang ada di ruang UKS. Lisa sudah lupa dengan kejadian yang terjadi di lapangan. Saat ini yang ada di pikiran nya hanya pertanyaan-pertanyaan seputar Rey. Sebenarnya dia ingin menanyakan nya tapi ragu juga, plus takut. Dan pada akhirnya dia memilih untuk diam saja.
Rey terlihat mengambil kotak P3K di dalam lemari. Kemudian meletakkan nya di atas ranjang di samping Lisa. Dia mengeluarkan obat merah dan kapas. Kemudian dengan pelan mengusap luka yang ada di lutut Lisa.
"Ssshh... Perih..." Ringis Lisa menahan sakit, tangan nya meremas seprei yang dia duduki.
"Ini kenapa? Kok bisa luka?" Tanya Rey.
"Tadi jatuh."
"Dimana?"
"Tadi di lapangan. Mau nya sih nyusul Sarah sama Mira eh malah ke injek tali sepatu nya." Ujar Lisa dengan kesal.
"Makanya jangan lari-lari." Rey masih sibuk mengusap-usap kaki Lisa dengan obat merah yang ada di tangan nya. "Trus, cowok yang tadi siapa?" Akhirnya pertanyaan itu berhasil Rey lontarkan, setelah dari tadi pikiran nya terus berargumen.
"Dia Faro." Jawab Lisa pelan.
Sekarang Rey mengambil perban dari dalam kotak P3K itu. Sebenar nya ini cukup berlebihan, karena luka nya Lisa itu cuma dikit doang, lecet sedikit di lututnya. Pake di perban segala. Tapi yaahh mau gimana lagi, Rey kan terlanjur khawatir.
"Faro? Kok aku baru liat?" Aneh sih aneh. Kan Rey Ketua OSIS di sekolah tersebut, jadi yah pasti dia dapat mengenali dan menandai semua wajah dan nama-nama para siswa-siswi di sekolah nya.
"Siswa baru di kelas. Baru pindah kemaren."
"Kamu sekelas sama dia?" Rey mendongak menatap kedua mata Lisa. Yang di tatap pun hanya bisa mengangguk memberi jawaban.
"Yaudah. Kamu masih bisa jalan kan?" Tanya Rey setelah selesai dengan pekerjaan nya.
Melihat Lisa terdiam, Rey dapat mengerti. "Yasudah kamu pulang aja, hari ini nggak usah masuk dulu. Ntar aku minta ijin sama wali kelas." Rey membereskan semua obat yang dia keluarkan tadi, lalu kembali menyimpan nya di dalam lemari.
"Sini." Rey mengulurkan tangan nya, yang di sambut oleh Lisa. Rey membantu Lisa turun dari ranjang.
"Aww aww... Pelan-pelan Rey!" Pinta Lisa saat kaki nya kembali menginjak lantai.
"Kuat nggak? Atau mau di gendong lagi?"
"Ah nggak. Ntar di liatin lagi sama semua penghuni sekolah."
Mendengar penuturan Lisa, Rey tersenyum kecut. Kemudian membantu nya untuk berjalan dengan memapah nya.
.
.
.
Mereka berdua pulang dengan menggunakan taksi. Saat ini mobil masih dalam perjalanan menuju rumah Agrananda. Lisa menyandarkan kepala nya di sandaran kursi, sedangkan Rey yang berada di sampingnya menatap ke arah luar.
Tiba-tiba Lisa teringat dengan Sarah. Oh iya Sarah kan lagi dalam masalah. Kok baru ingat sih. Maafin aku, Rah. Aku nggak ada di samping kamu saat ini. Semoga aja masalah kamu sama Al bisa segera selesai.
Lisa mengambil hp nya dari dalam tas nya, kemudian mengirimi Sarah pesan.
^^^Me!^^^
^^^Rah, aku pulang dulu^^^
^^^Maafin aku yah,^^^
^^^aku nggak bisa ada^^^
^^^buat kamu saat ini^^^
^^^Tadi aku ada masalah sedikit^^^
^^^Semoga aja masalah kamu dapat^^^
^^^segera selesai^^^
^^^Love you☺❤^^^
"Oh iya. Tadi di lapangan ada apa? Kok pada ngumpul?" Tanya Rey penasaran..
"Itu... Al berantem lagi." Jawab Lisa dengan lesu. Sebenar nya dia cukup kecewa, gara-gara dia terjatuh dan kaki nya sakit, dia tak bisa berada du sekolah dan membantu Sarah.
"Kok bisa?"
"Kagak tau gue."
Semua kembali terdiam, supir taksi pun tak ngomong apa-apa. Rey dan Lisa juga enggan untuk berbicara apapun. Membuat suasana semakin dingin, sedingin sikap Rey pada Lisa. Ah elah, lu kenapa sih Rey?!
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!